Kamis, 01 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 68)

The Chamber: Kamar Gas

Donnie mengirim rokok tiap bulan, juga uang beberapa dolar, dan sekali-sekali surat. Albert sudah tujuh tahun tak pernah menulis apa pun. Seorang bibi yang tak pernah kawin menulisinya sampai kematiannya pada tahun 1985. Anggota keluarga Cayhall lainnya sudah melupakan Sam.

Ini pasti Donnie, katanya pada diri sendiri. Donnie-lah satu-satunya yang cukup peduli untuk berkunjung. Sudah dua tahun ia tak pernah bertemu dengannya, dan ia melangkah lebih ringan ketika mereka mendekati pintu ke ruang pengunjung. Sungguh kejutan yang menyenangkan.

Sam melangkah melewati pintu dan memandang laki-laki yang duduk di sisi lain kisi-kisi. Wajah itu tidak dikenalinya. Ia memandang sekeliling ruangan, dan memastikan ruangan itu kosong, kecuali tamu ini, yang saat itu sedang memandang Sam dengan tatapan dingin dan mantap. Para penjaga mengawasi dengan cermat sementara mereka melepas borgol. Sam tersenyum dan mengangguk kepada laki-laki itu, kemudian ia menatap penjaga-penjaga itu sampai mereka meninggalkan ruangan dan menutup pintu. Sam duduk di depan tamunya, menyalakan sebatang rokok, dan tak mengucapkan apa pun.

Ada sesuatu yang sudah dikenalnya pada laki-laki ini, namun ia tak dapat mengidentifikasikannya. Mereka saling pandang melalui lubang pada kisi-kisi.

"Apakah aku mengenalmu?" Sam akhirnya bertanya.

"Ya," laki-laki itu menjawab.

"Dari mana?"

"Dari masa lalu, Sam. Dari Greenville, Jackson, dan Vicksburg. Dari sinagoga, kantor real estate, rumah Pinder, dan Marvin Kramer."

"Wedge?"

Laki-laki itu mengangguk perlahan-lahan. Sam memejamkan mata dan mengembus ke langit-langit. Ia menjatuhkan rokoknya dan terpuruk di kursi. "Tuhan, aku berharap kau sudah mati."

"Sayang."

Sam menatap liar padanya. "Kau bangsat," katanya dengan gigi terkatup. "Bangsat. Dua puluh tiga tahun aku berharap dan memimpikan kau mati. Aku sendiri sudah membunuhmu sejuta kali, dengan tangan kosong, dengan tongkat dan pisau dan setiap senjata yang dikenal manusia. Aku telah menyaksikanmu mengucurkan darah dan mendengarmu menjerit minta ampun."

"Maaf. Di sinilah aku, Sam."

"Aku membencimu lebih dari siapa pun yang pernah kubenci. Seandainya aku punya senjata, sekarang juga akan kuledakkan kepalamu ke neraka sampai kembali lagi. Akan kupompa kepalamu sampai penuh timah dan tertawa sampai aku menangis. Tuhan, betapa aku membencimu."

"Apakah kau memperlakukan semua tamumu seperti ini, Sam?"

"Apa yang kauinginkan, Wedge?"

"Apakah mereka bisa mendengarkan kita di sini?"

"Mereka sama sekali tak peduli apa yang kita bicarakan."

"Tapi tempat ini bisa jadi disadap, kau tahu."

"Kalau begitu enyahlah, tolol, enyah saja."

"Aku akan enyah sebentar lagi. Tapi lebih dulu aku ingin mengatakan aku ada di sini, dan aku mengawasi segalanya dengan cermat, dan aku sangat senang karena namaku tak pemah disebut. Aku tentu berharap ini berlanjut. Aku selalu sangat efektif dalam membungkam orang."

"Kau sangat halus."

"Terimalah ini seperti layaknya lelaki, Sam. Matilah dengan penuh martabat. Kau dulu bersamaku. Kau menjadi asisten dan konspirator, dan menurut undang-undang kau sama bersalahnya seperti aku. Benar aku bebas, tapi siapa yang mengatakan hidup ini adil. Pergilah saja dan bawalah rahasia kecil kita ke kuburmu, dan tak seorang pun akan celaka, oke?"

"Di mana saja kau selama ini?"

"Di mana-mana. Namaku sebenarnya bukan Wedge, Sam, jadi tak perlu menebak. Namaku tak pernah Wedge. Bahkan Dogan sekalipun tak tahu nama asliku. Aku dipanggil masuk tentara pada tahun 1966, dan aku tak ingin pergi ke Vietnam. Jadi, aku pergi ke Kanada dan kembali ke bawah tanah. Sejak itu terus di sana. Aku tidak ada, Sam."

"Kau seharusnya duduk di sebelah sini."

"Tidak, kau keliru. Aku tidak seharusnya duduk di sana, dan tidak pula kau. Kau tolol karena kembali ke Greenville. FBI tak punya jejak. Mereka takkan pernah menangkap kita. Aku terlalu cerdik. Dogan terlalu cerdik. Tapi kau kebetulan jadi mata rantai yang lemah. Kejadian itu pun sebenarnya akan jadi pengeboman terakhir, kau tahu, dengan mayat-mayat dan semua itu. Sudah saatnya berhenti. Aku kabur dari negeri ini dan takkan pernah kembali ke tempat menyedihkan ini. Kau seharusnya pulang pada ayam dan sapimu. Siapa tahu apa yang bakal Dogan lakukan. Tapi alasan kau duduk di sana, Sam, adalah karena kau tolol."

"Dan kau tolol karena datang ke sini hari ini."

"Sama sekali tidak. Tak seorang pun akan mempercayaimu bila kau mulai menjerit. Persetan, mereka semua akan berpikir kau gila. Tapi sama saja, aku lebih suka menjaga segalanya tetap seperti ini. Aku tak ingin kehebohan. Terima sajalah apa yang akan terjadi, Sam, dan lakukan dengan tenang."

Dengan hati-hati Sam menyalakan sebatang rokok lagi, lalu mengetukkan abunya ke lantai. "Enyahlah, Wedge. Dan jangan pernah kembali."

"Tentu. Aku benci mengatakannya, Sam, tapi aku berharap mereka mengegasmu."

Sam berdiri dan berjalan ke pintu di belakangnya. Seorang penjaga membukanya dan membawanya pergi.

***

Mereka duduk di bagian belakang gedung bioskop itu, makan popcorn bagaikan dua remaja. Itu adalah gagasan Adam. Lee menghabiskan tiga hari dalam kamarnya, dengan virus itu, dan Sabtu pagi pesta minuman keras itu selesai. Adam memilih sebuah restoran untuk makan malam, restoran dengan makanan cepat dan tanpa alkohol dalam daftar menu. Lee melahap waffle kemiri dengan whipped cream.

Film itu sebuah kisah western, secara politis benar dengan orang-orang Indian sebagai orang baik dan para koboi sebagai bajingan. Semua wajah pucat adalah jahat dan akhirnya terbunuh. Lee minum dua gelas besar Dr. Peppers. Rambutnya bersih dan disisir ke belakang, di atas telinga. Matanya jernih dan indah kembali. Wajahnya ditata dan luka minggu terakhir ini disembunyikan. Ia secantik dulu dalam jeans dan kemeja katun button-down. Dan ia bebas alkohol.

Tak banyak yang dikatakan tentang Kamis malam, ketika Adam tidur di depan pintu. Mereka telah setuju untuk membicarakannya kelak, suatu titik yang jauh di masa depan ketika ia menanganinya. Adam bisa menerima hal ini. Adam akan melindunginya dari penderitaan dan tekanan. Ia akan membuat segalanya menyenangkan. Tak ada lagi pembicaraan tentang Sam dan pembunuhan-pembunuhannya. Tak ada lagi pembicaraan tentang Eddie. Tak ada lagi sejarah keluarga Cayhall.

Lee adalah bibinya, dan Adam sangat mencintainya. Lee rapuh dan sakit, serta butuh suara yang kuat dan pundak yang lebar.

~ 35 ~

Philip Naifeh terbangun pada pagi hari Minggu dengan dada sakit luar biasa. Ia cepat-cepat dibawa ke rumah sakit di Cleveland. Ia tinggal di sebuah rumah modern di lahan Parchman, bersama istri berumur 41 tahun. Perjalanan dengan ambulans butuh dua puluh menit, dan ia dalam keadaan stabil ketika memasuki ruang gawat darurat dengan kereta dorong.

Istrinya menunggu dengan cemas di koridor, sementara para perawat berlalu lalang. Ia sudah pernah menunggu di sana, tiga tahun sebelumnya, ketika suaminya mengalami serangan jantung pertama. Seorang dokter berwajah segar menerangkan bahwa serangan itu ringan, keadaan Naifeh cukup stabil dan aman, dan ia bisa istirahat nyaman dengan bantuan obat. Ia akan dipantau terus-menerus selama 24 jam mendatang, dan bila segalanya berlangsung seperti yang diharapkan, ia bisa pulang kurang dari seminggu. Ia sama sekali dilarang berada di dekat apa pun yang berkaitan dengan eksekusi Cayhall.

***

Tidur jadi terasa sulit. Adam punya kebiasaan membaca satu atau dua jam di ranjang, dan dari pengalaman di sekolah hukum ia tahu bahwa jurnal hukum merupakan alat bantu tidur yang menakjubkan. Tapi sekarang semakin banyak membaca, ia jadi semakin khawatir. Pikirannya dibebani peristiwa-peristiwa dalam dua minggu terakhir—orang-orang yang ia temui, hal-hal yang ia pelajari, tempat-tempat yang pemah ia kunjungi.

Dan pikirannya berpacu liar dengan apa yang akan terjadi. Sabtu malam tidurnya gelisah, dan ia terbangun beberapa kali dalam waktu panjang. Ketika akhirnya ia terbangun untuk terakhir kali, matahari sudah naik. Waktu itu hampir pukul 08.00. Lee menyebut-nyebut kemungkinan akan melakukan percobaan lain dalam dapur. Dulu ia cukup pandai memasak sosis dan telur, katanya, dan semua orang bisa menangani biskuit kalengan, tapi Adam tidak mencium bau masakan apa pun ketika ia mengenakan jeans dan memakai T-shirt.

Dapur itu sunyi. Ia memanggil Lee sambil memeriksa poci kopi—separo penuh. Pintu kamar tidur Lee terbuka dan lampunya padam. Ia cepat-cepat memeriksa setiap ruangan. Lee tak ada di teras, menghirup kopi atau membaca koran. Rasa mual menerpanya dan jadi makin hebat setiap melihat ruangan kosong. Ia berlari ke tempat parkir—tak ada tanda-tanda mobil Lee. Dengan bertelanjang kaki ia melintasi aspal panas dan bertanya kepada satpam, kapan Lee pergi. Satpam itu memeriksa clipboard dan mengatakan sudah dua jam yang lalu. Dia tampak baik-baik saja, katanya.

Adam menemukan setumpuk berita dan iklan setebal tujuh setengah senti di sofa ruang duduk—edisi Minggu Memphis Press. Surat kabar itu ditinggalkan dalam tumpukan rapi dengan berita Metro di bagian atas. Wajah Lee terpampang di bagian ini, fotonya diambil pada suatu pesta amal bertahun-tahun sebelumnya. Foto close-up Mr. dan Mrs. Phelps Booth, tersenyum cerah untuk kamera. Lee tampak anggun dalam gaun hitam strapless. Phelps bergaya dengan dasi hitam. Mereka tampak sebagai pasangan yang sangat bahagia.

Artikelnya adalah eksploitasi terbaru Todd Marks mengenai kehebohan kasus Cayhall. Setiap laporan membuat berita itu jadi makin mirip tabloid. Awalnya cukup ramah, dengan ringkasan mingguan tentang peristiwa-peristiwa yang bergolak di sekitar eksekusi itu. Terdengar juga suara-suara yang sama—"no comment" McAllister, Roxburgh, Lucas Mann, dan Naifeh.

Kemudian cerita itu dengan cepat berubah jadi kejam, ketika dengan ceria memaparkan Lee Cayhall Booth: tokoh sosial Memphis terkemuka, istri bankir Phelps Booth dari keluarga Booth yang kaya dan ternama.

Cerita itu ditulis seolah-olah Lee sendiri bersalah atas kejahatan yang mengerikan. Berita itu mengutip orang-orang yang mengaku teman, sudah tentu tanpa menyebut nama, bahwa mereka merasa terguncang mengetahui identitasnya yang sejati; juga menyinggung tentang keluarga Booth dan uangnya, dan bertanya bagaimana seorang berdarah biru seperti Phelps bisa menikah dengan anggota keluarga Cayhall.

Disebutkan pula tentang putra mereka, Walt, dan sekali mengutip sumber tanpa nama yang berspekulasi tentang penolakannya kembali ke Memphis. Walt tak pernah menikah, demikian cerita itu melaporkan dengan penuh semangat, dan tinggal di Amsterdam.

Dan kemudian, yang paling hebat, kisah itu mengutip sumber lain tanpa nama dan bercerita tentang jamuan pengumpulan dana amal beberapa tahun yang lalu. Waktu itu Lee dan Phelps Booth hadir dan duduk di sebuah meja dekat Ruth Kramer. Sumber tersebut juga hadir pada jamuan itu, dan ingat jelas tempat orang-orang ini duduk. Sumber itu seorang sahabat Ruth dan kenalan Lee, dan sangat terkejut mengetahui Lee punya ayah macam itu.

Sebuah foto Ruth Kramer yang lebih kecil menyertai kisah itu. Ia masih tampak menarik di usia awal lima puluhan.

Sesudah mengungkapkan Lee secara sensasional, cerita itu berlanjut menguraikan argumentasi lisan hari Jumat di New Orleans dan manuver terbaru pembelaan Cayhall.

Dilihat, secara keseluruhan, kisah itu adalah narasi buruk yang tak menghasilkan apa pun, kecuali mendorong berita pembunuhan harian ke halaman kedua.

Adam melemparkan surat kabar itu ke lantai dan menghirup kopi. Tadi Lee terbangun di hari Minggu yang hangat ini dalam keadaan bersih dan segar, tanpa alkohol untuk pertama kali sejak berhari-hari ini, mungkin dengan semangat lebih bagus. Ia duduk di sofa dengan kopi segar dan surat kabar, lalu dalam beberapa menit pukulan berat ini kembali menghantamnya. Sekarang ia pergi lagi.

Di mana ia saat ini? Di mana tempat perlindungannya? Pasti ia menjauh dari Phelps. Mungkin ia punya pacar entah di mana, yang akan menerima dan menghiburnya, tapi itu meragukan. Adam berdoa semoga ia tidak bermobil di jalanan tanpa tujuan, dengan botol di tangan.

Pasti terjadi kehebohan di rumah keluarga Booth pagi ini. Rahasia kecil mereka terungkap, terpampang pada halaman depan surat kabar, untuk dilihat dunia. Bagaimana mereka menanggulangi penghinaan ini?

Bayangkan, seorang Booth menikah dan menghasilkan keturunan dengan sampah putih macam itu, dan sekarang setiap orang tahu. Keluarga ini takkan pernah pulih. Madame Booth sudah pasti sangat tertekan, dan mungkin harus istirahat di ranjang. Bagus untuk mereka, pikir Adam. la mandi dan ganti pakaian, lalu menurunkan atap Saab.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 69)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.