Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 101)

The Chamber: Kamar Gas

Suara ranting patah mengejutkan Adam. Lee sedang berdiri di sampingnya, tangannya ada pada nisan ibunya. Adam memandangnya, lalu berpaling.

"Apa yang kaukerjakan di sini?" ia bertanya, terlalu kebas untuk terkejut. Lee perlahan-lahan berlutut, lalu duduk sangat dekat dengan Adam, punggungnya menempel pada ukiran nama ibanya. Ia melingkarkan lengan pada siku Adam.

"Ke mana saja kau selama ini, Lee?"

"Menjalani pengobatan."

"Kau mestinya bisa menelepon, sialan."

"Jangan marah, Adam, aku mohon. Aku butuh teman." Ia menyandarkan kepala pada pundak Adam.

"Aku tak yakin kalau aku temanmu, Lee. Apa yang kaulakukan sungguh menyebalkan."

"Dia ingin menemuiku, kan?"

"Benar. Kau, tentu saja, sedang tersesat dalam dunia kecilmu sendiri, tenggelam dalam persoalan sendiri, seperti biasa. Tidak memikirkan orang lain."

"Sudahlah, Adam, aku menjalani perawatan. Kau tahu betapa lemah diriku. Aku butuh pertolongan."

"Kalau begitu, carilah."

Lee memperhatikan dua kaleng bir itu, dan Adam cepat-cepat membuangnya. "Aku tidak minum,” kata Lee, mengundang iba. Suaranya sedih dan kosong. Wajahnya yang cantik terlihat letih dan berkerut.

"Aku mencoba menemuinya," katanya.

"Kapan?"

"Tadi malam. Aku pergi ke Parchman. Mereka tak mengizinkanku masuk. Katanya sudah terlambat."

Adam menundukkan kepala, hatinya melunak. Ia takkan mendapatkan apa pun dengan mengumpat Lee. Lee pecandu alkohol, bergulat mengatasi iblis yang ia harap tak pernah Adam jumpai. Dan Lee adalah bibinya, Lee-nya tercinta. "Sampai akhir dia menanyakan dirimu. Dia memintaku menyampaikan bahwa dia mencintaimu, dan dia tidak marah karena kau tidak datang menjenguknya."

Lee mulai menangis pelan. Ia menyeka pipi dengan punggung tangan, dan menangis lama.

"Dia pergi dengan penuh keberanian dan martabat," kata Adam. "Dia sangat tegar. Dia mengatakan hatinya bersama Tuhan, dan dia tak membenci siapa pun. Dia sangat menyesal atas semua yang telah diperbuatnya. Dia orang hebat, Lee, prajurit tua yang siap terus berjuang."

"Tahukah kau ke mana aku selama ini?" Lee bertanya di sela-sela sedu sedan, seolah-olah tak mendengar apa pun yang diucapkan Adam.

"Tidak. Ke mana?"

"Aku berada di rumah lama itu. Tadi malam dari Parchman aku pergi ke sana."

"Untuk apa?"

"Sebab aku ingin membakarnya. Dan rumah itu terbakar dengan indah. Rumah dan ilalang di sekitarnya. Api besar, semua habis jadi asap."

"Aduh, Lee."

"Itu benar. Aku nyaris tertangkap, kurasa. Aku barangkali melewati sebuah mobil sewaktu meninggalkannya. Tapi aku tidak khawatir. Kubeli tempat itu minggu lalu. Kubayarkan 13.000 dolar ke bank. Kalau kau memilikinya, kau bisa membakarnya, benar? Kau kan pengacara."

"Kau serius?"

"Pergilah, lihat sendiri. Aku parkir di depan gereja satu mil dari sana, untuk menunggu mobil pemadam kebakaran. Mereka tak pernah datang. Rumah terdekat jaraknya dua mil. Tak seorang pun melihat kebakaran itu. Pergi dan lihatlah. Tak ada yang tertinggal kecuali cerobong asap dan setumpuk abu."

"Bagaimana..."

"Bensin. Ini, cium tanganku." Ia menyodorkannya ke bawah hidung Adam. Kedua tangannya mengeluarkan bau bensin yang menusuk.

“Tapi kenapa?"

"Seharusnya itu kulakukan bertahun-tahun yang lalu."

"Itu tak menjawab pertanyaannya. Kenapa?"

"Banyak kejahatan terjadi di sana. Tempat itu penuh iblis dan roh jahat. Sekarang mereka hilang."

"Jadi, mereka mati bersama Sam?"

“Tidak, mereka tidak mati. Mereka pergi menghantui orang lain."

Adam cepat-cepat memutuskan takkan ada gunanya menuntaskan pembicaraan ini. Mereka harus pergi, mungkin kembali ke Memphis, tempat ia bisa mengembalikan Lee agar pulih. Dan mungkin terapi. Ia akan tinggal bersama Lee dan memastikan bibinya mendapatkan pertolongan.

Sebuah truk pickup kotor memasuki pemakaman, melalui gerbang besi di bagian lama, dan melaju perlahan-lahan di jalan setapak beton, di antara monumen-monumen kuno. Truk itu berhenti di gudang peralatan kecil di sudut pemakaman itu. Tiga laki-laki kulit hitam perlahan-lahan keluar dan meregangkan punggung.

"Itu Herman," kata Lee.

"Siapa?"

"Herman. Aku tak tahu nama keluarganya. Sudah empat puluh tahun dia menggali liang kubur at sini."

Mereka menyaksikan Herman dan dua orang lainnya melintasi lembah batu nisan. Mereka bisa mendengar suara lamat-lamat ketika laki-laki itu bersiap.

Lee menghentikan sedu sedan dan tangisnya. Matahari tepat di atas pucuk pepohonan, sinarnya menerpa langsung ke wajah mereka. Hawa sudah hangat. "Aku senang kau datang," kata Lee. "Aku tahu itu sangat besar artinya baginya."

"Aku kalah, Lee. Aku mengecewakan klienku, dan sekarang dia mati."

"Kau sudah mencoba sebaik mungkin. Tak seorang pun bisa menyelamatkannya."

"Mungkin."

"Jangan menghukum diri sendiri. Malam pertama di Memphis, kau mengatakan padaku bahwa kemungkinannya amat kecil. Kau sudah hampir berhasil. Kau bertarung dengan baik. Sekarang saatnya kembali ke Chicago dan meneruskan sisa hktapmu."

"Aku takkan kembali ke Chicago."

"Apa?"

"Aku ganti pekerjaan."

"Tapi kau baru setahun jadi pengacara."

"Aku masih akan jadi pengacara. Cuma jenis prakteknya berbeda."

"Mengerjakan apa?"

"Litigasi hukuman mati."

"Kedengarannya mengerikan."

"Ya, memang. Terutama pada hidupku saat ini. Tapi aku akan terbiasa. Aku tidak cocok untuk biro hukum besar."

"Di mana kau akan praktek?"

"Jackson. Aku akan menghabiskan waktu lebih banyak lagi di Parchman."

Lee menggosok wajah dan menarik rambut ke belakang. "Kurasa kau tahu apa yang kaukerjakan," katanya, tak mampu menyembunyikan keraguan.

"Jangan terlalu yakin."

Herman berjalan mengitari sebuah mesin pengeruk tanah usang berwarna kuning yang diparkir di bawah pohon peneduh di samping gudang. Ia mengamatinya dengan penuh perhatian, sementara laki-laki lainnya meletakkan sekop ke dalam pengeruknya. Mereka meregangkan tubuh lagi, tertawa tentang sesuatu, dan menendang ban depan.

"Aku punya gagasan," katanya. "Ada sebuah kafe kecil di utara kota, namanya Ralph's. Sam dulu membawaku ke sana..."

"Ralph's?"

"Yeah."

"Pendeta Sam bernama Ralph. Dia bersama kami kemarin malam."

"Sam punya pendeta?"

"Ya. Pendeta yang baik."

"Omong-omong, Sam membawa aku dan Eddie ke sana pada hari ulang tahun kami. Tempat itu sudah berdiri seratus tahun. Kami makan biskuit besar, minum cokelat panas. Mari kita lihat apakah tempat itu masih buka."

"Sekarang?"

"Yeah." Ia jadi bersemangat dan bangkit berdiri.

"Ayolah. Aku lapar." Adam meraih batu nisan dan menarik tubuhnya berdiri. Ia tidak tidur sejak Senin malam, dan kakinya terasa berat dan kaku. Bir itu membuatnya pening.

Di kejauhan, sebuah mesin dihidupkan. Suaranya bergema tak teredam, menembus tempat pemakaman itu. Adam diam membeku. Lee menoleh untuk melihatnya. Herman sedang mengoperasikan mesin pengeruk tanah, asap biru mendidih dari knalpot. Dua rekan kerjanya ada di pengeruknya dengan kaki tergantung. Pengeruk tanah itu maju dengan gigi rendah, lalu beringsut di jalan masuk, sangat perlahan, melewati deretan makam, lalu berhenti dan berputar. Mesin itu mendatangi ke arah mereka.

TAMAT



UCAPAN TERIMA KASIH

Dulu saya seorang pengacara, dan mewakili orang-orang yang dituduh dengan segala macam tindak kejahatan. Syukurlah, saya tak pernah punya klien yang dipidana karena pembunuhan berencana dan divonis mati. Saya tak pernah terpaksa mengunjungi penjara untuk para terpidana mati, tak pernah terpaksa melakukan hal-hal yang dilakukan para pengacara dalam kisah ini.

Karena saya tak menyukai riset, saya melakukan apa yang biasa saya kerjakan sewaktu menulis sebuah novel. Saya menemui pengacara-pengacara ahli, dan menjalin persahabatan dengan mereka. Saya telepon mereka kapan saja dan menggali pengetahuan mereka. Dan di sinilah saya berterima kasih kepada mereka.

Leonard Vincent adalah pengacara untuk Mississippi Department of Correction selama bertahun-tahun, dan ia membuka kantornya bagi saya. Ia membantu saya dalam persoalan hukum, memperlihatkan berkas-berkasnya, membawa saya ke penjara bagi terpidana mati, mengantar saya berkeliling menyaksikan lembaga pemasyarakatan negara yang luas dan, secara ringkas, dikenal dengan nama Parchman.

Ia menceritakan berbagai kisah yang entah bagaimana menyusup dalam kisah ini. Saya dan Leonard masih bergumul dengan kerumitan moral tentang hukuman mati, dan saya rasa kami akan selalu terus bergumul. Terima kasih juga kepada stafnya, serta kepada para penjaga dan personel di Parchman.

Jim Craig adalah orang dengan kasih yang besar dan pengacara yang baik. Sebagai direktur pelaksana di Mississippi Capital Defense Resource Center, ia merupakan pembela resmi bagi sebagian besar terpidana mati. Dengan tangkas ia menuntun saya menyusuri labirin perkara banding dan pertempuran habeas corpus yang tak tertembus. Bila ada kekeliruan yang terlewatkan, itu adalah kekeliruan saya, bukan kekeliruannya.

Saya kuliah hukum bersama Tom Freeland dan Guy Gillespie, dan saya berterima kasih kepada mereka untuk segala bantuan mereka. Marc Smirnoff adalah sahabat saya dan bekerja sebagai editor The Oxford American, dan, seperti biasa, meneliti naskah ini sebelum saya kirim ke New York.

Terima kasih juga untuk Robert Warren dan William Ballard atas bantuan mereka. Dan, seperti biasa, ucapan terima kasih yang teristimewa untuk sahabat saya yang paling baik, Renee, yang masih setia membaca setiap bab dari balik pundak saya.

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.