Minggu, 04 Juni 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 100)

 The Chamber: Kamar Gas

Adam menatap pintu putih di tengah dinding bata. Tiga van diparkir di dekatnya. Sekelompok penjaga merokok dan berbisik-bisik di samping van. "Aku ingin pergi," katanya, takut ia akan muntah.

"Ayo." Lucas memegang sikunya dan membimbingnya ke van pertama. Ia mengucapkan sesuatu kepada seorang penjaga yang melompat ke jok depan. Adam dan Lucas duduk di bangku di tengahnya.

Adam tahu, pada saat ini kakeknya ada di tengah gas, terengah mencari napas, paru-parunya hangus oleh racun yang membakar. Tepat di sana, dalam bangunan bata merah kecil itu, saat ini, ia sedang mengisapnya, mencoba menelan sebanyak mungkin, berharap langsung terapung menuju dunia yang lebih baik.

Ia mulai menangis. Van itu bergerak mengitari lapangan rekreasi dan melintasi rumput di depan The Row. Ia menutupi mata dan menangis untuk Sam, untuk penderitaannya saat ini, untuk cara mengerikan ia dipaksa mati. Ia tampak begitu mengibakan, duduk di sana dengan pakaian baru, diikat seperti binatang. Ia menangisi Sam dan sembilan setengah tahun terakhir yang ia habiskan memandang lewat jeruji, mencoba menangkap pandangan sepintas pada rembulan, bertanya-tanya dalam hati apakah ada seseorang di luar sana yang peduli padanya.

Ia menangis untuk seluruh keluarga Cayhall yang menyedihkan dan sejarah mereka, yang mengerikan. Ia menangis untuk diri sendiri, untuk penderitaannya saat ini, untuk hilangnya orang yang dicintai, untuk kegagalannya menghentikan kegilaan ini.

Lucas menepuk-nepuk pundaknya dengan lembut. Van itu meluncur, lalu berhenti, lalu menggelinding, dan berhenti lagi. "Aku ikut menyesal," katanya lebih dari satu kali.

"Ini mobilmu?" tanya Lucas ketika mereka berhenti di luar gerbang. Lapangan parkir tanah itu terisi penuh. Adam menarik pegangan pintu dan melangkah ke luar tanpa sepatah kata pun. Ia bisa mengucapkan terima kasih nanti.

Ia memacu mobil di sepanjang jalan tanah, di antara deretan kapas, sampai tiba ke jalan masuk utama. Ia melaju cepat ke gerbang depan, hanya sebentar mengurangi kecepatan sewaktu berkelok melintasi barikade, lalu berhenti di gerbang depan, supaya penjaga bisa memeriksa bagasinya. Di sebelah kirinya ada segerombolan reporter. Mereka berdiri, resah menunggu kabar dari The Row. Mini-cam mereka siap.

Tak ada siapa pun dalam bagasinya, dan ia dipersilakan melintasi barikade lain, nyaris menabrak seorang penjaga yang tidak cukup cepat bergerak. Ia berhenti di jalan raya dan melihat acara menyalakan lilin yang sedang berlangsung di sebelah kanannya. Lagu himne sedang dinyanyikan dari suatu tempat.

Ia memacu mobilnya, melewati polisi-polisi negara bagian yang lalu lalang, menikmati istirahat mereka. Ia melewati mobil-mobil yang diparkir di bahu jalan sejauh dua mil, dan tak lama Parchman sudah di belakangnya. Ia menekan tombol turbo dan dengan segera mencapai sembilan puluh mil per jam.

Ia menuju utara karena suatu alasan, meskipun tak berniat pergi ke Memphis. Kota-kota kecil seperti Tutwiler, Lambert, Marks, Sledge, dan Crenshaw terbang lewat. Ia membuka jendela dan udara hangat bergulung di sekitar tempat duduk. Kaca depan ditaburi kutu dan serangga besar, yang diketahuinya sebagai hama di wilayah Delta. Ia cuma mengemudikan mobil, tanpa tujuan tertentu. Perjalanan ini tak pernah direncanakan. Ia tak pernah memikirkan ke mana akan pergi segera setelah Sam meninggal, sebab ia tak pernah benar-benar percaya hal itu akan terjadi.

Mungkin ia akan berada di Jackson sekarang, minum dan merayakan kemenangan bersama Garner Goodman dan Hez Kerry, mabuk berat karena mereka berhasil mengeluarkan kelinci dari topi. Mungkin ia ada di The Row, masih menelepon sana-sini, berusaha mendapatkan perincian penangguhan yang kelak akan jadi permanen. Mungkin banyak hal.

Ia tak berani pergi ke rumah Lee, sebab ia mungkin benar-benar ada di sana. Pertemuan mereka berikutnya mungkin akan berat, dan ia lebih suka menundanya. Ia memutuskan mencari motel yang layak. Melewatkan malam. Mencoba tidur. Memikirkan segalanya besok setelah matahari naik. Ia berpacu melewati puluhan desa dan kota kecil yang tak satu pun punya kamar untuk disewa.

Ia mengurangi kecepatan. Satu highway beralih ke lainnya. Ia tersesat, tapi tak peduli. Bagaimana bisa tersesat bila tak tahu ke mana akan menuju? Ia mengenali kota-kota dari rambu-rambu jalan, berbelok ke sini, lalu ke sana. Perhatiannya tertuju pada sebuah toko yang buka sepanjang malam di luar Hernando, tak jauh dari Memphis. Tak ada mobil diparkir di depannya. Seorang wanita setengah baya dengan rambut hitam pekat berdiri di belakang counter, merokok, mengunyah permen karet, dan bicara di telepon. Adam menghampiri pendingin bir dan mengambil satu bungkus isi enam kaleng.

"Maaf, Sayang, tidak bisa beli bir setelah jam dua belas."

"Apa?" Adam bertanya keras sambil merogoh saku.

Wanita itu tak suka bentakannya. Dengan hati-hati ia meletakkan telepon di samping cash register. "Kami di sini tak bisa menjual bir setelah tengah malam. Itu undang-undang."

"Undang-undang?"

“Ya. Undang-undang."

"Dari Negara Bagian Mississippi?"

"Benar," katanya manis.

"Kau tahu apa yang kupikir saat ini tentang undang-undang negara bagian ini?"

"Tidak, Sayang. Dan teras terang aku tak peduli."

Adam meletakkan selembar pecahan sepuluh dolar di atas counter dan membawa bir itu ke mobil. Wanita itu mengawasinya pergi, lalu menyisipkan uang ke dalam saku dan kembali ke telepon. Mengapa harus merepotkan polisi karena enam kaleng bir?

Adam berangkat lagi, menuju selatan di jalan raya dua lajur, mematuhi batas kecepatan dan meneguk bir pertama. Berangkat lagi mencari kamar bersih dengan sarapan gratis, kolam renang, televisi kabel, HBO, tanpa anak-anak.

Adam bisa membayangkan Sam di sana. Kepala terkulai ke satu sisi. Masih terikat dengan pengikat kulit yang kokoh itu. Bagaimana warna kulitnya sekarang? Pasti bukan putih pucat seperti sembilan setengah tahun ini. Pasti gas itu mengubah bibirnya jadi ungu dan dagingnya jadi merah muda. Kamar gas itu sekarang bersih.

Adam bisa melihat pakaian itu—celana, sepatu yang kebesaran, kaus kati putih tanpa noda. Sam begitu bangga kembali memakai pakaian sungguhan. Sekarang pakaian itu gombal dalam kantong sampah hijau.

~ 52 ~

Kilauan pertama matahari terbit itu berupa lingkaran merah muda di bukit di atas Clanton. Cahayanya menerobos pepohonan, dan dengan cepat berubah jadi kuning, lalu oranye. Tak ada awan, tak ada apa pun kecuali warna-warna cerah di langit yang gelap.

Dua kaleng bir yang belum terbuka bertengger di rumput. Tiga kaleng kosong telah dilemparkan pada batu nisan di dekatnya. Kaleng kosong pertama masih ada di mobil.

Fajar merekah. Bayang-bayang jatuh ke arahnya dari deretan batu nisan. Matahari segera keluar dari balik pepohonan.

Ia sudah dua jam berada di sana, meskipun sudah kehilangan jejak waktu. Jackson, Hakim Slattery, dan sidang hari Senin terasa seperti sudah bertahun-tahun yang lalu. Sam meninggal beberapa menit yang lalu. Atau meninggalkah dia? Apakah mereka sudah selesai melakukan tindakan kotor mereka? Waktu masih bermain-main.

Ia tak menemukan motel, dan tidak pula mencari dengan sungguh-sungguh. Ternyata dirinya sampai di dekat Clanton, lalu tertarik ke sini, tempat ia menemukan nisan Anna Gates Cayhall. Sekarang ia bersandar di sana. Ia minum bir hangat dan melemparkan kalengnya pada monumen terbesar yang ada dalam jangkauan. Bila polisi menemukannya di sini dan membawanya ke penjara, ia tak peduli. Ia sudah pernah masuk sel. "Yeah, baru saja keluar dari Parchman," ia akan berkata kepada rekan seselnya, partnernya. "Baru saja keluar dari death row." Dan mereka akan membiarkannya sendiri.

Jelas polisi-polisi itu sibuk di tempat lain. Kuburan itu aman. Empat bendera merah kecil ditancapkan di samping kubur neneknya. Adam melihatnya ketika matahari terbit di timur. Kuburan lain akan digali.

Terdengar pintu mobil ditutup di suatu tempat di belakangnya, tapi ia tak mendengarnya. Satu sosok berjalan ke arahnya, namun ia tak mengetahuinya. Sosok itu bergerak perlahan-lahan, memeriksa tempat pemakaman itu, hati-hati mencari sesuatu.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 101)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.