Rabu, 14 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 9)

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

“Anjing kurap, mampuslah!” damprat Sentot Sastra dan sepasang pedangnya membacok dari dua jurus yang berlawanan sedang lima belas golok anak buahnya saling berlomba mencari sasaran di tubuh si pemuda!

“Manusia-manusia tak tahu diri! Jika kalian tidak mau hentikan kegilaan ini, jangan menyesal!”

Si pemuda membentak laksana geledek, keluarkan satu siulan aneh yang menusuk dan menyakitkan liang telinga. Dalam kejap itu pula tubuhnyapun lenyap dari pemandangan. Sepasang pedang Sentot Sastra dan lima belas golok anak buahnya membabat angin kosong, saling bentrokan satu sama lain dan menimbulkan suara nyaring, bunga-bunga api bergemerlapan!

Mendengar suara ributnya bentakan-bentakan, mendengar suara berkecamuknya senjata di halaman rumah, Karsih Wardah, istri Bupati Sentot Sastra terkesiap, dia hentikan tangisnya dan dengan senggak-sengguk lari ke langkan. Betapa terkejutnya sewaktu menyaksikan suaminya dan lima belas orang pembantu Kadipaten tengah mengeroyok seorang pemuda berambut gondrong tak dikenal yang hanya bertangan kosong dan terpaksa berkelebat kian kemari guna mengelakkan serangan-serangan yang sangat ganas itu!

Belum habis herannya Karsih Wardah melihat pertempuran yang berkecamuk itu, maka dua matanya yang telah sembab karena menangis membentur pada sebuah peti besar yang terletak di tanah. Sementara itu lobang hidungnya dirambas oleh bau busuk yang tak dapat dipastikan dari mana asalnya!

Sentot Sastra dan anak-anak buahnya mana mau ambil peduli peringatan si rambut gondrong malah dia memerintahkan agar menggempur pemuda rambut gondrong itu lebih hebat lagi!

“Dasar bodoh, dasar geblek buta mata!” maki si pemuda. Sambil berguling di tanah disambarnya papan besar penutup peti. “Ayo manusia-manusia keblinger, majulah!” Dan ketika Sentot Sastra bersama pembantu-pembantunya masih juga kalap menyerang maka si pemuda lemparkan penutup peti itu ke arah mereka. Sentot Sastra cepat melompat ke samping tapi tiga orang pembantunya yang tak sempat mengelak terjerongkang di tanah sewaktu dada mereka dilabrak penutup peti.

Dengan bertolak pinggang dan sambil tertawa-tawa si pemuda rambut gondrong berkata mengejek.

“Masih buta mata gelap pikiran, silahkan maju lagi!” Rahang Sentot Sastra bergemeletakan. Mulutnya mengeluarkan suara menggeram.

Bupati Kaliurang ini berteriak keras, “Bentuk barisan roda maut!”

Maka kedua belas orang anak buahnya segera bergerak cepat membentuk lingkaran. Sekali Bupati itu berteriak memberi isyarat maka kedua belas orang itupun bergeraklah berlari lari cepat dalam lingkaran yang makin lama makin menciut sedang senjata masing-masing membabat dari dua beias jurus, diseling dengan tikaman atau tusukan dan diperhebat oleh kiblatan sepasang pedang Bupati Sentot Sastra.

Pakaian putih dan rambut gondrong si pemuda berkibar-kibar oleh sambaran senjata. Debu dan pasir beterbangan ke udara sedang barisan roda maut semakin menciut juga!

“Orang tolol memang susah dikasih pelajaran kalau tidak digebuk!”

“Berbacotlah sepuasmu manusia laknat! Sebentar lagi tubuhmu akan berkeping cerai berai!” teriak Sentot Sastra.

Baru saja ia habis berkata begitu si pemuda bersiut nyaring.

Tubuhnya berkelebat dua kali. Suara seperti orang tercekik terdengar susul menyusul! Dan sewaktu Sentot Sastra merasa bahwa cuma dirinya saja kini yang sendirian mencak-mencak mengirimkan serangan maka laki-laki ini segera melompat ke luar dari kalangan pertempuran!

Kemudian bila dilayangkannya pandangannya berkeliling maka tiada terkirakan kagetnya!

Kedua belas pembantunya berdiri laksana patung tak bergerak-gerak karena masing-masing mereka sudah kena ditotok oleh pemuda yang sangat lihai itu!

Nyatalah bagi Sentot Sastra bahwa pemuda itu tinggi sekali ilmunya dan bukan tandingannya. Kalau saja dia ingin mencelakai diri dan orang-orangnya pastilah tidak sukar bagi pemuda itu untuk melaksanakannya!

Namun gelap mata karena menyangka keras bahwa pemuda itulah yang menjadi pembunuh anak kandungnya serta menamatkan pembantu-pembantunya di tikungan jalan antara Kaliurang dan Kaliprogo wetan, ditambah lagi saat itu istrinya Karsih Wardah dilihatnya lari menghambur den menubruk peti di mana mayat Galuh Warsih terbujur, dan berteriak-teriak macam orang hilang ingatan, maka meski dua belas anak buahnya ditotok tak bergerak, meski tiga lainnya menggeletak pingsan, namun Sentot Sastra tetap membara dadanya, tetap berkobar nyalinya untuk dapat membunuh menamatkan riwayat si pemuda! Karenanya di saat pemuda itu berdiri tolak pinggang, dan tertawa-tawa, Sentot Sastra segera menyerbu kembali dengan sepasang pedang ungunya.

Permainan sepasang pedang Bupati Kaliurang itu memang patut dipuji. Apalagi kini dia mengeluarkan jurus-jurus simpanan yang sangat diandalkannya. Dua gulung sinar ungu yang laksana sepasang naga membungkus sekujur tubuh pemuda rambut gondrong dari atas ke bawah!

Namun agaknya, walau bagaimanapun kehebatan ilmu pedang sang Bupati, walau bagaimanapun lihai dan sukar diduga tipu-tipu ilmu silatnya tetap saja dia tak dapat menghajar si pemuda! Jangankan menebas atau membacok tubuh lawannya, menggores atau merobek bajunya sajapun Sentot Sastra tidak sanggup!

“Bupati Sentot Sastra!” seru si pemuda. “Apakah kau masih gelap mata mau meneruskan pertempuran ini?!”

“Iblis neraka tutup mulut! Sebelum kutebas kau punya batang leher, sebelum kucungkil kau punya jantung dan hati, pertempuran ini sampai kiamatpun tak akan kuhentikan!”

“Hebat sekali nyalimu!” memuji si pemuda sejujurnya namun mimiknya melontarkan senyum sinis! “Tapi aku dan kau tiada permusuhan, mengapa musti bertempur begini rupa?!”

“Tidak ada permusuhan bapak moyang setanmu!” bentak Sentot Sastra penuh beringas!

“Anakku kau rusak kehormatannya, kau bunuh!”

“Tobat… tobat!”

Si pemuda pukul-pukul keningnya dengan telapak tangan kiri. “Justru aku datang ke sini untuk mengantar mayat anakmu yang kutemui di bukit! Eh, malah-malah aku yang dituduh jadi pembunuh! Dituduh tukang perkosa! tobat!”

“Tak usah membual atau jual mulut!”

“Siapa membual, siapa jual mulut?!”

“Sesudah melakukan perbuatan terkutuk, kau pura-pura berbuat baik dan cuci tangan huh?!”

“Buset!” Si pemuda garuk-garuk kepata dan mengomel. “Kalau tahu bakal ketiban pulung begini, tidak nanti aku mau susah-susah bawa mayat kau punya anak ke mari, Bupati!”

“Sudah! tak perlu banyak rewel! Pokoknya kau harus serahkan batang lehermu!” teriak Sentot Sastra dan serentak dengan itu kembali dia menyerbu si pemuda.

Yang diserang geleng-gelengkan kepala.

Sewaktu pedang ungu itu dengan segala kehebatannya memapas dari kiri kanan, siap membabat putus tubuh si pemuda menjadi tiga kutungan maka si pemuda geser kakinya satu langkah. Serentak dengan itu kedua tangannya bergerak cepat hampir tak kelihatan, memukul badan kedua pedang Sentot Sastra berseru keras, ia merasa terkejut sewaktu menyaksikan bagaimana sepasang pedangnya lepas dan mental dari tangannya!

Sebaliknya si pemuda tertawa gelak-gelak.

“Kalau masih punya niat main amuk-amukan, silahkan ambil kembali pedangmu, Bupati!”

Mengelam muka Sentot Sastra mendengar ejekan yang sekaligus merupakan tantangan itu. Karena malu dia tidak ambil kedua senjata itu melainkan kerahkan tenaga dalamnya ke tangan kiri kanan terus ke ujung-ujung jari!

“Heemm… pukulan apakah yang kau hendak lancarkan?” mencemooh si pemuda!
Sentot Sastra merutuk dalam hatinya.

“Meski kesaktianmu setinggi langit, jangan harap kau sanggup menerima pukulan Genta Kematian-ku ini!” kata Bupati Kaliurang itu pula.

Dengan menyebutkan nama ilmu pukulan yang diyakininya selama tujuh tahun itu dia berharap si pemuda akan kaget dan menciut nyalinya.

Tapi apa lacur! Malah si pemuda tertawa bekakakan ketika mendengar nama ilmu pukulannya itu!

“Setahuku genta adalah semacam klenengan yang dikalungkan di leher sapi atau kerbau! Itukah nama ilmu pukulanmu? Tentunya kau berguru pada seekor sapi? Ha… ha… ha…!”

Kekalapan Sentot Sastra bukan alang kepalang. Bentakannya mengguntur. Kedua lengannya bergetar dan terpentang. Sekejapan mata kemudian tubuhnya lenyap dalam lompatan kilat setinggi tiga tombak.

Sewaktu melewati si pemuda dia kirimkan dua tendangan sekaligus! Si pemuda merunduk dan pada waktu itulah gerakan lihai yang mengandalkan ilmu mengentengi tubuh yang sempurna, Sentot Sastra balikkan tubuh dan hantamkan kedua kepalannya ke kepala lawan!

Si pemuda yang merasakan angin pukulan sangat keras menerpa belakang kepalanya bersuit nyaring, rundukkan kepala dan secepat kilat putar tubuh!

Muka Bupati Sentot Sastra dari Kaliurang itu mendadak sontak menjadi pucat pasi sewaktu lima jari tangan kanan pemuda lawannya laksana japitan baja, sekaligus mencekal kedua lengannya sehingga tak sedikitpun dia bisa berkutik! Dan bukan itu saja, dari jari-jari tangan itu dirasakannya aliran aneh yang sejuk dingin menjalar ke lengannya, terus ke bahu dan sekujur tubuhnya! Luapan amarah yang membakar dan menggelorai darahnya kini menggendur. Pikiran jemih kini muncul dibenaknya. Tubuhnya lemah lunglai, keringat dingin memercik dikeningnya. Akhirnya Sentot Sastra jatuh duduk menjelepok di tanah sewaktu pemuda itu lepaskan cekalan pada kedua lengannya!

“Orang muda, siapakah kau sebetulnya?” tanya Sentot Sastra. Nada suaranya kini tidak keras dan tidak bernada marah lagi seperti tadi-tadi.

Si pemuda tertawa.

“Aku datang ke sini bukan untuk mengobral nama atau kasih keterangan siapa aku, tapi untuk menolong mengantarkan mayat anakmu.”

Sentot Sastra memutar kepalanya ke arah peti. Istrinya dilihatnya terkulai pingsan di tepi peti itu, sedang dua belas pembantu-pembantunya sampai itu saat masih berdiri mematung dalam keadaan tertotok!

Sang Bupati kembali palingkan kepala pada si pemuda. Lama dia menatap paras pemuda itu. Dan pada paras yang masih muda belia itu kini dapat dilihatnya sifat kesatria gagah perkasa dan kejujuran.

“Orang muda, kau betul-betul tidak melakukan perbuatan terkutuk terhadap anakku?”

Si pemuda gelengkan kepala.

“Lantas siapa yang melakukannya?”

Si pemuda angkat bahu. “Akupun tengah mencarinya! Dunia persilatan kini dihebohkan oleh munculnya seorang pendekar terkutuk berjubah hitam dengan bunga-bunga kuning. Nama aslinya aku tidak tahu tapi dia digelari sebagai Pendekar Pemetik Bunga!”

“Pendekar Pemetik Bunga!” mengulang Sentot Sastra. “Yaaa… aku pernah dengar tentang manusia durjana itui Tapi dulu dia cuma malang melintang di barat, kini tahu-tahu muncul di sekitar sini…!”

“Kunyuk lapar perempuan begitu, di mana ada perempuan cantik pasti di situ dia muncul unjuk tampang bikin kejahatan!” menyahuti si pemuda.

Perlahan-lahan Sentot Sastra berdiri kembali. Kedua tangannya mengepal.

“Aku akan cari bangsat itu sampai dapat dan habiskan nyawanya!”

Pemuda rambut gondrong naikkan kedua alis matanya.

“Jangankan kau, gurunya sendiri yang jauh lebih sakti sanggup dibunuhnya!”

“Lantas apakah aku akan berpangku tangan melihat anakku dibunuh dan dirusak begini rupa?!” tanya Sentot Sastra hampir berteriak.

“Aku hargai keberanianmu, Bupati,” memuji si pemuda. “Tapi keberanian yang hanya mengendalikan nafsu besar kekuatan nihil, adalah keberanian buta. Kau akan mati sia-sia di tangannya!”

“Kematian bukan apa-apa bagiku! Semua manusia nantinya akan mati juga…”

“Terserah padamu, Bupati. Aku cuma kasih nasihat! Mungkin nasihatku tidak ada harganya.” Sentot Sastra termangu-mangu beberapa lamanya.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 10)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.