Rabu, 14 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 8)

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Di bawah penerangan bintang-bintang dan bulan sabit mereka menyaksikan tebaran mayat pengawal-pengawal Bupati yang adalah juga kawan-kawan mereka. Semuanya mati dalam cara yang mengenaskan dan menggidikkan. Sebagian besar hancur kepalanya atau bobol dada serta perutnya.

Kereta yang menjadi tumpangan anak gadis Bupati Sentot Sastra angsrok di tengah jalan sedang dua ekor kuda penarik kereta hancur keempat kaki masing-masing! Ketika seorang diantara yang lima itu meloncat turun dan memeriksa kereta, ternyata kereta itu kosong.

“Aku tidak melihat Tegal Ireng!” kata salah seorang dari mereka.

“Aku juga! Di mana kusir kereta itu?”

“Mungkin dia satu-satunya yang selamat…”

Tapi ketika menyelidik ke tikungan yang menurun di sebelah sana mereka kemudian menemui mayat kusir kereta itu menggeletak menelungkup di tanah tanpa nyawa!

“Aku tak dapat menduga apa yang sesungguhnya terjadi di sini! Kalau rombongan Den Ayu Galuh Warsih dihadang perampok, mengapa kawan-kawan kita mati dalam keadaan demikian rupa? Dan kaki-kaki kuda yang hancur itu?!”

“Aku sendiri tak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan Den Ayu Galuh Warsih,” menyahuti pembantu Bupati Kaliurang yarg lain, “Dia diculik, itu pasti sudah!”

“Diculik dan dirusak kehormatannya?!” menambahkan yang lain. “Kalau begitu kita harus cari jejak-jejak si penculik!”

“Di malam buta begini bukan pekerjaan mudah mencari jejak-jejak manusia! Lagi pula siapapun manusia-manusianya yang melakukan perbuatan biadab ini pastilah dia berilmu Tinggi! Orang berilmu tinggi tidak terlalu bodoh untuk mau tinggalkan jejak!”

“Lantas kita bikin apa kalau sudah begini?!”

“Kembali saja ke Kaliurang dan beri keterangan pada Bupati Sentot?”

“Kalau kau mau disemprot, kembalilah sendiri!”

Sepi beberapa lamanya. Kesepian yang membuat bulu kuduk kelima orang itu menggerinding, ditambah lagi dengan tiupan angin bukit di malam buta yang dingin itu.

“Sebaiknya kita teruskan saja perjalanan ke Kaliprogo wetan,” mengusulkan seseorang.

Tapi tak ada seorangpun yang menerima dan menyetujui usul itu.

Kelimanya kemudian mencari tempat yang baik, agak jauh dari tikungan jalan, menyalakan api unggun, berkemah di situ menunggu sampai pagi.

Esok paginya, dengan sedapat-dapatnya kelima orang itu memperbaiki kereta yang rusak. Mayat kawan-kawan mereka yang berjumlah dua belas ditumpuk sebisa-bisanya di dalam dan di atas atap kereta. Dua diantara lima pembantu Bupati itu duduk di depan kereta, satu memegang kendali. Kuda keduanya dipakai sebagai kuda-kuda penarik kereta karena kuda-kuda milik kawan-kawan mereka yang menemui ajal itu tak seekorpun yang hidup dan ada sekitar situ!

Kedatangan kelima orang itu dengan membawa kereta yang ditumpuki dua belas mayat yang mengerikan tentu saja menggemparkan seisi Kadipaten, bahkan menggemparkan seluruh Kaliurang!

Wajah Bupati Sentot Sastra membeku mengelam. Kedua tangannya mengepal. Dia melangkah mundar mandir. Kepanikan yang amat sangat membuat dia tak sanggup membuka mulut! Sebaliknya di dalam kamar istrinya terdengar menangis meraung-raung.

“Mana anakku! Mana anakku!” pekik ratap perempuan itu. “Galuh! Galuh Warsih, di mana kau anak? Oh Galuh! Tuhan! Di mana anakku, Tuhan.”

Tenggorokan Bupati Sentot Sastra turun naik. Dadanya menggelora.

Kematian kedua belas pengawal Kadipaten itu membuat kepalanya serasa mau pecah oleh luapan darah! Di samping itu yang membuat dia tak bisa diam dan seperti mau gila ialah karena tidak mengetahui di mana anak gadisnya saat itu atau apa yang telah terjadi dengan Galuh Warsih! Melihat kepada kenyataan yang terjadi, pasti nasib Galuh Warsih tidak lebih baik dari kedua belas anak buahnya itu! Kepada siapakah kemarahan yang meluap itu hendak dilepaskannya? Hendak dilampiaskannya?!

Laki-laki ini melangkah terus mundar mandir! Setahunya sekitar perjalanan antara Kaliurang dan Kaliprogo wetan tak ada gerombolan rampok jahat! Lantas siapakah yang telah melakukan kebiadaban terkutuk itu?! Siapa yang menculik anak gadisnya? Anak tunggal satu-satunya yang menjadi kesayangan tambatan hati?! Dan sementara itu telinganya tiada henti mendengar ratap tangis istrinya yang bukan saja menyayat hati tapi juga membuat darah di dalam tubuhnya semakin bergejolak mendidih!

Di langkan kadipaten itu, pada sisi-sisi tangga sebelah atas terdapat masing-masing sebuah arca Batara Wisnu yang duduk di atas seekor burung rajawali yang tengah mengembangkan sayapnya. Mungkin karena luapan amarah yang tak terkendalikan dan tak tentu kepada siapa dilampiaskan, ditambah pula mendengar ratap tangis istrinya di dalam, maka sewaktu melawati arca itu untuk kesekian kalinya, tiba-tiba Bupati Sentot Sastra menghantamkan tinju kanannya!

“Braak!”

Arca Batara Wisnu hancur berkeping-keping! Itulah ilmu pukulan “Genta Kematian.” Kalau arca batu yang keras itu sekali pukul saja sanggup dibikin hancur berkeping-keping, maka jika dipukulkan kepada manusia tentulah tak dapat dibayangkan bagaimana akibatnya!

Sementara itu, para pembantu Sentot Sastra yang berdiri dilangkan Kadipaten itu masing-masing sama merasa takut dan cemas. Khawatir mereka kalau-kalau dalam amarah gelap mata seperti itu, diri mereka pula yang bakal ketiban pulung dihantam sang Bupati!

Tiba-tiba laksana halilintar di siang hari layaknya berteriaklah Sentot Sastra. Semua pembantu-pembantunya yang berjumlah lima belas orang diperintahkannya untuk bersiap-siap.

“Kita akan ulangi lagi penyelidikan!” teriaknya.

“Kau Darjakumara, bersama enam orang lainnya menyelidik kejurusan Kaliprogo wetan den sekitarnya. Aku dan yang lain-lain ke timur! Kalian harus berhasil mencari jejak manusia yang telah melakukan kebiadaban ini! Harus berhasil membekuk batang lehernya! Siapa yang kembali sebelum dapatkan itu manusia durjana akan kubunuh! Sekarang siapkan kudaku!”

Seorang pembantu Sentot Sastra segera berlalu untuk menyiapkan kuda sang Bupati sedang yang lain-lainnya segera pula meninggalkan langkan Kadipaten guna mengambil kuda masing-masing dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam perjalanan mencari manusia biang penimbul malapetaka itu. Mereka masing-masing menyadari bahwa pencarian itu tidak akan berhasil dalam tempo yang singkat, tapi memakan waktu berhari-hari.

Selang beberapa ketika lima belas penunggang kuda ditambah dengan Sentot Sastra sendiri sudah berkumpul di halaman Kadipaten.

Mereka siap menunggu perintah dan langkah-langkah terakhir yang harus mereka lakukan.

Bupati Sentot Sastra menyapu paras kelima belas orang anak buahnya itu lalu berkata, “Sekali lagi kalian ingat baik-baik. Kalian musti temukan bangsat itu dan seret dia hidup-hidup ke sini! Jika tak berhasil menemuinya, lebih baik tidak usah kembali! Kalian menger…”

Bupati Sentot Sastra tidak teruskan ucapannya. Sepasang matanya kini tidak lagi menyaputi paras pembantu-pembantunya satu demi satu melainkan dialihkan ke lereng bukit di sebelah selatan. Sentot Sastra seorang yang berilmu cukup tinggi sehingga meskipun jarak bukit dengan tempatnya berada saat itu terpisah hampir dua ratus tombak namun sepasang telinganya lapat-lapat mendengar suara siulan aneh yang menggelombang tiada nada dalam lagu tak menentu!

Lima belas pasang mata pembantu-pembantu Sentot Sastta sama dialihkan pula ke lereng bukit di sebelah selatan itu. Dan dikejauhan kelihatanlah sesosok tubuh laki-laki berlari sangat cepatnya laksana angin! Yang anehnya ialah pada pundak kiri laki-laki ini terpanggul sebuah peti yang melihat kepada besarnya pasti puluhan kati beratnya!

Sewaktu semua orang itu pertama kali melihat manusia yang berlari cepat tersebut, jarak mereka demikian jauhnya namun dalam beberapa kejapan mata kemudian tahu-tahu si manusia pemanggul peti sudah berada di halaman Kadipaten dihadapan Bupati Sentot Sastra dan pembantu-pembantunya!

Ternyata manusia pemanggul peti kayu itu seorang pemuda berambut gondrong, bertampang keren dan punya pandangan mata yang tajam menyorot. Peti yang dipundaknya beratnya puluhan kati tapi dia berdiri seakan-akan peti itu sama sekali tidak ada di pundaknya!

Pemuda tak dikenal ini kemudian hentikan siulannya. Begitu siulan berhenti maka dari celah-celah papan peti yang tidak begitu rapat menyebarkan bau busuk yang seperti mau meranggas bulu hidung, membuat nafas sesak dan mau muntah. Lima belas pembantu Sentot Sastra yang tak tahan segera menutup hidung sedang Sentot Sastra sendiri dengan ilmunya yang sudah tinggi tutup jalan pernafasannya.

Si pemuda rambut gondrong yang tak dikenal menggaruk-garuk kepalanya beberapa kali. Sikapnya ini membuat Bupati Sentot Sastra kehilangan kesabarannya dan hendak mendamprat. Namun sebelum mulutnya terbuka si pemuda asing sudah buka suara bertanya.

“Apakah aku berhadapan dengan Bupati Kaliurang yang bernama Sentot Sastra?”

“Jawab dulu kau siapa?!” sentak sentot Sastra.

“Siapa aku tidak penting,” katanya. “Aku datang membawa peti ini untukmu.”

“Peti apa?! Apa isi peti itu!”

Si pemuda menghela nafas dalam dan rawan. “Peti ini membawa berita buruk bagimu, Bupati.”

“Jangan bicara berbelit-belit! Turunkan peti itu, aku mau lihat isinya!”

Si pemuda garuk lagi kepalanya yang berambut gondrong lalu dengan sikap acuh tak acuh turunkan peti kayu yang berat dari pundaknya.

Bersamaan dengan itu Sentot Sastra melompat dari punggung kuda.

Dia maju mendekati peti. Sebelum melangkah lebih dekat dia tiba-tiba ajukan satu pertanyaan, “Apakah seseorang menyuruhmu mengirimkan peti ini padaku?!”

Si pemuda tertawa aneh dan angkat bahunya.

Sentot Sastra penasaran dan gusar sekali melihat sikap pemuda tak dikenal ini. Dia berpaling pada anak buahnya den memerintah, “Buka peti itu!”

Yang diperintah turun dari kudanya. Dengan masih menutup hidung karena tak tahan dilanda bau busuk yang amat sangat itu dia melangkah mendekati peti kayu lalu dengan tangan kiri yang gemetaran dibukanya kayu penutup peti! Begitu peti terbuka bau busuk yang lebih dahsyat menyambar hidung. Ketika memandang ke dalam peti kayu itu semua orang mengeluarkan seruan tertahan dan mata masing-masing melotot besar laksana mau berlompatan dari rongganya!

Di dalam peti itu terbujur sesosok tubuh manusia bertelanjang bulat. Kulitnya sudah membiru dan memar. Di beberapa bagian kelihatan bekas penganiayaan. Dan manusia yang sudah menjadi mayat busuk ini tiada lain adalah Galuh Warsih, anak kandung Bupati Sentot Sastra sendiri! Maka menggunturlah bentakan Sentot Sastra!

“Kurung dan cincang sampai lumat manusia ini!”

Begitu perintah terdengar begitu lima belas golok panjang yang berkilauan ditimpa sinar matahari dicabut dari sarungnya! Sentot Sastra sendiri sudah lebih dahulu melompat ke muka dengan senjatanya yaitu sepasang pedang ungu!

Melihat dirinya diserang mendadak begitu rupa, pemuda rambut gondrong segera berseru.

“Tunggu! Tahan dulu! Aku belum kasih keterangan!”

“Iblis bermuka manusia biadab terkutuk! Kasihlah keterangan pada hantu kuburmu nanti!” teriak Sentot Sastra! Dan sesudah itu tujuh belas senjatapun berkiblatlah menyerang kesatu sasaran yaitu tubuh pemuda berambut gondrong!

~ 8 ~

Pemuda berambut gondrong membentak gusar.

“Manusia tolol! Geblek sedeng! Orang datang baik-baik. Malah disambut dengan ujung senjata! Gila betul!”

Makian ini tentu saja membuat Sentot Sastra dan kelima belas anak buahnya menjadi semakin ganas dan kalap. Bagi mereka tidak bisa tidak pemuda asing itulah yang telah membunuh dan merusak kehormatan Galuh Warsih!

Tujuh belas senjata berlomba-lomba, menderu dahsyat menggempur si pemuda. Pemuda itu dalam setengah jurus saja sudah terkurung rapat!

“Manusia-manusia tolol! Apakah kalian tidak mau hentikan serangan dan beri kesempatan aku kasih keterangan?!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 9)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.