Rabu, 14 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 7)

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik

Kali ini Pendekar Pemetik Bunga tidak menghindar. Dia berdiri menunggu. Pada saat asap putih hendak memancar seperti tadi, dengan cepat pemuda itu menekan tangkai bunga kertas yang dipegangnya. Serta merta bertaburanlah gulungan sinar kuning. Bila asap putih dan sinar kuning itu bertemu di udara maka terdengarlah suara berdentum yang amat dahsyat. Jagat laksana goncang. Asap putih dan sinar kuning berpalun-palun, gelung menggelung laksana beberapa ekor ular raksasa yang tengah berkelahi gigit menggigit!

Asap putih lambat laun lenyap dirambas dan ditelan sinar kuning untuk kemudian terus menyerang Begawan Citrakarsa. Kejut orang tua sakti ini bukan alang kepalang. Dia melompat ke samping tapi agak terlambat karena sebagian lengan kirinya kena tersambar sinar kuning itu! Dengan serta merta lengan sang Begawan menjadi kuning pekat!

Pendekar Pemetik Bunga tertawa terbahak-bahak.

“Sinar kuning itu mengandung racun dahsyat! Dalam tempo satu jam nyawamu pasti konyol!”

Begawan Citrakarsa mengambil sebutir pil dan menelannya dengan cepat.

“Ha… ha, jangankan pil tahi kambing itu! Obat dari kayangan pun tak bakal sanggup memunah racun dilenganmu itu. Begawan goblok!”

Naik darah si orang tua meluap sampai ke kepala. Mukanya kelam membesi. Racun kuning ditangan kirinya dirasakannya mulai merambas mendekati pangkal bahu. Tak ayal lagi Begawan Citrakarsa pergunakan tangan kanannya memutar dan membetot lengan kirinya itu!

“Kraak!”

Sungguh menggidikkan sewaktu persendian bahu itu lepas dan daging berserabutan, urat-urat berbusaian menyemburkan darah! Pendekar Pemetik Bunga sendiri meremang bulu kuduknya melihat perbuatan sang Begawan!

“Jangan kira meski aku cuma dengan satu tangan kini kau bisa lepas dari kematian, Wirapati keparat!” kata Begawan Citrakarsa.

“Otakmu memang sudah miring, Begawan!” kata Wirapati pula. “Tak satu kekuatanpun yang sanggup menandingi bunga kertas kuning ini!” Begawan Citrakarsa tidak menjawab apa-apa melainkan tangan kanannya menyelinap ke balik selempang kain putih di pinggangnya.

Sebilah keris bereluk dua belas yang memancarkan sinar sangat merah kini tergenggam di tangan Begawan itu. lnilah keris “Pancasoka” yang mempunyai keampuhan luar biasa! Jangankan daging manusia, batu karang pun jika ditusuk pasti akan hancur lebur!

Sebagai bekas murid Begawan Citrakarsa dengan sendirinya Wirapati tahu betul kehebatan senjata ini. Dia meragu apakah kini bunga kertas kuningnya akan sanggup menghadapi keris Pancasoka itu.

Karenanya untuk menjaga segala kemungkinan Pendekar Pemetik Bunga segera membuka ikatan sabuk mutiara milik Kidal Boga yang tempo hari dibunuhnya. “Kau lihat keris ini Wirapati?!”

“Ah… tak usah banyak omong! Majulah biar kau juga dapat kehebatan sabuk mutiara ini!” tukas Wirapati!

Menggelegaklah kemarahan sang Begawan. Dia melompat ke muka.

Keris Pancasoka berkiblat kian kemari. Sinar merah laksana lidah api menyerang ganas. Setiap serangan merupakan rangkaian yang sekaligus menjurus ke arah dua belas bagian tubuh lawan! Inilah kehebatan senjata itu!

Wirapati tidak pula tinggal diam. Sabuk mutiara diputar laksana kitiran. Gelombang angin menderu-deru sedang bunga kertas ditangan kanan tiada hentinya mengeluarkan sinar kuning yang mengandung racun jahat! Namun dua senjata ditangan Wirapati hampir tiada daya menghadapi keris bereluk dua belas di tangan kanan Begawan Citrakarsa.

Ditambah lagi dengan amukan si orang tua yang dahsyatnya bukan olah-olah. Kalau saja satu tangannya tidak cedera buntung pastilah amukannya itu tak akan tertahan-tahan oleh Wirapati.

Dengan keris ditangan kanan orang tua itu, pertempuran sudah berkecamuk selama enam puluh jurus! Daya tahan dan kegesitan Begawan Citrakarsa meski dirinya sudah terlalu parah memang patut dikagumi! Dalam pada itu dia sudah berhasil pula mendesak dan memepet lawannya sampai kedekat reruntuhan pondok yang terbakar!

Dengan kertakkan geraham kemudian membentak keras, Wirapati percepat gerakannya dan keluarkan jurus-jurus dahsyat yang mengandung tipu-tipu ganas licik mematikan! Tapi Begawan Citrakarsa yang sudah makan asam garam pertempuran yang sudah puluhan tahun punya pengalaman dalam dunia persilatan mana bisa kena ditipu!

“Setan alas!” maki Pendekar Pemetik Bunga. “Kunyuk tua haram jadah,” makinya lagi dalam hati. Dengan mempergunakan jurus “Menyapu Awan Menerjang Mega”, pemuda ini akhirnya melompat ke luar dari kalangan pertempuran!

“Pemuda terkutuk!” teriak Begawan Citrakarsa, “Kau mau lari ke mana?!”

“Aku tidak lari iblis tua!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. Dia cepat-cepat tusukkan kembali bunga kertasnya ke sela rambut di kepala, sabuk mutiara tetap dipegang di tangan kiri menjaga segala kemungkinan.

Saat itu jarak antara mereka terpisah sejauh lima meter.

“Begawan keparat! Mari kita buat perjanjian!” Tiba-tiba Pendekar Pemetik Bunga ajukan usul.

“Heh, sudah mau hampir mampus bikin segala macam usul! Apakah itu bukan cuma ulur waktu mencari kesempatan lari…?!” ejek Citrakarsa.

“Sompret tua, aku berjanji! Jika kau sanggup terima pukulanku, aku akan bunuh diri dihadapanmu!”

Begawan Citrakarsa tertawa mengekeh-ngekeh. “Bunuh diri terlalu enak buatmu, Pendekar terkutuk!”

Si pemuda penasaran bukan main. Tapi dia berkata lagi, “Kalau begitu kau terpaksa mampus percuma orang tua! Dunia persilatan akan gempar bila mengetahui, seorang tokoh silat bernama Citrakarsa dibunuh oleh muridnya sendiri…!”

Habis berkata begitu Pendekar Pemetik Bunga tertawa panjang dan menggidikkan. Tangan kanannya diacungkan ke muka, mulut berkomat-kamit sedang ibu jari dan telunjuk mendadak dengan cepat berobah menjadi hitam!

Teganglah paras Begawan Citrakarsa. Selama di puncak Gunung Merbabu dia telah mendengar bahwa bekas muridnya yang murtad itu telah memiliki sejenis ilmu yang sangat sakti dan berbahaya! Apakah ini agaknya ilmu kesaktian yang hendak dilancarkannya, hendak dipakai menyerang?!

Jari tetunjuk dan ibu jari Pendekar Pemetik Bunga atau Wirapati semakin hitam legam dan mengeluarkan sinar mengerikan sedang paras sang Begawan semakin tegang, sebaliknya Pendekar Pemetik Bunga tertawa terus tiada hentinya!

“Ilmu Jari Penghancur Sukma ini sudah menelan puluhan tokoh-tokoh silat!” kata si pemuda yang tiba-tiba hentikan tertawanya, “tokoh-tokoh silat yang tolol geblek sengaja mencari mampus!”

“Hah!” kejut Begawan Citrakarsa. “Murid murtad, dari mana kau dapat ilmu bejat itu?!”

Wirapati alias Pendekar Pemetik Bunga tertawa lagi panjang-panjang.

Jari telunjuk dan ibu jarinya mulai bergerak membentuk lingkaran siap untuk dijentikkan ke muka. Begawan Citrakarsa cepat-cepat alirkan seluruh tenaga dalamnya ke keris yang ditangan kanan sehingga senjata itu menyinarkan cahaya merah yang sepuluh kali menyilaukan dari semula!

Pendekar Pemetik Bunga memperlahan tertawanya. “Selusin keris Pancasoka ditanganmu, tiada nanti kau sanggup menahan serangan jariku ini, Begawan keriput!”

“Laknat terkutuk! Jiwamu atau nyawaku!” teriak Begawan Citrakarsa. Laksana anak panah tubuhnya melesat ke muka. Keris Pancasoka mengiblatkan sinar merah yang dahsyat! Pohon-pohon dan daun-daun di kiri kanan hangus berkepulan. Lidah api yang laksana naga raksasa menyambar dalam kecepatan luar biasa ke arah Pendekar Pemetik Bunga!

Yang diserang mendengus mengejek. Tubuhnya tidak sedikitpun bergerak! Kakinya tak satupun yang bergeser membuat langkah mengelak!

Sebaliknya hanya jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya saja yang tiba-tiba menjentik ke muka. Maka pada detik itu juga didahului oleh angin keras laksana topan prahara, menderulah gelombang sinar hitam, menyapu dan menerjang lidah api keris Pancasoka!

Begawan Citrakarsa yang melihat gelombang apinya membalik menyerang dirinya sendiri berteriak kaget dan melompat ke samping sejauh dua tombak. Tapi dari samping sinar hitam melanda dengan dahsyatnya! Orang tua ini terguling-guling di tanah. Tubuhnya hangus hitam dan mengepulkan bau daging yang terpanggang! Bahkan keris Pancasoka yang saat itu masih tergenggam ditangan kanannya juga hangus menjadi hitam!

Pendekar Pemetik Bunga meringkik macam kuda menjadi jalang melihat dedemit! Kemudian dia tertawa gelak-gelak menyaksikan mayat gurunya yang menggeletak tanpa nyawa beberapa tombak di hadapannya itu! Benar-benar si Wirapati ini murid murtad yang tiada tara kekejamannya!

Tiba-tiba dia memutar tubuh dan tertawa lagi gelak-gelak sewaktu melihat tubuh Galuh Warsih yang masih duduk bersandar di batang pohon, tiada bergerak karena tadi telah ditotoknya. Dia melangkah mendekati gadis itu.

“Dewiku,” katanya seraya berlutut dihadapan Galuh Warsih, “kau sudah lihat bagaimana kehebatanku bukan?”

“Pemuda keparat, pergi! Jangan dekati aku!” teriak Galuh Warsih. Meski dia ditotok dan tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun namun pendengarannya tetap terbuka dan mulutnya masih bisa bicara.

Pendekar Pemetik Bunga menyeringai. Hidungnya kembang kempis.

Nafasnya panas memburu, diburu oleh nafsu yag menggejolak!

Diulurkannya tangannya membelai pipi gadis itu dan Galuh Warsih memaki lagi, menjerit-jerit!

“Kulitmu halus sekali, Galuh.”

“Pemuda setan! Pergi, jangan sentuh tubuhku!” teriak Galuh Warsih.

“Ah… apakah tampangku betul-betul seperti setan?” tanya si pemuda dengan cengar-cengir. Dan dialusnya lagi pipi gadis itu. Galuh Warsih yang karena tidak bisa menggerakkan tangan atau kakinya, penuh kegemasan diludahinya muka pemuda itu. Pendekar Pemetik Bunga malah tertawa. Diambilnya ujung angkin Galuh Warsih, dengan angkin itu disekanya ludah yang membasahi mukanya.

“Ludahmu seharum bunga semanis madu, kenapa musti disembur ke mukaku? Bukankah lebih baik disemburkan ke dalam mulutku? Ha… ha… ha…!”

“Kulit pipimu demikian halusnya, Galuh,” kata si pemuda dan dicuilnya dagu si gadis. “Tentu kulit tubuhmu lebih mulus lagi…”

Habis berkata begitu Pendekar Pemetik Bunga segera elus bahu Galuh Warsih. Berdiri bulu kuduk si gadis sebaliknya semakin menggejolak darah muda Pendekar Pemetik Bunga. Tangan yang mengelus bahu itu kini turun ke dada. Air mata berlelehan di pipi Galuh Warsih. Dia tahu, tak satupun yang bisa dilakukannya menghadapi perlakuan bejat itu. Dia sadar apa yang bakal terjadi dengan dirinya. Tak sanggup lagi dia menjerit, tak kuasa lagi dia berteriak karena suaranya sudah habis ditelah keparauan!

“Gadis manis, kenapa musti menangis?” tanya Pendekar Pemetik Bunga.

“Pemuda terkutuk…” suara Galuh Warsih antara terdengar dan tiada, “aku rela dibunuh daripada diperlakukan begini rupa…”

“Heh…?!” Pendekar Pemetik Bunga hela nafas dan kerutkan kening tanda heran. “Kau tahu manis, perempuan-perempuan yang mati gadis kalau dia bisa bicara di liang kubur, pastilah dia minta dihidupkan kembali! Hidup kembali untuk merasakan kenikmatan hidup antara laki-laki dan perempuan! Kau yang hidup kepingin mati…? Lucu… Mari dewiku, kini ke balik semak-semak sana! Di situ ada rumput, biar kita bisa tidur bergulung lebih nikmat…!”

“Pergi! Jangan sentuh aku!” suara Galuh Warsih mengandung keputusasaan.

“Oh, kau tak mau ke balik semak-semak itu, Galuh? Tak apa… tak apa… di sini pun aku tak keberatan!” Pendekar Pemetik Bunga ulurkan tangan kanannya kembali dan “breet!”

Kain penutup dada Galuh Warsih robek besar. Dadanya tersingkap lebar. Sepuluh jari tangan Pendekar Pemetik Bunga dengan terkutuknya laksana gila menggerayang menjamahi dada itu. meremas seakan-akan hendak menghancur luluhkannya!

~ 7 ~

Sejak kemarin senja sampai siang hari itu Kadipaten Kaliurang tampak sibuk sekali. Senja kemarin lima orang pembantu Bupati Sentot Sastra telah dikirim ke Kaliprogo wetan untuk menyelidiki kenapa Galuh Warsih sampai sesenja itu tidak kunjung muncul di Kaliurang. Pada tengah malam kelima pembantu Bupati yang menunggangi kuda itu berhenti di satu tikungan di lamping bukit.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 8)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.