Rabu, 14 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 6)

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Si orang tua, yang bukan lain dari Begawan Citrakarsa adanya menyapu paras muridnya dengan pandangan mata sedingin salju setajam pisau!

“Betulkah kau ini si Wirapati?”

Masih berlutut, Pendekar Pemetik Bunga angkat kepalanya. “Betul guru. Masa guru lupa sama murid sendiri!” Diam-diam Pendekar Pemetik Bunga atau Wirapati merasa bergidik jugs melihat cara memandang gurunya.

“Guru…!”

Begawan Citrakarsa tidak perdulikan seruan kaget muridnya melainkan meneruskan, “Mataku masih belum kabur, telingaku masih belum tuli. Otakku masih belum tumpul! Wirapati yang pernah kegembleng lima tahun di puncak Gunung Merbabu sudah tidak ada di atas bumi ini…”

“Guru!” seru si murid sekali lagi.

Begawan Citrakarsa tetap tak ambil perduli seorang pemuda terkutuk yang di delapan penjuru angin dikenal sebagai Pendekar Pemetik Bunga!

Berubahlah paras Pendekar Pemetik Bunga alias Wirapati. Dia membathin, rupanya apa yang telah dilakukannya sejak turun gunung dua tahun yang silam sudah diketahui oleh gurunya. Dia berpikir-pikir mencari akal, apakah yang bakal dikatakannya pada Begawan itu.

“Selama ini aku dikenal sebagai tokoh silat golongan putih yang mengutamakan ilmu untuk kebaikan, dan welas asih. Dunia persilatan menyegani dan menghormatiku! Tapi kini dari delapan penjuru angin umpat dan kutuk serapah dilontarkan kepadaku! Keningku dicoreng cemoreng oleh rasa malu yang tiada terkira! Semua itu adalah akibat perbuatan bejatmu, Wirapati! Perbuatan terkutukmu!”

“Guru,” kata Pendekar Pemetik Bunga dengan cepat. Akal busuk sudah didapatnya saat itu. “Rupanya guru telah tertiup oleh segala fitnah yang dilontarkan manusia-manusia biang racun! Lima tahun murid dididik dan digembleng oleh guru masakan sesudahnya turun gunung murid mau membuat kekotoran yang mencemarkan nama guru itu?! Semua fitnah belaka, guru! Percayalah! Justru murid malang melintang di dunia persilatan untuk membasmi kaum penjahat dan golongan hitam…!”

Begawan Citrakarsa tertawa tawar. “Kaukah yang difitnah atau engkau yang memfitnah, Wirapati? Gadis yang kau sandarkan di pohon itu cukup menjadi bukti! Kalau kau mau menipu aku, tunggulah sampai mataku buta!”

Pendekar Pemetik Bunga tidak kehabisan akal. Dia segera buka mulut pula, “Guru salah duga. Gadis itu adalah anak Bupati Sentot Sastra dari Kaliurang yang barusan murid tolong dan lepaskan dari tangan penculik-penculik dan perampok-perampok!”
Lagi-lagi Begawan Citrakarsa tertawa tawar.

“Lidah tidak bertulang memang bisa diputar balik!” katanya. “Tapi mataku tidak bisa diputar balik, Wirapati! Aku saksikan sendiri apa yang terjadi di tikungan jalan tadi! Masihkah kau mau berdusta di dalam kebejatanmu?!”

Kini Wirapati alias Pendekar Pemetik Bunga tak bisa berkata apa-apa lagi. Mulutnya terkatup rapat-rapat.

“Tak perlu kau berlutut dihadapanku Wirapati! Sejak arang cemar kau corengkan ke mukaku, sejak itu pula aku tak mengakuimu lagi sebagai murid!”

Rahang Pendekar Pemetik Bunga menonjol bergemeletak.

“Kejahatanmu laksana laut tidak bertepi! Dosamu sudah tak sanggup ditakar lagi! Sekarang berdirilah! Dan katakan cepat, cara mati bagaimana yang kau inginkan?!”

Kaget Pendekar Pemetik Bunga bukan alang kepalang!

Dipandangnya paras Begawan Citrakarsa. Mimik dan sorotan mata si orang tua jelas menyatakan bahwa apa yang diucapkannya itu bukan main-main!

“Guru…”

“Aku bukan gurumu!” bentak Begawan Citrakarsa.

Perlahan-lahan Pendekar Pemetik Bunga berdiri.

“Guru, kau betul-betul hendak membunuhku?” tanya pemuda itu, “atau cuma main-main saja…?”

“Bicara soal kematian bukan bicara main-main budak terkutuk!” hardik Begawan Citrakarsa.

“Bersiaplah untuk mampus!”

Begawan itu angkat tangan kanannya. Kemudian laksana kilat dipukulkan ke muka!

“Wuss!”

Asap putih mengepul dahsyat melanda ke arah Pendekar Pemetik Bunga. Melihat gurunya mengeluarkan ilmu dahsyat yang tak pernah dikenalnya atau diajarkan kepadanya sebelumnya, yakinlah Pendekar Pemetik Bunga bahwa si orang tua betul-betul bertekat hendak menghabisi nyawanya! Tak ayal, sebelum tubuhnya diserempet asap putih yang mengandung hawa sangat panas itu, si pemuda segera melompat ke samping sampai dua tombak!

“Bagus! Kau masih bisa mengelak! Tapi nyawamu tetap harus minggat ke neraka murid laknat!” gertak Begawan Cirakarsa. Tubuhnya berkelebat. Kini kedua tangannya yang kurus memukul bersama-sama.

Sinar putih berbuntal-buntal menyambar Pendekar Pemetik Bunga!

~ 6 ~

Serangan ganas ini membuat Pendekar Pemetik Bunga melompat sampai tiga tombak ke atas dan berseru nyaring, “Orang tua aku masih menaruh hormat pada kau! Hentikan seranganmu!”

“Hormat nenek moyangmu!” maki Begawan Citrakarsa beringas. Kedua tangannya kembali melesatkan buntalan sinar putih. Pendekar Pemetik Bunga cepat-cepat menukik menyelamatkan diri.

Wirapati atau Pendekar Pemetik Bunga jadi beringas pula kini.

“Begawan!” serunya lantang, “jika kau tak hentikan senuigan, terpaksa aku mengadu jiwa dengan kau! Harap jangan menyesal!”

Begawan Citrakarsa tidak perdulikan ucapan bekas muridnya.

Tubuhnya berkelebat cepat. Angin bersiuran, debu beterbangan dan atap rumbia pondok di atas bukit itu terbang bertaburan akibat keras dahsyatnya angin serangan sang Begawan!

Pendekar Pemetik Bunga penasarannya bukan main. Kutuk serapah tiada henti-hentinya dikeluarkan dalam hati. Kalau saja dia tidak memiliki tenaga dalam dan ilmu membentengi tubuh yang tinggi sempurna, pastilah dalam dua jurus saja dirinya sudah konyol mati kena digebuk salah satu lengan sang Begawan atau tersambar asap putih yang panas beracun itu!

Dalam tempo yang singkat, murid dan guru itu sudah bertempur delapan jurus. Keduanya kelihatan sama-sama gesit dan sama-sama lihai.

Namun memasuki jurus kedua belas walau bagaimanapun Pendekar Pemetik Bunga tiada sanggup lagi bertahan. Sekali tubuhnya kena dilanda jotosan Begawan Citrakarsa, tubuhnya mencelat mental membobolkan dinding kajang dan melingkar di lantai tanah dalam pondok!

Begawan Citrakarsa tidak menunggu sampai di situ saja. Mulutnya berkomat kamit. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Tangan itu berwarna merah kini.

Dan sewaktu tangan itu dipukulkan ke muka, lidah api yang dahsyat menyambar laksana topan prahara! Dalam sekejapan mata saja pondok itu tenggelam dalam kobaran api! ‘Tamatlah riwayatmu murid terkutuk!’ Begitu Begawan Citrakarsa membatin.

Tapi si orang tua menjadi kaget bukan main sewaktu matanya melihat sosok tubuh bekas muridnya itu berdiri tak jauh dari pondok yang tengah terbakar. Muka Pendekar Pemetik Bunga kelihatan agak pucat tanda jotosan Begawan Citrakarsa tadi telah menyebabkan luka yang cukup parah di bagian dalam tubuhnya!

Begawan Citrakarsa sendiri diam-diam merasa heran melihat pemuda itu masih sanggup berdiri meski dengan muka pucat pasi.

Jotosan yang dilancarkan tadi mempergunakan hampir setengah bagian tenaga dalamnya, namun pemuda itu tidak menemui ajalnya! Apakah selama turun gunung malang melintang berbuat kejahatan bekas muridnya itu juga telah memperdalam ilmu silat dan ilmu kesaktiannya?!

Begawan Citrakarsa tidak mau menunggu lebih lama. Tidak mau memberi kesempatan. Makin lekas dia berhasil membunuh muridnya itu, berarti makin cepat dia mencuci tangan dan membersihkan diri dari rasa malu yang melekat selama ini! Karenanya sang Begawan segera melompat ke muka kembali, menyerbu laksana seekor singa jalang yang kelaparan!

Dari jarak beberapa meter sebelum tubuhnya sampai kehadapan si pemuda, Begawan Citrakarsa sudah lancarkan dua pukulan dan dua tendangan jarak jauh yang hebat!
Pendekar Pemetik Bunga saat itu tengah alirkan tenaga dalam kebagian dada yang terluka dan atur jalan darah serta nafas. Melihat datangnya serangan ini dia terpaksa menghindar cepat sambil melepaskan pukulan “Tapak Jagat”.

Begawan Citrakarsa tertawa mengejek. Ilmu pukulan ‘Tapak Jagat’ itu dialah yang menciptakan dan mewariskan kepada Wirapati, masakan kini mempan dipakai untuk melawan penciptanya sendiri. Namun tawa mengejek si orang tua berubah dengan keterkejutan!

Begawan Citrakarsa sampai mengeluarkan seruan tertahan. Angin pukulan yang ditimbulkan oleh pukulan ‘Tapak Jagat’ itu dahsyatnya bukan main, lebih dahsyat daripada jika dia sendiri yang melepaskannya! Padahal Wirapati saat itu diketahuinya sedang terluka akibat jotosannya tadi!

Jelaslah si pemuda benar-benar telah menuntut ilmu kesaktian pada seorang tokoh utama dunia persilatan selama dia malang melintang dua tahun belakangan ini!

Si orang tua kini tidak mau memberi ampun lagi dan tak mau memperpanjang waktu! Lengking yang menggidikkan ke luar dari tenggorokannya. Bumi laksana dilanda lindu. Telinga Pendekar Pemetik Bunga laksana ditusuk dan kepalanya berdenyut pusing!

Lengkingan yang ke luar dari mulut Begawan Citrakarsa tiada kunjung henti sedang tubuh orang tua ini boleh dikatakan sama sekali tidak kelihatan lagi ujudnya, hanya bayangannya saja yang laksana angin bergulung-gulung menyelimuti tubuh Pendekar Pemetik Bunga. Dan di antara angin serangan yang bergulung-gulung itu serangan kaki tangan datang laksana hujan membadai! Inilah ilmu ciptaan Begawan Citrakarsa yang dinamakan “Seribu Angin Seribu Badai”. Hebatnya memang bukan alang kepalang!

Tapi sang Begawan jadi komat kamit beringas sewaktu dua jurus berlalu dan tak satu jotosan atau hantaman lengan ataupun tendangan kakinya yang berhasil mengenai tubuh lawan. Malah tiba-tiba dirasakannya dia laksana menyerang gunung batu yang menjungkir balikkan kembali setiap serangannya sedang sambaran angin aneh terasa memengapkan liang hidung serta tenggorokannya! Orang tua ini terpaksa tutup jalan nafas dan melompat ke luar dari kalangan pertempuran.

Dilihatnya bekas muridnya itu berlutut di tanah sedang tangannya kiri kanan tiada hentinya mengebut-ngebutkan tepi jubah hitamnya. Dari tepi jubah hitam itulah ke luar angin pengap yang ganas, membuat sang Begawan tidak berani kembali menyerang atau mendekat!

Tiba-tiba Begawan ini ingat pada ilmu “Asap Putih Pencari Raga” yang dimilikinya serta diyakininya selama tujuh tahun! Cepat-cepat dia melentingkan kedua telapak tangan ke muka.

Didahului oleh teriakan menggeledek maka dua larik asap putih yang menyilaukan melesat ke muka. Setengah jalan dua larikan asap itu berpencar menjadi dua lusin dan kedua lusinnya menyerang ke arah dua puluh empat jalan darah kematian di tubuh Pendekar Pemetik Bunga!

Pendekar Pemetik Bunga kebutkan tepi jubahnya sekencang-kencangnya dan cepat bergulingan di tanah. Untung sekali dia telah berguling menjauh begitu rupa karena angin pengap yang dilepaskannya tadi kali ini tiada sanggup menahan serangan “Asap Putih Pencari Raga” yang dilepaskan Begawan Citrakarsa.

Dan ketika pemuda itu berdiri lalu menoleh cepat ke tanah bekas tempat dia berada waktu diserang tadi, mau tak mau keringat dingin memercik dikuduknya! Betapakah tidak! Di tanah mata kepalanya sendiri menyaksikan 24 buah lobang sedalam setengah jengkal akibat serangan bekas gurunya tadi! Sang Begawan mengeluarkan tertawa mengekeh.

“Kematianmu sudah hampir dekat murid terkutuk!” katanya. “Setan neraka mungkin sudah tak sabar menunggumu. Cacing-cacing kuburan tentu ingin lekas-lekas menggerogoti dagingmu…!”

“Orang tua gendeng! Jangan bermulut besar bicara ngaco! Sekali aku bilang mengadu nyawa padamu, jangan harap kau bisa membunuhku tanpa kau punya nyawa anjing juga turut minggat ke neraka jahanam!” Habis berkata begitu Pendekar Pemetik Bunga cabut bunga kuning yang terbuat dari kertas dari balik ikatan rambut di kepalanya!

“Ooo… bunga kertas buruk itukah yang kau andalkan untuk membunuhku?!” ejek Begawan Citrakarsa dengan memencongkan hidung.

“Kau boleh mengejek kunyuk keriput!” serapah Wirapati alias Pendekar Pemetik Bunga. “Sebentar lagi roh busukmu akan terbang dibawa bunga maut ini!”

“Cuma bunga kertas mainan bocah-bocah siapa takutkan?!” ejek Begawan Citrakarsa dan dengan serta merta dia kiblatkan kedua tangannya, kembali memancarkan serangan “Asap Putih Pencari Raga”.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 7)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.