Rabu, 14 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 5)

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Beberapa ekor kuda yang di muka sekali meringkik terkejut. Pengemudi dan pengawal kereta kagetnya bukan main. Semua anggota rombongan menghentikan kuda masing-masing. Dan melihat gelagat yang tidak baik, setiap anggota rombongan bersikap waspada.

“Semua laki-laki yang ada di sini, termasuk pengemudi kereta kuharap segera angkat kaki tinggalkan tempat ini. Berlalu dengan cepat!”

Begitu si pemuda memerintah. Dan dia masih juga duduk di cabang pohon seenaknya.
Penunggang kuda yang paling muka yang bertindak sebagai pimpinan rombongan mendongak ke atas dan bertanya dengan membentak.

“Orang asing! Kau siapa?!”

“Buset! Kau punya nyali membentak aku hah? Apa kau punya jiwa rangkap!”

Si penunggang kuda mendengus. “Caramu memerintah nyatalah bahwa kau mempunyai niat jahat!”

“Betul sekali sobat! Karenanya lekaslah tinggalkan tempat ini kalau kalian semua tidak mau cilaka!”

Penunggang kuda yang bertindak sebagai pemimpin rombongan melihat sikap dan tempat di mana pemuda rambut gondrong itu duduk sesungguhnya sudah sejak tadi mengetahui bahwa manusia asing itu seorang yang berilmu sangat tinggi. Namun dengan mengandalkan jumlah yang banyak, mengandalkan kawan-kawannya yang rata-rata memiliki ilmu silat, nyalinya tidaklah menjadi kendor menghadapi si pemuda rambut gondrong!

“Kalau kau seorang perampok, cari saja orang lain untuk dirampok! Salah-salah riwayatmu bisa tamat sampai di sini, sobat.”

Pemuda di atas cabang pohon tertawa gelak-gelak. Suara tertawanya menggetarkan tikungan jalan itu, juga menggetarkan hati dua belas penunggang kuda! Bahkan suara tertawa itu telah membuat satu tangan halus menyibakkan tirai kereta dan memunculkan sebuah kepala perempuan muda belia berwajah cantik berkulit halus mulus.

“Manusia-manusia tolol! Orang sudah kasih ampun den kasih selamat kalian punya jiwa tapi malah berlagak jago!” bentak orang di atas cabang pohon! “Silahkan cabut senjata kalian agar kalian semua tidak mampus percuma!”

Habis berkata begitu si pemuda laksana seekor alap-alap melompat turun. Tubuhnya berkelebat cepat dan terdengadah jeritan yang menggidikkan! Tiga penunggang kuda terpelanting dari punggung kuda masing-masing. Kepala ketiganya hancur remuk dimakan tendangan kaki kanan pemuda tadi!

Yang sembilan orang lainnya, tambah satu dengan pengemudi kereta dengan serentak segera mencabut golok masing-masing. Tanpa menunggu lebih lama yang sembilan orang segera menyerbu sedang pengemudi kereta dengan golok melintang di muka dada tetap berada di atas kereta.

Sebentar saja hujan golok menyelubungi si pemuda. Pemuda itu berdiri di tengah-tengah siuran golok dengan bertolak pinggang dan sambil tertawa-tawa. Sekali-sekali dia membuat sedikit gerakan. Meskipun sedikit gerakan itu sekaligus berhasil mengelakkan sembilan serangan golok yang menderu-deru.

Tiba-tiba pemuda itu membentak nyaring. Tubuhnya merunduk di antara bacokan dan tebasan golok. Pekik lolong terdengar susul menyusul.

Empat pengeroyoknya berpelantingan dan bergeletakan tanpa nyawa di tengah jalan. Yang lima orang lainnya kejut serta kaget mereka bukan olah-olah.

‘Tegal Ireng!” teriak pemimpin rombongan. “Larikan kereta dari sini cepat! Aku dan yang lain-lainnya menahan bangsat ini!”

Kusir kereta tak ayal lagi segera sentakkan tali kekang. Dua ekor kuda melonjak dan melompat ke muka. Sementara itu lima golok menyerbu pemuda rambut gondrong dengan ganasnya. Tapi yang diserbu ganda tertawa. Dia membuat lompatan setinggi tiga tombak. Dua orang pengeroyoknya jungkir balik di makan tendangan.

Bersamaan dengan itu tangan kanannya dihantamkan ke arah dua ekor kuda penarik kereta yang segera hendak lari meninggalkan tempat itu. Gelombang angin yang sangat dahsyat Menghantam hancur delapan kaki binatang itu sehingga kuda dan kereta angsrok kejalanan. Ringkik kuda terdengar tiada hentinya sedang dari dalam kereta melengking jeritan perempuan!

Pemimpin rombongan, dengan sangat penasaran cabut lagi sebatang golok dari pinggangnya. Dengan sepasang golok, bersama dua orang kawannya dia menyerbu kembali!

“Kunyuk-kunyuk tolol! Nyali kalian memang patut kupuji! Tapi kalian adalah manusia-manusia tidak berguna! Karenanya pergilah ke neraka!”

Pemuda rambut gondrong kebutkan tepi jubah hitamnya. Serangkum angin pengap menyerang ke arah tenggorokan ketiga lawannya. Manusia-manusia itu mengenduskan suara seperti tercekik sewaktu tubuh mereka mental dilanda angin dahsyat. Dari mulut masing-masing menyembur darah segar. Nyawa ketiganya lepas bersamaan dengan rubuhnya tubuh mereka ke tanah!

Pemuda berambut gondrong yang mengenakan jubah hitam berbunga-bunga kuning tertawa gelak-gelak. Tiba-tiba dirasakannya sambaran angin di belakangnya. Dibalikkannya tubuhnya dengan cepat.

Sebatang golok laksana anak panah melesat ke arah batok kepalanya!

~ 5 ~

“Kurang ajar betul!” teriak pemuda berjubah hitam. Dia gerakkan tangan kanannya. Lihai sekali golok maut itu berhasil ditangkapnya lalu dilemparkannya ke arah kereta.

Laki-laki yang menjadi kusir kereta, yang tadi melemparkan golok itu kepada si pemuda dengan serta merta melompat dari kereta yang sudah angsrok itu dan bergulingan di tanah. Golok menancap di bangku kayu pada bagian depan kereta!

Kusir kereta yang menyadari bahwa dirinya kini tinggal sendirian, melihat serangannya tidak mengenai sasaran jadi lumer nyalinya. Tanpa banyak cerita kusir ini segera ambil langkah seribu seraya berteriak. “Den Ayu Galuh Warsih lekas lari selamatkan dirimu!”

“Kunyuk tengik!” teriak pemuda berjubah hitam sambil keluarkan dengusan. “Kalau mau lari, larilah sendiri ke neraka!”

Sekali pemuda ini lambaikan tangan kanannya, kusir kereta itu mental menghantam pohon dilanda angin dahsyat yang ke luar dari telapak tangan si pemuda!

Di saat itu pintu kereta sebelah kanan terbuka lebar-lebar dan seorang gadis bertubuh ramping, berkulit hitam manis yang memiliki wajah mempesona ke luar dengan paras pucat. Lututnya gemetar. Bulu kuduknya merinding melihat sosok-sosok mayat pengawalnya yang bertebaran di mana-mana, mati dalam keadaan mengerikan!

Gadis itu menyurut beberapa langkah sewaktu pemuda berjubah hitam melangkah mendekatinya.

“Ah, dewiku, kenapa takut padaku?” ujar si pemuda dengan mengulum senyum. “Namamu Galuh Warsih bukan? Dan kau anaknya Sentot Sastra dari Kaliurang, betul?”

Galuh Warsih menyurut lagi beberapa langkah. Pada tampang yang gagah dari si pemuda, pada sunggingan senyumnya nyata kelihatan sifat kebuasan, sifat kejalangan!

Gadis ini terpekik sewaktu sekali lompat saja si pemuda sudah berada dihadapannya.
“Saudara, kau siapa? Mengapa membunuh pengawal-pengawalku?!”

Meski takutnya bukan main namun Galuh Warsih masih bernyali mengajukan pertanyaan itu.

Yang ditanya tertawa.

“Ah.., itu satu pertanyaan yang pantas dijawab,” katanya. Tangan kirinya ditopangkannya ke sanding belakang kereta. “Namaku tak seberapa perlu dewiku sayang. Aku cukup dikenal dengan gelar Pendekar Pemetik Bunga.”

Paras Galuh Warsih laksana kain kafan, putih seperti tiada berdarah. Sebaliknya pemuda yang mengaku bergelar Pendekar Pemetik Bunga tertawa gelak-gelak.

“Dan kalau dewiku bertanyakan mengapa aku membunuh pengawal-pengawalmu itu adalah karena mereka sedeng semua! Disuruh angkat kaki dari sini agar selamat malah minta mati!”

“Ayahku Bupati Kaliurang pasti akan menyuruh pancung kepalamu atas semua kejahatan ini.”

Pendekar Pemetik Bungs tertawa mengekeh. “Sudahlah,” katanya, “di tempat bangkai-bangkai berserakan ini kita tak usah banyak bicara. Kau ikut aku, Galuh Warsih. Kita pergi ke bukit sebelah sana…”

“Tidak!”

“Di bukit sana ada sebuah pondok!”

“Tidak, aku tidak mau! Aku tidak sudi ikut sama kau manusia biadab!” teriak Galuh Warsih.

“Di situ, di pondok itu nanti kau akan merasakan sorga dunia yang tiada taranya dewiku manis….” Dengan tertawa gelak-gelak Pendekar Pemetik Bunga maju mendekati Galuh Warsih. Si gadis cepat menyambar kayu patahan papan kereta dan dengan kedua tangannya menghantamkan kayu itu ke kepala Pendekar Pemetik Bunga, Pemuda berhati bejat itu ganda tertawa. Dia merunduk dan begitu maju, sekaligus dia sudah merangkul pinggang Galuh Warsih.

Galuh Warsih menjerit melolong-lolong. Kedua tangannya tiada henti mendambuni punggung dan menjambaki rambut gondrong Pendekar Pemetik Bunga. Tapi pemuda itu tiada perduli. Malah dengan tertawa dan bersiul-siul gembira laksana angin cepatnya tubuh Galuh Warsih dilarikan ke puncak sebuah bukit di sebelah timur!

Hampir sepeminum teh kemudian maka pondok kayu itu sudah kelihatan dari jauh. Nafsu yang menghempas-hempas pembuluh darah dan menegangkan sekujur tubuh Pendekar Pemetik Bungs membuat manusia terkutuk itu tancap gas tambah percepat larinya agar lekas-lekas sampai ke pondok itu dan agar lekas pula melampiaskan nafsu bejat terkutuknya!

Tapi betapa terkejutnya Pendekar Pemetik Bunga sewaktu makin dekat ke pondok itu sepasang telinganya menangkap suara nyanyian.

Yang lebih mengejutkan ialah karena suara nyanyian itu keluarnya dari dalam pondok kayu dihadapannya itu!

Dua tahun dilepas pergi
Dua tahun turun gunung
Dua tahun berbuat keji
Dua tahun tak tahu untung

Lima tahun belajar percuma 
Lima tahun dididik tiada guna 

Kehancuran dimana-mana 
Pembunuhan di mana-mana 
Semua karena buta hati dan buta mata 
Semua karena buta rasa 

Percuma bagusnya gunung 
Percuma tingginya gunung 
Kalau meletus bencana di mana-mana 

Anak manusia lupa daratan 
Anak manusia membuat kebejatan 
Apakah selusin nyawa di badan? 
Apakah ilmu setinggi awan?

Pendekar Pemetik Bunga hentikan larinya. Galuh Warsih yang masih mendambun-dambun punggungnya, yang masih berteriak-teriak meskipun suaranya parau segera ditotoknya. Dipasangnya telinganya sedang kedua matanya memandang tajam-tajam ke arah pintu pondok yang terbuka. Tak satu sosok manusiapun yang dapat dilihatnya dari tempat dia berdiri.

Namun suara nyanyian tadi kembali terdengar. Terdengar dan keluar dari pondok itu!

Dua tahun dilepas pergi, 
Dua tahun turun gunung…

Ada suatu rasa aneh menyelinapi hati Pendekar Pemetik Bunga. Rasa aneh ini bukan saja hanya sekedar menyelinap, tapi juga membuat hatinya menciut-ciut dan dadanya berdebar. Dia melangkah kembali, pelahan kini.

Mata memandang tajam, ke pintu pondok yang terbuka, sikap penuh waspada.

Lima tombak dari hadapan pondok, untuk kedua kalinya Pendekar Pemetik Bunga hentikan langkah. Bayangan seseorang dapat dilihatnya melangkah ke pintu. Dalam kejapan mata kemudiannya maka terbenturlah pandangannya pada tubuh seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering berselempang kain putih. Janggut dan rambutnya yang hitam menjelang panjang sampai ke pinggang.

“Guru!” seru Pendekar Pemetik Bunga.

Tubuh Galuh Warsih segera diturunkannya dari pundak, didudukkannya di bawah sebatang pohon lalu dia sendiri berlari dan berlutut dihadapan orang tua yang berdiri di ambang pintu pondok.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 6)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.