Selasa, 13 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 4)

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Sabuk mutiara di tangan kanan Pendekar Pemetik Bunga kena disambar den terlepas mental dari tangan pemuda itu! Si pemuda sendiri dengan jungkir balik susah payah baru berhasil ke luar dari sambaran tongkat bambu serta semburan asap kuning yang dilepaskan lawan!

Matanya membeliak, mulutnya komat kamit. Mukanya mengelam sewaktu si orang tua melangkah perlahan mendekatinya dengan tertawa sedingin salju!

“Nyawa anjingmu hanya tinggal beberapa detik saja, pemuda terkutuk!” kata Datuk Bambu Kuning. “Sejak hari ini dunia persilatan akan bersih dari noda kekotoran manusia macam kau!”

“Aku masih belum menyerah keparat!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. Mulutnya masih komat-kamit. Matanya dengan waspada memperhatikan setiap gerak yang dibuat Datuk Bambu Kuning.

“Aku memang tak suruh kau menyerah, “ sahut Datuk Bambu Kuning dengan tertawa sedingin tadi. “Aku cuma perlu nyawa anjingmu!”

“Soal nyawa soal mudah,” tukas Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga.

Diam-diam dia salurkan seluruh tenaga dalamnya ke ujung jari telunjuknya.

Sesaat kemudian ujung jari itu menjadi hitam legam dan mengeluarkan sinar menggidikkan. “Orang tua edan, kau lihat jari ini?!”

Datuk Bambu Kuning memandang dengan kerenyit kulit kening pada jari telunjuk tangan kanan Pendekar Pemetik Bunga. Darahnya tersirap, mukanya berubah.

Pendekar Pemetik Bunga tertawa mengekeh. “Kenapa mukamu menjadi pucat, kunyuk tua?!”

Datuk Bambu Kuning tidak menyahut. Mukanya bertambah pucat dan matanya melotot memandang tajam-tajam pada jari telunjuk si pemuda.

Ketika jari telunjuk itu dan ibu jari si pemuda membuat lingkaran. Datuk Bambu Kuning berseru kaget. “Ilmu Jari Penghancur Sukma!” Dengan serta merta Datuk Bambu Kuning bagi dua aliran tenaga dalamnya. Sebagian ke ujung tongkat bambu den sebagian lagi ke dada!

“Makan jariku ini, Datuk keparat!” seru Pendekar Pemetik Bunga.

Dikejap itu juga dia menjentikkan jari telunjuknya. Satu gelombang angin hitam menderu laksana topan prahara, menyereng ke arah Datuk Bambu Kuning. Di saat yang sama Datuk Bambu Kuning sapukan tongkat di tangan kanan dan semburkan asap kuning!

Datuk Bambu Kuning berteriak kaget ketika melihat angin pukulan bambu kuning dan sambaran asap kuningnya buyar berantakan dilanda angin hitam lawan. Dan angin hitam yang menggidikkan ini terus melesat ke arahnya. Datuk Bambu Kuning cepat menyingkir tapi kasip!

Orang tua itu mencelat beberapa tombak jauhnya ketika angina hitam menyambar tubuhnya. Dan terdengarlah jeritnya melengking langit!

Datuk Bambu Kuning terguling-guling di tanah. Sekujur tubuhnya hitam hangus! Nyawanya tidak ketolongan lagi, putus kejap itu juga!

Pendekar Pemetik Bunga mengatur jalan nafas dan aliran darahnya kembali. Sewaktu dia menggerakkan kakinya baru disadariya bahwa kedua kakinya itu telah tenggelam ke dalam tanah sedalam lima senti! Bila pemuda ini melangkah mendekati Ning Leswani, kembali terdengar makian gadis itu.

Makian yang kemudian disusul dengan jeritan. Tak ada satu orangpun yang berani menghalangi dan berbuat suatu apa ketika Ning Leswani dipanggul oleh Pendekar Pemetik Bunga dan dilarikan!

Sampai pagi, sampai ketika matahari muncul di utuk timur desa masih diselimuti oleh kehebohan atas apa yang telah terjadi!

Ki Lurah Rantas Madan den Rana Wulung bersama kira-kira selusin penduduk, dengan membawa berbagai senjata dan menunggangi kuda coba mencari jejak Pendekar Pemetik Bunga. Namun ke mana manusia durjana itu hendak dicari?! Menjelang tengah hari, mereka sudah berbisik-bisik sesama mereka bahwa tak mungkin mereka akan menemui Ning Leswani. Kalaupun bertemu, tentu gadis itu sudah rusak kehormatannya!

Dan seandainya pula mereka berhasil menyergap Pendekar Pemetik Bunga, belum tentu mereka sebanyak itu bisa membekuk batang lehernya!

Rantas Madan tahu suasana yang dirasakan anggota-anggota rombongannya. Dia berunding dengan Rana Wulung dan akhirnya diambil keputusan untuk pulang saja.

Terik matahari membakar kulit di siang itu. Rana Wulung dengan muka pucat menunggangi kudanya di samping Rantas Madan. Hati pemuda ini hancur sudah! Dendam kesumatnya terhadap Pendekar Pemetik Bunga tak akan pupus selama hidupnya!

Ketika rombongan melalui lereng sebuah bukit dalam perjalanan pulang itu, ada sesuatu yang menarik perhatian Rana Wulung. Dia berpaling pada Rantas Madan.

“Bapak, kau lihat burung-burung gagak yang beterbangan di puncak bukit itu.”

Ki Lurah Rantas Madan terkejut lalu memandang ke puncak bukit di atasnya. Beberapa burung gagak hitam dilihatnya terbang berputar-putar naik turun di atas puncak sana. Berdebar hati laki-laki ini. Lalu dihentikannya rombongan.

“Kita ke sana!” mengambil keputusan Rantas Madan. Masing-masing kemudian memacu kuda mereka ke puncak bukit. Rana Wulung di depan sekali. Di puncak bukit pemuda ini menghentikan kudanya dan meneliti ke mana turunnya burung-burung gagak tadi. Diikuti oleh anggota-anggota rombongan yang lain Rana Wulung bergerak ke arah serumpunan semak belukar lebat. Waktu dia mencapai semak itu, empat ekor burung gagak terbang ke udara.

Rana Wulung melompat dari kudanya dan lari ke balik semak belukar lebat.

“Tuhanku!” seru pemuda itu. Lututnya goyah. Matanya membeliak.

Tiba-tiba laksana orang kalap dia melompat ke muka sambil berseru nyaring . “Nining! Nining!”

Ning Leswani terhampar di atas rerumputan. Tak selembar benangpun yang menutupi auratnya. Tubuh yang telanjang ini sudah tiada nafas lagi dan sebagian sudah berlubang-lubang dipatuk gagak-gagak hitam pemakan bangkai! Tubuh yang malang itulah yang dipeluk Rana Wulung. Namun cuma sebentar saja. Sewaktu Rantas Madan dan rombongan lainnya sampai ke situ, Rana Wulung sudah jatuh pingsan!

Rantas Madan sendiri hampir-hampir tak kuat pula menyaksikan pemandangan itu! Hampir tak sanggup melihat anak kandung yang dikasihinya menemui kematian dalam cara yang mengenaskan begitu rupa. Mulutnya komat kamit. Tenggorokannya turun naik.

“Anakku….” desis laki-laki itu. Dia berlutut. Beberapa orang menarik Rana Wulung dari atas tubuh Ning Leswani. Rantas Madan cepat membuka bajunya dan menutupi aurat anaknya dengan baju itu. Air matanya berlinang. Dendam kesumat seperti mau memecahkan dadanya saat itu!

~ 4 ~

MUNCULNYA Pendekar Pemetik Bunga menyebar maut, darah dan noda benar-benar menggemparkan dunia persilatan. Kekejaman dan kebejatan terkutuk yang dilakukannya selama malang melintang beberapa bulan belakangan ini benar-benar merupakan satu tantangan bagi dunia persilatan, terutama mereka dari golongan putih.

Hal ini tak dapat dibiarkan lama, dan berlarut-larut. Beberapa tokoh silat utama dari golongan putih kabarnya telah turun tangan membuat perhitungan dengan Pendekar Pemetik Bunga. Tapi apa yang terjadi kemudian benar-benar membuat dunia persilatan tambah geger!

Bagaimanakah tidak! Semua tokoh-tokoh silat yang berani bikin perhitungan itu disikat mentah-mentah oleh Pendekar Pemetik Bunga.

“Ilmu Jari Penghancur Sukma” yang dimiliki pemuda terkutuk itu menjadi biang momok mengerikan bagi dunia persilatan, apalagi bagi orang-orang yang tidak mengerti silat sama sekali! Tiap kota dan desa, tiap kampung dan pelosok diselimuti rasa ketakutan dan cemas. Takut dan cemas kalau Pendekar Pemetik Bunga akan muncul mendadak di daerah mereka, menyebar maut dan menebar noda di kalangan penduduk yang tak berdosa!

Kejahatan, kebejatan dan seribu satu macam perbuatan terkutuk yang dilakukan oleh Pendekar Pemetik Bunga itu telah sampai pula ke puncak gunung Merbabu.

Saat itu tengah hari tepat. Matahari berada dititik tertingginya.

Keterikan sinar matahari tiada terasa di atas puncak gunung yang ditutupi halimun sejuk itu. Asap belerang dari kawah gunung bergulung-gulung ke atas, bercampur jadi satu dengan halimun dan menutupi pemandangan.

Di satu bagian dari puncak gunung Merbabu, di dalam sebuah ruangan batu, diterangi oleh sebuah pelita kecil kelihatan duduk seorang laki-laki tubuhnya kurus sekali, hampir tinggal kulit pembalut tulang.

Tubuh yang kurus ini ditutupi dengan sehelai selempang kain putih. Melihat kepada air mukanya yang penuh dengan keriputan itu nyatalah bahwa manusia ini umurnya sudah lanjut sekali. Tapi anehnya, rambut dan janggutnya yang panjang sampai ke pinggang itu masih berwarna hitam legam dan berkilat-kilat ditimpa sinar pelita.

Orang tua ini adalah Begawan Citrakarsa. Saat itu dia tengah bersemedi mengheningkan cipta rasa dan menutup semua inderanya. Ketika matahari menggelincir ke titik tenggelamnya, ketika sinar kuning emas berpadu dengan sinar kemerahan menyaputi langit di ufuk barat barulah Begawan itu menyelesaikan semedinya. Dibukanya kedua matanya, dibukanya segenap inderanya. Kemudian perlahan-lahan Begawan ini berdiri dari duduknya dan melangkah ke pintu.

Dari pintu batu tempat dia berdiri itu dapat dilihatnya keseluruhan puncak Gunung Merbabu. Sebagian dari puncak Gunung Merbabu itu telah diselimuti lagi oleh kabut belerang dan halimun. Di kaki gunung menghampar sawah ladang. Jauh di sebelah selatan mengalir sebatang anak sungai. Begawan Citrakarsa menghela nafas dalam. Betapa indahnya bumi buatan Tuhan. Tapi betapa sayangnya, bumi yang indah dan suci itu telah dikotori oleh segala macam kemaksiatan, segala macam kemesuman, kejahatan, kebejatan!

Begawan Citrakarsa masuk kembali ke dalam ruangan batu. Dari dinding ruangan batu diambilnya sebilah keris lalu disisipkannya ke balik selempangan kain putih di pinggangnya. Dengan sedikit lambaian tangan Begawan Citrakarsa memadamkan pelita dalam ruangan batu itu. Dia melangkah ke pintu kembali. Di luar puntu terdapat sebuah batu besar.

Dengan mempergunakan tangan kirinya Begawan ini menggeser batu itu hingga menutupi pintu ruangan batu. Batu besar itu beratnya ratusan kati, tapi sang Begawan hanya menggesernya dengan mempergunakan tangan kiri! Sampai dimana kehebatan tenaga dalam Begawan bertubuh kurus yang hanya tinggal kulit pembalut tulang itu sungguh tak dapat dijajaki!

Bila angin dari timur bertiup sejuk. Bila bola penerang jagat hanya seperenam bagiannya saja lagi yang kelihatan di ufuk barat sana dan bila puncak gunung Merbabu hampir keseluruhannya terselimut halimun maka Begawan itupun menggerakkan kakinya.

Sepasang kaki yang kurus kering itu dengan lincah dan dengan kecepatan yang luar biasa berlari di tepi kawah dengan seenaknya. Sekali-sekali melompati jurang batu yang lebarnya sampai tiga – empat tombak. Bersamaan dengan lenyapnya sang surya ke tempat peraduannya maka bayangan Begawan Citrakarsa pun tak kelihatan lagi di puncak gunung Merbabu itu.

***

Tikungan jalan itu terletak di tempat yang ketinggian. Sinar matahari panasnya seperti mau memanggang kulit. Burung-burung kecil yang berlindung di balik daun-daun pepohonan berkicau tiada hentinya seakan-akan turut gelisah oleh panasnya hari sehari itu.

Pemuda berambut gondrong di atas cabang pohon duduk dengan sepasang mata yang terus menatap ke liku-liku jalan di kaki bukit. Sudah satu jam hampir dia berada di cabang pohon itu dan apa yang ditunggunya masih juga belum muncul. Kekesalan hatinya dicobanya melenyapkan dengan bersiul-siul.

Ada satu keluarbiasaan, cabang pohon yang diduduki pemuda itu kecil sekali. Jangankan manusia, seekor kucingpun bila duduk di situ pastilah cabang itu akan menjulai ke bawah. Tapi anehnya, diberati oleh tubuh pemuda berambut gondrong itu, jangankan menjulai, bergerak sedikitpun cabang pohon itu tidak! Kalau si pemuda bukannya seorang sakti mandraguna yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, pastilah hal itu tak bisa kejadian.

Sepeminuman teh berlalu. Si pemuda memandang lagi ke kaki bukit, ke arah liku-liku jalan.

“Sialan, apa kunyuk-kunyuk itu tidak jadi melewati jalan ini?! Sialan be…”

Tiba-tiba pemuda itu hentikan makiannya. Bola matanya membesar dan dibibirnya menggurat seringai tajam. Jauh di bawah bukit, diantara pohon-pohon di liku-liku jalan dilihatnya sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda putih, dikawal oleh selusin penunggang kuda. Debu menggebu ke udara. Pemuda itu kini tertawa-tawa sendirian. Hatinya gembira. Yang ditunggunya telah kelihatan di bawah sana, dan pasti akan melewati tikungan jalan dimana dia menunggu saat itu.

Kira-kira dua kali peminuman teh maka terdengarlah derap kaki-kaki kuda dan gemerataknya suara roda kereta mendekati tikungan jalan.

Karena tikungan itu mendaki, maka pengemudi kereta dan penunggang penunggang kuda agak memperlambat lari kuda masing-masing.

Pada saat itulah pemuda rambut gondrong yang duduk di cabang pohon mengeluarkan suara memerintah yang menggeledek!

“Berhenti!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 5)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.