Selasa, 13 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 3)

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Si orang tua menggeru. Dia maju dua langkah. Sabuk itu dipegangnya di tangan kiri. Nyatalah dia seorang kidal. Dia menggeru lagi untuk kedua kalinya. Dan pada kali yang ketiga sambil melompat ke muka si orang tua sapukan sabuk mutiaranya.

Kedahsyatan sabuk mutiara itu sangat mengejutkan Pendekar Pemetik Bunga! Tubuhnya laksana dilanda bertubi-tubi oleh ombak sebesar gunung. Dengan kerahkan tenaga dalam dan andalkan ilmu mengentengi tubuhnya yang tinggi dia berhasil mengelak sebat.

Namun tak urung akhirnya dia kena di desak.

“Setan alas!” maki pemuda itu. Untung saja lawannya sudah terluka di dalam yang teramat parah sehingga gerakan-gerakannya agak lamban.

Melihat bahwa lawannya agak jerih dan terdesak, si orang tua mempercepat gerakannya. Tiba-tiba Pendekar Pemetik Bunga membungkuk dan kemudian berdiri lagi dengan memegang tepi jubah hitamnya. Sekali dia mengebutkan tepi jubah hitam itu, hawa yang sangat pengap menyambar dahsyat memapaki angin pukulan yang keluar dari sabuk mutiara si orang tua!

Si orang tua merasa kepengapan menyambar hidungnya. Nafasnya yang memang sudah tidak normal kini menjadi tambah tak teratur. Ternyata sabuk mutiara yang sangat diandalkannya tiada sanggup menghadapi kehebatan jubah hitam lawan! Semakin lama tubuhnya semakin lemah, dadanya sesak dan pemandangannya mengabur!

“Pemuda keparat, lihat ini!” seru si orang tua. Tangan kanannya lenyap ke dalam saku baju dan ketika ke luar lagi maka selusin senjata rahasia yang menyilaukan menyambar ke arah si pemuda.

Pendekar Pemetik Bunga tarik jubahnya ke atas tinggi-tinggi lalu mengebutkannya ke bawah dengan cepat. Angin pengap yang dahsyat menyambar. Lima senjata rahasia lawan berpelantingan. Tujuh lainnya di sapu dan membalik menyerang pemiliknya sendiri!

Malangnya si orang tua tak menyangka dan tak sempat mengelak, Tubuhnya tak ampun lagi ditembusi ke tujuh senjata rahasia miliknya sendiri! Orang tua itu mengeluarkan pekikan yang menyayat hati! Tubuhnya tergelimpang di tanah. Dia mati dengan mata membeliak! Mati dengan sabuk mutiara masih di tangannya.

Pendekar Pemetik Bunga tertawa mengekeh. Betapa menjijikkan dan mengerikan. Dia melangkah ke hadapan mayat si orang tua dan membungkuk, Sabuk mutiara direnggutkannya dari tangan kiri mayat lalu dipakainya di pinggang.

Dibalikkannya badannya. Matanya memandang sekilas pada Ning Leswani yang berdiri dengan tubuh gemeter dan muka pucat pasi.

Kemudian dia memandang berkeliling. Dan serunya. “Siapa lagi yang inginkan mampus silahkan maju dengan cepat.”

Tak satu orangpun yang bergerak dari tempatnya.

Sambil tertawa panjang Pendekar Pemetik Bunga melangkah mendekat Ning Leswani. Si gadis cepat menyurut mundur. “Gadis manis, kau tak perlu takut padaku! Kau harus tahu, kunyuk yang bernama Rana Wulung itu tidak pantas jadi suamimu. Lebih pantas jika kau ikut aku…”

“Manusia biadab! Pergi…!” teriak Ning Leswani. Pendekar Pemetik Bunga menyeringai. Dia maju melangkah. Ibu Ning Leswani yang coba menghalanginya sambil berteriak-teriak dengan sekali tepis saja tersungkur ke tanah.

“Pergi!” teriak Ning Leswani lagi.

“Ya, kita pergi sama-sama manisku!” sahut Pendekar Pemetik Bunga dengan mata yang memancarkan nafsu menggelora. Diulurkannya tangannya untuk meraih pinggang gadis itu. Justru pada saat itulah terdengar bentakan yang sangat nyaring.

“Pendekar terkutuk! Tarik tanganmu…!”

~ 3 ~

PENDEKAR Terkutuk Pemetik Bunga hentikan gerakan tangannya yang hendak menjamah tubuh Ning Leswani. Kepalanya di putar.

Sepasang matanya membentur sosok tubuh seorang laki-laki tua berbadan bungkuk, berambut dan berjanggut putih. Orang tua yang berselempang kain putih ini berdiri dengan sebatang tongkat bambu kuning di tangan kanan.

“Siapa kau?” bentak Pendekar Pemetik Bunga.

Yang ditanya menyeringai dan ketuk-ketukkan tongkat bambu kuningnya ke tanah. Ketukan ini membuat semua orang merasa bagaimana tanah yang mereka pijak menjadi bergetar. Bambu kuning di tangan si orang tua pastilah satu senjata yang sangat hebat. Dan orang-orang yang masih ada di situ, yang membenci terhadap Pendekar Pemetik Bunga merasa punya harapan kembali atas kemunculan si orang tua berselempangan kain putih ini.

“Lekas jawab!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. “Kalau tidak kau akan mati percuma!”

Si janggut putih ketuk-ketukkan lagi tongkat bambu kuningnya ke arah tanah. Matanya yang kecil memandang tajam pada si pemuda jubah hitam.

“Ratusan hari turun gunung, puluhan minggu mengarungi lembah dan bukit, berbulan-bulan menyeberangi sungai memasuki hutan belantara akhirnya kau kutemui juga. Heh… he… he… he… he …!”

“Kau masih belum mau beri tahu siapa namamu, orang tua? Jangan menyesal!”

“Namaku tidak penting, manusia bejat. Yang penting ialah apa kau masih ingat kebiadaban yang kau lakukan di desa Srintil beberapa bulan yang silam…?”

Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga kerutkan kening. Sepasang alis matanya menaik.

“Sembilan laki-laki tak berdosa kau bunuh. Dua diantaranya adalah muridku. Empat orang perempuan di desa itu kau bawa kabur, kau perkosa lalu kau bunuh! Kau lupa itu semua…?!”

“Hem….” Pendekar Pemetik Bunga manggut-manggut beberapa kali. “Tidak, aku tidak lupa,” katanya dengan terus terang.

“Bagus sekali kalau kau tidak lupa!” ujar si orang tua. Dan bambu di tangan kanannya di ketuk-ketukkannya lagi. Tanah kembali bergetar. “Orang-orang desa telah datang kepadaku mengadukan kebiadabanmu itu…”

“Berapa uang suap yang diberikan orang-orang desa padamu untuk mencariku orang tua?!” ejek Pendekar Pemetik Bunga.

Wajah si orang tua kelihatan menjadi merah. Dia tertawa dingin.

“Sekalipun mereka tidak datang ke puncak gunung Bromo, memang sudah sejak lama aku berniat turun tangan membekuk batang lehermu…!”

Pendekar Pemetik Bunga tertawa gelak-gelak, “Oh jadi kau adalah Datuk Bambu Kuning dari gunung Bromo?!”

Si orang tua kini balas tertawa panjang-panjang sambil tangan kirinya mengusap-usap janggut putihnya yang panjang menjela sampai ke dada.

“Kalau sudah tahu siapa aku, mengapa tidak lekas-lekas bertobat dan bunuh diri? Atau masih perlu aku memecahkan kepalamu dengan bambu kuning ini?!”

“Kentut!” maki Pendekar Pemetik Bunga dengan muka membesi penuh marah.

“Kalau aku kentut, kau tahinya!” kata Datuk Bambu Kuning pula dan tertawa lagi panjang-panjang seperti tadi.

Naiklah darah Pendekar Pemetik Bunga.

“Manusia tolol yang tidak tahu gunung Semeru berdiri di muka hidung, terima kematianmu dalam tiga jurus!” teriak Pendekar Pemetik Bunga sambil menyerbu dengan sabuk mutiara milik korbannya tadi.

Datuk Bambu Kuning terkejut melihat sabuk itu. “Eh, itu adalah senjata Kidal Boga, murid Rah Kuntarbelong. Dari mana kau dapat, manusia bejat?!”

“Tanya pada setan di neraka nanti!” sahut Pendekar Pemetik Bunga seraya sabetkan sabuk mutiara ke arah lawan. Angin laksana gunung gelombang menerpa Datuk Bambu Kuning.

Datuk Bambu Kuning cepat menghindar. “Rupanya kau bukan saja manusia bejat tukang bunuh dan tukang perkosa tapi juga pencuri kesiangan huh!” Datuk Bambu Kuning kiblatkan tongkat bambu kuningnya. Serangkum angin yang bukan main dahsyatnya menyambar dan menahan serangan angin sabuk. Debu dan pasir beterbangan akibat angin kedua senjata sakti itu!

Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga tak kurang kejutnya ketika merasakan serangan sabuknya menjadi tak berarti sewaktu tongkat bambu kuning di tangan lawan menyambuti gempurannya itu! Dengan serta merta pemuda ini percepat gerakannya. Dalam sekejap Datuk Bambu Kuning terbungkus oleh serangan sabuk mutiara.

Namun sekali si orang tua memekik keras dan sekali dia putar tongkat bambunya dalam jurus yang aneh maka keluarlah dia dari kurungan serangan senjata lawan! Kini gempuran tongkat bambu itulah yang membungkus tubuh Pendekar Pemetik Bunga!

Si pemuda tiada habisnya menggerutu dan memaki dalam hati sewaktu mendapatkan dirinya terdesak hebat oleh gempuran lawan.

Apalagi sewaktu jurus kedua berakhir dan sewaktu Datuk Bambu Kuning tertawa mengejek dan berkata. “Jurus ketiga ini adalah jurus kematianmu, manusia bejat! Bukan jurus kematianku!” Dan permainan tongkat bambu kuningnya semakin dipercepat dan semakin dahsyat. Sinar kuning bergulung-gulung menyelimuti tubuh si pemuda!

“Setan alas keparat!” maki Pendekar Pemetik Bunga. Dengan gerakan yang sulit sekali dia membungkuk. Sabuk mutiara diputar sebat melindungi tubuh sedang tangan kiri diulurkan untuk menjangkau tepi jubah hitamnya.

Dengan dua senjata di tangan yaitu tepi jubah di tangan kiri dan sabuk mutiara di tangan kanan, Pendekar Pemetik Bunga berdiri kembali menghadapi lawannya. Sabuk mutiara mengeluarkan gelombang angin yang laksana gunung besarnya sedang tepi jubah hitam menghamburkan angin pengap yang sanggup menyesakkan jalan pernafasan yang menyendat tenggorokan serta liang hidung!

Dalam jurus ketiga itu kelihatanlah bagaimana gempuran Datuk Bambu Kuning menjadi lamban. Orang tua itu berteriak keras dan kerahkan seluruh tenaga dalamnya. Namun sia-sia saja. Dirasakannya dadanya menjadi sesak, lobang-lobang hidungnya laksana tersumbat.

Sukar baginya untuk bernafas! Menanggapi hal ini si orang tua segera atur jalan darah dan tutup pemafasannya. Tubuhnya lenyap sewaktu dia mempercepat gerakannya!

Namun kedahsyatan angin pengap yang menderu dari tepi jubah memang tidak kepalang tanggung. Sebentar saja serangan-serangan bambu kuning lawan sudah dibendungnya. Gerakan Datuk Bambu Kuning kembali menjadi lamban sewaktu orang tua itu tidak bisa mempertahankan lagi menutup jalan nafasnya terus-terusan sedang sementara itu pertempuran sudah berjalan lima jurus!

Pendekar Pemetik Bunga kembali keluarkan suara tertawa sewaktu dia tahu bahwa dirinya telah berada di atas angin. “Ha…ha…! Kau disuruh turun gunung oleh penduduk desa hanya untuk mencari kematian saja Datuk Bambu Kuning!”

“Pendekar terkutuk jangan terlalu besar harapan!” kertak Datuk Bambu Kuning. Diam-diam tiga perempat dari tenaga dalamnya dikerahkan ke dada.

Tiba-tiba, “Bluuss!”

Selarik asap kuning menyembur dari mulut si orang tua! Pendekar Pemetik Bunga terkejut bukan main dan cepat tutup jalan nafasnya.

Keterkejutan dan saat menutup jalan nafas tadi membuat gerakannya mengendur. Sewaktu din menghindar ke samping sambil babatkan sabuk mutiaranya memapasi semburan asap kuning, bambu di tangan kanan lawan datang menderu!

Si pemuda kebutkan tepi jubahnya. Celaka! Asap kuning itu tak sanggup dibikin buyar oleh angin pengap tepi jubah hitamnya!

Pendekar Pemetik Bunga menjerit setinggi langit. Tubuhnya lenyap dan sesaat kemudian dia berhasil ke luar dari serangan lawan yang bukan kepalang dahsyatnya tadi. Sewaktu berdiri mengatur jalan darah dan nafasnya kembali, diam-diam pemuda ini keluarkan keringat dingin juga!

“Kau kira kau bisa lari dari sini, manusia bejat?!” hardik Datuk Bambu Kuning. Mulutnya membuka dan asap kuning menyembur lagi ke muka lawan. Pendekar Pemetik Bunga kembali tutup jalan nafasnya dan melompat ke samping. Serangan kebutan tepi jubah dan sambaran sabuk mutiara dilakukannya berbarengan sekaligus ke arah lawan.

Si orang tua melompat tiga tombak ke atas dan sewaktu turun kembali menyemburkan asap kuning dari mulutnya! Pendekar Pemetik Bunga menjadi kewalahan kini. Kewalahan dan merutuk! Di samping itu tak habis heran kesaktian apakah yang dikandung oleh asap kuning yang keluar dari mulut lawannya sehingga angin pengap jubah hitam dan angin sabuk mutiara tiada sanggup membuyarkannya!

Tiba-tiba pemuda itu menggereng macam harimau. Tubuhnya melesat ke muka. Angin pengap menyerang ketenggorokan Datuk Bambu Kuning sedang sabuk mutiara menerpa dari atas ke bawah!

Si orang tua ganda tertawa menghadapi serangan ini Bambu kuningnya diputar-putar, tiba-tiba dikiblatkan demikian rupa.

“Sreet!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 4)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.