Selasa, 13 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 2)

 Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

“Kubunuh kau keparat!” bentak Rana Wulung menggeledek. Keris di tangan kanannya ditusukkan sekeras-keras dan secepat-cepatnya ke dada Pendekar Pemetik Bunga.

“Budak tolol!” maki Pendekar Pemetik Bunga.

Sekali pemuda jubah hitam itu gerakkan tangannya maka keris yang dipegang Rana Wulung sudah kena dirampas, dijepit di antara jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya!

Suata tertawa Pendekar Pemetik Bunga kemudian terdengar mengumandang di seantero panggung. Kemarahan dan sakit hati Rana Wulung tiada terperikan. Dengan kedua tinju terpentang dia menyerbu ke muka.

“Edan betul!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. “Masih tak melihat tingginya gunung dalamnya lautan!” Dan manusia ini segera menyongsong serangan Rana Wulung dengan tendangan maut yang mengarah lambung!

Kalau saja Rana Wulung seorang yang mengetahui sedikit ilmu silat, dalam posisinya seperti saat itu sebenarnya dia masih sanggup dan punya kesempatan untuk mengelak atau berkelit atau sekaligus melompat cepat ke samping. Tapi sayang, pemuda ini tidak tahu apa-apa tentang persilatan dan kaki maut Pendekar Pemetik Bunga sementara itu semakin dekat menyambarnya ke perut si pemuda.

Setengah kejapan lagi pasti robeklah perut Rana Wulung. Ning Leswani menjerit. Ibu Rana Wulung juga menjerit untuk kemudian jatuh pingsan sebelum sanggup menyaksikan apa yang bakal dialami anaknya!

Beberapa orang mengeluarkan seruan tertahan. Agaknya tak satu pun yang bisa berbuat apa-apa! Agaknya sudah nasib Rana Wulung bakal menemui kematiannya pada hari pernikahannya itu!

~ 2 ~

DI SAAT ajal sudah di depan mata, di saat maut hendak merenggut maka tiada terduga, di saat itu pula dari bawah panggung sebelah barat melesat sebuah benda yang mengeluarkan cahaya berkilau. Benda ini melesat ke arah kaki kanan Pendekar Pemetik Bunga yang mencari maut di perut Rana Wulung!

Tentu saja Pendekar Pemetik Bunga menjadi terkejut dan terpaksa menarik pulang serangannya. Benda yang berkilau itu lewat dan menghantam taron sehingga alat bunyi-bunyian ini terbalik dan hancur berantakan! Benda apakah yang sehebat itu dan siapa gerangan yang melemparkannya? Siapa yang telah menolong Rana Wulung dari kematian?!

“Pembokong licik! Cepat unjukkan diri,” teriak Pendekar Pemetik Bunga marah sekali. Sepasang matanya yang buas menyapu ke arah barang panggung.

Di bagian barat panggung berdiri beberapa orang. Mata Pendekar Pemetik Bunga yang tajam tidak berhasil kali ini menduga siapa gerangan manusia yang telah melemparkan senjata rahasia tadi.

Dengan marah Pendekar Pemetik Bunga mengangkat tangan kanannya ke udara dan berteriak, “Kalau tidak ada yang mengunjuk diri, semua yang ada di panggung barat pasti kubikin mampus!”

Seorang laki-laki tua yang berdiri di belakang sebuah kursi di bagian barat panggung berbatuk-batuk beberapa kali. Laki-laki ini berpakaian bagus dan bertopi tinggi yang dihiasi manik-manik. Jelas ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang bangsawan atau hartawan. Dia mengangkat kursi yang di depannya ke samping dan melangkah ke muka panggung, berhenti sejarak dua tombak dari panggung.

“Cepat beri tahu siapa kau!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. Tangan kanannya masih belum diturunkan dan kini telapaknya yang terbuka diarahkan pada orang tua berpakaian bagus.

“Aku hanya seorang tamu yang mengunjungi pesta perkawinan ini, orang muda…”

“Hem… cuma seorang tamu saja berani campur tangan! ilmu melemparkan senjata rahasia pengecut tadikah yang kau andalkan?!”

Orang tua itu berbatuk-batuk lagi.

“Meski cuma tamu buruk begini,” katanya, “Aku juga adalah sahabat baik dari tuan rumah dan besannya. Sungguh tidak enak sekali melihat nasib sahabat-sahabat yang nahas tanpa bersedia turun tangan!”

“Oo begitu? Bagus!” ujar Pendekar Pemetik Bunga pula.

“Sanggupkah kau menerima pukulan tangan kananku?!” Orang tua berpakaian bagus itu tertawa dingin.

“Orang muda, nyalimu memang besar sekali. Sayang kejahatanmu dan kebuasanmu jauh lebih besar lagi sehingga aku yang tua ini terpaksa tak bisa berpangku tangan…”

“Orang gendeng yang tak tahu gunung Semeru di depan hidung!

“Terima pukulan Tapak Jagat ini!”

Si orang tua cepat menyingkir ke samping waktu Pendekar Pemetik Bunga menghantamkan telapak tangan kanannya kedepan.

Semua orang terkejutnya bukan olah-olah sewaktu melihat bagaimana tanah bekas tempat si orang tua berpakaian bogus tadi menjadi berlubang besar di landa ilmu pukulan ‘Tapak Jagat’ si pemuda jubah hitam. Pasir berterbangan, kursi-kursi jungkir balik berpatahan sedang bumi bergetar!

Kalau saja si orang tua tidak cepat menyingkir tak dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi dengan dirinya! Namun di saat itu semua orang dan Pendekar Pemetik Bunga sendiri sama memaklumi bahwa si orang tua bukanlah orang tua sembarangan!

Tidak sembarang orang yang sanggup mengelak dari pukulan ‘Tapak Jagat” itu!

“Orang tua, apakah kau masih tetap berlaku pengecut tak mau kasih tahu nama?!”

“Ah, namaku atau siapa aku kau tak perlu tahu. Aku tanya, apakah kau sudi angkat kaki dari sini atau tidak?!”

“Sombong betul” tukas Pendekar Pemetik Bunga. “Jangan kira aku jerih terhadapmu. Silahkan naik ke atas panggung!”

Si orang tua menghela nafas panjang dan menggosok-gosok kedua tangannya. “Rupanya memang aku harus turun tangan tidak tanggung-tanggung,” katanya pelahan tapi cukup terdengar oleh semua orang.

“Betul! Memang dalam dunia persilatan tidak boleh tanggung-tanggung!” menimpali Pendekar Pemetik Bunga. “Kalau kau berani cari perkara, kau tak boleh tanggung-tanggung untuk pasrahkan jiwa!”

Dan sekejap kemudian kedua orang itupun sudah berhadap-hadapan di atas panggung, disaksikan puluhan pasang mata, disaksikan oleh Rana Wulung yang saat itu menyingkir ke sudut panggung. Rana tiada kenal siapa si orang tua. Namun dia maklum kalau orang tua ini berilmu tinggi dan Rana Wulung berharap moga-moga si orang tua benar-benar bisa menjadi tuan penolongnya.

“Apakah kau masih punya simpanan senjata rahasia tadi, orang tua?” tanya Pendekar Pemetik Bunga.

Si orang tua tertawa dan balas mengejek. “Kalau kau punya senjata keluarkalah, biar kuhadapi dengan tangan kosong!”

“Sombong betul!” bentak Pendekar Pemetik Bunga. Tanpa beranjak dari tempatnya dia lepaskan dua pukulan tangan kosong yang dahsyat. Panggung itu tergetar keras. Si orang tua bersuit nyaring dan melompat tiga tombak. Dari atas cepat berkelebat mencari posisi baru dan balas mengirimkan dua jotosan yang tak kalah hebatnya. Dalam sekejapan saja kedua orang itu sudah terlibat dalam pertempuran seru. Lima jurus berlalu cepat!

Pendekar Pemetik Bunga penasaran sekali melihat ketangguhan lawan. Didahului dengan bentakan nyaring dia mempercepat permainan silatnya. Tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang kini dan dua jurus di muka dia sudah berhasil mendesak lawannya.

“Terima jurus kematianmu, orang tua!” seru Pendekar Pemetik Bunga. Dan kejapan itu pula pukulannya yang menyilang aneh membabat ke pinggang si orang tua. Yang diserang cepat menyingkir sewaktu melihat serangan ganas itu dan menusukkan dua jarinya ke muka, ke arah mata Pendekar Pemetik Bunga! Inilah jurus “Mencungkil Mata” yang ganas.

Pendekar Pemetik Bunga tentu saja tak mau kedua biji matanya dimakan dua jari lawan. Di lain pihak dia juga tak mau tarik pulang pukulannya yang ganas. Karenanya dengan cepat pemuda itu miringkan tubuh ke kiri. Sekaligus gerakannya Itu mempercepat perbawa serangan tengannya ke arah pinggang lawan.

Si orang tua sadar kalau tusukan jari tangannya tak bakal mancelakai lawan sebaliknya dirinya terancam bahaya besar, lekas-lekas menjejak panggung dan melompat ke atas. Begitu lolos dari gebukan lengan maut, si orang tua laksana alap-alap menukik ke bawah dan lepaskan satu tendangan dua pukulan.

Jurus “Menembus Kabut Mengintip Rembulan” yang dilancarkan si orang tua dikenal baik oleh Pendekar Pemetik Bunga. Sambil tertawa mengejek dan menyebut jurus itu, si pemuda berkelit lincah lantas kirimkan pukulan tangan kiri kanan yang mengarah empat jalan darah berbahaya dari si orang tua!

Meski masih dalam terkejut karena lawan mengetahui jurus yang dimainkannya namun si orang tua tiada ayal untuk lekas-lekas menghindar dari serangan lawan!

“Orang tua, melihat jurus Menembus Kabut Mengintip Rembulanmu tadi, ada hubungan apakah kau dengan Rah Kuntarbelong? Lekas jawab! Apa kau muridnya, hah?!”

Si orang tua menindih rasa terkejutnya. Tak sangka kalau lawan bisa menduga nama gurunya!

Dan Pendekar Pemetik Bunga sesaat kemudian tertawa bergelak.

“Tidak menyahut berarti betul!” katanya. “Bagus sekali kalau begitu. Aku memang punya urusan yang belum diselesaikan dengan Rah Kuntarbelong!

Sebagai permulaan kurasa ada gunanya lebih dahulu bikin penyelesaian dengan muridnya!”

“Jangan banyak mulut Pendekar terkutuk!” bentak si orang tua.

“Tahu pukulan apa yang bakal kulepaskan ini?!” Pendekar Pemetik Bunga kerenyitkan kening dan memandang tajam ke muka. Si orang tua dilihatnya berdiri dengan kaki merenggang. Lengan kiri lurus ke bawah, tinju mengepal sedang tangan kanan diangkat tinggi-tinggi di atas kepala.

Lengan kanan itu kelihatan berwarna biru.

“Ah cuma pukulan Kelabang Biru…” ejek Pendekar Pemetik Bunga tapi diam-diam dia kerahkan tiga perempat bagian tenaga dalamnya ke tangan kanan karena dia sudah pernah tahu kehebatan pukulan Kelabang Biru yang mengandung racun jahat itu yakni sewaktu berhadapan di selatan tempo hari melawan Rah Kuntarbelong. “Lekaslah keluarkan supaya kau sendiri melihat bahwa ilmu pukulanmu itu tak lebih dari kentut belaka!”

Geraham si orang tua bergemeletakan diejek demikian rupa. Seluruh tenaga dalamnya sudah terpusat di lengan dan lengan sampai ke ujung ujung jari sudah berwarna sangat biru.

Tiba-tiba terdengarlah teriakan yang seperti mau merobek gendang-gendang telinga. Si orang tua kelihatan menghantamkan lengan kanannya ke depan. Selarik sinar biru dengan ganas menggebu ke arah Pendekar Pemetik Bunga. Di saat itu pula Pendekar Pemetik Bunga sudah menggerakkan tangan kanan melepaskan pukulan “Tapak Jagat” yang diandalkan dengan tiga perempat tenaga dalamnya!

Begitu dua angin pukulan bertemu terdengarlah suara berdentum laksana gunung meletus! Tiang-tiang panggung patah, lantai dan keseluruhan panggung ambruk! Alat bunyi-bunyian yang ada di atas panggung berhamburan, Rana Wulung mental ke luar panggung dan roboh tak sadarkan diri sewaktu panggungnya menghantam batang sebuah pohon!

Kedua orang yang bertempur, sewaktu panggung roboh cepat mencelat meninggalkan panggung. Dan ketika mereka berdiri kembali berhadap-hadapan kelihatanlah bagaimana pucatnya paras si orang tua. Satu pertanda bahwa saat itu dia menderita luka di dalam yang parah sekali. Sebaliknya Pendekar Pemetik Bunga berdiri sambil melontarkan senyum mengejek pada lawannya.

“Jika kau masih gila untuk menempuh jalan kekerasan, jangan harap nyawamu akan tertolong!”

Si orang tua tahu, jika dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk meneruskan pertempuran, pastilah akan mencelakai dirinya sendiri yang saat itu sudah terluka parah di bagian dalam. Tapi untuk menyerah atau meninggalkan tempat itu adalah bertentangan sekali dengan hati dan jiwa satrianya! Dicobanya mempertenang diri dan mengatur jalan nafas serta aliran darah. Tapi dia tak berhasil. Nafas dan aliran darahnya sudah tak karuan lagi!

“Budak, keluarkan kau punya senjata!” bentak si orang tua.

“Ah, kalau kau mau keluarkan senjata silahkan, tak usah memancing segala!” sahut si pemuda dengan tertawa bergelak.

Mendengar ini si orang tua tak sungkan-sungkan lagi untuk menanggalkan sabuk hitam yang ditaburi mutiara dari Pinggangnya.

“Lusinan tokoh-tokoh jahat sudah mampus dimakan sabuk mutiara ini, budak terkutuk! Kini kau adalah korban selanjutnya!”

“Tak usah bicara panjang lebar! Lekas majulah!” bentak si pemuda dan dalam hati dia berpikir-pikir sampai di mana, kehebatan sabuk mutiara itu.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 3)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.