Sabtu, 17 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 18)

 Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

“Pendekar 212, jika kau memang punya urusan tertentu dengan manusia keparat ini silahkan maju!”

“Licik!” teriak Pendekar Pemetik Bunga. Matanya beringas memandangi Wiro Sableng.

Pendekar 212 sebaliknya tertawa mengejek!

“Dalam kamus kehidupanmu, rupanya kau masih kenal arti kata licik heh? Apakah kau juga tahu apa artinya kebejatan? Apa arti terkutuk dan apa arti kualat serta dosa?!”

Merah padam paras Pendekar Pemetik Bunga!

“Kunyuk bermuka manusia, kau siapa? Apa kepentinganmu mencampuri urusan orang lain?!”

“Apa kepentinganku? Banyak… banyak sekali sobat! Kau bisa tanya nanti pada iblis-iblis penjaga kubur atau setan-setan di neraka…” Habis berkata begini Wiro Sableng tertawa bekekekan.

“Anjing kurap yang tak tahu diri, makan jariku ini!” Sinar hitam berkiblat melanda Wiro Sableng!

Pendekar 212 yang sudah punya rencana tersendiri tidak memapasi serangan lawan dengan seluruh tenaga dalamnya. Dia tak ingin manusia terkutuk itu mati dalam tempo singkat!

Sambil lancarkan pukulan sinar matahari dia melompat setinggi enam tombak. Dari bawah Pendekar Pemetik Bunga kebutkan lengan jubahnya!

Dua lusin bola-bola hitam menderu ke arah Wiro Sableng. Yang diserang menyambut dengan pukulan “Benteng Topan Melanda Samudera.” Dua puluh empat bola-bola hitam itu meledak dan udara tertutup kabut hitam!

Pendekar 212 yang tahu maksud licik lawannya, begitu kabut hitam menutupi pemandangan segera jungkir balik dua kali berturut-turut. Bila dalam sekejapan mata kemudian dia sudah ke luar dari kabut hitam itu maka kelihatanlah Pendekar Pemetik Bunga melarikan diri ke arah pintu gerbang biara. Lima orang biarawati yang menjaga pintu itu sekali jentikan jari saja segera dibikin meregang nyawa oleh Pendekar Pemetik Bunga.

Pemuda ini kemudian bergerak cepat menekan tombol rahasia pembuka pintu. Tapi Pendekar 212 tahu-tahu menghadang dihadapannya!

“Mau lari ke mana sobat?!” bentak Wiro Sableng.

Sebenarnya Pendekar Pemetik Bunga bukanlah seorang pengecut.

Namun melihat ilmu “Jari Penghancur Sukma” yang dilancarkan terhadap Wiro Sableng tiada mempan sama sekali maka lumerlah nyalinya!

Kegusaran membuat Pendekar Pemetik Bunga menjadi kalap, apalagi dalam keadaan kepepet begitu rupa. Dia menyerbu membabi buta! Tangan kiri mengebutkan sabuk mutiara sedang tangan kanan kembali lancarkan ilmu “Jari Penghancur Sukma”.

Wiro tetap tak mau sambuti serangan dahsyat itu dengan kekerasan. Dia jatuhkan diri ke tanah, bergulingling cepat mendekati lawan sebelum larikan sinar hitam menyerempet tubuhnya untuk kemudian tahu-tahu dia sudah berada di belakang Pendekar Pemetik Bunga!

Pendekar Pemetik Bunga membalikkan badan secepat kilat. Tapi begitu tubuhnya berbalik, begitu dua ujung jari melanda urat besar dipangkal lehernya! Tak ampun lagi pemuda terkutuk ini menjadi kaku tegang tubuhnya!

“He… he… Apakah kini kau bisa jual tampang pamerkan segala ilmu silat dan kesaktianmu, manusia terkutuk?!” ejek Wiro Sableng.

“Bangsat rendah! Kelak kau akan rasakan pembalasanku…!”

Sementara itu Sekar yang melihat musuh besarnya berada dalam keadaan tertotok segera datang berlari dan keluarkan Rantai Petaka Bumi.

“Manusia bermuka iblis! Hari ini lunaslah hutang jiwa orang tua dan adikku!”

“Wuut!”

Rantai baja dengan bola baja berduri menderu ke arah kepala Pendekar Pemetik Bunga! Pendekar ini membeliak besar kedua matanya, keringat dingin berbutir-butir di keningnya! Dari mulutnya ke luar jerit ketakutan setinggi langit!

Sesaat lagi bola berduri itu akan menghantam hancur remukan kepala Pendekar Pemetik Bunga, satu tangan memukul ke depan dan bola berduri lewat setengah jengkal di alas kepala si pemuda yang sudah ketakutan setengah mati.

“Wiro! Apa-apan kau?!” sentak Sekar karena Wiro-lah yang membuat serangan mautnya tak mengenai sasaran!

“Jangan bodoh, Sekar! Mati dalam tempo yang singkat terlalu enak buat manusia macam dia!” Wiro berpaling pada Ketua Biara Pensuci Jagat dan beberapa biarawati yang ada di situ. “Bukankah demikian?” ujarnya.

Supit Jagat tertawa mengekeh.

“Kita jebloskan saja dia ke dalam sumur binatang berbisa!” mengusulkan Supit Jagat.
Wiro tertawa dan gelengkan kepala.

Dipegangnya dagu Pendekar Pemetik Bunga lalu tanyanya, “Sobat, apakah kau pernah memikirkan bagaimana sakitnya sekujur tubuhmu bila jalan darahmu menyungsang terbalik?!”

Pucat pasilah muka Pendekar Pemetik Bunga.

“Demi Tuhan, aku minta agar dibebaskan! Aku bertobat. Betul-betul tobat…! Aku betul-betul tobat…! Aku mohon keadilan!” kata Pendekar Pemetik Bunga. Kepalanya dipalingkan pada Supit Jagat, mohon belas kasihan. Dan saat itu dia mulai menangis merengek-rengek macam anak kecil!

“Kau mohon keadilan dan mohon pengampunan?” tanya Supit Jagat dengan tertawa-tawa.

“Ya, dan aku akan bertobat,” sahut Pendekar Pemetik Bunga.

“Baik, kami akan ampuni kau punya jiwa. Tapi ada syaratnya!”

“Apapun syaratnya akan aku terima,” kata Pendekar Pemetik Bunga tanpa ragu-ragu.
Ketua Biara Pensuci Jagat tertawa, “Syaratnya mudah saja. Cungkil sendiri kau punya jantung dan serahkan padaku!” Pendekar Pemetik Bunga menangis meraung-raung minta diampuni. Matanya menjadi bengkak dan merah.

“Pendekar 212, sebaiknya lekas saja dimulai penjatuhan hukuman atas dirinya!” kata Supit Jagat.

“Betul, makin cepat makin baik!”

Wiro membelai-belai rambut Pendekar Pemetik Bunga dengan senyum-senyum. “Kasihan... kasihan….” katanya. Kemudian dua jari tangannya bergerak melakukan totokan di beberapa bagian tubuh Pendekar Pemetik Bunga.

Semua orang menunggu apa yang bakal terjadi. Pendekar Pemetik Bunga sudah seputih kain kafan tampangnya, keringat mengucur mulai dari kulit kepala sampai ke kaki! Mula-mula dia tak merasakan apa-apa. Tapi kemudian kepalanya terasa sampai sakit.

Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh! Peredaran darah dalam tubuhnya tidak normal lagi. Berdenyut membalik! Dan lolongan-lolongan yang mengerikan ke luar tiada hentinya dari mulut laki-laki itu. Beberapa saat kemudian Wiro lepaskan totokan di tubuh pemuda terkutuk itu. Kini rasa sakit semakin menjadi-jadi. Dunia ini seperti menyungsang di mata Pendekar Pemetik Bunga. Dia lari sana lari sini, berteriak tak karuan, mencak-mencak, berguling di tanah! Beberapa menit berlalu darah mulai mengucur dari kedua lobang hidung, mata serta telinganya!

Wiro berpaling pada gadis baju kuning di sebelahnya “Sekar, jika kau mau turun tangan inilah saatnya. Tapi jangan bunuh dia sekaligus!”

Rahang-rahang Sekar bergemeletakkan. Dia maju satu langkah. Rantai Petaka Bumi diputar-putar. Melihat ini Pendekar Pemetik Bunga lari jauhkan diri.

Tapi “wuutt!”

Bola baja berduri menderu.

Pendekar Pemetik Bunga berteriak. Kupingnya yang sebelah kanan putus! Darah mengucur lebih banyak. Sekali lagi bola baja itu berdesing dan kali yang kedua ini sasarannya adalah telinga sebelah kiri Pendekar Pemetik Bunga! Keganasan dendam Sekar tidak sampai di situ saja, bola bajanya menderu lagi menghantam hidung si pemuda hingga hidung itu hancur melesak dan tampang Pendekar Pemetik Bunga sungguh mengerikan untuk dipandang!

“Sudah cukup, Sekar?!” tanya Wiro Sableng.

“Belum!” jawab gadis itu pendek dan beringas. Sementara itu Pendekar Pemetik Bunga sudah terhampar di tanah dekat tembok, megap-megap dan masih menjerit-jerit! Di antara jeritan itu terdengar lagi deru bola baja berduri dua kali berturut-turut! Yang pertama menghantam tangan kanan Pendekar Pemetik Bunga, tangan yang telah puluhan kali melakukan kejahatan membunuh manusia-manusia tak berdosa!

Hantaman yang kedua melanda tepat pada anggota rahasia di antara selangkangan Pendekar Pemetik Bunga yang selama dua tahun telah puluhan kali merusak kehormatan perempuan terutama gadis-gadis berparas cantik!

Tubuh Pendekar Pemetik Bunga mengegelepar-gelepar. Nyawanya masih belum putus, hampir diambang sekarat!

“Ketua Biara Pensuci Jagat, bagaimana dengan kau?,” tanya Wiro.

Supit Jagat tertawa sedingin salju. Ingat dia pada orang-orangnya yang telah menemui ajal di tangan pemuda itu. Dia maju selangkah.

“Pendekar terkutuk! Apakah kau masih bias mendengar suaraku?!”

“Uh… uh...”

“Hem bagus… Meski matamu tak dapat melihat karena genangan darah tapi dengarlah aku akan lukis parasmu seindah mungkin dengan sapu lidiku ini!”

Habis berkata demikian, Supit Jagat tusukkan ujung sapu lidinya ke muka Pendekar Pemetik Bunga! Jeritan pemuda itu terdengar lagi, tapi tidak sekeras tadi. Suaranya sudah sember dan mukanya mengerikan lebih kini! Tusukan Sapu Jagat membuat mukanya itu laksana dipanteki dengan ratusan paku!

Pendekar Pemetik Bunga menggelepar-gelepar. Berguling ke kiri dan ke kanan, bergelimang darah serta debu. Kematiannya sungguh mengerikan. Namun mungkin itu belum seimbang dengan kejahatan-kejahatan yang paling terkutuk yang pernah dilakukannya selama dua tahun.

TAMAT

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.