Sabtu, 17 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 17)

 Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

“Rupanya Ketua Biara sendiri yang hendak turun tangan?! Bagus!” ujar Pendekar Pemetik Bunga. “Tapi kalau tadi aku dikeroyok puluhan bergundal-bergundalmu aku hanya bertangan kosong, masakan menghadapi kau seorang diri musti pakai senjata segala?!”

“Kau akan binasa bersama kecongkakanmu manusia dajal!” Marah sekali Ketua Biara Pensuci Jagat itu. Maka pada saat itu juga dikeluarkannya senjatanya yaitu seikat sapu lidi yang bernama Sapu Jagat, warisan dari Ketua Biara yang terdahulu!

Melihat senjata yang dikeluarkan lawannya adalah seikat sapu lidi maka Pendekar pemetik Bunga tertawa memingkal!

“Nenek Ketua, kau mau menyapu atau bertempur? Sapu lidi buruk itukah senjatamu?! Lucu sekali… betul-betul lucu!” Supit Jagat maju tiga langkah.

Tiba-tiba dia sapukan sapu lidinya ke arah lawan! Pendekar Pemetik Bunga berseru kaget. Berubahlah parasnya! Angin yang ke luar dari sapu lidi itu dahsyatnya laksana badai prahara, seperti menghancur leburkan sekujur tubuhnya! Secepat kitat dia segera melompat ke samping sampai empat tombak! Tapi Ketua Biara tidak kasih kesempatan, segera pula dia memapas dengan senjatanya!

Ketika lima belas jurus dia terkurung rapat oleh sambaran Sapu Jagat yang dahsyat itu, menggeramlah Pendekar Pemetik Bunga. Pukulan-pukulan “Tapak Jagat” dan kebutan “Angin Pengap” tepi jubahnya sama sekali tidak mempan menerobos gulungan angin sapu lidi lawan!

Pada jurus kedua puluh satu Pendekar Pemetik Bunga memekik tertahan sewaktu ujung sapu menyerempet dadanya dan membuat jubah hitamnya robek besar!

Tidak tunggu lebih lama Pendekar Pemetik Bunga segera cabut kembang kertas kuning yang menancap di kepalanya. “Semua tutup jalan nafas atau ke luar dari sini!” teriak Supit Jagat karena dia maklum bahwa kembang kertas itu mengandung racun yang sangat dahsyat! Biarawati-biarawati angkatan muda segera tinggalkan ruangan sedang biarawati-biarawati angkatan tua tetap di tempat.

Pertempuran kini telah berjalan tiga puluh empat jurus dan yang memengkalkan Pendekar Pemetik Bunga ialah racun kuning yang setiap detik menggebu ke luar dari bunga kertasnya sama sekali tidak sanggup menerobos angin sapu lidi sang ketua Biara malahan kalau dia tidak berhati-hati, racun bunga kertas itu sering kali dihantam membalik ke dirinya sendiri!

Di saat pertempuran berjalan semakin dahsyat, di saat tubuh kedua orang itu hanya merupakan bayang-bayang yang dibungkus oleh sinar kuning serta lingkaran-lingkaran angin Sapu Jagat maka tiba-tiba terdengarlah suara siulan siulan nyaring yang tak menentu yang kemudian disusul oleh suara nyanyian seseorang!

Hanya biarawati-biarawati di tepi kalangan pertempuran yang berani mendongak ke atas, ke arah datangnya suara nyanyian itu sedang mereka yang bertempur meskipun hati masing-masing tercekat mendengar nyanyian ini namun tiada berani palingkan muka!

Anak laki-laki hamil dalam perut perempuan 
Itu namanya anugerah Tuhan 
Anak laki-laki lahir dari rahim perempuan 
Itu namanya kuasa Tuhan 
Anak laki-laki dibesarkan perempuan 
Itu namanya kasih sayang 

Laki membunuh perempuan 
Itu namanya dosa besar 
Laki-laki memperkosa perempuan 
Itu namanya terkutuk 

Menuntut ilmu buat kebaikan 
Itu namanya bijaksana 
Menuntut ilmu buat kejahatan 
Itu namanya kesetanan 
Dua tahun turun gunung 

Malang melintang kelantang keluntung 
Di timur membunuh 
Di barat memperkosa 
Di selatan membunuh dan memperkosa 
Di utara memperkosa dan membunuh 

Dosa setinggi gunung 
Dosa di mana-mana 
Kejahatan sedalam lautan 
Kejahatan dimana-mana 
Guru sendiri turun gunung 
Dibunuh dengan kepala dingin 

Itu namanya laknat kualat

Pendekar Pemetik Bunga yang merasa bahwa nyanyian itu ditujukan kepadanya mengerling sekilas dan di atas loteng yang bobol dari mana dia menerobos masuk tadi dilihatnya dua orang duduk berjuntai di atas tiang palang. Yang seorang laki-laki berpakaian putih, dialah yang menyanyi tadi.

Yang seorang lagi gadis cantik berpakaian kuning!

Biarawati-biarawati yang ada di tepi ruangan yang juga melihat ke atas loteng segera mengenali pemuda yang bernyanyi itu yakni bukan lain daripada Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Karenanya mereka tidak ambil perduli.

Sementara itu dari kalangan pertempuran terdengar lagi pekik Pendekar Pemetik Bunga. Ujung Sapu Jagat telah melanda untuk kedua kalinya bagian dada, sehingga jubah yang sudah robek kini robek tambah besar. Kulit dada pemuda itu sendiri kelihatan tergurat merah, sakitnya bukan main!

Di atas loteng Sekar yang sudah sejak tadi tak dapat menahan melompat turun, tapi lengannya dicekal erat-erat oleh Wiro Sableng.

“Jangan bodoh! Jika kau mengetengahi pertempuran itu salah-salah kau bisa kena gebuk sapu Ketua Biara atau kena tersambar racun jahat bunga kertas Pendekar Pemetik Bunga!”

“Aku tidak takut mati! Biar mati asalkan pemuda terkutuk itu mampus ditanganku!”

Sekar hendak melompat lagi tapi lengannya tetap dicekal Pendekar 212 dan Wiro tak perdulikan rutukan yang dikeluarkan gadis itu.

“Lihat saja dulu, Sekar! Sekarang belum saatnya kita turun tangan!”

“Tapi kalau bangsat itu mampus di tangan Ketua Biara. Aku akan menyesal percuma seumur hidup!”

Wiro tertawa.

“Pendekar Terkutuk itu belum keluarkan ilmu simpanannya, jangankan si Ketua, guru Ketua Biara itupun tak bakal sanggup menghadapinya!”

Sekar ingat akan ucapan Empu Tumapel yaitu tentang ilmu “Jari Penghancur Sukma” yang dimiliki Pendekar Pemetik Bunga! Karenanya dia terpaksa ikuti nasihat Wiro dan tetap duduk di samping pemuda itu di atas loteng.

Pertempuran di bawah sana sudah berkecamuk enam puluh empat jurus!

“Crass!”

Pendekar Pemetik Bunga lompat ke luar dari kalangan pertempuran sewaktu sapu lidi senjata lawan membabat putus tangkai bunga kertas sedang bunganya sendiri robek-robek bertaburan!

“He… he… he… bersiaplah untuk menghadap setan kuburan pemuda terkutuk!” kata Ketua Biara Pensuci Jagat pula. Pendekar Pemetik Bunga, yang biasanya menyahuti setiap ejekan lawannya dengan beringas kini bungkam seribu bahasa. Bola matanya bersinar tapi kelopak matanya kelihatan menyipit dan mencekung sedang tampangnya buas dan mulutnya berkemik! Dia berdiri di tengah ruangan dengan sepasang kaki merenggang.

Tiba-tiba kelihatanlah ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya memancarkan sinar hitam! Pendekar 212 yang berada di atas loteng tersentak kaget dan berseru keras.

“Ketua Biara Pensuci Jagat! Lekas menghindar! Kau tak bakal sanggup menghadapi ilmu Jari Penghancur Sukma itu!” Tapi Supit Jagat tidak ambil peduli. Malah dengan tubuh laksana gunung karang dia tetap berdiri di tempat dan kerahkan seluruh tenaga dalamnya ke sapu lidi di tangan kanan!

Ibu jari dan jari telunjuk Pendekar Pemetik Bunga mulai membentuk lingkaran. Sinar hitam jari-jari itu menggidikkan.

“Ketua Biara, lekas menghindar!” seru Wiro sekali lagi. Namun tetap Supit Jagat tidak bergerak dan hadapi lawannya dengan penuh ketabahan!

“Edan betul!” teriak Wiro Sableng!

Pendekar 212 bersuit nyaring. Tak seorangpun yang melihat kalau tangannya sebelah kanan saat itu sudah berubah menjadi putih laksana perak menyilaukan!

Di lain kejap Pendekar Pcmetik Bunga jentikkan jari telunjuknya.

Dihadapannya Supit Jagat hantamkan pula sapu lidinya dalam satu jurus tusukan yang dahsyat!

Larikan sinar hitam yang dahsyat menggidikkan menggebu ke arah Supit Jagat. Sinar hitam ini dipapasi oleh angin membadai yang berwarna putih agak kelabu dari sapu sang Ketua Biara! Hebatnya, sebelum dua sinar maut itu sama-sama berbenturan, dari atas loteng satu sinar putih yang panas dan sangat menyilaukan memapak di tengah-tengah kedua sinar tadi!

Itulah Pukulan Sinar Matahari yang telah dilancarkan oleh pendekar 212 dari atas loteng!

Tiga dentuman yang berkumandang secara serentak menggetarkan bumi. Dunia laksana mau kiamat! Dinding-dinding ruangan pecah-pecah, banyak yang ambruk! Tiang-tiang gedung biara beberapa diantaranya runtuh bergemuruh! Loteng amblas! Biarawati-biarawati yang ada di dalam gedung segera berlompatan ke luar termasuk Pendekar Pemetik Bunga dan Supit Jagat, Wiro Sableng sendiri sabelumnya telah melesat meninggalkan loteng bersama Sekar. Sewaktu kedua orang ini sampai di halaman muka, keduanya mendapatkan Ketua Biara dan Pendekar Pemetik Bungs telah berhadap-hadapan kembali!

Diam-diam Pendekar 212 berunding dengan Sekar. Kemudian Wiro berseru, “Ketua Biara, harap kau suka memberi kesempatan padaku untuk turun tangan menjajal pemuda yang katanya berilmu setinggi gunung sedalam lautan dan congkak ini!”

Supit Jagat setelah melihat kehebatan ilmu Jari Penghancur Sukma lawannya menyadari bahwa dia tak akan sanggup menghadapi Pendekar Pemetik Bunga! Seruan Pendekar 212 tadi adalah kesempatan yang paling baik baginya untuk mengundurkan diri tanpa kehilangan muka.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 18)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.