Sabtu, 17 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 16)

 Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Sekar terpelanting dari cabang pohon akibat betotan Wiro Sableng pada rantai bajanya. Ketika dia turun ke tanah dengan jungkir balik, Rantai Petaka Bumi sudah berada di tangan Wiro Sableng!

“Kembalikan senjataku!” teriak Sekar.

Wiro Sableng tertawa dan bersiul-siul. Rantai baja yang panjangnya dua meter itu dililitkannya di pinggangnya. Lalu dengan bertolak pinggang dia berkata. “Silahkan ambil sendiri, nona manis!”

Tiada terkirakan geramnya murid Empu Tumapel itu. Tapi dasar bernyali besar, dengan tangan kosong dis menerkam ke muka dan lancarkan satu jurus aneh bernama “Kabut Pagi Menelan Embun.”

Jurus ini dilakukan dengan gerakan yang sangat cepat hingga waktu menyerang itu tubuh Sekar lenyap laksana kabut tipis! Tapi mata Pendekar Sakti 212 tak dapat ditipu. Betapapun cepatnya gerakan lawan namun dalam kelebatan itu masih sanggup dilihatnya bagaimana kedua tangan lawan terkembang hendak mencengkeram muka sedang sepasang kaki menendang ke dada dan ke selangkangan!

Murid Eyang Sinto Gendeng dari Gunung Gede itu dengan gerakan kilat miringkan tubuhnya ke samping. Sewaktu tumit lawan masih akan menyerempet pinggulnya dengan cepat di tangkapnya ujung kaki si gadis dan dibantingkan ke atas! Sekar jungkir balik di udara! tapi jatuhnya tetap berdiri! Hidung gadis ini kembang kempis. Mukanya merah kelam karena marah! Hatinya geram karena sadar tiada akan sanggup menghadapi pemuda yang sangat tinggi ilmu silatnya itu!

“Kau letih, eh?!”

“Diam!” lengking Sekar.

“Saudari, dalam hidup ini, dalam segala hal manusia itu tidak boleh serba kesusu…”

“Jangan jual kentut!”

“Juga jangan suka lekas marah penasaran…”

“Diam!” teriak Sekar hingga suaranya menggema diseantero kali.

Si pemuda tertawa dan geleng-gelengkan kepala. Dia berpikir bagaimana caranya menghadapi gadis galak macam yang satu ini.

Tiba-tiba dia dapat akal.

“Saudari, kalau kau tetap keras kepala tak bisa bicara baik-baik aku akan pergi dari sini dan larikan senjatamu!”

“Ke ujung bumipun kau lari aku akan kejar!”

Wiro Sableng angkat bahu dan garuk-garuk kepala!

“Tak pernah aku ketemu gadis yang keras kepala dan tak mau mengerti macammu ini, saudari!”

“Kembalikan senjataku.”

“Aku akan kembalikan. Tapi kalau kau pergunakan lagi untuk menyerangku…?”

“Kau tahu itu senjata milik siapa?”

“Aku tidak tanya!”

Sekar memaki-maki!

“Kalau guruku Empu Tumapel tahu senjatanya dibuat main dan dihina, pasti nyawamu yang cuma selembar tak akan aman’”

“Heh… jadi kau muridnya Empu Tumapel?! Akh… orang tua itu adalah kawan main kelerengku sewaktu masih kecil. Dan kau tahu, dia suka main curang. He… He… he…!”

Marahlah Sekar. Dia menyerbu dengan kerahkan seluruh bagian tenaga dalamnya ke lengan. Tapi kali ini Wiro Sableng tidak tinggal diam. Lebih cepat dari serangan si gadis baju kuning, lebih cepat pula sepasang jari telunjuknya menotok jalan darah di tubuh si gadis! Maka mematunglah Sekar, tapi telinga masih bisa mendengar dan mulut masih bisa bicara! Wiro Sablang tertawa cengar cengir.

“Sebetulnya aku tidak punya waktu banyak, tapi kau bikin perjalananku terhalang! Menyerang membabi buta tanpa alasan…”

“Diam! Lekas lepaskan totokan ini!”

“Sabar gadis manis! Kalau kau marah dan membentak begitu parasmu makin cantik, tahu…?!”

Wajah Sekar bersemu merah.

“Kau menyangka bahkan menuduh aku tetah membunuh orang tua serta adikmu! Apakah kau punya alasan? Punya bukti!”

Sekar diam.

“Kau bilang aku Pendekar Pemetik Bunga! Kau yakin betul?!”

Sekar tetap diam Wiro Sableng tertawa.

“Dengar saudari, semua tuduhanmu salah belaka! Justru aku tengah dalam perjalanan mencari manusia yang bergelar Pendekar Pemetik Bunga itu.”

“Kau dusta!” tukas Sekar.

“Terserah. Tapi aku tak punya waktu lama melayanimu! Pertumpahan darah akan segera terjadi di Biara Pensuci Jagat! Aku tak boleh terlambat!”

“Kembalikan dulu senjataku dan lepaskan totokan ini!” Wiro Sableng buka lilitan Rentai Petaka Bumi dari pinggangnya. Dilepaskannya totokan di tubuh Sekar lalu diserahkan rantai baja itu kepada si gadis kemudian segera balikkan tubuh.

“Tunggu!” seru Sekar.

Wiro Sableng hentikan langkah.

“Tadi kau bilang bahwa kau dalam perjalanan mencari Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga. Apa kau tahu di mana manusia itu berada…?”

“Tahu atau tidak tahu memangnya kenapa?!”

“Aku juga punya urusan yang harus diselesaikan dengan manusia bejat itu…”

“Ya, kau sudah bilang tadi. Jadi maksudmu mau sama-sama seperjalanan dengan aku heh?!”

Untuk kesekian kalinya paras si gadis jadi bersemu merah. “Kuharap kau jangan bicara keliwat kurang ajar, saudara!” bentak Sekar.

“Sudahlah, kita tak banyak waktu! Kalau mau sama-sama memburu itu manusia biang racun penimbul bahala, lekaslah!”

“Kau jalan duluan,” kata Sekar yang hatinya masih bimbang dan bercuriga terhadap si pemuda. Dia khawatir kalau Wiro Sableng adalah benar-benar Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga yang hendak menipunya.

“Tak perlu tanya! Jalanlah!”

Pendekar 212 bersiul dan pencongkan hidungnya. Sekali dia berkelebat maka tubuhnya sudah melompat lima tombak ke muka. Sekar tidak tinggal diam, segera pula dia kerahkan ilmu larinya untuk mengikuti Wiro Sableng.

~ 14 ~

Ketua Biara Pensuci Jagat terkejut ketika melihat jarum alat rahasia di dalam kamarnya bergerak-gerak! Segera ditekankannya sebuah tombol di tepi tempat tidur. Dua buah pintu rahasia terbuka dan delapan orang biarawati muncul. Kedelapannya menjura lalu berpaling ke arah alat rahasia yang dituding oleh Ketua mereka.

“Atur pengurungan!” kata Ketua Biara itu pula. “Lima puluh di dalam, lima puluh di luar! Yang datang ini mungkin orang yang kita tunggu-tunggu!”

Delapan biarawati menjura lagi lalu meninggalkan kamar Ketua mereka. Supit Jagat, Ketua Biara memandang lagi ke jarum alat rahasia.

Jarum itu kini kelihatan diam tak bergerak-gerak, tapi sesaat kemudian kelihatan bergerak lagi.

Kali ini ketua Biara itu segera membentak, “Tamu di atas atap, silahkan turun unjukkan diri!”

Baru saja Supit Jagat berkata begini maka terdengarlah suara menggemuruh! Atap dan langit-langit kamar amblas roboh! Diiringi oleh suara tertawa bekakakan sesosok tubuh berjubah hitam melompat turun dalam gerakan yang sangat enteng! Yang datang ternyata betul Pendekar Pemetik Bunga!

“Ha… he… sungguh satu kehormatan dapat berkunjung ke Biaramu ini, Supit Jagat!”

Baru saja Pendekar Pemetik Bunga berkata demikian empat dinding kamar amblas ke dalam lantai dan kini terbukalah satu ruangan besar.

Disetiap tepi ruangan berbaris dua lapis biarawati-biarawati angkatan tua dan angkatan muda berseling-seling! Kesemuanya dengan pedang di tangan!

“Hem…” Pendekar Pemetik Bunga memandang berkeliling. Tidak ada bayangan rasa terkejut pada parasnya. “Rupanya sudah ada persiapan untuk menyambut kedatanganku!” katanya.

Ketua Biara Pensuci Jagat tertawa mengekeh.

“Nama kotormu sudah lama kami dengar. Noda busuk yang kau tebar di mana-mana sudah sejak lama hendak kami putus! Nyawa bejatmu sudah sejak lama ingin kami kirim ke neraka jahanam! Tapi hari ini agaknya kami tak perlu susah-susah turun tangan ke luar Biara! Malaekat maut rupanya telah membawamu ke sini.”

Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga rangkapkan tangan di muka dada.

“Betapa indahnya susunan kata-katamu. Supit Jagat!” berkata Pendekar Pemetik Bunga. “Tapi ketahuilah, aku datang ke sini bukan dibawa oleh malaekat maut, sebaliknya justru mengantarkan malaekat maut yang ingin cepat-cepat naerenggut nyawa kalian! Dan….” Pendekar bertampang buas ini batuk-batuk beberapa kali. “Dan menyedihkan sekali, rupanya hanya kroco-kroco tua macammu yang ditakdirkan mampus! Biarawati-biarawati muda belia musti dihadiahkan untukku!”

“Kurasa matamu belum buta Pendekar Terkutuk!” sahut Supit Jagat.

“Belum buta untuk melihat orang-orangku yang berdiri, dalam satu barisan maut, belum buta untuk melihat pedang-pedang yang melintang!”

“Aku memang tidak buta!” Pendekar Pemetik Bunga memandang lagi berkeliling. “Tapi sebaiknya biarawati-biarawati muda itu tak usahlah ikutikutan bertempur! Mereka akan mati percuma sebelum merasakan betapa nikmatnya hidup di dunia ini! Betapa nikmatnya berada dalam pelukanku! Betapa nikmatnya tidur bersa….”

Sebilah pedang meluncur tepat di depan hidung Pendekar Pemetik Bunga, membuat pemuda ini tersurut satu langkah dan terputus kata-katanya!

“Apakah lidahmu kelu hingga tak bisa teruskan buka mulut?” ejek Supit Jagat.

“Ketua Biara Pensuci Jagat! Kau adalah manusia yang musti mati pertama kali di dalam gedung ini! Darahmu akan mensucikan lantai biara ini!”

Habis berkata begitu Pendekar Pemetik Bunga buka gulungan sabuk mutiara di pinggangnya sedang tenaga dalam dialirkan tiga perempat bagiannya ke tangan kanan! Dua tangaa itupun kemudian bergerak dengan serentak!

Pukulan”Tapak Jagat” menggebu dahsyat di barengi oleh gelombang angin yang keluar dari sabuk mutiara! Gedung bergoncang, bumi laksana dilanda lindu! Tapi disaat itu Ketua Biara Pensuci Jagat sudah berpindah tempat dan dengan satu lengkingan keras dia memberi isyarat agar lima puluh biarawati yang ada di ruangan itu segera menyerang!

Maka berkecamuklah pertempuran yang bukan olah-olah dahsyatnya! Lima puluh pedang menderu! Satu-satunya lawan yang diserang berkelebat ganas balas menyerang! Dan dalam setiap kelebatan musti ada jatuh korban di pihak biarawati. Yang menemui ajalnya ini justru biarawati-biarawati angkatan tua yang sudah berumur! Rupanya Pendekar Pemetik Bunga benar-benar hanya akan menumpas biarawati-biarawati tua sebaliknya membiarkan hidup biarawati-biarawati muda belia untuk kemudian akan dilalap dirusak kehormatannya!

Ketika hampir separoh dari biarawati angkatan tua menemui ajalnya, ketika lantai diruangan terbuka itu sudah licin dan amis oleh baunya darah maka Supit Jagat segera membentak. Dia tak mau lebih banyak jatuh korban dipihaknya! “Semuanya mundur!”

Perintah yang laksana geledek ini dipatuhi oleh setiap biarawati.

Semuanya mundur ke tepi dan di tengah ruangan besar itu kini hanya Ketua Biara serta Pendekar Pemetik Bunga saja yang berdiri berhadap-hadapan dalam jarak delapan tombak. Di lantai bertebaran belasan tubuh biarawati-biarawati tua yang telah menemui ajalnya!

“Kebinatanganmu sudah lebih dari binatang! Kebejatanmu sudah melewati batas! Kebiadabanmu seluas luatan! Dosamu setinggi gunung!

Segera keluarkan senjatamu, manusia terkutuk!”

Pendekar Pemetik Bunga menyeringai.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 16)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.