Sabtu, 17 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 15)

 Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Namun betapa terkejutnya kedua biarawati sewaktu masuk ke dalam dapur, mereka mendapatkan seorang pemuda yang bukan lain Wiro Sableng Pendekar Maut Naga Geni 212 tengah duduk di sebuah kursi dengan angkat kaki dan melahap nasi! Asyik makan dan menggeragoti paha ayam goreng sisa malam tadi!

Segera keduanya hendak berteriak. “Ssst…”

Wiro Sableng letakkan jari telunjuknya di atas kedua bibirnya sedang mulutnya saat itu menggembung penuh nasi. Tapi mana dua biarawati tak mau berdiam diri. Keduanya sama hendak berteriak lagi dan menghambur dari dapur. Wiro tak dapat berbuat lain. Dia hantamkan dua jari tangan kanannya ke muka! Dengan serta merta tubuh kedua biarawati itu berhenti mematung, mulut mereka yang tadi hendak berteriak terbuka lebar-lebar tapi tak satu suarapun yang keluar!

Itulah ilmu totokan jarak jauh yang lihay sekali telah dilepaskan oleh murid Eyang Sinto Gendeng! Dan selanjutnya seperti tak ada kejadian apa-apa, seperti dirumahnya sendiri Wiro Sableng meneruskan melahap makanannya! Selesai makan dan meneguk air, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 ini segera tinggalkan dapur itu.

Sewaktu empat orang biarawati yang juga bekerja di dapur memasuki dapur, keempatnya terkejut mendapatkan dua kawan mereka berdiri tak bergerak sedang mulut menganga. Nyatalah mereka telah ditotok. Segera totokan itu dilepaskan.

“Siapa yang menotok kalian?!”

“Pemuda itu!”

“Maksudmu Wiro Sableng?! Pendekar 212?!”

“Ya!” sahut yang seorang.

Yang seorang lagi memberi keterangan, “Kami haus dan mau minum lalu melanjutkan tugas sehari-hari. Tahu-tahu pemuda itu sudah nongkrong di kursi sana, melahap nasi dan makan daging ayam!”

“Pantas dicari-cari di luar gedung tidak ada! tak tahunya nongkrong di dapur! Pemuda lapar!”

Ketika hal itu dilaporkan kepada Ketua Biara Pensuci Jagat mula-mula dalam terkejutnya Supit Jagat setengah tak percaya.

Namun kemudian tiba-tiba meledaklah suara tertawanya. Biarawati-biarawati yang datang melapor itupun akhirnya ikut-ikutan pula tertawa!

~ 13 ~

Gadis berbaju kuning ringkas itu menghentikan larinya di tepi kali berair jernih dengan batu-batu besar di tengah-tengahnya bertebaran laksana pulau-pulau kecil. Disibakkannya rambutnya yang mengurai di kening dan disekanya keringat yang membasahi kuduknya. Dihelanya nafas dalam, nafas yang ditarik dengan disertai rasa keputusasaan dan kegemasan!

Dua hari yang lalu dia sudah berhasil menemui jejak manusia yang dicarinya. Kemarin dia bahkan telah menguntit manusia itu tapi hari ini sesampainya di tepi kali itu, bayangan manusia yang dikejarnya kembali lenyap laksana ditelan bumi, laksana amblas masuk ke dalam kali!

Penuh letih akhirnya gadis ini dudukkan diri di tepi kali, di atas sebuah batu hitam. Dia memandang ke hulu sungai. Satu pemandangan yang indah untuk disaksikan. Sementara itu angin bertiup pula sepoi-sepoi basah. Di luar sepengetahuan gadis berbaju kuning ini, menyelam antara kelihatan dan tidak, berenang seekor ular kali sebesar lengan. Kaki-kaki si gadis yang berkulit putih mulus dan bagus, yang sebagiannya masuk ke dalam air, itulah yang telah menarik perhatian sang ular dan membuatnya segera berenang ke arah mangsanya ini!

Setengah langkah ular itu berada dari kedua kakinya, barulah si gadis sadar. Cepat dia tarik kedua kaki dari dalam air. Sang ular dengan ganas terus mengejar naik ke atas batu. Tapi nasibnya malang. Kali ini gadis baju kuning pergunakan kaki kirinya untuk menendang!

Binatang itu mencelat mental. Kepalanya hancur. Tubuhnya menggelepar-gelepar seketika lalu mati dan dihanyutkan arus sungai.

Gadis baju kuning itu berumur sekitar 19 tahun. Sepasang matanya bening dan jeli. Parasnya bujur telur dan ayu, tak membosankan untuk dipandang. Di atas sepasang matanya yang bening jeli itu berpeta dua buah alis laksana bulan sabit bagusnya!

Namun di balik keayunan paras itu, di belakang kejelitaan wajah itu samar-samar kelihatan satu rasa duka derita yang berpaut dengan rasa dendam kesumat!

Lima hari yang lalu dia masih berada di Goa Blabakan. Dan hari itu dia berhadap-hadapan dengan gurunya. “Empu, murid minta diizinkan untuk meninggalkan pertapaan untuk beberapa waktu…”

Empu Tumapel memandangi paras muridnya beberapa lama.

“Pelajaran yang kuberikan padamu masih belum selesai, Sekar,” berkata sang guru, “Kau ingat bahwa lima tahun lagi baru kau boleh meninggalkan Goa Blabakan ini?”

“Murid ingat, guru. Murid tidak lupa,” sahut Sekar. “Tapi kabar yang murid terima dari orang desa yang datang kemarin siang…. Guru tentu dapat memakluminya.”

Dan gadis itu menyeka air mata yang meleleh dipipinya. “Aku tidak mengajarkan kau menangis, Sekar! Aku mengajarkan kau ilmu silat, Ilmu kesaktian, ilmu bathin, Ilmu menguatkan jiwa, lahir dan batin! Bukan Ilmu menangis!” Sekar seka lagi sisa-sisa air matanya dan hentikan tangis.

“Murid tahu, guru. Tapi guru juga musti maklum. Ayahku dibunuh. Ibuku dan adik perempuanku diperkosa lalu dibunuh! Dapatkah hati seorang perempuan menghadapi semua ini tanpa air mata? Dan karena peristiwa itulah murid minta izin kepada guru untuk meninggalkan pertapaan ini beberapa lamanya guna mencari manusia terkutuk itu!”

Empu Tumapel merenung dan setelah menghela nafas dalam diapun berkata, “Sekalipun kuizinkan padamu pergi, sekalipun kau bertemu dengan manusia itu, belum tentu kau berhasil menghadapinya Sekar. Belum tentu kau dapat membalaskan sakit hati dan dendam kesumatmu!”

“Murid tahu, manusia itu sakti luar biasa! Tapi demi menuntut kebenaran, demi arwah orang tua dan adikku, dengan doa restu guru serta pertolongan Tuhan, murid yakin murid akan sanggup menghadapinya! Tapi guru, apakah ilmu meskipun sakti luar biasa jika dipergunakan untuk kejahatan akan sanggup menghadapi kebenaran dan kekuatannya Tuhan?!”

Empu Tumapel yang berumur enam puluh tahun terdiam oleh ucapan muridnya itu.

“Kau akan mati percuma di tangan manusia itu, Sekar,” katanya setelah berdiam diri beberapa lama.

“Tidak, guru. Sekalipun aku mati, aku akan mati dengan puas. Puas karena aku telah membela keadilan, menghancurkan kejahatan. Aku akan mati syahid guru!”

“Baik… baiklah muridku,” kata Empu Tumapel. Dibelainya kepala muridnya itu. Dan dalam jubahnya dikeluarkan seuntai rantai baja yang panjangnya dua meter. Pada ujung rantai baja ini terdapat sebuah bola baja berduri. Keseluruhan senjata ini memancarkan sinar putih dan hawa dingin tanda senjata itu bukan senjata sembarangan.

“Kuizinkan kua pergi, Sekar. Dan bawalah senjata Rantai Petaka Bumi ini. Mudah-mudahan kau berhasil…”

Sekar berlutut di hadapan gurunya.

“Terima kasih guru… Terima kasih guru juga mempercayakan dan meminjamkan senjata ini padaku…”

Lamunan tentang saat lima hari itu serta merta buyar sewaktu dari hulu sungai Sekar, si gadis berbaju kuning, melihat sesosok bayangan putih berlari cepat di atas kali, hanya sekali-sekali kakinya menjejak batu-batu yang banyak bertebaran di atas kali.

Cepat Sekar berdiri dan menunggu penuh waspada. Orang yang berlari hentikan larinya dan berdiri di atas sebuah batu besar sejarak satu-dua meter di hadapan gadis itu.

“Eh, saudari, kau berada sendiri di tepi kali ini, ada apakah?!” Sekar menatap paras pemuda yang tampan itu. Sewaktu dia memperhatikan rambut gondrong yang menjela sampai ke bahu si pemuda, berdetak hatinya! Bukan tidak mustahil manusia ini adalah Pendekar Pemetik Bunga yang tengah dicarinya dan kini telah bertukar pakaian. Dia sendiri memang tidak pernah melihat jelas tampang Pendekar Terkutuk itu!

Menimbang begini. Sekar segera keluarkan “Rantai Petaka Bum!” dari balik pakaiannya, terus menyerang dengan ganas! Si pemuda terkejut!

“Gila betul! Ditanya baik-baik dijawab dengan serangan!” Cepat-cepat dia menghindar. Angin dingin menyambar tubuhnya sewaktu Rantai Petaka Bumi lewat di depan dadanya!

“Saudari, itu senjata sakti! Jangan dibuat main-main!”

“Tutup mulut! Justru dengan senjata inilah akan kuhancurkan kepalamu pemuda bejat!”

Si pemuda keluarkan siulan dan tertawa gelak-gelak. Inilah ciri-ciri khas dari pendekar yang tak asing lagi yaitu Wiro Sableng si Pendekar 212!

“Kenal belum, ketemupun baru kali ini sudah bisa menyumpahiku pemuda bejat! Kau mimpi atau apa?!”

“Keparat, terima kematianmu dalam tiga jurus!”

Sekar menyerang dengan dahsyat. Rantai Petaka Bumi menyapu dengan mengeluarkan suara dahsyat laksana halilintar, menebarkan angin laksana topan hingga air kali bermuncratan dan batu-batu kali yang tersambar bola baja berduri itu hancur berantakan!

“Saudari!” seru Wiro Sableng. “Kau ini main-main atau bagaimana?” Pemuda ini terpaksa jungkir balik di atas kali menghindari serangan senjata lawan yang dahsyat. Dan sebelum kedua kakinya menjejak disalah satu batu kali. Rantai Petaka Bumi itu sudah menyapu lagi ke arah kakinya!

“Hebat!” seru Wiro Sableng benar-benar kagum.

“Ya, hebat! Memang hebat! Sebentar lagi kepalamu akan dibikin hebat oleh bola baja berduri ini!” tukas Sekar.

Wiro Sableng terpaksa jungkir balik sekali lagi. Seorang yang memiliki ilmu mengentengi tubuh sempurna biasa saja pasti tak akan sanggup melakukan dua kali jungkir balik itu. Tapi Pendekar 212 ilmu mengentengi tubuhnya sudah lebih tinggi dari kesempurnaan!

Si gadis melihat serangannya melanda angin kosong jadi penasaran sekali. Saat itu jurus kedua. Tanpa tedeng aling-aling dia melompat ke muka lebih dekat pada si pemuda dan putar Rantai Petaka Bumi dengan jurus “Bumi Dilanda Lindu!”

Jurus ini memang hebat luar biasa, padahal si gadis baru mewarisi setengahnya saja dari gurunya! Karena tak ingin melawan dan karena tak mau membuat si gadis cilaka, lagi pula merasa tidak ada permusuhan apa-apa, maka Wiro Sableng sejak tadi hanya mengelak, sekalipun tak balas menyerang. Gesit sekali Pendekar dari Gunung Gede ini melompat ke tepi kali.

“Saudari harap tahan dulu seranganmu!”

“Jangan banyak rewel Pendekar Terkutuk Pemetik Bungai Kau tetap musti kubunuh! Arwah orang tua dan adikku tak akan tenang di alam baka sebelum nyawa anjingmu kurenggut dari tubuh keparatmu!” Lantas si gadis melompat pula ke tepi kali.

“Hai! Kalau begitu kau salah duga, gadis baju kuning!” kata Wiro Sableng pula. “Aku bukannya Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga!”

“Tak perlu dusta! Kau kira bisa selamat dengan jual mutut begitu rupa?!”

“Aku tidak dusta! Apa kau pernah lihat aku memetik bunga dan bunga apa? Bunga matahari atau bunga mawar atau…”

“Bunga bola baja kematianmu ini, laknat!” sentak Sekar. Dan kembali dia menyerang secara ganas.

Pendekar kita terpaksa mengelak lagi dan lompat ke cabang sebatang pohon.

“Kalau keliwat kesusu bisa tidak beres saudari. Aku masih belum habis bicara! Kuharap kau suka simpan itu senjata dan mari kita bicara baik-baik…”

Bukannya si gadis baju kuning simpan senjata melainkan bola baja berduri itu diluncurkannya ke batang pohon di atas mana Wiro Sableng berada.

“Kraak!”

Batang pohon hancur dan tumbang. Pendekar 212 sendiri sudah lompat ke pohon yang lain!

Gemas sekali Sekar segera melompat ke pohon itu! Dan di atas cabang pohon yang tak seberapa besar itu maka kini terjadilah pertempuran yang seru! Namun Wiro Sableng tetap tidak mengadakan perlawanan atau balas menyerang. Ini membuat si gadis jadi penasaran.

“Ayo, pemuda keparat! Kenapa diam saja?! Apa nyalimu sudah lumer?! Keluarkan senjatamu!”

Lama-lama diserang gencar demikian rupa Wiro Sableng kewalahan juga. Dia Iompat ke bawah. Sekar sebatkan rantai baja ke pinggang si pemuda. Dengan gesit Wiro Sableng mengelak kesamping lalu gerakkan tangan kanannya!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 15)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.