Jumat, 16 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 14)

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Sepuluh biarawati itu tiada perdulikan pertanyaan si pemuda melainkan melangkah ke hadapan Ketua mereka dan melaporkan bahwa tidak ada satu tanda yang mencurigakan pun di luar sana. Semuanya beres dan rapi! Ketua Biara Pensuci Jagat anggukkan kepala dan suruh sepuluh biarawati itu kembali ke tempat masing-masing.

“Pemuda,” berkata sang Ketua. “Ilmu yang barusan kau pamerkan…”

“Ah…!” memotong pemuda itu. “Siapa yang pamerkan ilmu!” tanyanya. “Orang diserang toh musti mengelak? Siapa sih orangnya yang mau ditusuk-tusuk dengan pedang? Yang mau dicincang? Kucing budukpun pasti larikan diri atau mengelak!”

Tenggorokan Supit Jagat turun naik beberapa kali. Kemudian dia berkata lagi. “Meski ilmumu setinggi gunung sedalam lautan, meski pengalamanmu saluas bumi, tapi jika kau datang ke sini dengan membawa niat jahat, jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup dari sini!”

Si pemuda menghela nafas.

“Apakah kalian di sini tuli semua? Apa aku sejak tadi cuma bicara dengan tonggak-tonggak mati?!” katanya. Lalu dia meneruskan. “Pertama datang aku sudah bilang bahwa maksudku ke sini adalah membawa niat baik dan bersahabat! Bahkan aku kasih keterangan pada kalian di sini bahwa Biara ini dan kalian semua sedang terancam bahaya! Bahaya itu datangnya belum tentu tapi pasti datang! Bahaya Pendekar Pemetik Bunga! Tapi kalian bukannya percaya, malah bercuriga padaku! Malah menyerang aku! Aku yang edan apa kalian yang keblinger!”

“Kalau kau datang betul membawa niat baik dan bersahabat, mengapa datang tidak memberi tahu lebih dulu? Mengapa lancang masuk dengan diam-diam ke tempat orang?!” Si pemuda tertawa.

“Kalian sedang rapat! Sedang adakan pertemuan! Kalau aku datang dengan mengetuk pintu gerbang sana atau berteriak-teriak memberi salam, pastilah akan mengganggu rapat kalian.”

“Kau memang sudah mengganggu kami!” semprot Biarawati Lima yang memang sejak tadi belum habis rasa penasarannya.

Si pemuda angkat bahu.

Dipalingkannya tubuhnya pada Ketua Biara Pensuci Jagat, dan berkata.

“Ketua, jika kau dan semua orang di sini menganggap aku telah mengganggu kalian dan mengacaukan suasana pertemuan ini mohon dimaafkan. Aku tak akan mengganggu lebih lama.”

Pemuda itu menjura dua kali di hadapan Supit Jagat. “Cuma jangan menyesal kalau keteranganku nanti terbukti benar!”

Pemuda ini menjura satu kali pada barisan biarawati-biarawati yang duduk berjejer-jejer di kursi lalu segera hendak putar badan tinggalkan ruangan itu!

Mendadak biarawati gemuk tadi berteriak.

“Ketua! Bukan mustahil pemuda ini sendiri Pendekar Pemetik Bunga itu!”

Supit Jagat tercekat hatinya. “Ya, bukan tak mungkin,” katanya membathin. Cepat-cepat dia bertepuk tiga kali dan keseluruhan biarawati yang duduk di kursi berdiri cepat, menyebar di seluruh tepi ruangan, menjaga jendela-jendela dan menjaga pintu-pintu! Tak mungkinlah bagi si pemuda untuk meninggalkan tempat itu kini!

Lebih-lebih ketika terdengar suara. “Sret… sret… sret…!” Suara pedang yang dicabut dari sarungnya! Seratus pedang kini melintang di tangan!

~ 12 ~

Si pemuda memandang berkeliling ruangan dengan kerenyitkan kulit kening.

“Apa-apaan ini?!” tanyanya membentak.

“Jika kau tidak mengaku bahwa kau adalah Pendekar Pemetik Bunga sendiri, jangan harap kau bisa keluar hidup-hidup dari sini!” hardik Ketua Biara Pensuci Jagat.

“Eeeeee… kenapa memaksa aku yang bukan-bukan?!”

“Jangan banyak bacot! Mengaku atau mampus?!” Yang membentak kali ini adalah Biarawati Lima.

Si pemuda geleng-geleng kepala. “Tidak sangka biarawati-biarawati yang berhati suci jujur bisa bicara membentak dan galak, serta agak kotor!”

Biarawati Lima melompat ke muka. Pedangnya diacungkan tepat-tepat ke arah hidung si pemuda. Dia berpaling pada Supit Jagat. “Ketua, tunggu apa lagi?!”

“Pemuda, kau sungguh tidak mau mengaku diri?!” bertanya Ketua Biara Pensuci Jagat.

“Kalau aku tidak mengaku, aku mau dibikin mampus! Kalau aku mengaku bahwa aku Pendekar Pemetik Bunga, seribu kali lebih mampus! Kuharap kalian semua suka berpikir pakai otak dan jangan galak-galakan! Tak ada perlunya! Kalau aku Pendekar Pemetik Bunga sudah sejak tadi terjadi kemesuman di ruangan ini!”

Ketua Biara Pensuci Jagat menimbang ucapan si pemuda. Memang betul juga, kalau pemuda ini adalah Pendekar Pemetik Bunga tentu sudah sejak tadi terjadi hal-hal yang mengerikan!

“Sekarang, apakah kalian mau memberi jalan padaku untuk keluar dari sini?!” terdengar si pemuda bertanya.

“Sebelum kau terangkan siapa kau punya nama, berasal dari mana dan juga terangkan gelarmu, baru kami akan izinkan kau berlalu dari sini!” kata Supit Jagat pula.

Pemuda itu garuk-garuk kepalanya. Tiba-tiba meledaklah tertawanya! Lantai, dinding, langit-langit den tiang ruangan bergetar oleh kumandang tertawanya yang panjang ini. Setiap hati manusia yang ada di situ, termasuk Ketua Biara Pensuci Jagat sendiri ikut tergetar oleh kehebatan suara tertawa si pemuda!

“Kenapa kau tertawa?!” bentak Ketua Biara Pensuci Jagat.

“Siapa yang tidak bakal geli dan ketawa!” menyahut si pemuda.

“Mula-mula kalian tanya siapa aku? Siapa namaku. Siapa gelarku dan sekarang tanya aku berasal dari mana atau tinggal di mana?! Persis pertanyaan-pertanyaan begitu macam muda mudi yang sedang pacar-pacaran!”

Merahlah paras Ketua Biara Pensuci Jagat.

“Tak dapat dihindarkan lagi bahwa lantai ruangan ini akan basah oleh darahmu, pemuda bermulut kurang ajar!” teriak sang Ketua. Dia gerakan tangan memberi isyarat. Dan selangkah demi selangkah, seratus biarawati dari angkatan tua dan muda, dengan pedang ditangan masing-masing, maju mendekati si pemuda!

Gilanya pemuda itu masih juga berdiri tertawa-tawa di tengah ruangan, memandang berkeliling dan garuk-garuk rambutnya yang gondrong!

Tiba-tiba seratus pekikkan laksana guntur yang hendak meruntuhkan gedung biara itu berkumandang! Seratus pedang berkiblat!

“Buset!” Si pemuda membentak tak kalah nyaring. Diiringi dengan suitan yang memekakkan telinga dia melompat tinggi-tinggi ke atas, kepalanya hampir menyundul langit-langit. Dalam tubuh mengapung begitu rupa pemuda ini berseru, “Ketua, harap kau sudi hentikan serangan ini dulu!”

“Serang terus!” sebaliknya Ketua Biara Pensuci Jagat berteriak.

“Aku tak mau kesalahan. tangan dan cari permusuhan dengan kalian! Kita adalah sama-sama satu golongan!”

“Jangan ngaco!” tukas Biarawati Lima.

“Ketua Biara, aku betul-betul tidak mau bikin cilaka orang-orangmu!” berseru lagi si pemuda.

Tapi sang Ketua Biara tak mau ambil perduli malah membentak lebih keras agar orang-orangnya menggempur pemuda itu. Puluhan biarawati melesat ke atas, puluhan pedang berkelebat!

Pemuda itu menggerendeng dalam hatinya. Kedua telapak tangannya dikembangkan dengan cepat kemudian dipukulkan ke bawah!

Maka angin dahsyat laksana topan menderu ke bawah memapasi serangan-serangan lawan. Betapapun puluhan biarawati-biarawati itu bersikeras menyerbu ke atas dan kerahkan tenaga dalam serta ilmu meringankan tubuh mereka namun tiada berhasil. Mereka laksana tertahan oleh satu dinding baja yang tak kelihatan. setiap mereka melesat ke atas, tubuh mereka kembali mental ke bawah berpelantingan, banyak yang mendeprok jatuh duduk!

Heranlah sang Ketua Biara Pensuci Jagat menyaksikan hal ini. Ilmu apakah gerangan yang dimiliki pemuda itu, demikian dia membatin.

Melihat betapa orang-orangnya mengalami kesia-siaan, tiada hasil melakukan serangan mereka maka Supit Jagat sendiri segera turun dari mimbar dan berseru, “Pemuda, turunlah! Hadapi aku!”

“Ah… Ketua Biara, sungguh satu kehormatan yang kau sendiri juga mau turun tangan pada budak hina ini,” dan sementara itu sepasang mata si pemuda melirik ke pintu di ujung kanan yang kini tiada terjaga lagi karena keseluruhan biara di ruangan itu ambil bagian menyerangnya.

“Tapi,” melanjutkan si pemuda sementara kedua telapak tangannya masih terus juga dipukulkan berkali-kali ke bawah memapasi serangan-serangan lawan, “harap maaf, saat ini aku tidak punya kesempatan untuk main-main dengan kau! Lagi pula aku anggap kita semua ini adalah orang satu golongan! Sampai jumpa Ketua Biara!”

Pemuda itu melompat ke samping lalu menukik ke arah pintu. Penasaran sekali Ketua Biara Pensuci Jagat lepaskan satu pukulan jarak jauh yang dahsyat!

“Braak!”

Sebagian tiang pintu yang besarnya lebih dari sepemeluk tangan hancur lebur.
Tapi si pemuda sudah lenyap!

“Kejar!” teriak Supit Jagat. “Kita musti tangkap manusia itu hidup atau mati!”

Maka ruangan besar itupun kosong melomponglah kini. Semua biarawati termasuk Supit Jagat rnenghambur ke luar. Seluruh halaman diperiksa. Pintu gerbang dibuka dan belasan biarawati mengejar keluar dan belasan lainnya melompat ke atas atap, namun si pemuda lenyap tiada bekas!

Supit Jagat memerintahkan orang-orangnya untuk kembali masuk ke dalam Biara. Dan waktu mereka memasuki ruangan pertemuan tadi, semuanyapun terkejutlah!

Di lantai ruangan, dikursi-kursi dan di beberapa bagian dinding ruangan sebelah bawah bertebaran puluhan deretan angka 212.

“Dua satu. Dua!” desis Supit Jagat. Ketua Biara Pensuci Jagat ini memandang biarawati-biarawati angkatan tua. Ya, hanya mereka yang seumur dengan dialah yang mengerti apa arti angka 212 itu sedang biarawati-biarawati angkatan muda hanya melongo tak mengerti!

Ketua Biara Pensuci Jagat memberi isyarat pada kira-kira sepuluh orang biarawati angkatan tua agar mengikutinya masuk ke dalam sebuah kamar.

Ketua Biara ini duduk di kursi goyang yang dulu menjadi kursi kesayangan Ketua mereka yang telah meninggal dunia. “Sekarang kita sudah tahu siapa adanya pemuda itu,” berkata Supit Jagat. “Dia bukan lain dari Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, murid Eyang Sinto Gendeng dipuncak gunung Gede yang menurut guru kita tempo hari merupakan kawan baiknya!”

“Kalau begitu,” menyela Biarawati Lima yang bertubuh gemuk pendek dan yang tadi paling gemas terhadap pemuda itu, “keterangan yang diberikannya bukan omong kosong belaka!”

“Betul!” Supit Jagat anggukkan kepala.

“Kalau dia memang golongan kita sendiri, sama-sama golongan putih,” kata Biarawati Sembilan. “Kenapa tidak siang-siang dia terangkan diri…?!”

“Pemuda itu memang aneh,” menyahut Ketua Biara Pensuci Jagat.

“Kadang-kadang orang menganggapnya pemuda gila, edan kurang ingatan! Kalau kalian kenal pada gurunya, gurunya Eyang Sinto Gendeng itu lebih gila lagi! Gila dan edan, bicara seenaknya! Bahkan dalam bertempur menyabung nyawapun dia tertawa-tawa atau bersiul-siul seperti yang kalian lihat tadi! Sinto Gendeng ataupun muridnya yang tadi memang bukan orang-orang yang suka agul-agulkan nama atau obral gelar di mana-mana. Kurasa itulah sebabnya pemuda tadi tidak mau kasih keterangan siapa dia sebenarnya!”

Sunyi beberapa lamanya.

“Ketua, bagusnya kita segera bersiap-siap menjaga segala kemungkinan atas datangnya Pendekar Pemetik Bunga itu!”

“Ya. Biarawati Satu, kau atur semuanya. Perketat penjagaan! Tambah alat-alat rahasia di sekitar tembok dan pintu gerbang!”

“Perintah akan kami jalankan, Ketua,” sahut Biarawati Satu, lalu bersama kawan-kawannya yang lain segera meninggalkan tempat itu setelah terlebih dahulu menjura memberi hormat.

Sementara itu dua orang biarawati muda yang kelelahan mencari-cari Wiro Sableng di luar tembok halaman dan yang bekerja di bagian dapur biara segera langsung menuju ke bagian dapur itu. Sesudah minum melepaskan dahaga mereka bermaksud akan meneruskan pekerjaan mereka sehari-hari di dapur.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 15)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.