Jumat, 16 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 13)

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Biarawati Lima, seorang nenek-nenek berbadan sangat gemuk yang punya penyakit darah tinggi lekas naik darah, berdiri dari kursinya dan membentak.

“Pemuda sedeng! Di sini bukan tempat melawak! Lekas katakan apa maksudmu menyelinap ke sini. Jika kau membawa niat jahat kupatahkan batang lehermu dan kulemparkan mayatmu ke luar tembok!”

Si pemuda naikkan kedua alis matanya.

“Galak betul! Galak betul!” katanya. “Aku datang ke sini bukan untuk melawak. Kau lihat sendiri ibu tua, tak ada satu hal lucupun yang aku buat. Tak ada satu orang disini yang tertawa! Bagaimana kau bisa bilang aku melawak?!”

Beberapa arang Biarawati tertawa sembunyi-sembunyi. Biarawati Lima merah mukanya lalu berseru pada Supit Jagat, “ketua, harap izinkan aku menghajar pemuda edan ini!” Ketua Biara Pensuci Jagat lambaikan tangan memberi isyarat agar mempersabar diri. Dia maklum kalau si pemuda bisa menyelinap masuk ke dalam gedung, pastilah dia bukan sembarang orang!

“Orang muda, kuharap kau bisa bicara seperlunya mengingat di mana kau berada saat ini dan mengingat pula kau adalah tamu yang tidak diundang,” berkata Supit Jagat.

“Sekarang harap terangkan apa maksud kedatanganmu ke sini.”

“Aku datang membawa maksud baik dan persahabatan,” kata si pemuda.

“Hem, begitu? maksud baik dan persahabatan macam manakah kiranya?” tanya Ketua Biara Pensuci Jagat pula.

Si pemuda memandang dulu berkeliling lalu kembali palingkan kepala pada Supit Jagat. “Ketua” katanya, “kau saksikan sendiri, sebagian besar dari biarawati-biarawati di sini adalah perempuan-perempuan muda dan cantik-cantik…”

“Pemuda kurang ajar! Mulutmu pantas untuk disumpal dengan ujung pedangku!” bentak seorang biarawati. Tapi Ketua Biara Pensuci Jagat kembali lambaikan tangan memberi isyarat agar anak buahnya itu tidak bertindak kesusu dan duduk kembali ke kursinya.

Kepada si pemuda sang Ketua berkata, “Teruskan ucapanmu!”

Setelah terbatuk-batuk beberapa kali baru si pemuda membuka mulutnya kembali. “Kerbau sekandang bisa dikurung! Harimau berlusin-lusin bisa disekap! Tapi kecantikan perempuan tak bisa dikurung, tak bisa disembunyikan, tak bisa disekap! Betul atau tidak…?!”

Diam-diam Ketua Biara yang baru ini menjadi gemas juga dalam hatinya. “Orang muda, ucapanmu terlalu berbelit-belit! Bicara saja secara singkat tapi jelas!”

Si pemuda hela nafas dan garuk kepala beberapa kali. Beberapa orang biarawati dari golongan tua berdiri dari kursi dan berseru, “Ketua, kehadiran pemuda ini lebih lama tidak menyenangkan kami! Harap beri izin kami untuk mengusirnya!”

Pemuda itu memandang pada beberapa orang biarawati itu. “Kalian punya hak untuk mengusirku! Tapi alangkah memalukan bila nanti kalian tahu kedatanganku secara baik-baik ini disambut dengan pengusiran!”

“Baik atau jahat maksud kedatanganmu, kami tidak suka kau hadir di sini.”

“Eh, apakah kau yang menjadi Ketua di sini?” ejek si pemuda.

Merahlah muka si biarawati.

Dia segera hunus pedangnya dan melompat mengirimkan satu serangan ganas. Si pemuda sedikit pun tidak bergerak! Malahan dengan sikap acuh tak acuh dia berpaling pada Ketua Biara Pensuci Jagat.

Sementara tebasan pedang datang menyerangnya dia berseru, “Ketua! Sungguh penyambutan yang memalukan. Bukannya aku disuguhi minuman malah dikasih tebasan pedang!”

Angin pedang menyambar tanda senjata maut sudah berkelebat dekat sekali! Tapi si pemuda masih juga memandang pada Ketua Biara Pensuci Jagat seakan-akan tak perduli atau tak tahu apa-apa kalau dirinya diserang!

Namun!

Seruan tertahan bahkan kaget memenuhi ruangan itu. Seratus pasang mata melotot. Biarawati yang menyerang si pemuda kelihatan berdiri terhuyung-huyung sedang pedang yang tadi dipakainya untuk menyerang kini kelihatan berada dalam tangan si pemuda! Jurus yang dimainkan Biarawati Tujuhbelas tadi adalah jurus yang cukup lihai dalam ilmu pedang Biara Pensuci Jagat. Tapi si pemuda menghancur leburkannya dalam satu gebrakan saja dan dengan sikap acuh tak acuh, sambil bicara dengan Ketua mereka! Betul-betul hebat!

Biarawati golongan muda yang sejak tadi tertarik akan kecakapan tampang si pemuda kin! semakin tertarik melihat ketinggian ilmu pemuda itu. Dan dalam hati masing-masing mereka membathin siapakah gerangan pemuda ini?!

“Ketua Biara Pensuci Jagat,” kata si pemuda, “kedatanganku ke sini dengan maksud baik dan bersahabat, tapi orangmu telah menyerangku!

Orang lain mungkin sudah kalap dan tak terima perlakuan ini! Tapi aku orang tolol dan rendah, tak apa-apa. Ini soal biasa! Perempuan kalau sudah beringas memang suka menyerang duluan!”

Dengan tertawa-tawa pemuda itu memutar tubuhnya dan melangkah kehadapan biarawati yang tadi menyerangnya. Dia membungkuk sedikit lalu mengangsurkan senjata itu seraya berkata.

“Harap kau suka terima pedangmu kembali, dan maaf kalau aku bikin kau jadi kalap.”

Biarawati itu tak berkata apa-apa. Diambilnya pedangnya kemudian berlalu dengan cepat.

“Orang muda, jika kau betul-betul datang dengan niat baik dan bersahabat, bicaralah seringkas mungkin!”

Pemuda itu mengangguk.

“Tadi aku sudah bilang bahwa kecantikan itu tak bisa disembunyi-sembunyikan, tak bisa dibendung dengan tembok setinggi apa pun! Kecantikan sebagian besar biarawati biarawati di sini telah diketahui oleh dunia luar dan tokoh-tokoh persilatan! Telah sampai ke telinga seorang tokoh golongan hitam bergelar Pendekar Pemetik Bunga…”

Si pemuda tak bisa teruskan keterangannya karena sampai di situ suasana di ruangan tersebut menjadi ribut! Terpaksa Ketua Biara memberi tanda untuk menenangkan suasana.

Dan si pemuda meneruskan keterangannya pula.

“Jika kalian di sini pada gaduh mendengar nama Pendekar Pemetik Bunga berarti kalian sudah tahu manusia macam apa dia adanya!”

Pemuda itu palingkan kepalanya pada Supit Jagat. “Ketua Biara,” dia berkata lagi, “aku mendapat kabar bahwa manusia terkutuk itu berada di sekitar sini akhir-akhir ini. Dan kabarnya lagi, dia akan mendatangi Biara ini untuk melaksanakan perbuatan-perubatan mesumnya selama ini!”

Suasana tegang dan sunyi laksana dipekuburan mencekam ruangan besar itu.

Di dalam kesunyian yang tegang itu, diam-diam Biarawati Satu berkata kepada Ketua Biara Biara Pensuci Jagat dengan ilmu menyusupkan suara.

“Ketua, hatiku tetap bercuriga pada pemuda ini. Aku yakin dia datang bukan dengan maksud baik. Apa yang diucapkannya cuma omong kosong belaka.”

“Yang aku herankan ialah bagaimana dia bisa masuk kesini,” menyahuti Supit Jagat. “Meski ilmu tinggi tapi selama puluhan tahun tak ada satu tokoh silatpun yang sanggup masuk ke Biara ini, apalagi tanpa setahu kita!”

Biarawati satu bertanya, “Apa perlu aku suruh beberapa orang-orang kita untuk menyelidik sekeliling tembok dan pintu gerbang?!”

“Lakukanlah!” kata Supit Jagat pula.

Maka sepuluh orang biarawati angkatan muda segera keluar meninggalkan ruangan itu. Pemuda rambut gondrong tersenyum. Matanya tidak buta. Dia telah melihat tadi mulut Biarawati Satu dan Ketua Biara Pensuci Jagat bergerak-gerak. Pasti ada yang dibicarakan kedua orang itu, dan pasti menyangkut dirinya.

“Ketua Biara Pensuci Jagat,” kata sipemuda seraya rangkapkan kedua tangan di muka dada. “Rupanya kau dan biarawati-biarawati di sini sangat bercuriga padaku.”

“Tentu saja,” sahut Supit Jagat. “Kau datang tanpa diundang, masuk dan bicara seenaknya, tidak mau terangkan diri!”

“Apakah kau tidak percaya kalau Pendekar Pemetik Bunga akan mendatangi tempatmu ini…?”

“Dia boleh datang dengan maksud jahat. Tapi dia musti tinggalkan kepala di sini!”
Sipemuda tertawa bergelak.

“Nama Biara Pensuci Jagat memang sudah lama dikenal dalam dunia persilatan. Ketuanya Supit Jagat memang sakti luar biasa. Tapi jangankan kau, gurumu sendiripun tiada sanggup menghadapi Pendekar Pemetik Bunga!”

“Kau menghina guru dan Ketua kami!” teriak beberapa Biarawati. Mereka menyerbu si pemuda.”

Supit Jagat tidak berusaha menahan. Dia ingin lihat sampai dimana kehebatan pemuda berambut gondrong itu. Sepuluh pedang menyambar dengan mengeluarkan suara angin bersiuran. Karena yang menyerang itu adalah biarawati-biarawati dari golongan tua yang ilmunya sudah sempurna maka kehebatan serangan itu tidak terkirakan dahsyatnya.

Dalam sekejapan mata tidak bisa tidak tubuh si pemuda akan tersatai!

Atau akan terputus berkeping-keping!

“Sungguh memalukan!” seru si pemuda. “Di sarang sendiri biarawati-biarawati yang katanya mau mensucikan dunia ini dari segala kekotoran, menyerang main keroyok!”

“Bagi manusia-manusia edan tak tahu peradatan dan kurang ajar, tak perlu merasa malu!” sentak salah seorang dari biarawati yang menyerang.

Sekejap kemudian ruangan besar itu bergemuruh oleh suara beradunya sepuluh badan pedang yang menimbulkan bunga api yang terang sekali!

Semua orang berseru kaget. Ketua Biara Pensuci Jagat membuka matanya lebar-lebar. Tapi si pemuda yang tadi hendak dikermus lenyap dari pemandangan, entah kemana!

Tiba-tiba terdengar suara salah seorang biarawati. “Hei! Lihat! Manusia itu sudah bergantung pada kawat lampu!”

Semua kepalapun mendongak ke langit-langit di atas ruangan! Ternyata betul. Pemuda berambut gondrong itu bergantung di langit-langit ruangan dengan tangan kirinya memegangi kawat kecil lampu yang menerangi ruangan besar itu! Kalau dia tidak memiliki ilmu mengentengi tubuh yang tinggi luar biasa, pastilah kawat itu akan putus!

“Pemuda edan!” pekik seorang biarawati, “jangan kira aku dan kawan-kawan tidak sanggup mengejar kau ke atas sana!”

Sepuluh tubuh berjubah putih laksana anak-anak panah melesat ke atas dan serentak itu pula kirimkan serangan pedang yang lebih ganas yaitu jurus “Menabas Gunung Menusuk Rembulan”.

Terdengar suara bersiut-siut dan sedetik kemudian disusul oleh suara jatuhnya lampu minyak besar yang tergantung di langit-langit ruangan! Kacanya dan semprongnya pecah bertebaran, minyak tumpah membasahi lantai! Sepuluh pedang biarawati-biarawati tadi nyatanya telah menabas putus kawat lampu hingga jatuh pecah berantakan ke lantai.

Dan hebatnya lagi saat itu si pemuda sudah berdiri lagi di tempatnya semula sebelum diserang pertama kali tadi. Berdiri diantara pecahan kaca dan minyak lampu sambil tertawa-tawa rangkapkan tangan di muka dada!

Penasaran sekali sepuluh biarawati segera menukik dan hendak lancarkan serangan untuk ketiga kalinya!

Tapi kali ini Ketua Biara Pensuci Jagat cepat berseru. “Tahan!”

Meski hati gusar tapi sepuluh biarawati hentikan serangan namun ketika turun kelantai kembali tetap membentuk posisi mengurung si pemuda!

“Para biarawati harap kembali ke tempat,” perintah Ketua Biara Pensuci Jagat. Sepuluh biarawati turun perintah itu. Mereka sarungkan pedang masing-masing dan duduk kembali ke tempat semula.

Disaat itu pula sepuluh biarawati yang tadi disuruh menyelidik keluar gedung kembali memasuki ruangan.

Dengan ilmu menyusupkan suara Ketua Biara Pensuci Jagat hendak bertanya pada biarawati-biarawati itu, tapi mendadak si pemuda sudah mendahului!

“Bagaimana?” tanyanya. “Apa kalian menemui tembok pagar yang bobol atau pintu gerbang yang rusak?!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 14)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.