Jumat, 16 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 12)

 Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Nenek kepala botak kelihatan semakin tua. Kedua mata serta pipinya mencekung, keriput-keriput ketuaan sukar untuk dihitung berapa banyak menggores di mukanya. Umurnya sudah lebih dari sembilan puluh tahun. Namun suara dan tutur katanya tetap keras dan tegas dan pandangan matanya setajam ujung pedang! Dihadapan nenek tua kepala botak ini duduk seorang permpuan berusia setengah abad. Rambutnya hampir putih semuanya. Pada parasnya juga jelas kelihatan gurat-gurat ketuaan. Namun gurat-gurat ketuaan ini tiada sanggup memupus kecantikan yang dimilikinya sejak masa mudanya.

“Muridku Wilarani,” berkata si nenek. “Dua puluh tahun sudah berlalu, dua puluh tahun sudah lewat. Rasanya cepat sekali. Kalau tidak melihat kepada tampang-tampang dan perubahan yang terjadi di diri kita rasanya masa dua puluh tahun itu seperti hari kemarin saja. Dua puluh tahun mendidikmu dan memberi banyak tugas padamu tidak mengecewakanku!

Sebagian besar dari cita-cita yang kita rintis sudah kelihatan buahnya. Telah banyak tokoh-tokoh golongan hitam dan rampok-rampok rimba hijau yang kita musnahkan. Cuma sayang beberapa tokoh silat perempuan golongan putih yang kita harapkan bantuannya hilang lenyap tiada kuketahui. Entah mati, entah sembunyi atau bertapa mempersuci diri!

Eyang Sinto Gendeng, itu jago perempuan yang memiliki kesaktian luar biasa ketika kusambangi ke Gunung Gede, tak ada di pertapaannya! Tapi kita jangan kecewa. Cita-cita kita untuk meneteramkan dunia ini, untuk mensucikan jagat milik Tuhan ini agar kembali pada keadaan sewaktu semulanya dulu, harus kita laksanakan!

Beberapa tokoh silat perempuan sudah sepakat dengan kita untuk mengambil alih penenteram dunia ini dari tangan laki-laki. Mereka diantaranya Dewi Kerudung Biru dan Dewi Lembah Bulan Sabit.

Sekalipun aku tak ada nanti usaha dan cita-cita kita musti terus dijalankan karena selama dunia ini berputar, selama itu pula kejahatan dan kekacau-balauan berlangsung! Sekarang jumlah biarawati yang ada di dalam Biara Pensuci jagat ini sudah berjumlah seratus orang. Seratus satu dengan kau dan seratus dua dengan aku.

Lima puluh dari biarawati-biarawati itu adalah angkatan tua yang seangkatan dengan kau tapi dibandingkan dengan kau, ilmumu jauh lebih tinggi. Kau sudah mewariskan seluruh ilmuku, Wilarani. Yang lima puluh lainnya adalah biarawati dari golongan baru, yang masih muda-muda. Kau dan kawan-kawanmu harus ajarkan ilmu kesaktian aku pernah ajarkan pada mereka.

Bila tiba saatnya mereka harus disebar di seluruh pelosok guna menjalankan tugas yang dibebankan oleh cita-cita kita bersama!”

Si nenek kepala botak memandang ke langit-langit kamar. Ketika kepalanya diturunkan kembali dia bicara lagi maka suaranya bernada rawan.

“Wilarani, hari ini sudah tiba saatnya bagiku untuk menerangkan siapa namaku.”

Wilarani memandang serius pada gurunya.

“Selama ini kau memanggil aku dengan sebutan nenek. Biarawati-biarawati lainnya memanggilku dengan sebutan Eyang, namun siapa aku tetap tak satupun dari kalian yang tahu!” nenek ini terbatuk-batuk beberapa kali baru meneruskan.

“Namaku Supit Jagat. Nama Supit Jagat ini bukan ibu atau bapakku yang memberikannya tapi guruku sendiri jadi, nenek guru bagimu! Guruku itu sendiri namanya adalah Supit Jagat pula! Ketika dia mau meninggal dunia dia memberi pesan agar namanya itu kuambil sebagai nama..! Sebelumnya aku tiada bernama dan beliau cuma memanggilku dengan sebutan ‘upik’. Dan beliau juga berpesan agar jika aku mempunyai murid nanti, maka murid itu harus menukar namanya dengan Supit Jagat! Di samping aku, Biara Pensuci Jagat ini ada seratus orang muridku. Aku tidak membedakan mereka dengan kau! Tapi dari kenyataan kau adalah murid yang paling cerdas, rajin, patuh serta yang paling tinggi ilmunya! Karena itulah nama Supit Jagat kuwariskan kepadamu dan musti kau pakai mulai detik ini juga. Kau mengerti?”

Wilarani mengangguk.

Supit jagat atau nenek berkepala botak itu berdiri dan melangkah ke dinding di mana tergantung sapu lidi yang merupakan senjatanya yang sangat sakti. Diambilnya sapu itu lalu dia melangkah ke hadapan Wilarani.

“Muridku, seikat sapu lidi ini bernama Sapu Jagat. Ini merupakan senjata sakti yang merupakan salah satu senjata utama diantara senjata yang termashyur di dunia persilatan! Senjata ini kuwarisi dari guruku dan hari ini kuwariskan kepadamu!”

Tentu saja Wilarani hampir tak percaya mendengar ucapan gurunya itu.

“Ayo, terimalah!” kata Supit Jagat yang berkepala botak.

Dan Supit Jagat yang berambut putih (Wilarani) ulurkan kedua tangannya menerima seikat sapu lidi itu. Sewaktu telapak tangannya menyentuh sapu lidi itu Wilarani merasakan adanya satu keanehan. Pada kedua telapak tangannya menjalar hawa yang sangat sejuk, terus ke lengan, terus menjalar ke seluruh kakinya. Dan pada detik itu pula tubuhnya terasa ringan laksana mengapung di awan! Sapu Jagat ternyata telah memberikan satu kekuatan baru yang hebat pada Wilarani sewaktu kedua tangannya menyentuh senjata itu!

“Terima kasih, guru,” kata Wilarani dengan penuh khidmat dan menjura sampai beberapa kali.

Si nenek tertawa perlahan. Ada kelainan pada tertawanya kali ini.

Paras yang tua keriput dimakan umur sembilan puluh tahun itu kelihatan rawan, sepasang mata yang biasanya menyorot tajam kini kelihatan sedikit redup.

Tiba-tiba Eyang Supit Jagat membentak.

“Sekarang tutup kedua matamu rapat-rapat, Supit!”

Supit Jagat atau Wilarani segera menutup kedua matanya sebagaimana yang diperintahkan. Dalam dia berpikir-pikir apa yang hendak dilakukan gurunya tiba-tiba laksana petir menyambar, satu tamparan keras melanda pipinya sebelah kiri! Tak ampun lagi Wilarani rebah ke lantai tiada sadarkan diri!

Sewaktu dia sadarkan diri dan mengucek-ngucek kedua matanya, Wilarani terkejut bikan main. Eyang Supit Jagat dilihatnya menggeletak di lantai. Kedua matanya terpejam dan nafasnya tiada lagi!

“Guru!” pekik Wilarani.

Tapi mana sang guru bisa mendengar karena memang nyawanya sudah putus. Dan membuat Wilarani atau Supit Jagat baru ini lebih heran ialah ketika merasakan tubuhnya enteng luar biasa dan tenaga dalamnya berlipat ganda sampai beberapa kali! Urat-urat di dalam tubuhnya laksana kawat dan pemandangan serta pendengarannya menjadi tajam sekali!

Ingatlah Wilarani kejadian sewaktu gurunya menyuruh dia memejamkan mata! Sang guru diam-diam melakukan satu tamparan dahsyat dan disertai dengan tamparan itu sekaligus dia telah menyalurkan seluruh tenaga dalam ke tubuhnya untuk kemudian dia sendiri menghembuskan nafas penghabisan, meninggal dunia!

Supit Jagat mendukung tubuh Eyang Supit Jagat ke atas pembaringan. Pada waktu itulah di lantai dilihatnya segulung kertas. Supit Jagat mengambil gulungan kertas itu. Di situ ada sebarisan kalimat yang berbunyi, “Surat ini baru boleh dibuka besok siang tengah hari tepat.”

Esok harinya tepat di tengah hari ketika sang surya bersinar terik di titik kulminasinya maka di dalam Biara Pensuci Jagat seratus satu biarawati berkumpul di ruangan besar.
Sebelumnya pada pagi hari jenazah guru mereka telah dikuburkan di taman di bagian muka gedung Biara.

Suasana sunyi sepi dalam ruangan besar itu. Sunyi sepi serta masih diselimuti rasa duka cita karena berpulangnya guru mereka yang juga merupakan Ketua Biarawati.
Wilarani yang kini sudah mewariskan nama Supit Jagat tapi belum diketahui oleh biarawati-biarawati di situ berdiri dari kursinya.

“Biarawati Satu,” katanya, “Harap datang ke sini dan bacakan surat yang ditinggalkan oleh Ketua kita.”

Biarawati Satu, seorang yang sudah lanjut usianya berdiri. Dari Wilarani diterima segulung kertas. Dia melangkah ke mimbar dan membuka gulungan kertas itu. Kemudian terdengarlah suaranya membacakan isi surat yang dibuat Eyang Supit Jagat sebelum matinya.

Muridku sekalian,

Jika kalian membaca suratku ini maka aku sudah tidak ada, sudah dikubur di dalam tanah, kembali pada Tuhan yang menciptakanku dan kalian semua! 

Meski kini cuma kuburku yang kalian lihat, meskipun aku tidak berada lagi diantara kalian namun cita-cita kita yang luhur untuk menenteramkan dunia ini dari segala malapetaka dan kegagalan yang dibuat oleh kaum lakl-laki, harus tetap kalian lanjutkan! 

Selama aku hidup diantara kalian, kita semua berada dalam keadaan rukun tenteram penuh persatuan. Bila kini aku sudah tidak ada, kerukunan dan ketenteraman serta persatuan itu harus kalian pupuk terus. Jika kalian pecah dan berselisih, berarti hancurnya cita-cita yang hendak kita laksanakan dan dalam kuburku aku akan mengutuk kalian sebagai murid-murid murtad! 

Suratku ini juga kutulis untuk menerangkan sedikit tentang diriku. Selama ini kalian memanggilku dengan sebutan Eyang atau guru atau nenek. Puluhan tahun hidup bersamaku kalian tidak tahu siapa namaku. 

Namaku adalah Supit Jagat. 

Pada hari ini namaku itu kuwariskan kepada Biarawati Wilarani. Untuk selanjutnya dia berhak memakai nama itu dan di hari ini pula kuresmikan dia sebagai Ketua kalian yang baru! 

Kepadanya telah kuwariskan senjata sakti bernama Sapu Jagat! 

Siapa-siapa di antara kalian yang kecewa dengan keputusanku ini, siapa-siapa diantara kalian yang tidak senang, sebelum kalian menjadi pengkhianat-pengkhianat, lebih baik kalian angkat kaki tinggalkan Biara Pensuci Jagat ini atau rohku akan ke luar dari liang kubur untuk mencekik kalian semua!

Surat itu selesai dibaca oleh Biarawati Satu kemudian diserahkan kembali kepada Wilarani atau yang kini bernama Supit Jagat dan menjadi Ketua Biara Pensuci Jagat!

Supit Jagat menggulung surat itu baik-baik. Dia berdiri di mimbar, memandang berkeliling kemudian berkata, “Mungkin ada diantara saudara-saudaraku yang ingin bicara atau mengeluarkan pendapatnya?”

Tak ada satu orangpun yang menjawab. Tapi diantara para biarawati-biarawati itu terdengar suara saling berbisik-bisik. Supit Jagat bertanya sekali lagi. “Tidak ada yang mau bicara dan keluarkan pendapat? Terutama mengenai pengangkatanku oleh mendiang guru kita sebagai Ketua Biara?”

“Boleh aku bicara?”

Tiba-tiba terdengar suara dari balik gang besar yang menjadi salah satu ruangan luas itu. Semua biarawati termasuk Supit Jagat terkejutnya bukan main, karena suara itu adalah suara Iaki-laki! Dan seperti diketahui dalam Biara Pensuci Jagat itu, tak ada satu orang laki-lakipun yang ada atau diam di sana! Semua mata dengan serta merta merta diarahkan ke belakang tiang besar. Dan seorang laki-laki melangkah seenaknya menuju ke mimbar!

~ 11 ~

LAKI-LAKI ini masih muda belia. Rambutnya gondrong menjela-jela sampai ke bahu. Parasnya gagah, sikapnya waktu melangkah meski acuh tak acuh dan seenaknya namun mengandung kewibawaan dan keperkasaan. Enam langkah dari mimbar dia berhenti dan menjura pada Supit Jagat kemudian melayangkan senyuman pada puluhan biarawati-biarawati yang duduk di ruangan itu.

Semua orang membathin siapakah adanya pemuda ini dan cara bagaimanakah dia bisa masuk ke dalam gedung Biara Pensuci Jagat?

Pintu gerbang dikunci, seseorang yang tak tahu rahasia membuka pintu itu, meski bagaimanapun hebat serta tinggi ilmunya niscaya dia tak sanggup membukanya! Melompati tembok juga mustahil. Tembok halaman saja tingginya lima tombak dan ditambah besi-besi panjang berduri setinggi tiga tombak! Di samping itu apakah kedatangan pemuda asing tak dikenal ini membawa maksud baik atau niat jahat?!

Akan tetapi Supit Jagat meski keterkejutannya serta rasa tidak enak menyelinapi hatinya, namun melihat si pemuda menjura hormat kepadanya dia balas menganggukkan kepala, tapi tetap tutup mulut menunggu sampai si pemuda bicara duluan.

“Apakah saat ini aku berhadapan dengan Ketua Biara Pensuci Jagat?!” tanya pemuda itu.

Melihat pada pertanyaan yang diajukan ini Supit Jagat segera mengetahui bahwa pemuda itu belum berada lama di ruangan tersebut.

Paling lama sejak ketika Biarawati Satu membaca bagian terakhir dari surat mendiang Ketua Biara yang lama.

“Betul orang muda, kau memang berhadapan dengan Ketua Biara Pensuci Jagat,” menjawab Supit Jagat.

“Ah… syukur. Syukur kalau begitu…” Si pemuda garuk kepalanya dua kali.

“Orang muda harap terangkan siapa kau. Bagaimana caramu bisa masuk ke gedung ini dan apakah membawa niat baik atau buruk?” tanya Supit Jagat.

Pemuda itu tertawa malu macam anak kecil. “Namaku buruk,” katanya, “jadi tak usahlah aku beri tahu pada Ketua Biara Pensuci Jagat. Mohon maaf. Apalagi aku orang tolol dan banyak mencap aku ini berotak miring…”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 13)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.