Jumat, 16 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 11)

 Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Si nenek terus juga bergoyang-goyang di kursi itu terus juga memakan rotinya.

“Nenek…”

“Akh… kau sudah siuman Wilarani? Bagus-bagus!”

Wilarani terkejut sewaktu si nenek menyebut namanya. Darimana perempuan tua ini tahu dirinya. Sedangkan dia sendiri baru kali ini bertemu muka.

“Kau tidak perlu heran bila aku mengenal namamu,” bicara lagi si nenek. Lalu dicampakkannya tepi roti yang keras lewat jendela kamar.

Wilarani memandang sekilas lewat jendela itu. Di luar dilihatnya tembok putih yang sangat tinggi menghalangi pemandangan. Pada bagian atas tembok terdapat besi-besi berduri setinggi beberapa tombak. Kemudian perempuan ini alihkan kembali pandangannya pada si nenek yang duduk di kursi goyang, lalu berdiri dan melangkah kehadapan si nenek.

Dihadapan nenek kepala botak ini Wilarani menjura hormat dan berkata.

“Nenek, meski aku tidak kenal kau tapi kau telah selamatkan aku dari perbuatan terkutuk dan kebejatan! Aku yang buruk ini haturkan terima kasih sedalam-dalamnya…”

Si nenek tertawa gelak-gelak. Dari atas meja disampingnya diambil lagi sepotong roti yang terletak di dalam piring. Wilarani menyadari betapa perutnya sangat lapar sewaktu dilihatnya roti yang di atas meja itu. Tapi si nenek tidak menawarkan kepadanya.

“Kau duduk saja kembali ke pembaringan itu,” memerintah si nenek.

Wilarani menurut dan duduk di tepi tempat tidur.

Karena si nenek tidak berkata-kata dan asyik terus menggerogoti rotinya maka bertanyalah Wilarani. “Nenek, apakah aku yang rendah ini boleh tahu siapa kau adanya dan di mana aku berada saat ini?!”

Si nenek habiskan dulu rotinya baru menjawab.

“Siapa aku?! He, itulah yang aku sendiri tidak tahu!” Lalu nenek itu tertawa terlengking-lengking.

Wilarani tak habis heran. Nenek kepala botak ini agaknya seorang sakti yang aneh misterius.

Dalam pada itu si nenek membuka lagi mulutnya, berkata. “Orang-orang juga sering bertanya seperti kau. Siapa aku?! siapa aku?! Dan aku selalu bilang pada mereka aku sendiri tidak tahu! Kadang-kadang ada yang keliwatan mendesak, tanya terus, tanya terus! Lalu aku jawab aku adalah seorang nenek-nenek buruk berkepala botak!” Kembali si nenek tertawa melengking-lengking!

Mau tak mau Wilarani ikut pula tertawal “Ha…” si nenek hela nafas. “Kau bisa juga tertawa ya? Kata orang kalau banyak tertawa bisa awet muda! tapi aku yang sudah tua semakin banyak tertawa semakin keriputan! Semakin jelek!”

Wilarani tertawa cekikikan. Tapi tertawanya itu ditahan-tahan karena khawatir si nenek akan marah! Terhadap orang bersifat aneh musti berlaku hati-hati, demikian membathin Wilarani.

“Wilarani!” berkata si nenek sesudah roti kedua dihabiskannya. “Di mana kau berada saat ini pun, kau tak perlu tahu! Yang penting yang musti kau ketahui ialah bahwa kau harus diam di sini bersamaku selama dua puluh tahun!”

Kagetlah Wilarani.

“Nenek, apa maksudmu…?!” tanya Wilarani.

Lama si nenek berdiam diri, memandang lurus-lurus ke tembok kamar dihadapannya seakan-akan pandangannya itu hendak menembus ketebalan tembok itu.

“Selama dua puluh tahun itu kau sama sekali tidak boleh meninggalkan tembok ini, tidak boleh keluar dari tembok yang membatasi gedung ini! Jika kau melanggar pantangan itu, hukuman yang berat akan jatuh atas dirimu dan kau akan disekap selama empat puluh tahun dipenjara di bawah tanah yang gelap gulita!”

Berubahlah paras Wilarani mendengar ucapan si nenek. Dia membathin jika si nenek membawanya ke sini dengan maksud jahat mengapa dia telah ditolong dari tangen perampok-peramok itu? Tapi kini sesudah ditolong kenapa pula dia musti tinggal selama dua puluh tahun dalam gedung itu tak boleh keluar dan jika melanggar pantangan akan disekap dipenjara bawah tanah selama empat puluh tahun?!

Sungguh aneh! Aneh tapi diam-diam juga menggidikkan Wilarani! Kalau dia mengikuti kehendak si nenek, berarti dua puluh tahun kemudian dia sudah menjadi nenek-nenek pula dan dalam keadaan masih perawan, perawan tua! Sebaliknya bila dia membantah, dia akan disekap empat puluh tahun dalam penjara bawah tanah, ini berarti pada saat dia dibebaskan nanti usianya sudah mencapai tujuh puluh tahun!

“Aku tahu apa yang kau pikirkan dalam benakmu!” berkata tiba-tiba si nenek. “Dan kau juga musti tahu banyak hal tentang dunia luar, tentang dunia persilatan! Apa yang kau ketahui tentang dunia luar, tentang dunia persilatan?!”

“Banyak nenek…”

“Coba sebutkan!”

Wilarani bungkam. Dia memang banyak mengetahui seluk beluk dunia luar semenjak pengembaraannya meninggalkan kampung halaman dan tahu pula bahwa dunia luaran itu penuh dengan tokoh-tokoh persilatan kalangan hitam serta putih meskipun dia bukanlah seorang yang telah mencemplungkan diri dalam dunia persilatan.

Si nenek menyeringai.

“Kau bilang tahu banyak! Tapi kau tidak dapat menuturkannya!” kata si nenek kepala botak yang sampai saat ini masih belum diketahui namanya oleh Wilarani.

“Kau tahu Wilarani, dunia yang sekarang ini tidak sama dengan sewaktu mula-mula Gusti Allah menjadikannya! Dulu dunia ini begitu suci! Tapi kini keindahan itu telah lenyap tak digubris manusia-manusia bertangan kotor berhati jahat! Kekotoran terjadi dimana-mana, kejahatan terjadi di mana-mana, kemesuman, ketidakadilan, penindasan, pembunuhan.

Dunia kacau! Apalagi dalam kalangan persilatan. Dunia persilatan telah terpecah dua menjadi dua golongan. Golongan putih atau golongan yang mengutamakan kebaikan serta membantu sesama manusia, golongan yang bercita-cita luhur demi menenteramkan bumi Tuhan ini! Sebaliknya golongan hitam mempunyai tindakan dan cita-cita yang berlawanan dengan golongan putih!

Mereka membuat kejahatan, kemaksiatan, kemesuman, penindasan sampai kepada pembunuhan. Semakin hari semakin banyak juga jumlah golongan hitam ini balk yang menjadi perampok, maupun yang menjadi bergundal-bergundal kaum bangsawan atau kerajaan, atau yang bertindak malang melintang seenaknya sendiri saja melakukan kejahatan tanpa pertanggungan jawab!

Demikian banyaknya penganut golongan hitam hingga golongan putih menjadi terdesak dan kewalahan bahkan boleh dikatakan kini menjadi banyak yang tidak berdaya menghadapi bergajul-bergajul golongan hitam itu. Dan hampir keseluruhan tokoh-tokoh silat golongan hitam atau putih itu adalah laki-laki! Kaum laki-laki telah mencoba untuk menentramkan dunia ini tapi tidak berhasil.

Golongan hitam telah membuat keonaran di mana-mana. Membuat ribuan manusia rakyat jelata hidup dalam kecemasan dan ketakutan dalam menghadapi hari besok dan besoknya lagi! Kaum laki-laki telah tidak berhasil menciptakan apapun di dunia ini demi keselamatan hidup bersama. Ketidakadilan, kekacauan, segala macam kejahatan, pokoknya seribu satu macam kegagalan telah dibuat kaum laki-laki!

Melihat kepada kenyataan itu semua maka aku yang sudah pikun ini yang sudah tak selembar rambutpun tumbuh di batok kepalaku ini, merasa bahwa kini sudahlah saatnya bagi kaum perempuan untuk bangun, untuk bangkit menggantikan kedudukan kaum laki-laki yang telah menemui kegagalan itu! Kaum perempuan harus bangun sebagai penegak keadilan, pembasmi kejahatan dan musti bisa menciptakan satu dunia yang aman tenteram dan damai!”

Lama si nenek terdiam, lama pula Wilarani termangu merenungkan ucapan-ucapan si nenek.

“Tapi nenek,” berkata Wilarani, “apakah cita-cita luhur itu mungkin berhasil..?”

Si nenek tertawa gelak-gelak dan menggoyang-goyangkan kursi yang didudukinya.

“Kenapa tidak mungkin katamu?! Apa selama ini cuma kaum laki-laki yang bisa menjagoi dunia persilatan? Apa cuma orang laki-laki yang bisa main silat dan memiliki ilmu kesaktian?! Apa cuma orang laki-laki yang becus mainkan pedang atau keris atau golok?! Kentut semua kalau orang berpikir begitu! Justru orang laki-laki kalau tidak dibrojotkan sama perempuan pasti tidak ada di dunia ini. Bukan begitu…?!” Si nenek tertawa melengking-lengking.

Wilarani tak dapat pula menahan rasa gelinya lalu tertawa cekikikan.

“Memang… memang untuk melaksanakan dan mewujudkan cita-cita itu tidak mudah, memakan waktu lama dan penuh pengorbanan! Kita haruslah menghubungi tokoh-tokoh silat wanita golongan putih yang masih hidup saat ini. Mereka pasti mau diajak bersama. Seperti si Sinto Weni yang diam di puncak Gunung Gede.

Dulu dia menjagoi dunia persilatan selama puluhan tahun, ilmunya tinggi, dihormati kawan dan ditakuti lawan! Kabarnya kini dia sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan membersihkan diri di puncak gunung itu. Namun jika aku menyambanginya dan tuturkan cita-citaku, pasti dia mau bergabung.

Sifatnya sangat aneh, macam orang gila! Karena itu di dunia persilatan dia dikasih gelar si Sinto Gendeng! Nah, kalau kita punya tokoh-tokoh wanita macam Sinto Gendeng itu, masakan aku tak sanggup mewujudkan cita-citaku?!”

Si nenek kepala botak memalingkan kepalanya pada Wilarani.

“Bagaimana? Kau pilih dua puluh tahun tinggal di sini dan ikut bersamaku atau di sekap empat puluh tahun di bawah tanah?!”

Wilarani merenung lama sekali.

Hidupnya di dunia luar sana sejak ditinggal kekasihnya memang sudah tak punya arti apa-apa. Di dunia ini dia hanya sebatang kara.

Orang tua sudah meninggal, sanak saudara tidak punya. Dunia penuh dengan kekalutan dan kejahatan yang selalu memburu manusia-manusia tak berdosa! Lagi pula sejak kekasihnya lari kawin itu keputusasaan yang mendalam membuat Wilarani kehilangan kepercayaan pada laki-laki!

Baginya laki-laki tiada lain seorang penipu yang bercinta dengan mulut dan kemudian melarikan diri bila menemui perempuan lain yang lebih cantik! Yang keturunan orang baik-baik, bangsawan kaya raya!

Diingatnya pula pertolongan serta jasa besar yang telah diberikan si nenek kepadanya! Setelah merenung lagi beberapa lama maka akhirnya Wilarani membuka mulut bersuara.

“Baiklah nenek tua, aku akan tinggal bersamamu di sini selama dua puluh tahun!”

“Bagus!” Si nenek kepala botak tertawa dengan gembiranya. Dia bergoyang-goyang beberapa lamanya di atas kursi goyangnya kemudian berkata. “Besok pagi kau akan kumandikan dengan air kembang dua puluh rupa! Dan mulai besok kau ku angkat menjadi muridku! Ku akan didik kau selama dua puluh tahun! Bila otakmu cerdas dan rajin, punya kemauan, kau kelak kuangkat jadi murid kepala, mengepalai lima puluh janda-janda dan gadis-gadis yang sudah kukumpulkan di sini.”

Wilarani berdiri dari pembaringan dan menjura di hadapan si nenek kepala botak.

“Nenek, aku haturkan terima kasih karena menaruh kepercayaan padaku dan telah sudi mengambil aku jadi muridmu.”

Nenek itu manggut-manggut di kursi goyangnya.

Dia bertepuk tiga kali.

Pintu kamar terbuka. Seorang perempuan muda berparas ayu, berjubah dan bertutup (berkerudung) kain putih masuk ke dalam kamar itu, menjura di hadapan si orang tua.

“Biarawati Sembilan belas siap menunggu perintah,” kata perempuan ini.

“Umumkan pada seisi Biara Pensuci Jagat bahwa besok akan ada upacara pemandian biarawati baru yang akan kuangkat menjadi muridku secara resmi!”

“Baik Eyang,” menjura perempuan berjubah dan berkerudung kepala kain putih kemudian berlalu.

Si nenek yang dipanggil Eyang oleh Biarawati Sembilanbelas tadi menepuk tangannya dua kali. Pintu terbuka lagi. Seorang perempuan muda yang berparas cantik dan juga mengenakan jubah serta kerudung kepala kain putih memasuki ruangan.

Seperti Biarawati Sembilanbelas dia menjura dan berkata, “Biarawati Tiga puluh dua siap menunggu perintah.”

Dan si nenek berkata, “Perintahkan biarawati-biarawati di bagian dapur menyediakan makanan untuk kawanmu yang baru ini!”

Biarawati Tiga puluh dua mengerling pada Wilarani sebentar kemudian mengangguk. Setelah menjura dia segera pula meninggalkan kamar itu.

~ 10 ~

Dua puluh tahun sesudah Wilarani dating pertama kali di Biara Pensuci Jagat…

Kamar itu diselimuti kesunyian. Hampir tak ada perbedaan dengan masa-masa di duapuluh tahun yang silam. Hanya dua manusia yang ada di dalam kamar itulah yang kelihatan banyak berubah.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 12)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.