Jumat, 16 Juni 2017

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 10)

Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga

Tiba-tiba dia berseru sewaktu dilihatnya pemuda di hadapannya putar tubuh hendak berlalu.

“Orang muda, tunggu! kau mau ke mana?”

“Aku masih ada urusan lain. Sampai jumpa Bupati.”

“Kau masih belum terangkan namamu.”

Pemuda itu tertawa lagi. Begitu murah tertawa baginya. “Aku sudah bilang namaku tidak penting.”

“Tenting atau tidak penting itu bukan urusan. Tapi padaku kau tetap harus kasih tahu. Dan pembantu-pembantuku ini kau harus lepaskan totokannya kembali!”

“Pijit saja tengkuknya satu-satu, pasti totokannya lepas,” memberi tahu si pemuda.

“Sudahlah, kalau kau penasaran lihat saja bagian kepala dari peti kayu itu. Di situ tertulis namaku!” kata si pemuda pula. Cepat-cepat Sentot Sastra melangkah ke bagian kepala peti di dalam mana mayat anaknya terbujur. Yang ditemui Bupati ita di sana bukan tulisan atau huruf yang membentuk nama, melainkan pada kayu di kepala peti itu tertera tiga buah angka yaitu 212.

“Dua satu dua!” seru Sentot Sastra kaget. “Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.”

Dipalingkannya kepalanya.

Kejutnya bertambah-tambah. Pemuda tadi sudah tak ada lagi di tempat itu! Sentot Sastra geleng-gelengkan kepalanya tiada henti.

Tidak sangka dia akan berhadapan dengan pendekar bersifat kocak yang kadangkala seperti orang sinting, tapi bertampang keren dan berhati jujur, penolong manusia-manusia yang tertindas, penghancur kejahatan, momok tokoh-tokoh silat golongan hitam!

“Pantas, pantas… kiranya dia. Pantas mana aku sanggup menghadapinya!” kata Sentot Sastra pula dan dia melangkah mendapatkan istrinya yang pingsan di tepi peti.

~ 9 ~

Dua puluh tahun yang silam…

Tak berapa jauh dari kaki Welangmanuk terdapat sebuah pedataran tinggi yang subur. Kebun sayur mayur terbentang menghijau di mana-mana.

Bila seseorang berdiri di atas pedataran tinggi ini dan memandang ke bawah maka tampaklah pemandangan yang sangat indah dari lembah Manukwilis. Di atas pedataran tinggi itu terletaklah sebuah bangunan dari tembok yang selain besar juga sangat bagus bentuknya. Keseluruhan bangunan ini dicat putih dan dipagari dengan tembok setinggi lima tombak. Untuk masuk ke halaman dalam bangunan cuma ada sebuah pintu. Pintu ini juga terbuat dari batu yang hanya bisa dibuka secara rahasia.

Kalau bukan orang yang berilmu sangat tinggi jangan harap bisa masuk ke dalam halaman bangunan karena di atas tombak yang tingginya lima tombak itu masih ditancapi lagi dengan besi-besi runcing berduri-duri panjang setinggi tiga tombak!

Bangunan atau gedung apakah sesungguhnya yang terdapat di belakang tembok itu dan siapakah pemiliknya? Konon kabarnya gedung itu adalah sebuah biara. Biara itu kini diketuai oleh seorang Biarawati bernama Wilarani. Biarawati ini sudah lanjut usianya, hampir mencapai enam puluh tahun. Dulunya semasa muda dia merupakan seorang gadis cantik yang tersiar harum ke mana-mana kecantikannya itu.

Kebahagiaan hidup muda remajanya hancur luluh sewaktu kekasih yang dicintainya lari meninggalkannya dan kawin dengan seorang anak bangsawan kaya raya sedangkan Wilarani sendiri adalah anak petani miskin.

Keputusasaan karena patah hati itu membawa akibat yang mendalam bagi Wilarani. Orang tuanya berusaha mencarikan jodoh lain untuknya, namun kegetiran percintaan yang telah dialami oleh Wilarani, yang membawa dirinya masuk kedalam lembah makan hati dan kesengsaraan bathin tak dapat lagi ditawar-tawar dengan obat apapun, sekalipun dengan pemuda-pemuda gagah lainnya, sekalipun puluhan pemuda-pemuda sekitar tempat kediamannya dan dari jauh-jauh datang melamar serta tergila-gila kepadanya!

Bagi Wilarani dunia ini sudah bukan apa-apa lagi. Di matanya cinta murni itu, cinta suci sejati hanya ada dalam mulut, tidak dalam kenyataan! Dalam keputusasaan karena patah hati, dalam kehancuran batin dan kegelapan pemandangan, apalagi sewaktu kedua orang tuanya meninggal dunia, maka Wilarani yang saat itu sudah berumur hampir tiga puluh dan pemuda-pemuda yang dulu menggilainya tapi tak kesampaian memetik bunga harum sekuntum itu telah mulai menyiarkan ejekan-ejekan bahwa dia kini sudah menjadi “perawan tua”, akhirnya Wilarani mengambil keputusan untuk meninggalkan rumah dan kampung halaman tempat kelahirannya.

Dia pergi tanpa tujuan. Hampir satu tahun dia malang melintang tiada karuan. Keadaannya sudah demikian menyedihkan, pakaian compang-camping dan tubuh kurus sakit-sakitan. Hanya satu bukti kehidupan masa mudanya yang sampai saat itu masih dimilikinya, yaitu parasnya yang cantik. Paras itu masih belum pupus kejelitaannya meski pada tepi-tepi matanya telah timbul garis-garis ketuaan dan pada pipi yang agak cekung mulai membayang kerenyut-kerenyut.

Dan kecantikan yang masih belum pupus inilah yang membuatnya suatu ketika dihadang oleh segerombolan rampok-rampok buas di tengah rimba belantara. Dia diseret kesarang rampok. Pimpinan rampok memerintahkan pembantu-pembantunya yaitu beberapa orang perempuan untuk memandikan dan membersihkan tubuh Wilarani, memberinya pakaian yang bagus dan harum-haruman.

Wilarani tahu apa arti itu semua, namun daya apa yang akan dibuatnya untuk mempertahankan diri serta kehormatannya?! Dia dimasukkan ke dalam sebuah kamar yang sangat bagus dan tak lama kemudian pemimpin rampok bertampang buruk buas bercambang bawuk menjijikkan masuk ke dalam kamar itu!

Si kepala rampok bersinar-sinar sepasang bola matanya.

Dibasahinya bibirnya dengan ujung lidah dan berkata disertai seringai buruk dan hidung kembang kempis.

“Ternyata kau seorang perempuan jelita! Ahh… kecantikanmu tidak kalah dengan gundik-gundikku yang paling cantik disini!”

Kepala rampok itu melangkah mendekati Wilarani yang berdiri dengan lutut gemetar serta muka pucat pasi di sudut kamar.

“He… he… kenapa menyudut ketakutan? Aku bukan macan yang mau menelanmu bulat-bulat! Tapi laki-laki kuat yang akan merangkulmu penuh nikmat! Ha… ha… ha…!”

Kemudian peluk dan ciumanpun datang bertubi-tubi atas diri Wilarani. Perempuan itu menjeri-jerit tiada hentinya dan mendorong si kepala rampok hingga terjerongkang ke tepi tempat tidur!

Kepala rampok itu duduk di tepi tempat tidur dan tertawa cengar-cengir. Wilarani lari ke pintu tapi pintu itu dikunci!

“Perempuan,” kata si kepala rampok. “Parasmu cantik, tubuhmu halus mulus. Aku tak mau gunakan kekerasan padamu. Karenanya turut saja apa mauku! Ayo buka pakaianmu biar aku bisa lekas-lekas lihat keindahan tubuhmu!”

“Laki-laki durjana! Lepaskan aku! Keluarkan aku dari sini!”

Si kepala rampok tertawa gelak-gelak.

Dia bangkit dari tempat tidur.

“Kalau tak mau buka baju sendiri berarti terpaksa aku yang telanjangi kau!” katanya.

Diterkamnya Wilarani. Jari-jari tangannya yang besar-besar bergerak kian kemari merobeki seluruh pakaian yang melekat ditubuh Wilarani! Perempuan itu menjerit! Menjerit dan menjerit!

Mendadak di luar terdengar pula suara jeritan. Terdengar lagi susul menyusul tiada henti dan dibarengi dengan suara beradunya senjata!

Belum habis kejut si kepala rampok tahu-tahu pintu kamar di dalam mana dia berada bersama Wilarani untuk melampiaskan nafsu terkutuknya ditendang bobol dari luar dan sesaat kemudian sesosok tubuh menerobos masuk ke dalam!

Yang masuk ternyata seorang nenek-nenek tua berkepala botak berjubah putih. Di tangannya sebelah kanan tergenggam seikat sapu lidi!

“Iblis tua dari manakah yang berani membuat kekacauan di sini?!” bentak si kepala rampok dengan beringas!

Si nenek tertawa melengking-lengking.

“Iblis tua dari neraka, kunyuk berewok!” balasnya membentak. “Aku diutus oleh setan-setan neraka untuk minta kau punya jiwa!”

Dan habis berkata begini si nenek sapukan sapu lidi di tangan kanannya! Kepala rampok terkejut sekali! Dia tak menyangka kalau sapu lidi itu adalah satu senjata ampuh yang dapat melepaskan angin pukulan laksana badai hebatnya!

Sambil membentak garang laki-laki itu segera cabut goloknya yang mempunyai panjang satu setengah meter dan lebar hampir satu jengkal!

Si nenek ganda tertawa melihat senjata lawannya. Dan sewaktu kepala rampok itu menerjang dengan satu tebasan lihai mematikan, si nenek kepala botak melengking-lengking lagi, berkelebat cepat dan tebasan golok kepala rampok hanya melanda angin kosong!

Kejut si kepala rampok bukan olah-olah. Jurus yang dilancarkannya tadi adalah jurus “Ekor Naga Menebas Gunung!” Selama ini tak satupun manusia yang selamat dad serangaonya yang dahsyat itu. Tapi si nenek kepala botak mengelakkannya dengan mudah dan sambil tertawa melengking-lengking!

Belum lagi habis kejut kepala rampok ini tahu-tahu ujung sapu lidi si nenek menusuk laksana kilat ke mukanya. Kepala rampok berseru kaget dan mundur cepat ke belakang. Tapi punggungnya tertahan tembok kamar! Dan sementara itu ujung sapu lawan memburu terus ke mukanya!

Terdengar jeritan laki-laki itu!

Seluruh mukanya hancur berlubang-lubang laksana dipantek ratusan paku. Matanya telah buta dan darah membanjir membasahi mukanya yang mengerikan itu! Dia melolong laksana srigala haus darah.

Kedua telapak tangan menekap muka. Tubuhnya kemudian jatuh terjerembab ke lantai, menggelepar-gelepar beberapa kali lalu menggeletak tiada nyawa lagi!

“Perempuan, kau lekas ikut!” berseru si nenek kepala botak pada Wilarani.

Wilarani yang masih dikungkung rasa terkejut dan ngeri tidak segera bergerak mengikuti kata-kata si nenek! Sementara itu di luar terdengar suara puluhan kaki datang berlari mendekati kamar itu!

“Ayo lekas!” teriak si nenek. “Nenek, kau siapakah? A… aaaku…”

“Perempuan geblek! Sekarang bukan saatnya bertanya!” Si nenek kepala botak segera sambar tubuh Wilarani, memondangnya dibahu kiri lalu lari ke pintu dengan cepat.

Tapi begitu dia sampai di ambang pintu, kira-kira dua puluh orang anak buah rampok sudah menghadang dengan berbagai senjata di tangan!

“Ini dia kunyuk tua berkepala botak yang telah membunuh sebelas orang kawan-kawan kita!” teriak rampok yang terdepan!

Beberapa orang dibarisan terdepan itu yang telah memandang ke dalam kamar sama berteriak kaget! “Anjing tua ini juga telah bunuh pemimpin kita!”

“Serbu!”

“Kalau mau mampus cepatlah maju!” teriak si nenek. Dibarengi dengan suara tertawanya yang melengking-lengking maka sapu lidi di tangan kanannya disapukan ke muka!

Lima rampok dibarisan terdepan terpekik! Tubuhnya rebah dengan muka berlumuran darah! Kawan-kawannya yang lain menjadi tambah kalap dan laksana air bah menyerbu menerobos ambang pintu, dengan serentak kiblatkan senjata masing-masing ke arah si nenek yang sampai saat itu masih memondong tubuh Wilarani di atas pundak kirinya. Wilarani sendiri saat itu sudah tidak sadarkan diri alias pingsan!

“Rampok-rampok bejat! Kalian memang tak perlu dikasih hidup!” seru si nenek! Didahului dengan tendangan kaki kanan yang mengeluarkan angin dahsyat si nenek putar sapunya sekeliling tubuh!

Maka susul menyusullah suara pekik kematian belasan rampok! Yang masih hidup tidak punya nyali lagi meneruskan mengeroyok si nenek yang mereka anggap bukannya manusia tapi benar-benar iblis! Mereka yang masih hidup ini segera ambil langkah seribu. Tapi si nenek mana mau kasih ampun! Meski rampok-rampok itu sudah lari beberapa jauhnya, dengan kebutan sapu lidinya yang sakti itu semua perampok yang larikan diri jungkir balik berpelantingan den menemui kematiannya!

Sewaktu Wilarani siuman didapatinya dirinya berada dalam sebuah kamar yang bagus dan si nenek kepala botak berjubah putih dilihatnya duduk di sebuah kursi goyang, duduk asyik menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil tertawa-tawa dan makan sepotong roti.

Wilarani bangkit dari pembaringan di mana dia ditidurkan. Sewaktu dia meneliti dirinya ternyata dia telah mengenakan baju jubah putih yang bagus berenda-renda setiap tepinya.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Pendekar Terkutuk Pemetik Bunga (Bagian 11)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.