Senin, 05 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (9)

 Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

~ 8 ~

ORANG berkerundung merah keluarkan suara tertawa mengekeh kembali. Pengemis Mata Buta rangkapkan kedua tangannya di muka dada. “Kiranya lblis Pencabut Sukma! Pantas keras dan hebat angin pukulannya! Tapi gerangan apakah yang membuat kau datang ke sini serta mencampuri urusan Perkumpulan kami?!”

Laki-laki berkerundung yang merupakan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma lagi-lagi tertawa mengekeh. “Ketua-ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam, kuharap tanpa banyak bicara segeralah serahkan Keris Tumbal Wilayuda, Sultan Hasanuddin dan gadis itu kepadaku…!”

“Eh… ini suatu hal yang tidak kami sangka! Rupanya kau juga inginkan semua itu heh…?”

“Hidung kerbau!” maki Iblis Pencabut Sukma. “Aku bilang jangan banyak bicara! Serahkan cepat! Atau seluruh Perkumpulanmu akan kulabrak?!”

“Ah… Kalau tak salah kita ini masih sama-sama satu golongan. Kenapa harus bikin persoalan begini rupa? Semua manusia berhak memang memiliki keris dan kedua manusia yang kau katakan itu! Dan pihakku telah perhasil menguasainya, kau terlambat. Itu adalah salahmu sen…”

“Katakan saja kau tak mau menyerahkan apa yang aku minta!” memotong lblis Pencabut Sukma.

“Untuk mendapatkan semua itu pihakku sampai korbankan salah seorang ketuanya! Sekarang kau seenaknya meminta! Aturan macam mana yang kau pakai?!” kata Pengemis Kaki Pincang.

“Kaki Pincang kau menentukan kematianmu sendiri dengan bicara macam begitu..!” Pengemis Kaki Pincang tertawa tawar. “Orang lain mungkin takut pada kau! Tapi aku Pengemis Kaki Pincang boleh dicoba nyalinya!” lblis Pencabut Sukma tertawa gelak-gelak. Kedua kakinya merenggang. “Dalam satu jurus kau akan konyol ke akherat Pengemis Kaki Pincang!”

“Coba saja, aku mau lihat!” kata Pengemis Kaki Pincang dengan tertawa menghina. Sementara itu telinganya mendengar suara rekannya si Mata Buta yang disampaikan dengan ilmu menyusupkan suara. “Ketua Kaki Pincang, hati-hatilah. Manusia ini berbahaya…”

Ketika Iblis Pencabut Sukma angkat tangan kanan ke atas, dan ketika Pengemis Kaki Pincang pusatkan tenaga dalamnya ke tangan kiri tiba-tiba Kuntawana melompat antara tengah-tengah kedua orang itu.

“Manusia sontoloyo! Kau juga minta dikirim keakhirat?!” bentak Iblis Pencabut Sukma. Kuntawana menghadap pada Pengemis Mata Buta dan Kaki Pincang. “Para Ketua, harap perkenankan aku melayani dajal berkerudung ini sebagai penebus kesalahanku!”

“Hem…” Pengemis Mata Buta merenung. “Baiklah. Kaki Pincang, kau mundurlah!”

Maka Pengemis Kaki Pincangpun mundurlah sedang Kuntawana segera cabut cambuk hitamnya. Iblis Pencabut Sukma menyeringai. “Manusia tampangmu cukup tiga langkah saja kulayani!” katanya.

Kuntawana putar cambuknya dengan sebat.

Iblis Pencabut Sukma maju satu langkah.

Kuntawana tiba-tiba lepaskan pukulan tangan kiri, sesudah itu laksana hujan cambuknya bergelegaran ke arah lawan.

Iblis Pencabut Sukma majukan langkah kedua. Jari-jari tangan kanannya terbentang ke muka seperti hendak mencaakar sedang tangan kiri mengebut menahan serangan lawan. Pada detik dia buat langkah ketiga maka tangan kanannya ditarik ke belakang dengan keras! Inilah yang disebut ilmu pukulan pencabut sukma!

Kuntawana merasakan badannya seperti tersedot! Isi perutnya seperti dibetot!

“Huah!”

Sesaat kemudian anggota Pengemis Darah Hitam inipun muntah darahlah! Tubuhnya terkapar di lantai tanpa nyawa!

Berdeburlah darah para anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Pengemis Kaki Pincang dan Pengemis Mata Buta tergetar hati masing-masing! Kuntawana adalah anggota Perkumpulan yang ilmu kepandaiannya tidak rendah. Tapi Iblis Pencabut Sukma membunuhnya hanya dalam tiga langkah! Iblis Pencabut Sukma tengadahkan muka dan tertawa bekakakan menegakkan bulu roma!

“Siapa yang tidak senang melihat mampusnya kroco itu boleh maju segera!” katanya. Kemudian dia berpaling pada dua orang pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Sepasang matanya kelihatan menyorot berkilat. “Kalian berdua masih belum mau serahkan apa­apa yang aku minta?!”

Sebelum kedua Ketua Pengemis Darah Hitam berikan jawaban sesosok tubuh dengan gerakan enteng melompat, ke hadapan dua Ketua Pengemis Darah Hitam.

“Para Ketua, perkenankanlah aku Lah Simpong untuk membasmi iblis yang kesasar ini!”

Pengemis Mata Buta tidak memberikan sahutan. Dia tahu kepandaian Lah Simpong memang lebih tinggi dari Kuntawana, tapi untuk menghadap lblis Pencabut Sukma, tingkat kepandaian Lah Simpong masih belum dapat diharapkan. Sebaliknya Pengemis Kaki Pincang setelah merenung sejurus, lalu anggukkan kepala dan berkata, “Baiklah, tapi hati-hati. Manusia ini benar-benar ganas seperti iblis!”

Setelah diperkenankan begitu rupa maka Lah Simpong segera putar badan. Cambuk di tangan kiri, sebuah toya besi di tangan kanan maka diapun maju ke arah Iblis Pencabut Sukma.

Iblis Pencabut Sukma menyeringai di balik kerundung kain merahnya. “Rupanya Para Ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam lebih suka korbankan anggotanya dari pada maju sendiri!”

“Jangan banyak mulut manusia iblis! Lihat cambuk!”

Cambuk hitam di tangan kiri Lah Simpong berkelebat. Suaranya menggelegar macam petir. Ujung cambuk dengan sangat cepat, sukar dilihat oleh mata biasa, mendera ke muka si kerudung merah! Sebelum serangan ini sampai, Lah Simpong susul dengan serangan toya besi hitam. Kedua ujung toya menderu berubah seperti ratusan banyaknya dan menyerang keselusin bagian tubuh Iblis Pencabut Sukma!

Yang diserang terkekeh-kekeh. “Keluarkan seuruh kepandaianmu, Lah Simpong! Kalau tidak setengah jurus di muka kau akan jadi mayat!”

“Tubuhmu yang akan terkapar lebih dulu, iblis.” Ujung cambuk menyambar dengan dahsyat ke muka Iblis Pencabut Sukma sementara toya besi sedetik lagi pasti akan menghancur luluhkan tulang-tulang anggota Iblis Pencabut Sukma!

Tapi pada kejapan mata itu Iblis Pencabut Sukma kebutkan lengan jubah merahnya. Selarik angin pukulan yang hebat menyusup di antara deraan cambuk dan terus melabrak Lah Simpong. Tubuh anggota Pengemis Darah Hitam ini jatuh duduk di lantai. Mukanya pucat laksana mayat. Dia berusaha bangun. Tubuhnya tertatih-tatih tanda dia terluka parah di dalam!

“Sekarang pasrahkan ajalmu, Lah Simpong!” Iblis Pencabut Sukma angkat tangan kanannya lalu ditarik ke belakang dengan cepat! Tubuh Lah Simpong seperti ditarik besi berani, tersedot sampai dua tombak ke muka, lalu jatuh menelungkup. Darah membuih dimulutnya. Ajalnya sampai!

Putihlah wajah dua Ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Para anggota yang lain berdiri laksana kaku. Mereka merasa seperti nyawa mereka sendiri yang lepas waktu menyaksikan kernatian Lah Simpong itu!

“Keganasanmu sudah keliwatan sekali, Iblis Pencabut Sukma!” kata Pengemis Kaki Pincang. “Jangan harap kau bakal bisa tinggalkan tempat ini dengan selamat!” Pengemis Kaki Pincang maju dua langkah. “Mulailah, Iblis,” tantangnya.

Iblis Pencabut Sukma tertawa dingin.

Pengemis Kaki Pincang mendengus. “Kau tidak punya nyali untuk memulai?! Kalau begitu sambut pukulanku ini!”

Pengemis Kaki Pincang angkat tangan kanan. Namun dua anggota Perkumpulan melompat ke tengah kalangan. Mereka adalah dua kakak beradik Sepasang Cakar Garuda yang dulunya merupakan fakir-fakir miskin di kaki gunung Salak, tapi yang kemudiannya berhasil diseret oleh Pengemis Kaki Pincang untuk masuk ke dalam Perkumpulan Pengernis Darah Hitam.

“Para Ketua, kalau untuk membereskan manusia ini, serahkan pada kami!” kata Sepasang Cakar Garuda yang tertua.

Meskipun darahnya sudah mendidih namun Pengemis Kaki Pincang yang percaya akan kemampuan kedua anggotanya itu segera bersurut mundur!

“Bereskanlah cepat!” katanya.

“Ah lagi-lagi bangsa-bangsa kroco yang disuruh maju!” menghina Iblis Pencabut Sukma.

“Kroco atau apa, tapi ketahuilah nyawamu hanya beberapa kejapan mata saja Iblis!”
iblis Pencabut Sukma mendengus. “Sombongnya!” katanya.

Dan disaat itu cambuk-cambuk lawan sudah menderu laksana topan, menyerang ke arah leher dan kaki, lalu bergantian secara teratur dan cepat membabat ke dada dan ke perut! Dalam seketika saja maka Iblis Pencabut Sukma sudah terbungkus serangan cambuk yang bergelegaran itu. Jubah Merah dan kerudungnya berkibar-kibar karena kerasnya sambaran cambuk hitam kedua lawan!

“Hemm… permainan cambuk kalian boleh juga! Tapi aku mau lihat apa bisa menerima pukulan menendang langit menjungkir awan ini?!”

Habis berkata demikian Iblis Pencabut Sukma tendangkan kaki kiri ke muka dan hantamkan telapak tangan karian dari bawah ke atas!

Disaat itu pula maka menggelindinglah kedua anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu. Tapi begitu terhampar begitu keduanya bangun lagi meskipun dengan keluarkan keringat dingin dan sama menyadari bahwa diri mereka di bagian dalam terluka parah!

Keduanya sama-sama menggerung. Cambuk hitam mendera ganas. Sedang tangan kiri yang membentuk cakar burung garuda dengan kecepatan yang luar biasa menyambar ke muka dan ke dada Iblis Pencabut Sukma!

“Oh jadi kalian adalah Sepasang Cakar Garuda huh?!” ujar Iblis Pencabut Sukma yang kenali permainan silat kedua lawannya.

Sebaliknya dua anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu rupanya tidak mau kasih hati lagi. Serangan-serangan mereka yang dahsyat itu mereka susuli dengan empat buah tendangan sekaligus! Iblis Pencabut Sukma bersuit keras! Serasa mau pecah gendang-gendang telinga mendengarnya!

Begitu suitannya lenyap maka dari tangan kirinya menyambarlah sinar merah yang menyeruak laksana kipas menyerang Sepasang Cakar Garuda sekaligus! Kedua anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu mencelat ke loteng, satu amblas dan menyangsrang di papan loteng sedang yang satu lagi jatuh bergedebukan ke lantai. Tubuh keduanya merah matang laksana daging panggang!

Pengemis Kaki Pincang tahan nafas. “Pukulan kipas merah,” membatin ketua Pengemis Darah Hitam ini sedang Pengemis Mata Buta meskipun tidak dapat melihat namun perasaannya yang tajam serta pendengarannya yang luar biasa, diam-diam juga mengetahui ilmu pukulan apa yang telah dilepaskan lawan!

Ruangan itu sehening di kuburan.

Sekali lagi Iblis Pencabut Sukma menengadah dan keluarkan suara tertawa bekakakan.

Dari arah pintu melangkah enteng seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Tubuhnya tinggi kekar. Tampangnya seram. Kumis dan janggutnya tajam meranggas sedang salah satu matanya picak.

“Para Ketua, izinkan aku si Mata Picak membuat perhitungan dengan manusia itu!”

Baik Pengemis Kaki Pincang maupun Pengemis Mata Buta sama-sama manggutkan kepala. Mata Picak adalah anggota yang paling tinggi ilmunya dan mempunyai kelihayan dalam memainkan senjata rahasia “paku darah hitam” Karena itu Ketua-ketua Perkumpulan pengemis Darah Hitam sama mempercayakan bahwa anggota mereka yang berilmu tinggi ini sanggup mengalahkan lawan yang tangguh itu.

Mata Picak putar tubuh menghadapi Iblis Pencabut Sukma.

“Iblis Pencabut Sukma,” dia berkata, “aku Pengemis Mata Picak mohon diberi beberapa jurus Relajaran dari kau!”

“Aha… Mata Picak, kau punya peradatan sedikit. Bagus aku ampunkan jiwamu! Tapi lekas korek kau punya biji mata lalu tinggalkan, tempat ini!”

Gigi-gigi dan geraham Pengemis Mata Picak bergemeletakan. “Kepongahanmu setinggi langit Iblis Pencabut Sukma. Tapi apa kau kira kau punya nyawa rangkap!”

Iblis Pencabut Sukma tertawa bergelak.

“Dikasih keampunan malah menantang!”

“Sudahlah! Tiada guna bicara panjang lebar padamu! Mulailah!”

~ 9 ~

“KARENA kau yang minta dikirim keakhirat, maka kau mulailah lebih dulu, Mata Picak!” kata Iblis Pencabut Sukma dengan jumawa.

Mendengar ini Pengemis Mata Picak tidak sungkan-sungkan lagi. Laksana terbang, tubuhnya melesat ke muka. Empat tendangan menderu, enam pukulan membadai!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (10)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.