Senin, 05 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (8)

 Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Bukan saja Pengemis Bibir Sumbing tiada berhasil dengan niatnya untuk mencuri keris pusaka tumbal kerajaan tapi dia juga terpaksa serahkan jiwa! Dibanding dengan dua pucuk pimpinan lainnya yaitu Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki Pincang maka memang kepandaian Pengemis Bibir Sumbing jauh lebih rendah sehingga setelah bertempur beberapa gebrakan secara hebat maka akhirnya Pengemis Bibir Sumbing menemui ajalnya di tangan Pendekar 212.

Namun bahaya yang mengancam Sultan serta keris pusaka itu tidak sampai di sana saja. Ketika Sultan bermalam di rumah Wirya Pranata, seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam telah berhasil melarikan keris tersebut selagi Sultan berada di taman dengan calon istrinya Andjarsari! Dan Andjarsari sendiri kemudian juga telah diculik pula oleh salah seorang anggota lain Perkumpulan Pengemis Darah Hitam!

Adapun markas atau sarang Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu, terletak di dalam hutan belantara Riungslaksa. Maka ke sanalah anggota-anggota perkumpulan yang telah berhasil membawa orang yang mereka culik dan keris yang berhasil dicuri. Selama beberapa hari itu kedua pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam menanti-nanti juga akan hasil pekerjaan anggota-anggota mereka.

“Ah, lama betul sekali ini anggota-anggota kita menjalankan tugasnya…” berkata Pengemis Mata Buta. Tubuhnya tinggi kurus macam tonggak. Pipinya cekung, rambutnya panjang tergerai macam perempuan, sedang kedua matanya hanya merupakan dua buah rongga dalam yang hitam sehingga dapat dibayangkan betapa mengerikannya wajah manusia ini!

“Ya… lama sekali,” jawab Pengemis Kaki Pincang seraya menghela nafas dalam. Di sela bibirnya terselip sebuah pipa yang bau tembakaunya busuk sekali! Manusia ini bermuka licin dan berkulit sangat pucat laksana mayat! Kaki kanannya pincang. “Bahkan Pengemis Bibir Sumbingpun tidak kelihatan mata hidungnya sampai saat ini!”

“Pengemis Bibir Sumbing macam orang yang tidak percaya saja dengan anggota-anggota kita sampai-sampai mau turun tangan sendiri…”

“Ah... dia memang dari dulu begitu sifatnya,” kata Pengemis Kaki Pincang pula.
“Saudara Pengemis Mata Buta, apakah menurutmu…”

Belum habis bicara Pengemis Kaki Pincang maka di luar terdengar seruan. “Para Ketua, lihat apa yang aku bawa!”

Dan sesaat kemudian muncullah seorang anggota Perkumpulan yang berbadan tegap kekar. Di bahunya terpanggul sesosok tubuh perempuan muda. Sosok tubuh perempuan ini bukan lain Andjarsari, dibaring.kannya di atas lantai di hadapan kaki kedua pucuk pjmpinan Perkumpulan. Saat itu Andjarsari tak dapat bergerak dan juga tidak sadarkan diri karena telah ditotok.

Tentu saja sangat gembira hati kedua Ketua Perkumpulan itu.

“Jasamu kepada Perkumpulan cukup besar Lah Simpong,” kata Pengemis Kaki Pincang seraja gosok-gosok kedua telapak tangannya.

Cuping hidung anggota Perkumpulan yang bernama Lah Simpong kelihatan membesar dan bergerak-gerak tanda suka cita hatinya.

“Percayalah, para Ketua,” kata Lah Simpong pula. “Dengan berhasilnya gadis ini kita tawan, Sultan pasti akan datang ke sini dan kita dengan mudah bisa meringkusnya.”

“Betul sekali!” kata Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki Pincang hampir berbarengan.

Lah Simpong yang dulunya adalah seorang peminta-minta di kota Menes basahkan bibir dengan ujung lidah, “Para ketua,” katanya “Apa aku boleh terima uang jasa sekarang…?!”

“Tentu…!” jawab pengemis Kaki Pincang. Dari balik pinggang dikeluarkannya sebuah kantong kulit dan ditemparkannya ke hadapan Lah Simpong. Benda itu jatuh dengan mengeluarkan suara berdering di muka kaki Lah Simpong. Dengan menyeringai gembira maka Lah Simpong segera membungkuk dan mengambil kantong uang itu. Dan pada saat itu pulalah di luar terdengar seruan seseorang. “Apa artinya hasil yang dibawa Lah Simpong dibandingkan dengan apa yang kami bawa ini wahai Para Ketua Perkumpulan?!”

Dua sosok tubuh mencelat masuk lewat jendela. Ketika mendarat dilantai sedikitpun kaki mereka tiada mengeluarkan suara! Baik Pengemis Kaki Pincang maupun Pengemis Mata Buta yang meskipun buta tapi mempunyai perasaan dan pendengaran yang tajam luar biasa sama-sama bergembira.

“Siapa yang kalian bawa itu?” tanya Pengemis Mata Buta.

“Sultan! Sultan!” kata Pengemis Kaki Pincang sambil melompat dari kursinya.

Pengemis Mata Buta tertawa girang. Dari balik sabuknya dia keluarkan dua buah kantong kulit yang besar. “Ini terima!” katanya. Dua orang anggota Pengemis Darah Hitam tadi segera menyambutinya. Mereka menjura girang lalu mau putar diri dari situ namun seseorang yang melompat masuk lewat pintu muka mengejutkan mereka!

“Aha… bawaanku memang bukan manusia bernyawa! Bawaanku juga tidak besar cuma kecil sekali! Tapi justru apa yang kubawa ini merupakan satu tanda bahwa siapa pemiliknya adalah mempunyai hak untuk menjadi raja di Banten!”

Pengemis Mata Buta dan Pengemis Kaki Pincang meloncat dari kursi masing-masing!

“Mata Picak! Apakah kau berhasil mencuri keris Tumbal Wilayuda?!” seru Pengemis Mata Buta dengan nada gembira.

Anggota Perkumpulan yang bermata buta sebelah dan bertampang angker itu tertawa mengekeh. Nama sebenarnya tak satu anggota atau pemimpin perkumpulan yang tahu. Karena itu dia dipanggil dengan gelaran Mata Picak. Di bandingkan dengan Pengemis Bibir Sumbing maka kepandaian Mata Picak tiga tingkat lebih tinggi, ditambah lagi bahwa dia mempunyai keistimewaan tersendiri yaitu mempunyai senjata rahasia paku beracun!

Kepandaiannya ini juga diturunkannya kepada anggota perkumpulan termasuk para pucuk pimpinan sehingga lambat laun senjata rahasia itupun disebut “paku darah hitam,” sesuai dengan nama perkumpulan mereka. Dengan ketinggian ilmu silat ditambah dengan kelihayannya memainkan senjata rahasia “paku darah hitam” maka sebenarnya Mata Picak adalah lebih tepat untuk menjadi pimpinan perkumpulan daripada Pengemis Bibir Sumbing. Namun Pengemis Bibir Sumbing sudah be­lasan tahun memasuki Perkumpulan bahkan dialah yang mula-mula mempunyai prakarsa untuk mendirikan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu!

“Kita pesta tuak malam ini!” seru Pengemis Mata Buta.

“Pesta tuak dan anggur!” menimpali Pengemis Kaki Pincang.

Kedua pimpinan Perkumpulan itu sama-sama mengeluarkan sebuah kantung uang dan melemparkannya ke hadapan Mata Picak. Memang inilah yang ditunggu-tunggu oleh si Mata Picak. Dengan segera kedua kantung uang itu disambutinya. Dia menjura. Belum lagi sempat dia berdiri tegak dari menjuranya itu maka dari pintu muka masuklah seorang anggota Per­kumpulan. Mukanya tak kalah bengis angker, namun di saat itu tampang itu kelihatan sedikit pucat, lesu dan kuyu!

Pengemis Kaki Pincang kerutkan kening melihat anggotanya ini. Tak biasanya Kuntawana berparas semurung itu. Maka bertanyalah dia. “Kabar apakah yang agaknya kau bawa dari luar rimba, Kutawana?!”

“Hemm… Kutawana juga sudah kembali?” ujar Pengemis Mata Buta.

Anggota yang baru datang itu menjura. Dihelanya nafas panjang lalu berkatalah dia. “Aku membawa kabar buruk, para Ketua…”

“Kabar buruk bagaimana?” tanya Pengemis Kaki Pincang sementara yang lain-lainnya juga tujukan perhatian terhadap Kuntawarna.

“Kemarin aku memasuki kota Asoka. Kota itu tengah berada dalam kegemparan karena menemukan sesosok mayat di belakang bengkel kuda Ketika aku menyeruak diantara orang banyak ternyata mayat itu adalah mayat Ketua Pengemis Bibir Sumbing!”

Terkejutlah semua orang.

“Ada keanehan dalam cara matinya…”

“Keanehan bagaimana maksudmu?!” tanya Pengemis Mata Buta.

Kulit keningnya hitam, dadanya biru. Sedang pada kulit kening yang hitam itu tertera tiga buah angka. Angka 212!”

Terjadilah perubahan pada air muka pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Pengemis Kaki Pincang memandang pada pengemis Mata Buta. Pengemis Mata Buta sendiri di saat itu merenung. “Bagaimana pendapatmu, Ketua Pengemis Mata Buta?” bertanya Pengemis Kaki Pincang.

Sejurus lamanya barulah menjawab Pengemis Mata Buta itu. Nada suaranya kentara berubah sekali kali ini. “Sesudah hampir empat puluh tahun menghilang tak tentu rimbanya, ternyata dia muncul kembali. Dia adalah momok yang menakutkan bagi tokoh-tokoh silat golongan hitam macam kita ini, Ketua Kaki Pincang. Pastilah dia muncul untuk kembali menghancurkan golongan kita seperti empat puluh tahun yang lalu itu…”

“Maksudmu Pendekar 212 Kapak Maut Naga Geni si Sinto Gendeng itu…?!” tanya Pengemis Kaki Pincang.

“Siapa lagi!”

“Ah… kalau dia memang muncul untuk maksud yang seperti masa lampau, dia salah perhitungah! Dunia persilatan dulu tidak sama dengan dunia persitatan masa sekarang! Golongan hitam banyak maju pesat, banyak mempunyai tokoh-tokoh kosen serta lihay dan sakti! Sinto Gendeng boleh datang kemari. Dan itu berarti dia antarkan nyawa sendiri!”

Pengemis Mata Buta menarik nafas dalam, “Kita tak bisa menganggap enteng momok perempuan itu, Ketua Kaki Pincang,” kata Pengemis Mata Buta pula. “Ketahuilah, kedua mataku yang buta ini, dialah yang telah mengoreknya dulu…”

Kagetlah Pengemis Kaki Pincang. Matanya mendelik dan dipandanginya paras rekannya itu. Akhirnya dia memandang ke jurusan lain karena merinding juga kuduknya memandang lama-lama pada rongga rongga mata yang menggidikkan itu!

Suasana hening seketika. Dan keheningan itu dipecahkan oleh bentakan Pengemis Mata Buta. “Kuntawana, apa yang kau telah lakukan terhadap mayat Ketua Pengemis Bibir Sumbing…?!”

Terkejutlah Kuntawana.

“Jawab! Apa sesudah kau temui lantas kau tinggal begitu saja…?!”

“Ketua… di saat itu mayat Ketua Pengemis Bibir Sumbing dikerumuni oleh banyak orang. Di antaranya beberapa prajurit kerajaan. Tak mungkin bagiku…”

“Tutup mulut! Kesalahanmu besar! Kau dipecat sebagai anggota Perkumpulan!”

Muka Kuntawana menjadi pucat. “Ketua…”

“Diam! Lekas angkat kaki dari sini!”

“Para Ketua…”

“Diam! Berlalulah sebelum amarahku lebih memuncak!” bentak Pengemis Mata Buta.
Kuntawana menyuruh mundur. “Aku bersedia kembali ke Asoka untuk mengambil mayat Ketua Bibir Sumbing…”

“Tak perlu,” jawab Pengemis Mata Buta tetap keras. “Aku bisa suruh anggota yang lain!”

Maka membesilah paras Kuntawana. “Baik, aku akan pergi tapi serahkan dulu uang jasaku.”

“Kurang ajar! Kau berani bicara seenaknya demikian rupa?! Ini bagianmu!”

Pengemis Mata Buta kebutkan lengan jubah hitamnya. Satu gelombang angin dahsyat melanda ke arah Kuntawana. Terkejutlah Kuntawana. Dia tahu betul pukulan yang dilancarkan oleh si Mata Buta itu. Pukulan “seribu topan!”! Dengan cepat Kuntawana melompat ke atas namun dia tak bisa melompat tinggi karena bangunan di mana mereka berada mempunyai loteng yang rendah!

“Celaka, mampuslah aku!” kata Kuntawana di dalam hati.

Namun pada detik yang berbahaya itu dari jendela samping satu larikan sinar merah menyambar memapaki angin pukulan seribu topan dan kejapan itu juga buyarlah pukulan Pengemis Mata Buta dan selamatlah Kuntawana!

Pengemis Mata Buta seorang yang mempunyai perasaan luar biasa. Sepasang telinganya bukan saja tajam tapi juga merupakan sebagai sepasang mata baginya.

Dia menoleh ke jendela. “Keparat yang suka ikut campur urusan orang, coba perlihatkan diri!” bentaknya.

Di diluar terdengar suara tertawa bergelak. Sesaat kemudian sesosok tubuh berjubah merah dan berkerundung kain merah dengan gerakan yang sangat sebat dan enteng sudah menjejakkan kaki di lantai ruangan!

“Iblis Pencabut Sukma!” teriak Pengemis Kaki Pincang berbarengan dengan anggota­anggota Perkumpulan lainnya! Wajah mereka mengkerut tegang!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (9)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.