Senin, 05 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (7)

 Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Meski terkejut karena si gondrong ketahui nmaanya namun Wirja Pranata terus juga lancarkan serangan-serangan. Si rambut gondrong menggereng. Tiba-tiba bersuit keras. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas dan diputar-putar. Dia menghadap tepat-tepat pada manusia muka setan. Dan manusia ini terkejut sekali “Pukulan angin puyuh!” serunya, dengan wajah tegang. Cepat-cepat dia keruk kantong baju hitamnya, lompat empat tombak dan begitu tangannya keluar dari saku maka melesatlah lima benda bersinar hitam ke arah si pemuda.

“Paku Darah Hitam!” seru Wirja Pranata ombil surut kebelakang. Hatinya meragu akan siapa sebenarnya manusia muka seram itu.

“Hemm… jadi kau anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam?” gertak pemuda rambut gondrong. Sekali dia hantamkan tangan kanan ke muka maka luruhlah paku-paku biru itu ke tanah! Ketika dia hendak menyerang kembali si muka setan sudah lenyap!

~ 6 ~

DENGAN sangat penasaran Pendekar 212 putar tubuh. “Kalau kau tidak bertindak gegabah pasti pencuri keparat itu sudah kena diringkus!”

Memang meski hatinya bimbang tapi Wirja Pranata sendiri juga meragu terhadap diri Wiro Sableng. “Kau siapa?!” tanyanya.

“Sudah, saat ini bukan tempatnya untuk bertanya jawab!” Pendekar 212 segera berkelebat ke arah larinya si muka setan yang diduganya adalah seorang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Namun dibelakangnya terdengar suara berseru.

“Tunggu! Berhenti dulu!”

Karena tahu yang berseru adalah Wirja Pranata maka Wiro tidak ambil perduli melainkan lari terus. Namun sesaat kemudian berdesing sejumlah senjata rahasia menyerang ke arahnya. Dengan beringas Pendekar 212 putar tubuh dan kebutkan tangan. Senjata-senjata rahasia itu berpelantingan. Dan pada ketika itu pula Wirja Pranata sudah berdiri dihadapannya.

“Jika kau orang baik-baik mengapa tidak berani sebutkan nama terangkan diri?! Pastilah kau bangsanya kaki tangan gotongan hitam!”

Wiro Sableng jadi betul-betul penasaran kini. “Manusia tidak tahu diri! Tidak tahu membedakan mana yang putih dan mana yang hitam! Tidak tahu dirinya tengah ditolong, malah mencap orang seenaknya! Kalau bukan mengingat bahwa kau calon mertuanya Sultan, aku sudah tampar kau punya mulut! Sekarang pergilah!”

Wiro gerakkan kedua tangannya. Dan tahu-tahu terdoronglah tubuh Wirja Pranata ke belakang sampai empat tombak! Wirja Pranata rupanya menjadi kalap. Melihat pemuda rambut gondrong itu hendak angkat kaki kembali maka segera dia hunus keris dan dengan cepat kirimkan lima tusukan sekaligus!

“Manusia geblek,” maki Pendekar 212 dalam hati sambil hindarkan diri dengan cepat.

Di lain saat maka tiba-tiba muncullah satu bayangan manusia.

“Tahan!”

Kedua orang yang bertempur, yang sama-sama mengenali suara pendatang baru itu segera hentikan pertempuran.

Pendekar 212 putar kepala pada si pendatang lalu berkata. “Sultan, semangat calon mertuamu memang hebat! Nyalinya besar tapi sayang pikirannya keliwat pendek!”

Merahlah paras Wirja Pranata tapi dia juga heran mengetahui bahwa si rambut gondrong mengenali Sultan Hasanuddin. Sultan kemudian memperkenalkan kedua orang itu. Barulah saat itu Wiro menjura hormat.

Dengan batuk-batuk Wirja Pranata bertanya pada Sultan. “Bagaimana dengan Anjarsari, apakah berhasil ditemui…?”

Sultan menundukkan paras kecewa lalu gelengkan kepala dengan pelahan.

“Terkutuk! Terkutuk!” maki Wirja Pranata dalam hati. Kedua tangannya terkepal membentuk tinju. Tentu saja laki-laki ini sangat mengkhawatirkan keselamatan diri anak gadisnya itu.

Dalam pada itu Pendekar 212 mengetengahi. “Bapak Wirja, kau kembalilah ke Ujung Kulon. Kami berdua segera akan mengejar bangsat pencuri itu,”

“Aku turut bersama kalian!” kata Wirja Pranata dengan hati keras.

“Bapak,” ujar Sultan, “saya tahu bagaimana perasaan dan kecemasan hati Bapak terhadap keselamatan Anjarsari. Sayapun lebih kawatir lagi. Tapi percayalah, bersama sahabat ini saya pasti akan dapat mencari Anjarsari dan menemukan keris Tumbal Wilayuda serta membekuk bangsat-bangsat pencuri itu!”

“Kalau kau berkata begitu, baiklah.” Wirja Pranata akhirnya mengalah. Maka sesudah itu Wiro Sableng dan Sultan Hasanuddinpun berlalu dengan cepat.

Ketika hari pagi kedua orang itu masih juga belum berhasil meneemui jejak pencuri yang mereka cari. Dengan perasaan lesu mereka sampai ke sebuah kota bernama Parangwilis. Seperti Asoka maka Parangwilis adalah juga sebuah kota dagang yang besar.

Bau makanan yang harum menghambur keluar dari sebuah warung nasi. Kedua orang inipun masuklah ke dalam warung tersebut. Karena rambutnya yang gondrong dan potongan tubuh yang kekar dari Wiro Sableng serta tampang yang gagah dari Sultan Hasanuddin maka kedua orang ini tentu saja menarik perhatian isi warung. Tapi tanpa acuh Wiro dan Sultan terus saja menyantap makanan mereka.

Mendadak suasana dalam warung nasi itu menjadi sunyi hening laksana dipekuburan! Wiro Sableng dan Sultan segera merasakan perubahan ini. Sultan putar kepala memandang berkeliling sedang Wiro Sableng putar bola matanya memandang cepat ke beberapa jurus.

Dari pintu muka warung masuk seorang berpakaian kotor compang camping dan bertambal-tambal. Dari pintu belakang dua orang lagi, kemudian dari jendela di samping kiri kanan masing-masing dua orang lainnya! Muka-muka mereka rata-rata menunjukkan kebengisan, rambut kusut masai, kumis serta janggut kasar meranggas!

Beberapa orang tamu yang sedang makan dalam warung, melihat gelagat yang tidak baik ini segera jauhkan diri ke pojok. Sultan dan Pendekar 212 karena merasa tidak ada sangkut paut apa-apa dengan kesepuluh manusia itu tanpa ambil perduli terus menyantap hidangan mereka.

Tiba-tiba salah seorang yang datang dari pintu depan hantamkan tangan kananya ke muka. Angin deras melanda meja makan di hadapan Wiro serta Sutan. Meja kayu yang besar dan berat itu tak ampun lagi mental melabrak dinding warung. Piring serta gelas di atasnya berpelantingan pecah! Namun di saat itu pula baik Pendekar 212 maupun Sultan telah me­lompat ke samping dan berdiri saling memunggungi!

Serentak dengan itu maka sepuluh manusia yang berpakaian compang-camping sudah mengurung keduanya dengan rapat.

“Berhari-hari dicari baru kini kutemui!” kata laki-laki yang tadi melabrak meja dengan pukulannya yang hebat.

“Kalian siapa?” tanya Sultan sambil bersiap sedia menjaga segala kemungkinan. Di belakang di dengarnya Wiro Sableng mulai bersiul-siul seenaknya.

Orang tadi mengekeh. Gigi-giginya hitam dan di sudut bibirnya terselip segumpal susur tembakau. “Kami adalah anggota-anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam!” jawab orang itu.

Terkejutlah Sultan. “Kami berdua tidak merasa punya silang sengketa dengan kalian, mengapa datang mengganggu?”

Anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam itu mengekeh lagi. “Jangan jual bacot mengatakan tiada silang-sengketa. Salah seorang dari kalian telah membunuh pemimpin kami Pengemis Bibir Sumbing!”

“Oh, jadi kalian anak-anak buahnya manusia jahat itu? Setiap manusia jahat akan menemui ajalnya secara buruk! Kalian pergilah semua!”

Anggota Pengemis Darah Hitam semburkan susurnya ke muka Sultan. Meski cuma susur tapi bahayanya besar sekali karena mengandung tenaga dalam! Dengan cepat Sultan hantamkan tangan kanannya ke depan, maka mentallah susur itu.

Sebagian dari air susur menjiprat ke muka beberapa orang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam termasuk laki-laki yang telah menyemburkan susur itu tadi! Maka marahlah dia! Dan segera membentak!

“Tangkap Sultan hidup-hidup! Yang gondrong itu cincang sampai lumat!”

Sembilan pengemis yang diberi komando segera menyerbu ke muka. Tubuh Sultan dan Wiro Sableng lenyap. Hanya suara tertawa Pendekar 212 ini saja yang terdengar. Dan sesaat kemudian terdengarlah suara, “bluk... bluk... bluk... bluk...”

Empat anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam mencelat dan menggeletak di tanah tanpa nyawa! Sekali lagi Pendekar 212 berkelebat dan dua lawan lagi mental ke luar kedai!

Melihat ini pengemis yang tadi berikan komando segera keluarkan senjatanya berupa sebuah cambuk yang berwarna hitam. Melihat ini maka tiga anggota lainnya yang masih hidup segera pula keluarkan cambuk masing-masing. Dan sesaat kemudian maka laksana hujan menggeletarlah cambuk-cambuk itu ke arah Wiro Sableng dan Sultan.

Suasana tiada ubah seperti halilintar. Kedai itu seakan-akan hendak hancur Iuluh tenggelam oleh suara cambuk! Dan di saat itu tak ada satu tamu lainpun yang masih. berani berada di dalam warung sedang pemilik warung sendiri sudah kabur entah ke mana!

Sultan melompat ke samping kiri untuk hindarkan cambuk salah seorang lawan. Begitu terhindar segera dia kirimkan serangan balasan namun dua cambuk lainnya tahu-tahu sudah melibat kedua tangannya! Bagaimanapun dicoba oleh Sultan untuk lepaskan diri namun sia-sia saja.

Di lain pihak Pendekar 212 coba keluarkan diri dari hantaman-hantaman cambuk dua orang lawannya yang datang laksana hujan! Tapi memang permainan cambuk empat anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam ini hebat sekali. Sementara Sultan di sebelah sana sudah kena diringkus dan di seret ke pintu muka. Pendekar 212 dibikin sibuk dan kepepet ke bagian belakang warung.

Geram sekali Wiro Sableng lompat tiga tombak ke atas lalu menukik ke bawah seraya membagi serangan tangan kiri kanan kepada dua orang lawannya.

Angin pukulan Pendekar 212 membuat kedua orang itu hanya terdorong seketika karena kebutan cambuknya yang begitu dahsyat sanggup membendung hampir sebagian besar angin pukulan Wiro!

Dengan penasaran Pendekar 212 begitu sampai ke tanah kembali segera menyambar sebuah bangku panjang. Dengan bangku panjang sebagai senjatanya maka mengamuklah Pendekar 212. Cambuk hitam anggota Pengemis Dara.h Hitam betul-betul luar biasa. Senjata keduanya mendera bangku hitam beberapa kali. Dan hancurlah bangku hitam itu!

Wiro Sableng menggerung. Kedua tangannya bergetar dan dinaikkan tinggi-tinggi ke atas.

“Wut! Wutt…!”

Warung nasi itu berderak derik! Kedua lawan coba putar dan pecutkan cambuk mereka lebih deras lagi namun angin yang menyambar dari lengan Pendekar 212 tak sanggup lagi mereka tahan. Laksana topan kedua orang itu bermentalan kian ke mari. Cambuk mereka terlepas dan tiba-tiba.

“Krraakkk!” Warung nasi itupun robohlah!

Sesaat kemudian bangunan ini ambruk, maka Pendekar 212 sudah melabrak dinding dan lolos ke luar. Dua orang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam yang tadi sudah konyol tersambar pukulan “angin puyuh” Pendekar 212 tertimbun mentahmentah!

Di luar warung yang rubuh, Pendekar 212 bingung sendiri karena melihat Sultan bersama dua orang anggota Pengemis Darah Hitam sudah lenyap. Dia segera minta beberapa keterangan pada orang-orang di luar kemana lenyapnya ketiga orang itu.

“Kawanmu kena diringkus dan dilarikan ke jurusan sana,” kata seseorang sambil menunjuk ke ujung jalan. Maka tanpa membuang waktu Wiro Sableng segera mengejar ke arah yang ditunjukkan.

~ 7 ~

PADA masa itu di Jawa Barat telah sejak lama berdiri sebuah perkumpulan yang bernama Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Anggotanya terdiri dari pengemis-pengemis yang tersebar di seluruh pelosok dan di setiap kota. Setiap anggota perkumpulan mempunyai sebuah pecut hitam dan rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi. Tentu saja karena hampir setiap tempat dan daerah anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam ada maka segala sesuatu peristiwa besar dan rahasia dengan, sendirinya diketahui oleh mereka.

Demikian juga dengan peristiwa jatuhnya Banten ke tangan pemberontak dan lenyapnya Sultan serta keris Tumbal Wilayuda. Yang terakhir sekali mereka juga mengetahui hubungan Sultan dengan Andjarsari. Maka pucuk Pimpinan Perkumpulan segera menyebar anak-anak buahnya untuk mendapatkan keris Tumbal Wilayuda mencari Sultan serta menculik Andjarsari!

Demikian besarnya hasrat mereka untuk berhasil dalam rencana tersebut maka sampai­sampai salah seorang dari pucuk pimpinan yang terdiri dari tiga pengemis berkepandaian tinggi, memutuskan untuk turun tangan. Pucuk pimpinan yang seorang ini ialah Pengemis Bibir Sumbing! Sebagaimana yang telah dituturkan sebelumnya, ketika Sultan bermalam di satu penginapan maka Pengemis Bibir Sumbing telah mendatanginya dan hampir berhasil membawa kabur keris Tumbal Wilayuda jika saja saat itu Pendekar 212 tidak muncul memberikan bantuan.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (8)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.