Senin, 05 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (6)

 Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Sultan menghela nafas panjang. “Terima kasih,” katanya. “Dua kali kau telah menolongku sahabat. Siapakah engkau?”

“Namaku Wiro Sableng,” jawab Pendekar 212. “Kalau aku boleh kasih nasihat, baiknya kau tak usah kembali kepenginapan, tapi segera teruskan perjalanan”

“Mengapa begitu?” tanya Sultan.

“Terlalu banyak manusia-manusia macam Pengemis Bibir Sumbing ini yang mencarimu dan inginkan keris Tumbal Wilayuda.”

Sultan merenung sejurus. “Terima kasih atas nasihatmu, sahabat! Karena kau telah berbuat baik kepadaku, perbuatan baik yang tak bakal kulupakan sebagai budi besarmu, bagaimana kalau aku tawarkan agar ikut bersamaku meneruskan perjalanan?”

“Ah… itu satu kehormatan besar bisa seiring denganmu, Sultan” jawab Pendekar 212 ramah. “Tapi harap maafkan. Aku masih banyak urusan. Namun demikian, aku berjanji tidak akan berada jauh dari padamu…”

“Kalau begitu baiklah, aku tidak memaksa,” ujar Sultan. Dari balik pakaian samarannya yang bertambal-tambal dikeluarkannya sebuah benda yang bercahaya. Diserahkannya benda itu kepada Pendekar 212 tapi sang pendekar tak berani menyambutinya.

“Sobat, terimalah!” kata Sultan pula.

“Benda apakah ini Sultan?”

“Terimalah dulu.”

Wiro menerimanya.

Benda itu ternyata sebuah bintang bersudut delapan yang terbuat dari emas dan di tengah-tengahnya dihiasi dengan sebutir berlian yang berkilauan. “Benda itu adalah bintang utama Kerajaan Banten, yang diserahkan kepada siapa saja yang telah membuat jasa terhadap Raja dan rakyat Banten, Wiro…”

“Ah… mana aku pantas terima hadiah ini Sultan?” kata Wiro Sableng pula dengan ke­rendahan.

Tapi sultan memaksakan juga agar Pendekar 212 menerima anugerah itu. Wiro menyimpan benda tersebut baik-baik dibalik pakaiannya. “Terima kasih,” katanya.

“Lalu karena penyamaraanmu sebagai pengemis sudah diketahui oleh golongan rampok dan penjahat, sebaiknya ditukar saja, Sultan.”

“Aku memang sudah merencana begitu” kata Sultan pula.

Sekali lagi mereka saling ucapkan terima kasih. Pendekar 212 menjura minta diri dan keduanyapun berpisahlah.

~ 5 ~

KELUARGA Wirja Pranata adalah keluarga bangsawan besar di Ujung Kulon. Selagi muda antara Wirja Pranata dan Fatahillah terdapat jalinan persahabatan yang erat sehingga di suatu ketika kedua sahabat itu berjanji bahwa bila mereka nanti salah satu memiliki anak laki-­laki dan anak perempuan, dikemudian hari kelak keduanya akan dijodohkan.

Puteri bangsawan Wirja Pranata yaitu Anjarsari memang sudah lama tahu bahwa dirinya dijodohkan dengan Raja Banten. Namun sampai sebegitu jauh belum pernah sekalipun dia bertemu muka dengan calon suaminya itu. Dan ketika Sultan Hasanuddin muncul di sore hari itu maka terkejutlah bangsawan Wirja Pranata.

“Sultan, apakah yang telah terjadi ? Mengapa datang tanpa pengiring dan dalam pakaian begini rupa?”

Sultan Hasanuddin menggigit bibir menahan gelora hatinya. Sesudah apa yang menggejolaki hatinya berkurang maka mulailah dia beri penuturan.

Hal itu mengejutkan seluruh keluarga bangsawan Wirja Pranata, termasuk Anjarsari yang curi mendengar penuturan itu dari balik dinding kamar tidurnya.

Beberapa lamanya kesunyian menyeling. Bangsawan Wirja Pranata dan isterinya duduk termanggu tanpa bisa berkata apa-apa. Sultan sendiri juga terdiam beberapa lamanya. Ketika Sultan dipersilahkan ke belakang untuk membersihkan diri maka diam-diam Anjarsari mencuri intip dari sela pintu. Hatinya berdebar dan darahnya berdebur-debur.

Ah, nyatanya Sultan yang bakal suaminya itu seorang pemuda yang berparas gagah berkulit kuning halus, hampir sehalus kulit perempuan! Hatinya berbunga-bunga. Kapan ayah atau ibunya akan menyuruhnya keluar dan berkenalan dengan Sultan? Dan mengingat ini dada si gadis semakin menggemuruh. Ketika dia menghadap ke kaca maka jelaslah kelihatan bagaimana parasnya ke merah-merahan!

Ketika senja berlalu dan hari beralih menjadi malam maka barulah Anjarsari disuruh keluar oleh ibunya. Pertemuan dengan Sultan benar-benar membuat lututnya gemetar, tapi juga membuat hatinya mekar. Gadis ini tundukkan kepala, parasnya bersemu merah. Sultan sendiri juga tundukkan kepala. Apa yang dikatakan ayahnya bahwa calon isterinya adalah seorang gadis cantik sekarang menjadi kenyataan. Diam-diam pemuda ini melirik dengan sudut matanya.

Bangsawan Wirja Pranata berbatuk-batuk. Lalu bertanyalah dia pada calon mantunya itu. “Apakah rencana Sultan selanjutnya?”

“Saya merencanakan untuk pergi ke. Demak dan minta bantuan pasukan serta persenjataap selengkapnya…”

“Itu tepat sekali,” kata Wirja Pranata. “Tapi mengingat Demak masih jauh dari sini dan Sultan membawa keris pusaka pula maka sebaiknya Sultan jangan pergi seorang diri.”

Ucapan calon mertuanya itu memang dirasa betul sekali oleh Sultan. Dan diam-diam dia teringat pada Wiro Sableng, si pemuda sakti yang telah dua kali menolongnya. Kalau pemuda itu berada bersamanya saat itu tentu dia tak usah khawatir bahaya apapun.

Sebagai orang tua yang tahu di hati anak muda dan juga pernah muda, tak lama kemudian Wirja Pranata bersama isterinya mengundurkan diri ke dalam kamar. Maka kini tinggallah kedua orang itu. Suasana lain sekali jadinya kini. Suasana itu sungguh tidak enak, tapi tidak enak yang enak!

Rasa begini rupa baik oleh Anjarsari maupun oleh Sultan sendiri tak pernah dialaminya sebelumnya. Cuma sudut-sudut mata mereka saja yang sekali-sekali mencuri pandang. Ketika Anjarsari melirik untuk kesekian kalinya maka pada detik itu pula Sultan mengerling. Beradulah dua kerlingan mata itu! Anjarsari cepat-cepat menundukkan kepalanya menyembunyikan paras yang semu kemerahan!

Kesunyian masih juga berjalan terus sampai beberapa lamanya. Tiada satupun yang berani untuk membuka pembicaraan. Sultan sendiri merasa tenggorokannya seperti tersekat, lidahnya seperti kelu dan mulutnya terkancing!

Namun pada akhirnya Sultan Hasanuddin membuka mulutnya juga. “Kalau tiada terjadi pengkhianatan Parit Wulung, mungkin sampai hari ini belum ada kesempatan bagi kita untuk bertemu, Sari…”

“Ya… hemm… saya sangat terkejut meindengar berita buruk itu, kakak,” berkata Anjar­sari agak gugup. Kemudian. “Apakah kakak akan segera berangkat ke Demak…?”

Sultan mengangguk.

“Memang lebih cepat lebih baik. Ramanda di Cirebon sudah mendapat tahu peristiwa di Banten…?”

“Mudah-mudahan sudah karena ada kukirimkan seorang utusan ke sana” Kemudian untuk menghilangkan pembicaraan yang berjalan kaku itu maka Sultan mengajak Anjarsari keluar rumah. Di luar ternyata malam itu berpemandangan indah. Bulan purnama empat belas hari bersinar terang, bintang-bintang bertaburan di langit yang biru cerah. Banyak dan sering sudah kedua remaja itu melihat bulan purnama pada malam-malam terang bulan sebelumnya namun bagi mereka tiada seindah malam itu.

Di samping gedung besar bangsawan Wirja Pranata terdapat sebuah taman kecil. Di dalam taman terletak satu bangku panjang. Kedua remaja ini melangkah seiring ke bangku itu. Mendadak Sultan putar kepalanya ketika sepasang telinganya yang tajam dalam kesunyian itu mendengar suara bergeresek di atas genting.

Sesosok bayangan hitam kelihatan berkelebat lalu lenyap di bagian atap gedung yang lain. Meski demikian cepat lenyapnya namun Sultan masih sempat melihat bahwa di tangan kirinya sosok tubuh hitam itu memegang sebuah benda yang berbentuk keris.

“Celaka!” kata Sultan dalam hati. Dia berseru dengan keras. “Berhenti!” Tapi bayangan sosok tubuh tadi sudah sejak lama lenyap. Ketika disusul kehalaman samping juga tak kelihatan lagi. Dalam kebingungannya Sultan sampai lupakan Anjarsari.

Dia lari masuk ke dalam gedung, terus ke kamar dan melihat bagaimana kasur pembaringan berada dalam keadaan tak karuan. Ketika ditariknya kasur itu di bagian kepala tempat tidur, maka keris Tumbal Wilayuda yang sebelumnya disimpannya di sana, kini sudah tiada lagi! Lenyap! Dan pastilah sosok tubuh yang melarikan diri tadi yang telah mencurinya!

“Pencuri keparat!” maki Sultan. Dia lari lagi keluar. Ketika sampai di halaman samping terkejutlah dia. Anjarsari tak ada lagi di dalam taman! Lenyap!

“Anjar!” memanggil Sultan. “Anjarsari!” serunya lagi. Tapi tiada jawaban!

Maka di malam itu hebohlah seisi gedung bangsawan Wirja Pranata. Sultan sendiri sesudah memberikan penuturan, singkat segera berkelebat meninggalkan gedung. Keris Tumbal Wilayuda lenyap! Tapi kekhawatirannya lebih lagi terhadap Anjarsari yang hilang secara aneh itu. Maka dia memutuskan menyelidiki lenyapnya Anjarsari lebih dahulu lalu baru mencari jejak si pencuri keris Tumbal Wilayuda!

Sesaat sesudah kepergian Sultan, Wirja Pranata berkelabat pula ke arah yang berlawanan.

Malam dingin dan angin agak kencang bertiupnya. Wirja Pranata adalah seorang bangsawan yang “mempunyai isi” juga. Dalam waktu yang singkat dengan ilmu larinya yang sempurna dia telah sampai di luar kota. Karena daerah luar kota merupakan daerah pesawangan datar di tambah bulan bersinar terang maka dengan mudah di ujung pesawangan Wirja Pranata dapat melihat dua sosok tubuh manusia tengah berlari kencang. Yang di belakang sebat sekali larinya dan dalam waktu yang singkat berhasil menyusul yang di muka. Kemudian kelihatan terjadi pertempuran!

Tanpa menunggu lebih lama bangsawan Wirja Pranata segera lari ke sana. Dia sampai ketika pertempuran tengah berjalan hebat-hebatnya. Kedua orang yang bertempur adalah seorang pemuda berambut gondrong berpakaian putih. Gerakannya gesit sekali dan menimbulkan angin bersiuran. Lawannya adalah seorang laki-laki jangkung kurus bermuka sangat seram berpakaian hitam. Salah satu matanya sangat besar sedang yang lain hanya merupakan sebuah rongga hitam cekung yang sangat menggidikkan. Gerakannya juga tak kalah hebat dari lawannya. Pakaiannya bertambal-tambal.

“Berhenti!” seru Wirja Pranata.

Tapi yang bertempur tidak ambil perduli. Yang bermuka seram malahan lancarkan empat serangan dahsyat yang menimbulkan angin tajam dan panas!

Pemuda rambut gondrong berseru nyaring, lompatkan diri ke udara lalu menukik lagi seraya hantamkan tangan kanan ke muka. Angin laksana badai menderu menyerang si muka seram.

“Pukulan kunyuk melempar buah!” seru si muka seram kaget. Buru-buru dia kebatkan lengan pakaian hitamnya. Tapi tubuhnya terduduk di tanah karena angin pukulan lawan nyatanya lebih dahsyat. Pemuda rambut gondrong sendiri tersurut ke belakang beberapa langkah, dadanya terasa sakit.

“Manusia muka setan ini ilmunya tinggi sekali dan berbahaya!” membatin si pemuda.

Sebaliknya si muka setan yang tahu bahwa lawannya adalah seorang yang sangat tangguh segera berseru pada Wirja Pranata. “Sobat! Kenapa diam saja?! Bukankah kedatanganmu kemari untuk mencari pencuri keris? Inilah bangsat malingnya! Ayo tunggu apa lagi, mari kita labrak!”

Si pemuda tertawa dingin. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Ketika tangan itu turun, segelombang angin menggebubu menyerang tubuh si muka setan dari atas ke bawah! Manusia ini segera kebutkan kedua ujung lengan bajunya. Pemuda gondrong sampai melesak kedua kakinya sedalam dua senti ke tanah sedang si muka setan terguling di tanah tapi cepat bangun lagi!

Diam-diam si pemuda rambut gondrong terkejut.

Pukulan yang dilancarkan tadi bukan sembarang dan mempergunakan hampir sepertiga tenaga dalamnya tapi lawan ternyata tidak apa-apa malahan bisa bangkit kembali!

“Wirja Pranata!” berseru si muka setan. “Kalau kau inginkan keris kembali lekas bantu aku meringkus maling busuk ini! Apa kau tidak lihat pinggangnya menggembung? Keris itu disembunyikannya di sana!”

“Orang tolol!” maki si pemuda. “Kenapa terpengaruh omongan manusia muka setan ini?! Dialah Yang mencuri keris Tumbal Wilayuda!”

Wirja Pranata jadi bingung. Tapi karena sudah terlanjur maka dia teruskan juga serangannya. Pernuda rambut gondrong tiada hentinya memaki.

“Bangsawan Wirja Pranata, sebaiknya mundurlah! Jangan sampai tertipu maling yang berteriak pencuri ini!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (7)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.