Senin, 05 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (5)

  Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Singo Ireng memang memaklumi hal itu. Tapi dia sudah kepalang tanggung, sudah teramat malu dan sudah meluap amarahnya! “Aku mati tapi kau juga mampus ditanganku, keparat!” bentaknya.. Maka tangan kirinyapun turun kebawah dengan cepat. Selarik sinar hitam yang menggidikkan menyambar kearah Pendekar 212! Itulah ilmu pukulan “wesi item” yang telah membinasakan Braja Paksi, kepala balatentara Banten!

Pendekar 212 melompat ke atas sampai enam tombak. Angin pukulan “wesi item” terasa panas seperti mau melumerkan kedua kakinya. Pendekar ini gigit bibir menahan perih lalu 1ancarkan serangan balasan yaitu pukulan yang tak asing lagi. “kunyuk melempar buah”!

Di seberang sana tubuh Resi Singo Ireng kelihatan jungkir balik kemudian jatuh duduk di tanah dan muntah darah, lalu rebah tiada sadarkan diri!

Sebenarnya pukulan “kunyuk melempar buah” itu belum tentu akan mencelakai sang Resi. Namun karena dalam keadaan terluka di dalam dia telah rnelancarkan pukulan yang keras dengan mengandalkan seluruh tenaga dalam maka dia rasa sendiri akibatnya. Masih untung nyawanya tidak terbang!

Wiro Sableng tertawa mengekeh. Dia melangkah mendekati tubuh Resi itu. Prajurit­prajurit yang masih hidup, yang dedikkan mata melihat bagaimana jago mereka dibikin babak belur demikian rupa segera bersurut menjauh.

“Resi muka arang!” kata Pendekar 212. “Kau tanya siapa aku. Inilah kutuliskan aku punya nama!” Dan habis berkata demikian pendekar ini segera guratkan angka 212 di kulit kening yang hitam dari Singo Ireng. Kemudian pendekar ini berdiri kembali.

“Kerak-kerak pemberontak!” katanya pada perajurit-perajurit yang masih hidup. “Kalian boleh menggotong manusia bermuka pantat kuali ini ke Kotaraja! Jika hari ini aku tiada cabut nyawanya dan nyawa kalian, maka di lain hari bila bertemu kembali jangan harap aku akan lepaskan nyawa kalian! Sampaikan ini padanya bila dia sudah siuman!” Dan sesudah bicara demikian Wiro Sableng segera tinggalkan tempat itu dengan membawa mayat Mangkubumi Mintra.

~ 4 ~

DENGAN hati penuh duka sedih mengenang kematian Mangkubumi Mintra yang sengaja korbankan nyawa untuk selamatkan dirinya, Sultan Hasanuddin berlari sepanjang tepi rimba belantara dikaki bukit. Perjuangan memang membutuhkan pengorbanan. Dan ini bukan saja menambah besarnya dendam kesumat di hati Sultan terhadap Parit Wulung dan benggolan­benggolan pemberontak lainnya tapi juga mempertebal tekatnya bahwa di suatu ketika dia pasti akan kembali ke Banten dan membangun Kerajaan Banten yang sah!

Menjelang senja dia mencapai sebuah kota kecil yang terletak di timur Banten. Kota ini bernama Asoka. Dulunya hanya merupakan pangkalan-pangkalan pemberhentian para pedagang dari pelbagai penjuru sekitar situ. Kemudian pedagang-pedagang itu banyak yang mendirikan gudang-gudang untuk barang-barang dagangannya, kemudiannya lagi mereka juga mendirikan rumah-rumah sehangga lambat laun dari pangkalan dagang maka berobahlah Asoka menjadi sebuah kota. Sebagai kota dagang tentu saja sepanjang hari Asoka selalu sibuk. Kesibukan dan keramaian ini terus berlangsung sampai jauh malam.

Sehabis mendapatkan sebuah penginapan, Sultan mengelilingi kota melihat-lihat keramaian dan mengisi perut disatu kedai. Ketika bulan sabit di atas langit tertutup oleh awan tebal berwarna gelap maka Sultanpun kembali kepenginapannya. Matanya yang tajam segera melihat adanya ketidakberesan dalam kamar dimana dia menginap.

Seprai agak kusut bantal-bantal tidak terletak ditempatnya semula sedang bungkusan kecil yang berisi beberapa potong pakaian serta sejumlah uang yang diletakkannya di kolong tempat tidur nyata sekali bekas dibuka dan digeledah orang. Namun tidak sepotong barang-barangnyapun yang hilang!

Sultan merasa masygul. Dia memandang berkeliling. Di dinding sebelah sana terdapat sebuah jendela. Jendela itu masih tetap sebagaimana tadi ditinggalkannya. Tak ada tanda-tanda bekas pengrusakan. Siapa gerangan yang telah masuk ke dalam kamar dan melakukan penggeledahan? Mungkin seseorang, mungkin beberapa orang?

Kalau dia atau mereka itu dari golongan si tangan panjang atau pencuri, mengapa tidak sepotong barang dan tak sepeser uangnyapun yang hilang? Kekhawatiran Sultan Hasanuddin semakin besar karena dia ber­kesimpulan bahwa siapapun manusianya yang telah memasuki kamarnya pastilah untuk mencari dan mencuri keris pusaka Tumbal Wilayuda!

Sultan Hasanuddin merasa bersyukur karena sewaktu pergi tadi dia telah membawa keris tumbal kerajaan itu. Kalau tidak pastilah senjata itu sudah lenyap dilarikan orang!

Malam itu Sultan sengaja tidur dengan mematikan lampu minyak di dalam kamarnya. Matanya hampir terpicing ketika lapat-lapat sepasang telinganya mendengar suara gemerisik di atas loteng bangunan. Suara itu pasti sekali bukan suara kucing. Sultan pasang telinganya lebih tajam. Suara gemerisik tadi lenyap dan kini dia hanya mendengar suara rintik-rintik hujan gerimis di luar sana.

Perlahan-lahan Sultan pejamkan matanya kembali. Tapi ketika hampir pulas matanya itu terpicing, suara gemerisik tadi didengarnya kembali. Kali ini Sultan bangun dari pembaringan dan melangkah kesudut kamar. Dia menunggu dengan tangan kanan menempel erat-erat di hulu pedang.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka! Sultan terkejut. Dia ingat betul bahwa pintu kamar itu telah dikuncinya tadi, bagaimana kini bisa terbuka semudah itu tanpa suara dan siapakah yang nlembukanya?! Sultan tak menunggu lebih lama. Sesosok tubuh manusia yang sangat pendek masuk mengendap-endap ke dalam. Manusia ini memakai jubah panjang.

Karena tubuhnya yang kate maka jubahnya menjela-jela sampai kelantai. Tiba-tiba orang itu putar tubuh ke kiri dan melompat. Sebuah benda besar ditangannya yaitu sebilah golok empat persegi panjang menderu ke arah dimana Sultan berdiri. Sultan sendiri yang saat itu memang sudah siap siaga cabut pedangnya dengan cepat dan menangkis!

“Trang”!

Bunga api memercik. Karena kamar itu gelap maka sinar percikan bunga api menjadi terang sekali dan menerangi kedua muka manusia yang berada disitu. Keduanya saling meneliti paras lawan masing-masing!

Terkesiaplah Sultan Hasanuddin ketika melihat bagaimana wajah manusia yang dihadapinya itu seramnya bukan main. Rambutnya kaku berdiri laksana ijuk. Manusia ini memelihara berewok yang meranggas lebat. Alisnya tebal, sepasang matanya besar merah. Bibirnya sumbing dan dua buah giginya yang besar tersembul keluar. Manusia ini boleh dikatakan tiada mernpunyai hidung karena daging hidungnya sama rata dengan pipinya yang cekung! Dan bau badannya yang busuk sangat menusuk hidung!

“Manusia buruk! Jika kau tidak tinggalkan kamar ini dengan cepat, jangan menyesal bila kukirim ke akhirat!” ancam Sultan.

Manusia bermuka seram itu tertawa dingin.

Dia hembuskan nafasnya yang busuk kemuka. Sultan tutup jalan nafas di hidung dan untuk kedua kalinya pergunakan pedang guna menangkis serangan lawan. Tapi kali ini keadaan tidak seperti tadi Iagi. Meski Sultan sanggup menangkis senjata lawan namun pedangnya sendiri terlepas mental, tangannya tergetar hebat. Tiba-tiba satu tangan mendorongnya hingga dia terbanting dengan keras ke dinding!

Ketika dia imbangi diri kembali, kaget Sultan tiada kepalang. Matanya membeliak menyaksikan bagaimana keris Tumbal Wilajuda kini sudah berada di tangan manusia bermuka seram itu!

“Maling hina dina! Kembalikan kerisku!” teriak Sultan.

Si muka buruk hamburkan tertawa mengekeh. “Masih untung aku hanya minta kerismu ini, dan bukan nyawamu!” Habis berkata begini manusia muka seram itu sekali gerakkan badan tubuhnya menerjang ke muka mendobrak jendela untuk kemudian lenyap lewat jendela yang ambruk itu dikegelapan malam!

“Pencuri terkutuk!” Sultan melesat pula ke luar jendela. Dia masih sempat melihat bayangan pencuri itu di balik sebuah gudang tua dan segera mengejar ke situ. Kejar mengejar itu berjalan hanya sebentar saja karena sejurus kemudian si pencuri lenyap seperti gaib ditelan bumi!

Sultan berdiri gemas memandang berkeliling. Ke mana dia harus mengejar dan mencari si pencuri di malam buta begini? Apakah manusia tangan panjang itu bukan salah seorang pula dari kaki tangan Parit Wulung?!

Tengah kebingungan begitu rupa tiba-tiba Sultan menangkap suara bentakan-bentakan orang yang tengah berkelahi. Cepat Sultan lari ke balik sebuah bengkel kuda dan dalam kegelapan dilihatnyalah dua manusia tengah bertempur dengan hebat. Salah seorang tiada lain dari pada si pencuri yang tengah dicari-carinya sedang orang yang kedua sesudah diperhatikan dengan teliti ternyata dia adalah pemuda rambut gondrong yang pagi tadi telah menolongnya di perbatasan.

“Sobat! Serahkan pencuri terkutuk ini padaku!” seru Sultan.

“Ah… selamat jumpa Sultan,” menjawab si rambut gondrong alias Pendekar 212.

“Tak perlu kotorkan tangan pada manusia bau bangkai ini…!”

“Dia mencuri kerisku, sobat!” memberi tahu Sultan.

“Aku tahu. Biar aku yang ringkus dia!”

Begitu mendengar si pemuda yang menyerangnya memanggil “Sultan” ‘terhadap laki­laki yang datang itu terkejutlah si mulut sumbing. Dibalik terkejut hatinya juga senang. “Ha… ha… jadi saat ini aku berhadapan dengan Sultan dan tukang pukulnya? Bagus! Kerisnya aku sudah dapat, kini Sultannya sendiri datang antarkan diri untuk ditangkap hidup-hidup. Pasti aku mendapat hadiah berlipat ganda dari Parit Wulung…”

“Hem… jadi betul dugaanku bahwa kau kaki tangannya bangsat pemberontak itu huh?! Terima pukulanku ini, pencuri hina dina!”

Sultan lepaskan tiga pukulan sekaligus! Tapi yang diserang ganda tertawa dan kebutkan lengan pakaiannya yang bertambal-tambal. Serangkum angin dahsyat rnenyerang ke arah Sultan. Namun angin pukulan itu buyar di tengah jalan, kena dihantam angin pukulan lain yang datang dari samping!

Si muka seram menggerong. “Agaknya malam ini Pengemis Bibir Sumbing musti rampas dua jiwa sekaligus!”

Sultan tersurut sewaktu mendengar manusia kate itu kenalkan diri. Pendekar 212 sendiri juga terkejut. Nama Pengemis Bibir Sumbing memang sudah sejak lama terkenal sepanjang pesisir Jawa Barat. Bersama dua orang lainnya maka Pengemis Bibir Sumbing dikenal sebagai pemegang pucuk pimpinan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam!

Tiba-tiba Pengemis Bibir Sumbing lemparkan golok besarnya ke arah Pendekar 212. Senjata ini dengan mudah bisa dielakkan. Begitu habis lemparkan golok, Pengemis Bibir Sumbing acungkan kedua tangan datar-datar ke muka dengan telapak tangan menghadap ke atas.

“Telapak tangan minta sedekah nyawa!” seru Pendekar 212 begitu dia kenali pukulan yang bakal dilancarkan lawan.

“Sultan mundurlah!” serunya kemudian memperingatkan.

Tapi disaat itu Pengemis Bibir Sumbing sudah mencelat ke muka dan membagi-bagi serangan telapak tangannya pada Pendekar 212 dan Sultan!

Tahu bahwa pukulan lawan sangat berbahaya maka Pendekar 212 segera hantamkan tangan kanannya ke muka. Gelombang angin deras memukul ke arah Pengemis Bibir Sumbing. Meski tubuhnya sendiri kemudian terpelanting sampai tiga tombak oleh serangan lawan namun Pengemis Bibir Sumbing sebelumnya masih sanggup hantamkan telapak tangannya ke dada Sultan!

Sultan Hasanuddin mengetuh tinggi. Tubuhnya bergoncang, dadanya seperti melesak. Terbungkuk-bungkuk dia berbatuk. Darah segar menyembur!

Pendekar 212 bersuit keras! Tubuhnya lenyap pada detik Pengemis Bibir Sumbing coba lepaskan pukulan “telapak tangan minta sedekah nyawa” untuk kedua kalinya.

“Sultan, cepat telan pil ini!” teriak Wiro Sableng.

Sultan Hasanuddin sambuti pil yang dilemparkan Pendekar 212 lalu menelannya dengan cepat Kemudian segera duduk bersila mengatur jalan darah serta pernafasan, juga alirkan tenaga dalam kebagian yang terluka.

Disaat Wiro Sableng berkelabat maka lenyaplah tubuhnya dari penglihatan Pengemis Bibir Sumbing. Karena hanya terdengar suaranya saja, maka Pengemis Bibir Sumbing kembali lancarkan pukulan ganas dua kali berturut-turut ke arah suara lawan. Tapi Pendekar 212 tidak bodoh dan Pengemis Bibir Sumbing salah perhitungan.

“Plaak”!

Pengemis Bibir Sumbing terpental empat tombak ke belakang. Kepalanya serasa pecah sedang kulit keningnya laksana terbakar! Dan pada kulit keningnya itu kini kelihatan tiga buah angka 212! Pengemis Bibir Sumbing meluap amarahnya. Tanpa hiraukan rasa sakitnya pada keningnya dia menerpa kemuka kirimkan lima pukulan empat tendangan! Pendekar 212 mendengus dan bersiul nyaring. Tangan kanan menghantam ke muka. Angin pukulan menderu, menyusup di antara serangan lawan!

Untuk kedua kalinya Pengemis Bibir Sumbing terpental. Kali ini sampai delapan tombak dan kali ini terus terguling ke tanah dengan mulut memuntah darah! Tamatlah riwayatnya! Sultan yang menyaksikan pertempuran hebat itu dalam sakitnya leletkan lidah penuh kagum!

Pendekar 212 mendekati mayat Pengemis Bibir Sumbing, memgambil keris Tumbal Wilayuda lalu menyerahkan kemhali pada Sultan.

“Keris pusaka bagus! Karena senjata ini banyak yang ingini, sebaiknya disimpan lebih hati-hati, Sultan.”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (6)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.