Senin, 05 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (4)

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

“Syukurlah..,” desis Mangkubumi Mintra. “Aku yakin di bawahmu Kerajaan Banten yang syah akan bisa ditegakkan kembali…”

Sultan Hasanuddin mengangguk. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi tak jadi karena dilihatnya orang tua itu memalingkan kepalanya kepada pemuda yang telah menolongnya.

“Pendekar muda… aku gembira kau datang. Lebih gembira lagi karena kau telah berhasil menyelamatkan Sultan. Tuhan kelak akan membalas jasamu yang besar ini…” Orang tua itu terhenti bicaranya sejenak. Agaknya dia tengah mengumpulkan tenaga baru dari sisa-sisa tenaganya yang terakhir. Lalu mulutnya terbuka kembali.

“Yang pasti adalah, bila takhta Banten telah kembali pada pemiliknya yang syah, maka Kerajaan dan rakyat Banten tak akan melupakan pertolongan atau jasamu ini…”

Pendekar 212 coba tersenyum. Dia tahu bahwa keadaan orang tua itu tak mungkin lagi untuk ditolong. Maka berkatalah dia. “Menyesal orang tua, aku tak bisa berbuat sesuatu apa dengan lukamu…”

“Ah diriku yang sudah rongsokan ini tak perlu diambil peduli. Aku gembira menemui kematian dengan cara begini rupa… Gembira karena di saat menjelang kematian ini aku telah dapat melihat sinar terang bahwa Banten pasti akan kembali kepada pewarisnya yang syah…”

Mangkubumi memutar matanya pada Sultan Hasanuddin. Mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu namun malaekat maut meminta nyawanya lebih dahulu. Air mata menggenang di kedua mata Sultan Hasanuddin. Digigitnya bibir sendiri untuk menahan keluarnya suara isakan.

Tiba-tiba kening Pendekar 212 kelihatan mengerenyit. Kepalanya diputar ke jurusan timur. “Ada apa…?” tanya Sultan yang saat itu masih belum mendengar suara apa-apa.

“Cecunguk-cecunguk pemberontak itu kurasa…” ujar Pendekar 212.

Beberapa ketika kemudian barulah Sultan mendengar suara derap kaki kuda yang banyak sekali, mendatangi ke arah di mana mereka berada saat itu. Disusul beberapa saat lagi maka diantara pohon-pohon dan semak-semak belukar tinggi kelihatanlah kira-kira dua puluh prajurit pemberontak yang dipimpin oleh seorang berselempang kain putih bermuka sangat hitam dan berambut gondrong acak-acakan. “Sultan, tinggalkan tempat ini cepat!”

“Tidak bisa sobat! Mangkubumi Mintra terbujur begini rupa dan adalah pengecut sekali meninggalkan kau seorang diri. Apalagi kau adalah tuan penolongku !” membantah Sultan ketika dia diminta pergi. “Ini bukan soal pengecut Sultan! Yang penting adalah keselamatan dirimu dan keselamatan keris Tumbal Wilayuda yang ada di tanganmu.”

Tentu saja Sultan Hasanuddin menjadi kaget mendengar ucapan Pendekar 212. Sewaktu pertama kali pemuda itu memanggilnya dengan sebutan “Sultan” dia telah terkejut dan kini bahkan dia mengetahui pula bahwa keris Tumbal Wilayuda berada di tangannya!

Sementara itu rombongan penunggang-penunggang kuda semakin dekat. Wiro Sableng atau Pendekar 212 berkata lagi. “Pergilah cepat sebelum terlambat! Soal jenazah orang tua ini aku yang akan urus. Selama gunung masih hijau, kelak kita akan bertemu kembali!”

Mendengar itu dan lagi memang tak ada lain hal yang bisa diperbuatnya maka Sultan Hasanuddin segera tinggalkan tempat itu.

Begitu dia lenyap di balik semak-semak maka dua puluh prajurit pemberontak di bawah pimpinan si muka hitam sampai di tempat itu. Dia memberi isyarat. Prajurit-prajurit menyebar. Dan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 kini terkurung di tengah lingkaran dua puluh prajurit bersenjata lengkap, di bawah pimpinan seorang tokoh silat yang kosen!

~ 3 ~

DIKURUNG begitu rupa Pendekar 212 tetap tenang-tenang saja seperti saat itu cuma dua sendirian saja berada di situ. Si muka hitam yang tak lain Resi Singo Ireng kaki tangan Parit Wulung adanya, menyapu tebaran-tebaran mayat di hadapannya dengan pandangan sedingin salju. Yang agak mengherankan Resi muka hitam ini ialah mengapa di antara mayat-mayat pasukan Parit Wulung juga terdapat mayat Mangkubumi Mintra.

Tak mungkin si pemuda rambut gondrong itu yang telah menebar mayat kecuali jika dia mempunyai dendam kesumat terhadap kedua belah pihak yaitu pihak pasukan dan Mangkubumi Mintra. Disamping itu dengan adanya mayat si orang tua tergeletak di situ, pastilah sebelumnya Sultan Hasanuddin juga berada di situ! Singo lreng memang berpikiran tajam. Melihat kepada pakaian Mangkubumi Mintra tahulah dia bahwa penasihat istana itu berusaha melarikan diri dari Banten dengan menyamar sebagai pengemis!

“Mana Sultan?” bertanya Singo Ireng derrgan suara lantang kasar.

Pendekar 212 tidak menjawab. Malahan dia memandang seperti tiada melihat apa-apa berada-disekelilingnya saat itu! Dia menengadah ke atas memperhatikan matahari yang menaik tinggi.

Melihat sikap yang sangat menghina ini, apa lagi di hadapan sekian banyaknya prajurit tentu saja Resi Singa Ireng menjadi sangat penasaran serta malu. Mukanya yang hitam kelihatan semakin tambah hitam. “Bocah gondrong! Apa kau tuli atau gagu? Orang bertanya tidak dijawab?!”

Pendekar 212 masih tidak menyahut. Malah kini jari-jari tangan kirinya mencungkil­cungkil tepi lubang hidungnya kemudian dia berbangkis dua kali berturut-turut!

“Keparat!” bentak Singo Ireng dengan-suara menggeledek.

“Eeeeh… kau memaki pada siapakah?!” bertanya Pendekar 212 sambil putar kepala seperti baru saat itu disadarinya bahwa dia tidak berada sendirian di tempat itu!

“Prajurit-prajurit! Tangkap bocah edan ini perintah Resi Singo Ireng dengan geramnya.

Maka dua puluh prajurit pemberontak melompat turun dari kuda masing-masing, hunus senjata dan bergerak cepat mendekati Pendekar 212.

“Bergundal pemberontak,” berseru Wiro Sableng atau Pendekar 212. “Kalau kau ingin tangkap aku mengapa tidak turun tangan sendiri?!”

Di saat itu dua puluh prajurit sudah menyerbu untuk menangkap Pendekar 212.

“Kalian kunyuk-kunyuk pemberontak hanya datang minta digebuk!” ujar Pendekar 212 dengan tersenyum. Tapi bila senyumnya itu putus maka mengumandanglah bentakan dahsyat.

Lima prajurit yang paling dekat dan hendak turun tangan menangkapnya terpelanting dan bergetimpangan di tanah tiada nyawa lagi!

Tersiraplah darah Resi Singo Ireng! Tiada disangkanya pemuda gondrong bertampang bodoh itu mempunyai kehebatan demikian rupa! Maka berserulah dia! “Tak perlu budak hina dina ini ditangkap hidup-hidup. Cincang di tempat!”

Maka lima belas senjata tajam berkiblat ke arah Pendekar 212.

“Heiyaaah !”

Tubuh Siro Sableng mencelat tiga tombak ke atas, Seluruh serangan senjata lawan lewat di bawah kakinya. Detik senjata-senjata itu menderu memapas angin kosong maka detik itu pula dengan kecepatan yang hampir tak sanggup disaksikan oleh mata Pendekar 212 menukik ke bawah merampas pedang salah seorang prajurit. Dan ketika pedang itu menderu laksana kitiran maka lima prajurit meregang nyawa mandi darah, dua lainnya luka parah!

Dalam kejutnya menyaksikan gebrakan yang dahsyat itu Resi Singo Ireng melihat satu bayangan berkelebat ke arahnya. Dia tarik tali kekang kuda dengan cepat. Namun sebelum binatang tunggangannya itu sempat bergerak, tubuh kuda ini sudah angsrok ke tanah! Keempat kakinya terbabat putus. Binatang ini berguling di tanah melejang-lejangkan kakinya yang buntung dan meringkik tiada henti! Untung saja Resi yang kosen ini Cepat menyadari apa yang terjadi sehingga lekas-lekas dia melompat ke samping dan berdiri dengan muka kelam membesi, mata menyorot!

Pendekar 212 tertawa gelak-gelak sementara prajurit-prajurit yang masih hidup dengan nyali menciut segera menjauhi ini pemuda yang dianggap mereka sangat berbahaya.

“Pemuda gondrong! Kehebatanmu cukup untuk dikagumi! Tapi bila kau tahu dengan siapa saat ini berhadapan, maka lekaslah berlutut minta ampun!” berkata Singo Ireng.

“Uh! Sama manusia jelek macam kau buat apa perlu takut!” ujar Wiro Sableng dan tawanya semakin menjadi-jadi!

“Ah… kalau begitu kau sebutkanlah nama! Terhadap manusia-manusia yang punya sedikit ilmu, aku tidak begitu senang jika membunuhnya tanpa tahu namanya terlebih dahulu!”

“Kalau butuh namaku aku tak keberatan. Majulah biar kutulis dijidatmu!” kata Wiro Sableng pula sambil acungkan jari telunjuk!

Menggeramlah sang Resi bermuka hitam itu. Selama dunia terbentang, selama malang melintang dalam dunia persilatan, baru hari itulah dia dihina dan direndahkan terus-terusan oleh seseorang! Oleh seorang yang berusia jauh lebih muda dari padanya. Dari balik pakaian Resi ini keluarkan sebuah senjata berbentuk aneh yaitu sebuah besi panjang yang ujungnya berbentuk Iingkaran.

“Kalau kau punya senjata pusaka, sebaiknya lekas keluarkan supaya mampus tidak rnenyesal!”

“Tak perlu banyak cerewet!” semprot Pendekar 212. “Majulah! Senjataku cukup pedang butut milik cecungukmu yang sudah mampus itu!”

Resi Singo Ireng yang berbadan kate ini segera maju dan hamburkan serangan dahsyat. Senjata anehnya mengeluarkan suara menderu, menimbulkan angin yang deras dan tajam. Ujung senjata yang berbentuk lingkaran itu berubah laksana ratusan banyaknya!

Sekarang lawan yang berilmu tanggung dan bermata tidak awas akan sulit membedakan mana lingkaran senjata yang asli dan mana yang bukan. Dalam lawan kebingungan maka senjata itu akan menyeruak lewat kepalanya dan sekali putar saja pastilah patah dan putus batang leher dibuatnya! Inilah kehebatan senjata sang Resi dari pantai selatan itu!

Namun yang dihadapi Singo Ireng dihari itu bukanlah seorang lawan berilmu tanggung, bukan seorang pemuda yang hanya mengenal sejurus dua ilmu silat! Begitu senjata lawan membadai menghampiri kepalanya, Wiro Sableng cepat merunduk dan selinapkan satu tusukan deras kearah perut sang Resi!

Kaget Singo Ireng bukan olah-olah! Cepat dia undur dua langkah dan papasi pertengahan senjata lawan dengan tongkat besi lingkarannya.

“Trang”!

Dua senjata beradu.

Karena senjata ditangan Singo Ireng adalah senjata mustika sedang pedang ditangan Wiro hanya pedang biasa maka patahlah pedang itu! Tapi sebaliknya Singo Ireng merasakan bagaimana tangannya tergetar hebat dan panas pada bentrokan itu! Maklumlah dia bahwa pemuda itu mempunyai tingkat tenaga dalam yang hebat sekali!

Karenanya sang Resi tanpa memberi peluang segera lancarkan serangan-serangan dahsyat! Sengaja dikeluarkannya jurus-jurus yang hebat yaitu jurus “memetik bunga membelah buah” lalu disusul dengan jurus “delapan gunung meletus gegap gempita”! Diserang dengan dua jurus ini berikut pecahan-pecahannya yang tak kalah dahsyat maka Pendekar 212 menjadi repot juga.

Namun bila dia sudah mempercepat gerakannya, bila suara siulan sudah menggema melesat dari sela bibirnya maka kelihatanlah kini bagaimana Resi Singo Ireng menjadi terdesak. Meski terdesak, Resi ini dengan segala kelihayannya sanggup pertahankan diri sampai sepuluh jurus dimuka!

“Manusia bermuka jelek! Permainan silatmu baleh juga. Tapi apa kau sanggup menerima pukulanku ini?!” tanya Pendekar 212. Kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas, kedua mata dipejam. Kemudian kedua tangan itu mulai berputar-putar dengan sebat! Maka menggemuruhlah suara angin. Debu dan pasir beterbangan, membuat gelap pemandangan!

“Pukulan angin puyuh!” seru Resi Singo Ireng sambil bersurut mundur. Mulutnya komat kamit membaca aji penangkis. Kedua kakinya melesak kedalam tanah sampai dua dim! Tubuhnya tergetar hebat. Pakaian putih serta rambutnya yang awut-awutan berkibar-kibar!

Tiba-tiba Pendekar 212 Wiro Sableng hantamkan kedua tangannya kemuka. Tubuh Singo Ireng mencelat kebelakang sampai lima tombak. Ketika dia berdiri maka tubuhnya terbungkuk tertatih-tatih, hidungnya kembang kempis tanda nafasnya memburu tak teratur. Nyatalah bahwa Resi kosen ini telah menderita luka parah didalam akibat pukulan Wiro Sableng tadi. Senjatanya mental entah kemana! Wiro tertawa mengekeh.

Sebaliknya lawannya menggeram laksana harimau terluka. Mulut terkatup rapat-rapat, rahang bertonjolan, pelipis bergerak-gerak sedang mata menyorot merah!

“Pemuda, hari ini aku Resi Singo Ireng biarlah mengadu jiwa pada kau!” Sang Resi angkat tangan kirinya tinggi-tinggi. Detik demi detik tangannya itu menjadi hitam legam. Tangan ini bergetar karena seluruh tenaga dalamnya dipusatkan kesitu!

Wiro Sableng tertawa mengejek. “Rupanya kau sengaja mau bunuh diri manusia kate bertampang jelek! Dalam keadaan terluka di dalam, melancarkan pukulan demikian rupa kau akan konyol sendiri!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (5)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.