Senin, 05 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (3)

 Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

“Keris itu pasti dibawa kabur oleh Sultan Hasanuddin!” kata Resi Matjan Seta pula.

“Mungkin, tapi mungkin pula dicuri atau dilarikan oleh seorang lain!”

Singo Ireng mengetengahi. “Tanpa keris Tumbal Wilayuda itupun tak akan seorang yang bisa menolak penobatanmu sebagai Raja Banten, Parit Wulung! Kecuali kalau mereka mau terima nasib digerogoti cacing di liang kubur!”

“Soal itu aku tak khawatir. Tapi dalam hal ini kita berhadapan dengan rakyat. Rakyat hanya akan mengakui aku sebagai raja, bila keris Tumbal Wilayuda ada di tanganku!”
“Kenapa ambil pusing dengan rakyat?,” tukas Singo Ireng. Mereka mau terima atau tidak, mereka mau mampus sekalipun, kita tak perlu ambil peduli! Rakyat tidak lebih dari domba-domba yang bisa kita halau sesuka hati !”

“Tapi, disamping itu keris Tumbal Wilayuda adalah satu senjata sakti dan keramat…,” ujar Parit Wulung.

“Sakti aku percaya, tapi kalau dikatakan keramat itu adalah takhyul!” menyahut Singo Ireng. Parit Wulung tak berkata apa-apa namun dalam hati dia merasa tidak senang. Maka berkatalah dia. “Aku minta pada kalian, terutama Resi Matjan Seta dan Singo Ireng untuk mencari Sultan dan menemukan keris Tumbal Wilayuda itu sampai dapat!”

Singo Ireng mengunyah anggurnya lambat-lambat lalu berkata. “Ini tak termasuk dalam hitungan kita Parit Wulung. Tempo hari kau hanya minta aku dan kakakku membantu pemberontakan sampai terlaksana. Kini Banten sudah jatuh dan berada di tangamu, perjanjian kita beres dan kami sudah saatnya menerima balas jasa!”

“Mengenai soal balas jasa Resi berdua tak usah cemas, kalian berdua boleh membawa segala harta kekayaan apa saja dari Banten ini sebanyak yang kalian bisa bawa. Tapi bila kalian bersedia pula membantu mencari dan menangkap Sultan serta menemukan keris pusaka Tumbal kerajaan itu, maka bagian kalian tentu akan lipat ganda !”

Singo Ireng manggut-manggut. “Baiklah,” katanya. “Soal harta aku tidak begitu temahak. Tapi setiap perempuan cantik di Banten ini adalah milikku!”

~ 2 ~

HARI itu adalah hari kedua sesudah jatuhnya takhta kerajaan Banten ke dalam tangan kaum pemberontak pimpinan Parit Wulung. Suasana di Kotaraja yang sehari sebeIumnya senantiasa diliputi kepanikan kini mulai mereda. Namun di mana-mana kelihatan berkeliaran tentara-tentara pemberontak sedang di setiap tempat yang dianggap penting terutama di sepanjang perbatasan senantiasa dijaga ketat oleh tentara.

Pagi itu, pagi ketiga dari berkuasanya kaum pemberontak kelihatanlah dua orang berjalan kaki. Yang satu sudah tua dan terbungkuk-bungkuk. Yang satu lagi masih muda. Keduanya mengenakan pakaian bertambal-tambal serta kotor. Kulit badan dan muka merekapun coreng moreng dan rambut awut-awutan.

Dari keadaan kedua orang ini, sepintas lalu saja orang segera berkesimpulan bahwa mereka adalah pengemis-pengemis. Dan setiap orang yang memapasi mereka tentu saja tak akan mau ambil peduli! Namun siapa nyana kalau kedua orang ini adalah dua orang penting yang tengah dicari oleh Parit Wulung dan pentolan­pentolan pemberontak lainnya!

Yang tua adalah penasehat istana yaitu Mangkubumi Mintra sedang yang masah sangat muda tiada lain daripada Sultan Banten sendiri yakni Hasanuddin! Sewaktu maletusnya pemberontakan, sewaktu istana sudah dikepung, dengan melalui jalan rahasia kedua orang ini telah berhasil menyelamatkan diri. Dan bukan keselamatan mereka saja yang penting, tapi keduanya juga berhasil menyelamatkan keris pusaka tumbal kerajaan yaitu keris Tumbal Wilayuda, keris yang menjadi lambang dan ketentuan bahwa siapa pemiliknya maka dialah pewaris syah dari takhta kerajaan Banten. Dan juga keris inilah yang pula dicari-cari oleh Parit Wulung bersama pemberontak-pemberontak lainnya!

Masing-masing mereka sama membawa buntalan kecil. Sebenarnya baik Mangkubumi Mintra maupun Sultan Hasanuddin adalah orang-orang yang berkepandaian silat dan kelas tinggi. Namun menghadapi sekian banyak pemberontakan dan demi untuk menyelamatkan keris tumbal kerajaan, keduanya memutuskan dengan terpaksa dan berat hati untuk mengundurkan diri.

Demikianlah, dengan menyamar kedua orang itu meninggalkan Kotaraja. Matahari pagi masih belum sanggup memupuskan butiran-butiran embun di daun-daun, namun panasnya terasa sudah memerihkan kulit kedua orang itu. Mereka berhasil melewati pintu gerbang Kotaraja tanpa halangan sesuatu apa meski pintu gerbang itu dijaga ketat oleh duapuluh orang prajurit.

Si orang tua Mangkubumi Mintra menarik nafas lega demikian juga Sultan. Namun penasehat tua ini kemudian berkata dengan perlahan. “Kita masih jauh dari selamat, Sultan. Cuma satu pesanku, bila terjadi apa-apa yang tak diingini kau lekaslah menghindar dan lari ke tempat keluarganya Wirya Pranata di Ujung Kulon…”

Si pemuda anggukkan kepala. Namun pada parasnya kelihatan sekelumit rasa jengah yang memerahkan kedua pipinya yang kotor itu. lni suatu pertanda bahwa ada sesuatu hubungan antara dia dengan keluarga Wirya Pranata di Ujung Kulon itu.

Pemuda atau Sultan menghela nafas lagi. “Mudah-mudahan saja kita bisa terus selamat, bapak Mangkubumi,” katanya.

“Memang itulah yang kita harapkan. Semoga Tuhan melindungi kita” Mereka mendekati perbatasan kini. Di sepanjang perbatasan dijumpai prajurit yang mengawal semakin banyak. Keduanya diperiksa oleh beberapa orang prajurit. Bungkusan masing-masing digeledah. Untunglah Sultan Hasanuddin telah menyembunyikan keris Tumbal Wilayuda di dalam lipatan pakaiannya yang dikenakannya saat itu! Dan kedua orang inipun selamat pula dari pemeriksaan. Mereka bergegas menjauhi perbatasan.

“Aman sekarang…” kata Sultan Hasanuddin. Tapi baru saja dia habis berkata begitu maka muncullah serombongan pasukan berkuda. Pimpinan rombongan, seorang perwira pemberontak lambaikan tangan memberi isyarat berhenti pada anak-anak buahnya. Perwira ini membawa kudanya ke hadapan kedua orang tersebut.”

“Pengemis-pengemis hina dina!” bentak perwira itu. “Apa kalian lihat dua orang pelarian melintas di sini? Keduanya adalah Mangkubumi Mintra penasihat istana dan Sultan Hasanuddin” Sambil bertanya begitu mata sang perwira menyorot meneliti kedua orang di hadapannya.

Si orang tua menjawab. “Tak satu orangpun yang kami lihat, Yang mulia…”

Jawaban yang hormat dan mempergunakan tutur kata yang halus tinggi dari si orang tua mencurigakan sang perwira. Biasanya pengemis-pengemis macam mereka bicara dalam bahasa rendahan. Maka, terbitlah sekelumit kecurigaan di hati perwira itu. “Kami akan geledah kalian!” katanya.

“Ah… kami hanya pengemis-pengemis yang hina dan terlantar. Apa untungnya menggeledah kami?”

“Memang tak perlu menggeledah manusia-manusia ini raden,” berkata seorang prajurit yang berada di samping sang perwira. “Hanya akan mengotorkan tangan saja! Bau mereka sangat menusuk hidung!”

Si perwira memang menganggap betul katakata bawahannya itu. Tapi bila sepasang matanya yang tajam melihat bagaimana telapak dan jari-jari tangan kedua orang yang dihadapannya sangat halus, bukan seperti tapak dan jari-jari tangan yang biasa dilihatnya pada diri pengemis-pengemis maka memerintahlah dia. “Tangkap manusia-manusia hina dina ini!”

Mangkubumi Mintra yang tahu bahwa penyamamaran mereka pasti akan terbuka, tanpa membuang waktu segera maju ke muka dan berkata “Kalian keterlaluan, manusia-manusia macam kamipun masih hendak kalian ganggu!” Bentakan ini, adalah juga terdorong rasa dendam kesumat terhadap kaum pemberontak.

“Kurang ajar kau berani bicara kasar terhadapku huh!” dengus perwira itu dan segera hunus pedangnya sementara setengah lusin bawahannya segera mengurung mereka.

Mangkubumi Mintra tidak tinggal diam. Dari balik pakaian pengemisnya dikeluarkannya sebilah pedang.

“Hemm… bagus! Sekarang lebih jelas siapa kau adanya kunyuk tua hina-dina!”

Perwira itu tetakkan pedangnya ke kepala Mangkubumi Mintra. Si orang tua membentak nyaring dan mundur beberapa langkah sementara enam prajurit lainnya begitu cabut pedang masing-masing segera pula menyerbu.

Mangkubumi Mintra putar pedang dengan deras. Sinar pedang bergulung-gulung. Trang… trang… trang… trang Terdengar suara beradunya pedang susul menyusul! Waktu pedangnya beradu dengan pedang prajurit-prajurit, Mangkubumi Mintra tak terasa suatu apa, tapi ketika membentur senjata sang perwira maka terkejutlah orang tua itu. Tangannya tergetar keras. dan panas! Mangkubumi Mintra mengeluh. Nyatanya sang perwira mempunyai kepandai­an tingkat atas!

Maka berserulah Mangkubumi Mintra pada Su1tan Hasanuddin. “Sultan larilah selamatkan diri. Biar aku yang hadapi bergundal-bergundal pemberontak ini!”

“Tidak!” jawab Sultan Hasanuddin. “Mati hihidup kita berdua, bapak!”

“Jangan bodoh Sultan! Lari kataku!” Si orang tua putar pedangnya lebih sebat. Seorang lawan yang mengurung menjerit keras dan melompat nanar dengan dada robek dimakan ujung pedang!

“Keparat!” maki perwira pemberontak. Dia melompat dari kudanya. Sambil melompat, laksana seekor alap-alap dia mengirimkan serangan ganas.

Pedangnya menderu memepas ke arah batang leher Mangkubumi Mintra. Di saat itu si orang tua sedang menangkis serangan seorang prajurit. Tangkisan ini terpaksa dibatalkannya dengan melompat dan sebagai gantinya pedangnya diputar untuk menangkis pedang si perwira! Tapi si perwira rupanya memiliki ilmu pedang dari Cabang Pantai Selatan yang terkenal tangguh karena dengan tak terduga dan sangat cepat sekali serangan yang tadi merupakan satu tebasan dengan tiba-tiba sekali berubah menjadi satu tusukan tajam dan cepat!

Si perwira tertawa mengekeh. Itulah jurus mematikan dari ilmu pedang yang dianutnya, yang dinamakan jurus “menabas gunung menusuk bukit!”

Tentu saja tangkisan Mangkubumi Mintra tidak mempunyai arti apa-apa. Orang tua ini cepat rubah posisi senjatanya namun sia-sia karena ujung pedang lawan lebih dahulu menghunjam di dadanya! Maka terdengarlah keluhan mengerikan dari tenggorokan orang tua malang itu.

Di saat itu, Sultan Hasanuddin sudah berhasil ke luar dari kurungan prajurit-prajurit pemberontak dan meskipun hatinya berat namun dia terpaksa melarikan diri, bukan saja untuk menyelamatkan diri sendiri, tapi juga menyelamatkan keris pusaka Tumbal Wilayuda demi untuk menegakkan kembali kelak Kerajaan Banten! Namun sewaktu telinga mendengar keluhan Mangkubumi Mintra, Sultan hentikan lari dan putar badan. Maka naik pitamlah dia ketika me­nyaksikan bagaimana orang tua itu tersungkur di tanah bermandikan darah.

“Pemberontak-pemberontak durjana! Aku mengadu jiwa dengan kalian!” seru Sultan Hasanuddin. Dia menyerbu ke muka namun belum lagi dia melancarkan serangan maka terdengarlah suara mengaung seperti suara tawon. Enam benda putih aneh dan berbentuk bintang yang berkilauan melesat deras ke arah pemberontak-pemberontak. Lima prajurit pemberontak coba hindarkan diri atau menangkis benda itu namun tiada ampun! Kelimanya menjerit keras, rebah ke tanah, kelojotan seketika lalu kaku tegang tiada nyawa!

Perwira pemberontak dalam terkejutnya dan dengan kepandaiannya yang lebih tinggi pergunakan pedang untuk memapaki benda bintang berkilau itu.

“Trang!”

Tampang perwira itu menjadi pucat. Pedangnya memang bisa membuat mental benda maut yang menyerangnya namun senjatanya sendiri putung dua dihantam benda tersebut!

Baik sang perwira maupun Sultan Hasanuddin serentak putar kepala ke arah atas pohon besar dari arah mana datangnya senjata-senjata rahasia tadi.

“Iblis keparat di atas pohon turunlah! Jangan sembunyikan diri!” bentak sang perwira.

Sebagai jawaban terdengar suara tertawa bergelak kemudian sesosok tubuh dengan entengnya melayang turun ke tanah dari atas pohon besar itu. Nyatanya dia adalah seorang pemuda bertampang keren dan berambut gondrong. Umurnya mungkin tiada banyak beda dengan Sultan sendiri. Saat itu bajunya tiada terkancing dan angin yang bertiup agak kencang menyibak-nyibakkan baju putihnya sehingga jelaslah kelihatan angka 212 tertera di dada kanannya Pendekar 212.

Melihat si pemuda ini menghadapinya dengan tertawa mengejek demikian rupa maka membentaklah perwira tadi. “Rupanya kau masih belum tahu dengan siapa berhadapan! Masih belum tahu apa akibat campur tanganmu dalam uru…”

Ucapan sang perwira cuma sampai di situ. Hampir tak kelihatan Pendekar 212 telah gerakkan tangan dan lemparkan bintang 212 ke arah perwira pemberontak yang sedang bicara itu. Maka “heggg,” terdengarlah suara tercekik dari rangkungan si perwira ketika senjata rahasia 212 dengan tepatnya masuk ke dalam mulut. Senjata rahasia itu lenyap dan darah segera muncrat ke luar dari mulut sang perwira. Nasibnya kemudian tidak beda dengan nasib bawahannya yang terdahulu!

Sultan Hasanuddin segera dekati Pendekar 212. “Saudara, kau telah tolong. Aku…”

Pendekar 212 memberi isyarat. Dia melangkah cepat dan membungkuk di hadapan Mangkubumi Mintra. Ternyata orang tua itu masih bernafas satu-satu. Mulutnya bergerak-gerak.

“Sultan… mungkin dia mau bicara padamu,” memberi tahu Pendekar 212 atau Wiro Sableng. Mendengar itu Sultan Hasanuddin segera pula berlutut di samping tubuh si orang tua Mangkubumi Mintra dengan sisa-sisa tenaga yang ada buka kedua matanya yang berbinar-binar. Bila pandangannya menyentuh paras Sultan Hasanuddin maka tersenyumlah dia.

“Sultan, kau tak apa-apa…?”

“Tidak bapak…” Sultan membelai rambut orang tua itu dan menyeka keringat di keningnya. Keringat dan kening itu sangat dingin seperti es.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (4)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.