Senin, 05 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (2)

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

“Resi Singo Ireng, Resi Matjan Seta dan saudara-saudara Karma Dipa, Djuapasuta. Kalian lihat sendiri, berkat kerjasama kita maka apa yang kita rencanakan telah berhasil. Kini Banten adalah milik kita bersama. Namun ada beberapa hal yang mengecewakan dilaporkan oleh seorang perwira penghubung pihak kita. Sultan Hasanuddin lenyap tak diketahui ke mana perginya. Kemungkinan besar bersama penasihat tua Mangkubumi Mitra karena orang tua inipun tak diketahui di mana dia berada saat ini…”

Sampai di situ maka Karma Dipa buka suara. “Kalau mereka hendak melarikan diri dari Banten adalah mustahil. Seluruh perbatasan dijaga ketat oleh prajurit-prajurit kita!”

“Itu betul sekali,” jawab Parit Wulung. “Disamping orang-orang kita terus melakukan penyelidikan atas jejak kedua orang itu maka kita juga telah menangkap tiga orang yang diduga keras mengetahui di mana bersembunyinya Sultan!”

Parit Wulung bertepuk tiga kali. Pintu ruangan perundingan terbuka. Seorang pengawal masuk. “Bawa ke sini Said Ulon !” kata Parit Wulung pada pengawal itu.

Pengawal ke luar dengan cepat. Sesaat kemudian masuk lagi bersama seorang kawannya membawa seorang laki-laki tua berambut putih. Dialah Said Ulon, kepala rumah tangga istana. Kedua pengawal ke luar lagi.

“Said Ulon, kau tahu dimana Sultan sembunyi, bukan?!” ujar Parit Wulung.

Orang tua itu memandang ke muka sebentar. Hatinya geram sekali melihat tampang Parit Wulung. Dua orang anaknya telah menjadi korban akibat pemberontakan manusia itu. Seperti hendak ditelannya bulat-bulat tubuh Parit Wulung saat ini. Kedua tangannya berusaha melepaskan ikatan tali tapi tak berhasil.

Melihat ini Parit Wulung segera berkata. “Jangan khawatir, kau akan kulepaskan dan kujamin keselamatanmu bila memberi keterangan di mana Sultan berada…!”

“Ya… memang aku tahu…” berkata Said Ulon.

“Haaaa…” Parit Wulung tertawa lebar. “Di mana?” tanyanya.

Orang tua itu maju ke hadapan Parit Wulung. “Di sini,” katanya. Dan habis mengucapkan perkataan itu maka diludahinya muka Parit Wulung!

“Jahanam hina dina!” suara Parit Wulung menggeledek.

“Sret!” Pedangnya dicabut dan “cras!” maka putuslah leher Said Ulon. Kepalanya menggelinding di lantai tepat di muka pintu. Darah muncrat membasahi permadani yang menutupi sebagian dari lantai ruangan!

Resi Matjan Seta tertawa mengekeh melihat peristiwa itu.

Karma Dipa berkata dengan suara datar. “Seharusnya kita tak perlu membunuh sekaligus manusia itu, Parit Wulung. Kita bisa siksa dia sampai mengaku di mana adanya Sultan Hasanuddin!”

Parit Wulung tak menjawab. Noda darah dipedangnya disapukannya kepakaian Said Ulon lalu dimasukkannya ke dalam sarungnya kembali. Kemudian Parit Wulung bertepuk lagi tiga kali.

Pintu terbuka. Pengawal yang masuk tergagau melihat adanya kepala manusia di muka pintu. “Bawa masuk tukang kuda itu!” kata Parit Wulung.

Tak lama kemudian pengawal membawa masuk seorang pemuda bermuka pucat pasi. Baik Parit Wulung maupun pemuda ini sebelumnya sudah saling mengenal.

“Siman Tjonet, kau lihat mayat dan kepala di lantai itu?!”

Siman Tjonet si tukang urus kuda-kuda milik istana mengangguk.

“Tentunya kau tak ingin bernasib demikian, bukan? Nah coba terangkan di mana Sultan bersembunyi…!”

“Aku tak tahu…”

“Ah kau musti tahu. Mungkin sekali Sultan telah melarikan diri bersama beberapa orang dengan menunggangi kuda. Betul…”

“Aku tidak tahu...” jawab Siman Tjonet lagi seperti tadi.

Maka marahlah Parit Wulung. “Dengar Siman…” desisnya. “Aku tahu bahwa beberapa bulan di muka kau akan kawin. Kalau kau tetap ingin merasakan kenikmatan perkawinanmu itu, cepat beri tahu di mana Sultan berada…”

“Kalau kau kasih keterangan…,” menyambung Djuanasuta, “kami akan berikan uang serta perhiasan! Kau akan beruntung seumur hidup…”

“Aku tidak tahu…”

“Betul-betul tidak tahu…?!”

“Kalaupun tahu aku tidak akan kasih keterangan pada bergundal pemberontak dan pengkhianat macam kau!”

Parit Wulung tertawa buruk. Pelipisnya bergerak-gerak. Tangan kanannya bersitekan pada hulu pedang. “Jangan jadi orang tolol Siman Tjonet!” berkata Karma Dipa sementara Resi Matjan Seta dan adiknya asyik-asyik makan buah anggur yang terhidang di atas meja. “Bicaralah, kau akan selamat dan jadi orang kaya!”

Siman Tjonet diam saja.

“Agaknya kau lebih suka mati daripada hidup senang. Siman…?” tanya Parit Wulung.

“Disangkanya kalau dia mati akan masuk surga dan ketemu bidadari!” berkata Resi Matjan Seta sambil tertawa dan mengunyah buah anggur dalam mulutnya.

“Aku masuk surga atau tidak itu bukan urusan kalian! Sebaliknya kalian semua kelak akan menjadi puntung api neraka!” jawab Siman Tjonet dengan beraninya.

“Wah… kau benar-benar tidak takut mati, anak muda. Tapi bagaimana kalau sebelum mati aku siksa kau lebih dahulu, heh?!”

“Kalian boleh siksa aku tapi di mana Sultan berada tetap kalian tak bisa tahu!”

“He… he… he...” Resi Matjan Seta berdiri dari duduknya. Mulutnya masih mengunyah buah anggur. Dia melangkah ke hadapan Siman Tjonet, Tangan kanannya diletakkannya di atas kepala pemuda itu.

“Manusia bermuka setan, pergi!” hardik Siman Tjonet. Pemuda ini pergunakan kaki kanannya untuk menendang tulang kering Resi Matjan Seta. Tapi aneh! Kedua kakinya terasa sangat berat dan sukar digerakkan. Sementara itu kepalanya yang dipegang terasa panas bukan main. Disamping panas kepalanya juga terasa seperti dicucuki oleh ratusan jarum! Dari kepala rasa sakit menjalar ke sekujur tubuh si pemuda.

Pemuda ini merintih kesakitan. Bila rasa sakit tak tertahankan lagi maka mulailah dia menjerit-jerit setinggi langit. Betapa mengerikan suara jeritan itu terdangarnya. Peluh dingin membasahi seluruh tubuh Siman Tjonet.

“Masih belum mau bicara?!” bentak Parit Wulung.

“Pengkhianat terkutuk! Pembalasan akan datang untuk kalian semua!”

“Bikin mampus dia Resi Matjan Seta!” perintah Parit Wulung.

Sang Resi mengekeh, telapak tangannya semakin keras menekan batok kepala pemuda tukang kuda. Asap mengepul dari telapak tangan laki-laki sakti itu.

Jeritan Siman Tjonet terdangar semakin keras dan berubah menjadi suara erangan. Dari telinga, dari mata dan dari lubang hidung serta mulutnya mengalir darah kental. Kedua lututnya terlipat dan sesaat kemudian tubuh pemuda itu terhempas ke lantai, nyawanya lepas! Resi Matjan Seta mengekeh lagi!

Dan Parit Wulung bertepuk lagi. Maka tawanan yang ketigapun dibawa masuklah. Tawanan ini ternyata seorang perempuan muda berparas rupawan.

Begitu dia masuk ke ruangan itu maka menjeritlah dia. Kedua tangannya yang tidak terikat dipakai untuk menutupi muka dan matanya. Kengerian membuat tubuhnya gemetar ketika menyaksikan kepala dan tubuh Said Ulon serta tubuh pemuda tukang kuda!

Resi Singo Ireng menunda anggur yang hendak disuapkannya ke dalam mulut. Matanya menjalari si perempuan muda mulai dari ujung rambut sampai ke kaki.

“Ah… ah… ah…! Yang satu ini tak boleh dibunuh, Parit Wulung. Dia cukup pantas untuk jadi peliharaanku!” kata Resi bertampang singa itu.

Parit Wulung tak ambil perhatian ucapan itu. Dia berkata pada si perempuan muda. “Suri Intan, kau tak usah khawatir atau takut. Tidak ada yang akan menyakiti kau…”

“Aku tak percaya pada kalian! Keluarkan aku dari sini!” teriak perempuan itu. Suri Intan adalah istri Braja Paksi kepala balatentara Banten yarig telah gugur dalam mempertahankan kerajaan. Karena adik Bradja Paksi kawin dengan si pemberontak Parit Wu-lung maka dengan sendirinya antara Parit Wulung dengan Suri Intan terdapat hubungan keluarga yang dekat.

Parit Wulung coba tersenyum mendangar ucapan perempuan itu. “Suri, apakah kau tahu di mana Sultan Hasanuddin bersembunyi? Juga penasihat tua Mangkubumi Mitra…?!”

Si perempuan tiada peduli dengan pertanyaan itu. “Keluarkan aku dari sini!” teriaknya.

“Dewiku manis…!”kata Singo Ireng mengetengahi. “Kau akan ke luar dari sini, aku yang akan bawa kau dan kita berdua akan senang-senang di tempatku di pantai utara. Tapi apa salahnya sebelum pergi kau suka kasih penuturan apa yang kau ketahui mengenai Sultan…”

“Aku tidak tahu apa-apa mengenai Sultan. Yang aku tahu ialah bahwa kalian semua manusia-manusia pengkhianat terkutuk! Balasan Tuhan akan datang kelak atas diri kalian!”

“Ah… ah… ah! Bicaramu hebat sekali manisku…!” kata Singo Ireng. Dia berdiri dari kursinya. Sambil melangkah mendekati Suri Intan dia meneruskan. “Aku suka pada peremppan-perempuan yang pandai bicara…”

Dia berdiri dua langkah di hadapan Suri Intan. Bola matanya berkilat-kilat memandangi perempuan berparas rupawan itu lalu dia berpaling pada Parit Wulung. “Aku yakin betul,” katanya pada Parit Wulung. “Perempuan ini pasti tidak dusta dengan keterangannya. Dia tak tahu apa-apa tentang Sultan. Parit Wulung, biar aku minta diri saja siang-siang untuk membawa dia ke kamar sebelah… he… he… he…!”

“Singo Ireng! Jangan ribut soal lampiaskan nafsu saja. Kita harus cari dulu Sultan Hasanuddin sampai dapat…!” Yang bicara ini adalah Matjan Seta, kakak Singo Ireng.

“Ladalah...” menyahuti Singo Ireng. “Itu urusan kalian. Aku sudah letih. Tubuhku pegal-pegal. Perempuan ini pasti lihay sekali memijit. Bukankah begitu dewiku…?” Dan Singo Ireng mencubit dagu Suri Intan.

“Tua bangka hidung belang!” memaki Suri Intan. Tangannya bergerak hendak mencakar muka Singo Ireng. Tapi sekali cekal saja maka perempuan itu sudah tak bisa berdaya lagi!

“Lepaskan aku, lepaskan!” Suri Intan meronta sekuat tenaga. Entah cekalan Singo Ireng yang kemudian agak kurang ketat, entah karena rontakan Suri Intan yang memang sangat keras maka perempuan itu berhasil melepaskan diri dari cekalan Singo Ireng. Ke­mudian secepat kilat dia lari ke pintu. Tapi nyatanya pintu dikunci dari luar oleh pengawal. Dalam bingung dan ketakutan sementara itu Suri melihat Singo Ireng mendatanginya dengan menyeringai dan bola mata berkilat-kilat sedang hidung kembang kempis.

“Singo Ireng! Biarkan dulu perempuan itu!” bentak Matjan Seta.

“Sudah diam sajalah Seta!” menggerendang Singo Ireng. “Sekarang kau terlalu banyak ribut, nanti kalau aku lagi asyik kau dobrak pintu kamar dan minta diberi bagian! Puh…!”

Singo Ireng maju ke muka dan ulurkan tangan. “Jangah jamah aku!” teriak Suri Intan. Dia lari seputar ruangan dan Singo Ireng mengejarnya. Mengejar dengan tertawa terkekeh­kekeh. “Manisku, kenapa musti main kucing-kucingan? Tampangku memang buruk. Tapi nantilah, kalau kau sudah rasakan bagaimana pandainya aku di atas tempat tidur, kau akan ketagihan… ha… ha… ha…!”

Suri Intan semakin kepepet ke sudut ruangan.Tiba-tiba terjadilah hal yang tidak diduga oleh Singo Ireng dan siapapun yang ada di ruangan itu.

Suri Intan melompat ke samping, membenturkan kepalanya ke dinding ruangan! Semua orang yang ada di ruangan itu sudah biasa dengan segala macam pemandangan maut, sudah biasa melihat kematian manusia. Tapi mendangar suara beradunya kepala perempuan itu dengan dinding yang keras, menyaksikan bagaimana kemudian Suri lntan terkapar di lantai dengan kepala rengkah berlumuran darah, semuanya sama menjadi merinding bulu tengkuknya! Suasana di ruangan itu seperti di pekuburan sunyinya!

Kesunyian itu kemudian dipecahkan oleh suara Matjan Seta. “Aku bilang apa, Singo Ireng! Kau lihat sendiri sekarang. Apa kau masih bernafsu terhadap perempuan itu?!”

Singo Ireng tak menjawab. Diputarnya badannya. Dia duduk kembali ke tempatnya. Dan seperti tak ada apa-apa dia mulai lagi mengunyah buah anggur yang terhidang di atas meja!

Sesudah para pengawal diperintahkan menyeret ketiga mayat itu maka Parit Wulung melanjutkan pertemuan dengan membuka pembicaraan.

“Kurasa mengenai Sultan tak perlu kita bicarakan panjang lebar. Cepat atau lambat orang-orang kita akan segera menangkapnya. Tapi apa yang menjadi pikiranku ialah lenyapnya keris pusaka kerajaan Tumbal yang menjadi syahnya kedudukanku sebagai seorang Raja, nanti!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (3)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.