Kamis, 08 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (18)

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Di dalam suasana yang serba membingungkan dan penuh tanda tanya tak terjawab itu sekelumit harapan timbul di kalangan rakyat bahwa mereka betul-betul akan bebas dari kaum pernberontak. Sekelumit harapan ini ditunjang pula oleh sebagian besar balatentara Banten yang sesungguhnya masih setia pada Sultan.

Dan dari hanya sekelumit harapan untuk bebas maka menjadilah satu tekat bulat untuk angkat senjata menumbangkan kekuasaan yang tidak syah itu. Lagi pula satu-satunya pentolan pemberontak yang masih bercokol di istana saat itu cuma tinggal Parit Wulung seorang. Yang lain-lainnya sudah menemui kematian. Singo Ireng dan Matjan Seta sudah sejak seminggu lenyap, mungkin juga kini cuma tinggal nama saja!

Sementara itu di dalam istana begitu menyaksikan lima belas mayat yang digantung itu, sekujur tubuh Parit Wulung laksana diserang demam panas dingin. Mukanya sepucat salju. Tengkuknya sedingin es. Siapakah yang punya kerja menggantungi pembantu-pembantu utamanya demikian rupa? Dugaannya keras pada pemuda yang datang malam tadi! Dalam kebingungan dan kengeriannya Parit Wulung sampai lupa untuk memerintahkan agar lima belas mayat yang digantung itu diturunkan!

Bila dia berhasil menguasai dirinya kembali maka diperintahkannyalah beberapa kelompok pasukan untuk melakukan pembersihan di seluruh Kotaraja dan menyelidik ke perbatasan. Namun sebelum pasukan-pasukan itu bergerak, maka sebagian dari balatentara yang masih setia pada Sultan bersama-sama dengan rakyat yang membawa berbagai macam senjata sudah menyerbu laksana air bah.

Harapan untuk bebas dari kaum pemberontak, tekat bulat untuk menegakkan kembali Kerajaan Banten yang syah serta pembalasan dendam kesumat atas sanak saudara dan karib kerabat yang mati ditumpas kaum pemberontak tempo hari, itulah semua yang membuat mereka tanpa diberi komando lagi, menyerbu dengan dahsyatnya !

Dan pada saat pertempuran berkecamuk hebat maka melesatlah tiga sosok tubuh manusia dari wuwungan istana. Yang pertama seorang perempuan berkerudung biru, yang kedua seorang pemuda berambut gondrong bertampang gagah dan yang ketiga adalah Sultan sendiri! Maka semangat tempur para penegak keadilan itupun berlipat gandalah!

Parit Wulung dan beberapa orang sisa-sisa pembantunya yang berkepandaian tinggi bertahan mati-matian di dalam kurungan kira-kira tiga puluh prajurit dan empat puluh rakyat jelata. Ketika Sultan, Dewi Kerudung Biru dan Pendekar 212 maju pula ke tengah gelanggang, maka hanya beberapa gebrakan saja tewaslah pembantu-pembantu utama Parit Wulung!

Manusia pengkhianat besar ini dengan putus asa coba bunuh diri dengan hantamkan pedang ke kepalanya. Tapi Pendekar 212 lebih cepat merampas senjata itu. Sultan dan Dewi Kerudung Biru kemudian meringkus Parit Wulung! Maka hari itu tamatlah riwayat kekuasaan kaum pemberontak di bawah pimpinan pengkhianat Parit Wulung dan kawan-kawannya!

Di mana-mana hanya tebaran mayat yang kelihatan. Di mana-mana hanya suara-gegap gempita rakyat dan prajurit-prajurit yang terdengar menyambut kemenangan dan mengeluk­elukan Sultan Hasanuddin.

Kemudian diantara rakyat dan prajurit-prajurit Banten banyak yang berteriak.

“Gantung Parit Wulung!”

“Cincang tubuhnya sampai lumat!”

“Hukum picis pengkhianat itu!”

“Bakar saja hidup-hidup!” teriak kelompok yang lain.

Sementara itu di langkan istana, di bawah lima belas mayat yang masih tergantung berputar-putar di tiup angin pagi, pendekar 212 dan Dewi Kerudung Biru berdiri di hadapan Sultan.

“Sultan kami rasa segala sesuatunya sudah selesai kini. Kami berdua mohon diri….”
Sultan terkejut. “Tidak bisa!” kata Sultan setengah berteriak.

“Kalian berdua musti tinggal dulu di sini beberapa lamanya. Bahkan aku sudah punya rencana untuk mengangkat kau sebagai Kepala Balatentara Banten merangkap Pengawal Pribadiku, Wiro!”

Wiro dan Anggini tersenyum. “Hatimu mulia sekali Sultan,” sahut Pendekar 212. “Tapi kami berdua adalah orang-orarig persilatan yang suka bertualang. Di lain hari kita akan berjumpa dan berkumpul lagi…”

Sultan merasa kecewa.. Hatinya juga sangat terharu. “Kalian berdua telah berjasa besar terhadap Kerajaan dan rakyat Banten. Aku harus umumkan hai ini sekarang juga dihadapan rakyat…”

“Ah, jangan… tak usah Sultan” kata Anggini dan Wiro pula.

Sultan mengambil sebuah benda berbentuk bintang bersudut delapan dengan sebuah berlian besar di tengahnya. “Anggini,” kata Sultan pada Dewi Kerudung Biru, “benda ini adalah bintang utama Kerajaan Banten yang hanya diserahkan pada siapa saja yang telah berjasa pada Kerajaan dan Raja Banten. Ini juga sebagai tanda bahwa yang memegangnya adalah sahabat Raja dan rakyat Banten. Terimalah…”

“Sultan… mana bisa aku yang rendah dan sama sekali tidak membuat jasa apa-apa musti menerima bintang penghargaan begitu rupa…?”

“Terimalah Anggini. Pada Wiro juga sebelumnya telah pernah kuberikan…”

Dengan malu-malu Anggini kemudian menerima jaga bintang bersudut delapan bermata berlian yang terbuat dari emas itu, Tiba-tiba Sultan ingat sesuatu. “Andjarsari, bagaimana Andjarsari…?”

“Dirinya tak perlu dikhawatirkan Sultan,” menjawab Dewi Kerudung Biru. “Saat ini dia masih berada di Lembah Batu Pualam dalam keadaan tak kurang suatu apa. Seorang pengemudi kereta dan dua prajurit utama telah kami suruh ke sana untuk menjemputnya…”

“Ah, jasa kalian berdua benar-benar setinggi langit sedalam lautan. Aku betul-betul berterima kasih…”

Pendekar 212 tersenyum. “Bukan kepada kami sebenarnya kau harus berterima kasih Sultan. Tapi kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita manusia hanya hamba-hamba Tuhan, hanya alat Tuhan yang cuma sanggup berusaha sedang ketentuan tetap di tanganNya.”

Sultan manggut-manggut. Dari balik pakaiannya dikeluarkannya Keris Tumbal Wilajuda. Dengan ujung senjata itu digoresnya kedua telapak tangannya sehingga mengeluarkan darah. “Kuharap kalian berdua juga suka menggores telapak tangan masing-masing…”

Anggini dan Wiro saling pandang. “Untuk apa kah Sultan?” tanya Wiro pula.
“Gores sajalah,” desak Sultan.

Kedua orang itu kemudian sama menggores telapak tangan masing-masing. Wiro menggores telapak tangan kanan sedang Anggini tangan kiri. Sultan kemudian menempelkan erat­rat telapak tangan kanannya ke telapak tangan kanan Wiro sedang telapak tangan kiri ke telapak kiri Anggini. Kemudian kedua tangannya diacungkan tinggi-tinggi ke udara. Dan karena tak dapat membendung lagi perasaan hatinya maka berserulah Raja Banten ini.

“Saudara-saudaraku para prajurit dan rakyat Banten! Hari ini di bawah penyaksian kalian, aku mengangkat saudara terhadap dua orang yang telah berjasa besar terhadap kita sekalian…”

“Sultan!” seru Pendekar 212. “Kami .ini hanya manusia-manusia rendah jelata, bagaimana kau sudi mengangkat saudara…”

Sultan tersenyum. “Darahku dan darah kalian telah bercampur. Tadi kau menyebut nama Tuhan, apakah ada perbedaan aniara aku dan kalian sebagai manusia di mata Tuhan…?!”

Dan Sultan berseru lagi. “Yang di sebelah kananku ini adalah Pendekar 212 Wiro Sableng dan yang berkerudung adalah Dewi Kerudung Biru Anggini !”

Maka untuk kesekian kalinya tardengarlah gegap gempitanya suara orang banyak yang menyambut ucapan Sultan itu. Dan ketika sekilas Sultan memandang ke arah timur, maka berserilah parasnya. Nun jauh di sana, di lereng bukit, kelihatan meluncur sebuah kereta.

Kereta yang membawa Andjarsari, calon permaisurinya.

TAMAT

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.