Kamis, 08 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (17)

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Berseri-serilah paras Sultan Hasanuddin. “Sahabat jasamu sungguh tak dapat diukur dengan luasnya laut, dengan tingginya gunung. Aku berterima kasih betul kepadamu…”

Wiro memotong ucapan Sultan dengan berkata. “Sultan sebelum memasuki kota dan menemui Sultan Trenggono perkenankanlah aku memberikan sedikit rencana….”

“Boleh saja. Silahkan,” kata Sultan seraya sisipkan Keris Tumbal Wilajuda dibalik pinggang pakaian. “Dengan membawa balatentra Demak ke Banten berarti akan pecah lagi peperangan dan pertumpahan darah di Banten. Sultan tentu lebih tahu dariku bahwa akibat peperangan yang paling buruk ialah jatuhnya beban penderitaan, serta kesengsaraan dipundaknya rakyat jelata…”

“Betul, dalam hal ini aku memang sedapat-dapatnya berusaha agar penduduk jangan sampai banyak yang jatuh korban,” kata Sultan pula.

Wiro mengangguk. “Di samping itu, sebagian besar dari prajurit-prajurit pemberontak tiada lain hanya merupakan alat mati yang bisa dikutak kutik oleh atasan! Di hati kecil mereka sendiri mungkin tak ingin melakukan pertumpahan darah itu. Tapi demi tugas dari atasan, mereka terpaksa melakukan peperangan yang kejam itu. Jadi letak tanggung jawab, atau biang racun dari segala kemusnihan dan penderitaan itu tiada lain terletak di tangan pentolan-pentolan tinggi pemberontak! Nah, manusia-manusia inilah yang harus kita lenyapkan lebih dulu… yang dibawah soal mudah. Apalagi dua bergundalnya pembantu Parit Wulung yaitu Resi Singo Ireng serta Macan Seta telah menemui ajal!”

“Apa yang kau katakan itu semua adalah benar sobat,” kata Sultan. “Tapi aku masih belum melihat bagaimana caramu yang tepat dan baik dalam merebut kembali takhta kerajaan dengan menghindarkan pertumpahan darah…”

“Kalau Sultan bisa memberikan sedikit kepercayaan kepadaku, pastilah aku akan bersedia melaksanakannya…” Maka Pendekar 212-pun menuturkan rencananya selengkapnya.

~ 17 ~

MALAM itu di satu ruangan rahasia Parit Wulung, Karma Dipa, Djuanasuta dan seorang tokoh terkemuka dari Partai Api Setan yaitu suatu partai silat yang dipimpin oleh Resi Matjan Serta tengah melakukan perundingan penting. Tokoh silat ini adalah murid terpandai dari Matjan Seta yang telah mewarisi seluruh kepandaian Resi itu. Namanya Rana Tikusila. Dia dan selusin anggota partai lainnya sengaja diminta datang ke Banten oleh Parit Wulung untuk memperkuat kedudukannya dan menjaga segala sesuatu yang tak diingini.

Seperti Matjan Seta, muka merekapun coreng moreng. Parit Wulung yang duduk dikepala meja segera buka bicara. “Saudara-saudara pertemuan ini adalah penting sekali sehubungan dengan Keris Tumbal Wilajuda. Sampai seka[ang kita masih belum berhasil menemukannya sedang Sultan sendiri tak diketahui jejaknya. Resi Singo Ireng dan Resi Matjan Seta tidak pula kunjung ada kabar beritanya. Aku berharap…”

Parit Wulung tiba-tiba hentikan ucapannya. Dia memandang ke sebuah alat rahasia disudut ruangan. Alat itu kelihatan bergerak-gerak.

“Saudara-saudara bersiaplah,” kata Parit Wulung. Ada tamu yang tak diundang rupanya mendengarkan perundingan kita ini di atas loteng!”

Dan baru saja Parit Wulung selesai mengucapkan kalimat itu, dua lembar papan loteng terbuka dan sesosok tubuh laksana seekor alap-alap melayang turun. Suara kedua kakinya sama sekali tiada terdengar sewaktu menjajaki lantai!

Rana Tikusila, Karma Dipa dan Djuanasuta segera cabut senjata. Parit Wulung sendiri berdiri dari kursi dan membentak.

“Manusia atau setan! Apakah kau punya nyawa rangkap berani datang ke sini?!”
Tamu tak diundang itu keluarkan, suara bersiul yang tak asing lagi yang menandakan bahwa dia bukan lain daripada Pendekar 212 adanya.

“Kau terlalu menghina padaku, Parit Wulung,” menyahuti Pendekar 212. Dia melirik sedikit ketika melihat Rana Tikusila melangkah kehadapannya dengan pedang melintang.

“Lekas katakan apa maksud kedatanganmu ke sini!” kata Tikusila seraya angkat tinggi­tinggi tangan kanannya yang memegang pedang.

“Aku adalah utusan pribadi Sultan Hasanuddin!”

Maka terkejutlah semua yang , hadir di tempat itu. Dari balik pakaiannya Pendekar 212 keluarkan segulung kertas dan melemparkan benda itu yang tepat jatuh memalang di atas gelas tuak, dihadapan Parit Wulung.

“Silahkan baca,” kata Pendekar 212 pula. Parit Wulung keretakkan rahang melihat sikap yang merendahkan ini tapi gulungan surat di atas gelas diambil dan dibacanya juga.

Parit Wulung,

Aku berikan kesempatan padamu untuk menyerahkan diri bersama bergundal-bergundal pemberontak lainnya malam ini. Maksud busukmu untuk menduduki takhta kerajaan Banten secara tidak syah di atas lumuran darah sekian banyak rakyat dan prajurit Banten serta sekian banyak pembesar-pembesar istana yang tak berdosa akan sia-sia saja!

Keris Tumbal Witajuda walau bagaimanapun tak bakal kau dapat. Dua cecunguk pembantumu yaitu Resi Singo Ireng dan Matjan Seta telah menemui ajalnya.

Jika kalian menyerah, hukuman yang bakal dijatuhkan tidak begitu berat. Tapi bila kalian membangkang, kepala kalian jadi imbalannya karena walau bagaimanapun yang bathil tak akan bisa mengalahkan yang hak, kejahatan tak akan bisa mengalahkan, kebenaran!

Ingat, waktumu cuma sampai malam ini!

Tertanda
SULTAN HASANUDDIN

Mengelam wajah Parit Wulung membaca surat itu. Namun kemudian keluarlah suara tertawanya bergelak. Diserahkannya surat itu pada Karma Dipa, Karma Dipa meneruskan pada Djuanasuta dan Djuanasuta meneruskan lagi pada Rana Tikusila. Dan ruangan itu kemudian pecahlah oleh suara tertawa bergelak keempat manusia itu.

Wiro sendiri mengerendeng dalam hatinya. “Kau utusan Sultan yang tampangmu macam orang hutan!” kata Rana Tikusila, “aku mau tanya, Sultanmu itu andalkan apakah sampai berani membuat surat ancaman macam begini rupa?!”

Wiro tertawa gelak-gelak. “Kau keliwat menghina sobat!” katanya. “Coba lihat ke kaca besar di dinding sana, tampangmu yang coreng moreng macam orang gila itu jauh lebih buruk dari padaku! Kurasa kalau orang tuamu bukannya macan jadi-jadian pastilah macan kesurupan!”

Maka marahlah Rana Tikusila rnendengar hinaan ini.

“Sret,” dicabutnya sebilah pedang lalu dengan, cepat kirimkan satu tusukan mematikan ke arah dada Pendekar 212. Tusukan ini adalah sebagian dari jurus paling tangguh dalam ilmu pedang Partai Api Setan dan dinamakan jurus “anak panah menembus rembulan!”

Selama menghadapi lawan-lawan tangguh jarang dari mereka yang sanggup mengelakkannya Kalaupun berhasil maka biasanya tak akan mampu untuk mengelakkan jurus susulan yang dinamakan “gendewa menyambar puncak gunung.”

Tapi hari itu Rana Tikusila ketemu batunya. Tusukannya tiada tersangka hanya mengenai tempat kosong karena berhasil dikelit oleh Pendekar 212. Dengan penasaran dan juga malu pada kolega-koleganya di ruangan itu maka, Tikusila segera susul dengan jurus “gendewa menyambar puncak gunung” Pedangnya membalik membabat ke arah pinggang lawan!

Namun nasib anak buah Partai Api Setan ini lebih buruk lagi. Dengan kecepatan yang sukar dilihat mata, Pendekar 212 berhasil memukul sambungan siku Tikusila. Pedang mental ke udara, Tikusila sendiri meraung kesakitan! Dan sesaat kemudian pedangnya sudah berada di tangan Pendekar 212!

Mata Parit Wulung dan dua orang lainnya membeliak besar. Rana Tikusila sendiri pucat pasi wajahnya, memercik keringat dingin di keningnya!

“Aku datang ke sini bukan untuk membuat keributan tapi hanya sekedar menyampaikan surat Sultan Banten! Aku minta jawaban sekarang juga apakah. kalian sudi menyerah atau tidak?!”

Parit Wulung merampas surat yang dipegang oleh Rana Tikusila lalu merobek-robeknya. “Ini jawaban kami!” kata Parit Wulung pula serta melemparkan robekan surat ke muka Wiro Sableng.

Pendekar muda ini tiup robekan surat-surat itu hingge bertebaran di lantai. “Besok pagi jangan harap kalian masih bercokol di dalam istana ini…”

“Saudara-saudara, sangkap manusia yang satu ini!” Parit Wulung beri perintah. Pendekar 212 tertawa mengekeh. Pedang di tangan kanan dilemparkannya ke lampu besar yang menerangi ruangan itu. Dengan serta merta gelaplah suasana dan secepat kilat Wiro melompat ke atas loteng, lenyap dikegelapan malam.

Ketika pagi tiba maka gemparlah seluruh penduduk Kotaraja. Bagaimanakah tidak. Di halaman depan istana berjejer, bergantungan di tiang langkan muka lima belas manusia yang sudah menjadi mayat. Mata semuanya mendelik, lidah terjulur dan pada kening masing-masing tertera tiga angka yang tak asing lagi yaitu angka 212!

Kelima belas manusia yang telah menemui ajal dengan cara yang aneh ini ialah Rana Tikusila bersama dua belas anggota Partai Api Setan, Djuanasuta dan Karma Dipa, dua pentolan pemberontak dari Pajajaran!

Pada masing-masing leher kelima belas mayat itu tergantung secarik kertas yang bertuliskan:

Kepada kalian telah diberikan syarat keampunan untuk menyerah. Tapi kalian sengaja memilih kematian macam begini. Kalian lupa bahwa kebathilan akan selalu hancur oleh yang hak.

Kepada para perajurit dan rakyat Banten yang masih setia pada Sultan, hari ini adalah hari kebebasan Banten dari cengkeraman kaum pemberontak!

Tertanda
SULTAN HASANUDDIN

Di balik kegemparan yang menyungkupi setiap diri manusia yang ada di Banten maka berbagai pertanyaan timbul pula dikalangan mereka. Siapakah yang telah membunuh dan menggantung kelima belas manusia itu? Apakah arti angka 212 dikening mayat-mayat.

Apakah ada hubungannya dengan peristiwa terbunuhnya beberapa prajurit pemberontak diperbatasan tempo hari? Apakah Sultan masih hidup dan, surat itu benar-benar ditandatangani olehnya? Kalau betul masih hidup di mana dia berada sekarang? Kemudian di mana pula Resi Singo Ireng serta Matjan Seta yang menjadi pentolan pembantu utama Parit Wulung? Kalau betul Sultan sudah muncul kembali dan turun tangan, mengapa Parit Wulung sendiri tidak digantung?!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (18)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.