Kamis, 08 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (16)

  Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Pendekar 212 sendiri begitu dengar nama jurus ini tak ayal lagi segera cabut Kapak Maut Naga Geni 212. Selama ini dia cuma pernah dengar dan mengetahui nama jurus yang terdiri dari empat untaian kata-kata. Kini lawan menyerangnya dengan jurus enam untaian kata­kata. Pastilah ini suatu jurus yang luar biasa!

Maka begitu lawan menyerbu, Pendekar 212 sudah putar Kapak Maut Naga Geni 212­nya. Lolong kematianpun bergemalah untuk kedua kalinya di ruangan itu! Enam anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma menggeletak mandi darah.

Dua orang yang masih hidup, ditambah dengan Wakil Ketua Perkumpulan yang saat itu masih memegangi rujung emasnya tapi yang sudah kuntung karena diterabas Kapak Pendekar 212, saling berikan isyarat. Dua anggota yang masih hidup ini melompati Wiro dan kirimkan empat serangan berantai sekaligus. Wakil Ketua mereka sendiri melompat kesebuah pintu dan menekan satu tombol rahasia!

Pada detik Pendekar 212 menerabas tubuh kedua lawannya dengan Kapak Maut, maka pada detik itu pula tiba-tiba lantai yang dipijaknya terbuka ke samping. Tak ampun lagi tubuhnyapun melayang jatuh ke dalam sebuah ruangan sedalam dua puluh tombak sedang lantai ruangan yang tadi membuka kini secara aneh tertutup oleh jalur-jalur besi sebesar lengan !

“Ha… ha… ha…!” Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma tertawa bekakakan. “Sekalipun kau punya sepuluh kepala dua puluh tangan dan kaki jangan harap kau bisa ke luar dari perangkap ini Pendekar 212!”

“Manusia sialan!” maka Pendekar 212 sangat geram dan penasaran. Dihantamkannya tangan kanannya ke atas. Sinar putih berkiblat. Lantai ruangan di atasnya hancur runtuh tapi jalur-jalur besi yang menutup lobang perangkap sedikit pun tidak berubah.

Wakil Ketua Perkumpulan sendiri saat itu dengan cepat sudah menghindar ke samping kemudian dari balik jubahnya dia keluarkan sebuah lonceng kecil. Begitu lonceng dibunyikan maka muncullah Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma diiringi oleh dua orang anggota klas satu yang berkepandaian sangat tinggi.

Menyaksikan kematian banyak sekali anak buahnva maka menggerenglah Ketua Perkumpulan ini. Mukanya yang tersembunyi dibalik kerudung mengkerut tegang, matanya berkilat-kilat. Dia melangkah kehadapan sang Wakil.

“Sesudah seluruh anggota mampus begini rupa baru kau bunyikan lonceng memanggil aku? Bagus betul perbuatanmu!”

Gemetarlah lutut Wakil Ketua mendengar bentakan atasannya itu. “Tapi Ketua, manusia itu sakti luar biasa. Namun demikian aku telah berhasil meringkusnya! Lihatlah ke bawah sana!”

“Keberhasilanmu tetap tidak dapat menghindari hukuman yang bakal kau terima kelak!” desis Ketua Perkumpulan. Dia melangkah ke tepi perangkap. Namun secepat kilat bersurut mundur karena dari dasar perangkap menggebu segumpal angin dahsyat. Atap gedung batu pualam yang tadi telah hancur dilanda pukulan sinar matahari kini kembali berpelantingan!

“Kurang ajar!” bentak Ketua Perkumpulan. Tangan kanannya dipukulkan ke dasar perangkap. Dan menderulati lima lusin jarum merah! Tapi lagi-lagi Ketua Perkumpulan ini dikejutkan ketika angin sedahsyat badai membuat jarum-jarum beracunnya itu menderu kembali ke atas! Jika tidak lekas pula dia menghindar dari tepi perangkap pastilah senjata makan tuan!

“Budak hina dina! Kau boleh keluarkan seribu ilmu tapi jangan harap kau bakal ke luar hidup-hidup dari dalam perangkap ini!”

Habis berkata begitu dengan ibu jari kaki kanannya Ketua Perkumpulan IbIis Pencabut Sukma menginjak sebuah tombol di salah satu sudut perangkap sebelah atas! Di dasar perangkap, secara aneh dinding terangkat kira-kira sejengkal dan laksana air bah dari keempat celah dinding itu berserabutanlah ratusan binatang berbisa seperti ular, kelabang, lipan dan kalajengking! Semuanya menyerbu menyerang Pendekar 212!

Murid Eyang Sinto Gendeng melompat dua tombak. Begitu tubuhnya mengapung di udara tangan kirinya segera mengambil batu api 212 dari balik pinggang. Sekali batu api dan Kapak Naga Geni 212 diadu maka lidah apipun menderulah ke lantai perangkap. Seluruh binatang berbisa itu tak satupun yang hidup. Semuanya terbakar musnah dengan mengeluarkan bau yang tak nyaman dan memegapkan jalan nafas.

Pendekar 212 tidak menunggu lebih lama. Jika di luar dengan ilmu mengentengi tubuh dia bisa melompat sampai tiga puluhan tombak lebih, mengapa di dalam perangkap yang cuma sedalam dua puluh tombak itu dia tak bisa? Cuma yang dikhawatirkannya ialah jika dia tak dapat menerobos atau menghancurkan jalur-jalur besi di atas perangkap itu dengan Kapak Maut Naga Geni 212-nya!

Di atas sana tiba-tiba dilihatnya Ketua dan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma kembali mendekati tepi perangkap. Pendekar 212 segera hantamkan tangan ke atas mengirim pukulan matahari dan serentak dengan itu dia melompat ke udara. Kapak Naga Geni 212 diputar dengan sebat!

“Trang… trang… trang…!”

Ternyata Kapak Naga Geni 212 mampu menghancurkan jalur-jalur besi penutup perangkap. Pendekar 212 tertawa gembira dan berdiri dengan berkacak tangan kiri dipinggang sementara empat lawannya di ruangan itu diam-diam menjadi ngeri melihat kehebatan pemuda ini!

Dari kerudung dan jubahnya yang lebih merah laksana darah. Pendekar 212 segera mengenali yang mana adanya Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Maka berkatalah pemuda ini dengan membentak. “Lekas serahkan Keris Tumbal Wilajuda. Dan jika kalian berjanji untuk kembali ke jalan yang benar niscaya aku masih mau memberi ampun!”

Ketua Perkumpulan tertawa mendengus. “Usia masih seumur jagung, tubuh masih bau amisnya orok, mungkin tidurpun masih ngompol tapi sudah berani bicara membentak dan memerintah dihadapanku!”

“Ucapanmu tidak lucu Ketua Perkumpulan Iblis! Ringkas kata kau mau serahkan Keris Tumbal Wilajuda atau tidak?!”

Perlahan-lahan Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma angkat tangannya ke udara. Gerakannya ini diikuti oleh Wakil dan dua anggotanya.

“Baik!” katanya, “aku akan serahkan Keris Tumbal Wilajuda padamu, tapi serahkan dulu kau punya jiwa!”

Habis berkata demikian maka empat tanganpun sama-sama ditarik melancarkan pukulan yang sangat diandalkan oleh Perkumpulan mereka yaitu pukulan pencabut sukma!

Dalam keadaan lengah seperti di Goa Dewi Kerudung Biru tempo hari mungkin empat pukulan sakti itu akan menamatkan riwayat Pendekar 212. Tapi kali ini keadaan berlainan, apalagi saat itu Wiro memegang pula Kapak Maut Naga Geni 212 di tangan!

Begitu empat angin maut membetot ke arah badannya maka Pendekar 212 berseru nyaring! Tubuhnya lenyap! Menyusul suara siulan melengking dan Kapak Maut Naga Geni 212 membuat putaran putih yang sebat sekali, angin yang ke luar dari Kapak sakti itu melanda hebat tarikan angin maut keempat musuh. Dan setengah jurus kemudian dua anggota kelas satu Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma sama menjerit keras! Tubuh mereka rebah ke lantai. Yang satu berbusaian isi perutnya, yang satu lagi hampir putus batang lehernya!

Ketua dan Wakil Perkumpulan terkutuk sama-sama tersurut! “Apa kau masih belum mau serahkan apa yang kuminta?!” bentak Pendekar 212.

“Aku bilang serahkan nyawamu lebih dulu, budak hina!” balas membentak Ketua Iblis.

“Manusia tolol, dikasih ampun malah minta mampus!” Gusar sekali Pendekar 212 jadinya. Tubuhnya berkelebat untuk kesekian kalinya. Kali ini dalam jurus “membuka jendela memanah rembulan” Kapak Naga Geni mula-mula menderu sebat ke samping.

Dan terdengarlah jerit kematian Wakit Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Ketua Perkumpulan tersirap dan melompat mundur ketika melihat Wakilnya terhuyung-huyung dengan dada mandi darah lalu jatuh duduk di lantai! Namun Pendekar 212 betul-betul tidak mau memberikan kesempatan lagi. Kapaknya terus menyelesaikan jurus yang dibuat dan kini membabat deras ke udara!

Ketua Perkumpulan terkutuk itu melolong setinggi langit! Dagunya terbabat putus berikut sebagian kerudungnya sekaligus! Tubuhnya terbanting ke dinding! Ketika Kapak Maut Naga Geni hendak membalik lagi guna menamatkan riwayat Ketua Perkumpulan durjana itu maka tahu-tahu melesatlah sesosok tubuh manusia dan terdengar satu seruan.

“Bangsat yang satu ini adalah bagianku, Wiro!”

~ 16 ~

PENDEKAR 212 berpaling yang datang ternyata Dewi Kerudung Biru alias Anggini!

“Ah, kau rupanya Anggini. Betul, memang tepat sekali kalau kau yang cabut nyawa anjing manusia terkutuk ini! Kau selesaikanlah perhitungan lamamu!”

Ketika Pendekar 212 bicara ini, Ketua Perkumpulan Iblis pergunakan kesempatan untuk menghambur ke pintu. Tapi secepat kilat Wiro angsurkan kaki kirinya menyerimpung pergelangan salah satu kaki Ketua Perkumpulan Iblis itu. Tak ampun lagi tubuhnya tersungkur ke lantai!

“Cepat bangun, manusia iblis agar cepat pula kuantarkan kau punya nyawa menghadap penjaga neraka!” bentak Dewi Kerudung Biru!

Perlahan-lahan Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma berdiri. Tiba-tiba dia hantamkan satu pukulan ke arah Dewi Kerudung Biru. Tapi tenaga pukulannya ini sudah banyak berkurang akibat luka didagunya yang mengandung bisa dan bisa mana mulai menjalar kesegenap pembuluh darahnya!

Melihat lawan memukul, Dewi Kerudung Biru berkelit cepat dan kirimkan serangan balasan yaitu jurus naga kepala seribu mengamuk! Terkejutlah Ketua Perkumpulan Iblis melihat jurus yang dahsyat ini. Dia melompat mundur tiga tombak dan berseru. “Dewi Kerudung Biru, antara kau dan aku tiada permusuhan, mengapa kita musti bertempur begini rupa?!”

Dewi Kerudung Biru tertawa dingin sedingin salju. “Kau lupa pada seorang gadis yang hendak kau perkosa beberapa bulan yang lalu?!” Dewi Kerudung Biru membuka kerudung penutup wajahnya! “Apa kau masih lupa dan tidak kenali aku?!”

Terkejutlah Ketua Iblis Pencabut Sukma melihat paras gadis dihadapannya. Namun rasa terkejutnya ini tiada lama. Anggini kembali menyerbu.

Kali ini dalam jurus “cakar garuda emas” Kedua tangannya terpentang.

“Breet!” Kuku-kuku yang panjang dari gadis itu menyambar dada sang Ketua. Dan tidak sampai di sana saja, Anggini buka mulutnya lebar-lebar.

“Huaah!”

Menyemburlah asap kencana biru ke arah Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Manusia ini menjerit. Tubuhnya terhuyung-huyung. Ketika dia rebah ke lantai maka sekujur badannya menjadi sangat biru! Tamatlah riwayat manusia yang paling terkutuk dan ganas itu. Belum puas sampai di situ, Anggini maju mendekati mayat laki-laki itu lantas menendang kepalanya. Tubuh Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma mencelat enam tombak kepalanya hancur!

“Kau hebat sekali, Anggini,” memuji Pendekar 212 seraya melangkah mendekati mayat Ketua Iblis Pencabut Sukma. Ketika digeledah di balik pinggangnya diketemukan Keris Tumbal Wilajuda!

“Apa yang harus kita lakukan selanjutnya Wiro?” bertanya Dewi Kerudung Biru atau Anggini.

Pendekar 212 merenung beberapa lamanya lalu menjawab. “Setelah Keris Tumbal kerajaan ini berhasil diketemukan, kurasa ada baiknya aku segera menemui Sultan Banten”

“Mengapa begitu?,” tanya Anggini. “Bukankahkau sendiri sudah tahu bahwa Sultan Hasanuddin pergi ke Demak untuk meminta bantuan balatentara dari Sultan Trenggono guna mengusir kaum pemberontak yang kini bercokol di Banten?”

“Betul, namun saat ini aku ada rencana baru. Rencanaku ini akan sangat banyak mengurangi korban-korban yang tiada berdosa…”

“Aku tak mengerti maksudmu,” kata Anggini pula.

Pendekar 212 tersenyum. “Kau akan mengerti setelah menyaksikannya sendiri nanti. Sementara aku menyusul Sultan ke Demak, kuharap kau sudi pergi keperbatasan dan menunggu kedatangan kami di sana…”

Bagi Anggini adalah lebih disukainya bila dia bisa ikut bersama-sama dengan pemuda itu. Namun setelah berpikir sejurus akhirnya dia menganggukkan kepala.

“Sampai jumpa Anggini,” kata Pendekar 212 seraya memegang bahu gadis itu.
Anggini meremas seketika jari-jari si pemuda dan sebelum tubuhnya lebih dijalari gelora darah muda maka Pendekar 212 segera meninggalkan tempat itu.

Meskipun satu hari terlambat namun dengan ilmu larinya yang sangat lihai, Wiro berhasil mendahului Sultan. Hasanuddin yang berangkat ke Demak dengan menunggangi seekor kuda. Wiro menunggu kedatangan Sultan di jalan luar kota sebelah timur. Tentu saja Sultan Hasanuddin sangat terkejut dan heran bertemu dengan pemuda sahabatnya itu.

“Sahabat, bagaimana kau tahu-tahu sudah muncul di sini?” tanya Sultan seraya turun dari kuda. Dengan ringkas Wiro Sableng segera berikan keterangan. Selesai memberikan keterangan maka dikeluarkannyalah Keris Tumbal Wilayuda dan diserahkannya pada Sultan.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (17)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.