Rabu, 07 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (15)

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Matjan Seta putar tubuh ke belakang. Begitu tubuhnya berputar begitu dan melihat satu gumpalan angin yang kerasnya laksana baja menderu ke arahnya. Resi ini tak ayal lagi melompat empat tombak ke udara. Mendadak didengarnya suara siulan dekat sekali di telinganya. Dia hantamkan tangannya ke samping. Tapi…

“Bluk!”

Resi Matjan Seta terpelanting ke lantai. Tulang punggungnya serasa remuk. Dia kerahkan tenaga dalamnya dengan cepat ke bagian yang kena dipukul lawan lalu atur jalan nafas. Ketika dia berdiri lurus-lurus kembali, muka macannya kelihatan bertambah angker. Kedua kakinya terpentang lebar. Tubuhnya sedikit membungkuk ke muka. Kedua tangannya yang diangkat ke atas kelihatan bergetar. Wiro maklum bahwa lawannya memusatkan seluruh tenaqa dalamnya pada dua tangan itu, dengan segera pendekar ini bersiap-siap pula!

Tangan kanan Resi Matjan Seta kelihatan berwarna merah kekuningan. Lebih merah dan lebih kuning dari yang tadi. Pendekar 212 tahu bahwa lawannya bakal lepaskan lagi pukulan “sinar surya tenggelam” tapi yang lebih hebat dari yang pertama tadi. Dan ketika melirik pada tangan kiri sang Resi, tangan itupun kini berwarna sangat merah dan mengepulkan asap merah!

Dua pukulan sekaligus tak bisa dianggap enteng! Pendekar 212 tidak mau ambil risiko. Segera tangan kanannya ditinggikan ke atas. Dan cepat sekali lengan sampai ke jari-jari tangan kanan itu menjadi sangat putih dan menyilaukan laksana perak ditimpa sinar matahari!

Mata Resi Matjan Seta membeliak melihat hal itu. “Pukulan sinar matahari!” keluhnya dengan hati tergetar. “Benar-benar pemuda rambut gondrong ini memiliki ilmu kesaktian yang tinggi luar biasa! Apakah dia benar-benar telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian Eyang Sinto Gendeng…?” demikian Matjan Seta membatin. Namun percaya, bahwa dua pukulannya yaitu pukulan “inti api” dan pukulan “sinar surya tenggelam” akan dapat mengimbangi pukulan lawan maka dengan serta merta dia hantamkan kedua tangannya ke muka. Dua gelombang sinar merah pun menderu ke arah Pendekar 212.

Pendekar 212 tunggu sampai dua gelombang sinar itu berada di pertengahan jarak antara dia dan lawan. Dan sedetik kemudian tangan kanannyapun turunlah ke bawah. Selarik sinar putih yang sangat panas dan menyilaukan menggebubu melabrak dua gelombang sinar merah.

“Bumm !”

Ruangan batu itu tergoncang hebat. Dinding batu angsrok, Lantai longsor sedang bagian atas ambruk! Terdengar keluhan maut Resi Matjan Seta. Di saat yang rasanya seperti mau kiamat itu Pendekar 212 berkelebat cepat menyambar tubuh Dewi Kerudung Biru dan dilarikan ke luar goa. Sesaat mereka sampai di luar goa maka runtuhlah Goa Dewi Kerudung Biru. Resi Singo Ireng yang tak sempat selamatkan diri, mati tertimbun bersama saudaranya Resi Matjan Seta. Di luar goa Pendekar 212 dan Dewi Keradung Biru saling berangkulan.

“Anggini… sangat disesalkan tempatmu yang bagus menjadi hancur runtuh. Tapi sebagiannya masih bisa kau pergunakan…”

Anggini mengangguk. Disembunyikannya wajahnya di dada yang bidang itu.
“Anggini,” kata Wiro lagi. Dilepaskannya pelukannya. “Waktuku tak banyak lagi. Aku harus segera ke Lembah Batu Pualam tempat bersarangnya Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma… Sampai jumpa lagi, Anggini.”

“Aku ikut Wiro…!” seru gadis itu, Tapi Pendekar 212 sudah lenyap dari hadapannya.
Gadis itu termanggu sejurus. Tapi kemudian segera pula dia berkelebat meninggalkan tempat itu.

~ 15 ~

LEMBAH Batupualam…

Lembah ini dikelilingi oleh pegunungan batu pualam yang berkilauan ditimpa sinar sang surya. Di mana-mana bahkan sampai ke dasar lembah terdapat gundukan-gundukan batu pualam putih. Di tengah dasar lembah kelihatan sebuah gedung besar bertingkat dua yang keseluruhannya mulai dari lantai sampai ke atap terbuat dari batu pualam.

Gedung ini indah sekali bentuknya. Di beberapa bagian di luar dan di dalam gedung batu pualam ini terdapat ukiran-ukiran yang bagus sehingga sesungguhnya tak pantaslah bila gedung itu menjadi markas atau sarangnya komplotan terkutuk Iblis Pencabut Sukma!

Pendekar 212 berdiri di ujung timur tepi lembah, berlindung di balik sebuah onggokan batu pualam. Dari tempatnya berada dilihatnya gedung itu sepi-sepi saja. Tak ada seorangpun anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma yang kelihatan.

Dengan berlindung di balik gugusan-gugusan dan puing-puing batu pualam, Pendekar 212 mulai menuruni lembah. Dia sampai di dasar lembah kini. Jarak antaranya dengan gedung batu pualam kurang lebih tiga puluhan tombak. Wiro melompat ke balik gugusan batu pualam yang lain, melompat lagi ke kiri, lalu ke kiri lagi sehingga jaraknya kini dengan gedung itu hanya sekira sepuluh tombak.

Pintu depan gedung terbuka lebar-lebar, demikian juga jendela-jendela di tingkat bawah serta atas. Anehnya sampai saat itu suasana masih sunyi senyap seperti tadi. “Mungkin ada perundingan di dalam sana…” pikir Pendekar 212. Dia memutuskan untuk menunggu sampai kira-kira sepeminum teh. Sementara itu di tingkat kedua gedung batu pualam…

Di sebuah ruangan rahasia kelihatan empat manusia berjubah dan berkerudung merah. Salah satu di antaranya jubah dan kerudungnya lebih merah dari yang lain-lain. Dialah Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma. Dia duduk di sebuah kursi, membelakangi sebuah mimbar. Dihadapannya duduk tiga orang, satu di antaranya ialah Wakil Ketua Perkumpulan. Yang dua anggota anggota Perkumpulan yang berilmu tinggi. Di pangkuan Wakil Ketua Perkumpulan saat itu terbaring tubuh Anjarsari.

Ketua Iblis Pencabut Sukma manggutkan kepala dan Wakilnya segera berdiri. Tubuh Andjarsari diletakkannya di kursi lalu dia melangkah kehadapan Ketua dan menjura.
“Ketua, harap dimaafkan bila aku menjalankan tugas dan kembali ke sini agak terlambat. Ada beberapa rintangan di tengah jalan…”

“Kau berhasil mendapatkan Keris Tumbal Wilajuda?!” bertanya sang Ketua. Suaranya berat serak laksana palu godam.

Wakil Ketua anggukkan kepala lalu keluarkan sebilah keris yang keseluruhannya mulai dari sarung sampai ke kerisnya terbuat dari emas. Karena senjata ini senjata mustika maka dengan sendirinya memancarkan sinar kuning yang terang! Mata Ketua Iblis Pencabut Sukma berkilat-kilat melihat senjata itu. Begitu diterumanya diperhatiKannya sejurus lalu di­masukkannya ke batik pinggang.

“Apalagi yang kau bawa?!” tanya sang Ketua. Wakilnya putar tubuh sedikit dan menuding pada tubuh Andjarsari yang didudukkan di kursi. “Gadis itu adalah calon isteri Sultan Hasanuddin. Aku berhasil menculiknya...”

“Sultan sendiri bagaimana...?”

“Aku juga sebenarnya hampir berhasil menculik dia waktu berada di sarang Perkumpulan Pengemis Darah Hitam tapi tahu-tahu sesosok bayangan biru melarikannya. Ketika kuikuti jejaknya ternyata bayangan biru itu adalah Dewi Kerudung Biru. Perempuan dajal itu hampir berhasil kutamatkan riwayatnya bersama beberapa orang anggota jika seorang pemuda gila bergelar Pendekar 212 tidak muncul di situ!”

“Hem… memang akhir-akhir ini kudengar kabar selentingan tentang munculnya seorang pendatang baru yang aneh dalam dunia persilatan…”

Ketua Iblis Pencabut-Sukma usap-usap dagunya yang tersembunyi di batik kerudung itu. Lalu tanyanya. “Jadi kau dan anak-anak buah tak sanggup membereskan pendekar itu?”

“Manusia itu sakti sekali. Dia memiliki sebuah kapak bermata dua… Kapak Maut Naga Geni 212!”

“Hanya sebuah kapak buat penebang pohon saja kau takuti. Bagaimana dengan Perkumpulan Pengemis Darah Hitam…?”

“Mulanya, karena merasa bahwa kita masih satu golongan dan aliran dengan mereka, aku minta agar keris, Andjarsari dan Sultan diserahkan secara baik-baik. Tapi mereka membangkang. Terpaksa tak satupun yang aku kasih hidup…”

“Itu bagus!” kata Ketua Iblis Pencabut Sukma “Dalam waktu dua atau tiga hari dimuka, kita akan segera berangkat ke Banten! Sampai saat ini secara tidak langsung, dengan adanya Keris Tumbal Wilajuda di tangan kita maka Banten sudah milik kita. Dan sebagai balas jasamu, kau boleh ambil itu gadis!”

Gembiralah hati sang Wakil mendengar itu. Sesaat sesudah sang Ketua meninggalkan ruangan disusul oleh dua orang anggota kelas satu tadi maka Wakil iblis Pencabut Sukma segera memboyong tubuh Andjarsari ke dalam kamarnya yang terletak dipaling ujung gedung tingkat kedua.

Sepeminum teh telah lewat.

Wiro mengintai lagi dari balik gugusan batu pualam. Gedung masih tetap sunyi senyap. Dengan rasa tak sabar segera pemuda ini kerahkan ilmu mengentengi tubuh dan laksana seekor alap-alap melesat ke atas atap gedung batu pualam tingkat kedua.

Bagian atas gedung ini rata licin. Dan di sebelah sana beberapa tombak jauhnya, dua orang berjubah dan berkerudung merah tengah asyik bermain dam. Begitu sudut mata mereka melihat adanya bayangan sesosok tubuh di atas atap itu segera keduanya putar kepala.

“Hai!” seru salah seorang dari mereka. “Siapa kau ?!” membentak yang kedua. Pendekar 212 melintangkan jari tetunjuk tangan kirinya di atas bibir. “Sssst…” desisnya. Kemudian dengan tiba-tiba tangan kanannya dihantamkan ke muka. Tak ampun lagi kedua manusia berjubah merah itu rebah di atas atap dengan menyembur darah sedang papan serta buah dam mental di udara jauh sekali.

Pendekar 212 geli sendiri. Dia memandang berkeliling. Kemudian lapat-lapat dari ujung atas sebelah sana didengarnya suara jeritan perempuan. Dengan cepat pemuda ini lari ke ujung atap. Di bawah atap, persis di atas sebuah jendela terdapat beberapa buah lobang angin. Dari salah satu lobang angin ini Wiro mengintai ke dalam gedung! Dan mendidihlah darah Pendekar 212 sewaktu menyaksikan apa yang terpampang di dalam kamar di bawah atap itu.

Andjarsari berada dalam keadaan hampir tak berpakaian. Rambutnya yang panjang kusut masai menjela-jela. Gadis ini megap-megap dan menjerit-jerit serta meronta. Tapi tak kuasa sama sekali untuk menyingkirkan tubuh Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma yang menghimpitnya dari atas!

Tidak membuang waktu lagi Pendekar 212 melompat turun dan melabrak jendela kamar dengah satu tendangan kaki kiri.

Kejut Wakil Ketua Perkumpulan Iblis itu bukan alang kepalang! Jendela kamar dilihatnya hancur berantakan dan sedetik kemudian sesosok tubuh melayang memasuki kamar!

“Bangsat rendah!” memaki manusia bermuka angker itu. Secepat kilat dia melompat dari tempat tidur dan menyambar jubah merahnya. Dia tak sempat mengenakan kerudungnya karena pada saat itu Pendekar 212 sudah menyerang dengan ganas!

Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma sambuti serangan lawan dengan jurus “menendang langit menjungkir awan” Begitu hebatnya jurus ini sehingga Pendekar 212 terpaksa tahan kegeramannya untuk melanjutkan serangan. Dan kesempatan ini dipergunakan oleh Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma untuk lari ke luar kamar!

“Jalan lari satu-satunya bagimu hanyalah ke neraka manusia durjana!” bentak Pendekar 212 lalu memburu dengan sebat.

Wakil Ketua itu melarikan diri ke sebuah ruangan besar yang di setiap dindingnya terdapat lima buah pintu. Begitu injakkan kaki di ruangan ini dia segera berteriak. “Anggota­anggota Perkumpulan! Gedung ini kebobolan bahaya! Lekas ke luar!”

Serentak dengan itu maka dua puluh pintu di empat dinding ruangan terbuka lebar dan melompatlah dua puluh anggota Perkumpulan. Kesemuanya berjubah dan berkerudung merah dan mencekal sebilah pedang merah! Wakil Ketua Perkumpulan sendiri cabut sebuah rujung emas dari balik jubahnya.

“Cincang pemuda sedeng ini!” Wakil Ketua beri komando. Kata-katanya ini ditutup dengan sambarkan rujung emasnya ke arah Pendekar 212! Masih dalam jarak beberapa tombak maka angin pukulan rujung telah menyambar dengan dahsyat ke arah Pendekar 212. Hampir bersamaan pula dengan itu maka dua puluh anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma menyerbu pula! Duapuluh batang pedang merah berkiblat! Hanya sekejapan mata saja maka terbungkuslah Pendekar 212 dalam hujan pedang dan sambaran rujung!

Murid Eyang Sinto Gendeng ini menggerung dahsyat. Dengan cepat dia jatuhkan diri ke lantai. Begitu jatuh di lantai dua tangannya dihantamkan nembentuk dua lingkaran. Dua lingkaran sinar putih panas yang menyilaukan mata menggelombang. Dimana-mana terdengar pekikan kematian. Lebih dari separoh anak buah komplotan Iblis Pencabut Sukma terkapar di lantai ruangan dengan tubuh hangus tersambar ilmu pukulan “sinar matahari” Pendekar 212!

Melihat ini mereka yang masih hidup menjadi lumer nyalinya dan mulai pikir-pikir untuk undurkan diri. Namun tentu saja mereka juga takut pada pimpinan, terlebih lagi ketika. Wakil Ketua mereka membentak. “Ayo! Kalian tak perlu takut! Mari gempur lagi dengan jurus menabas gunung menusuk bukit mendobrak bendungan!”

Selama beberapa tahun belakangan ini boleh dikatakan jarang sekali Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma mengeluarkan jurus “menabas gunung menusuk bukit mendobrak bendungan” itu. Kecuali dalam menghadapi lawan yang benar-benar luar biasa tinggi ilmu silat dan kesaktiannya. Dan hari itu bila mereka mengeluarkan jurus yang dahsyat itu nyatalah bahwa lawan yang mereka hadapi benar-benar hebat! Dan memang begitu kenyataannya!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (16)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.