Rabu, 07 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (14)

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Setelah termangu sejurus maka berkatalah Wiro. “Malam menjelang pagi tempo hari itu menyesal aku terpaksa meninggalkan kau… Apakah kau sudah kembali dan bertemu dengan gurumu Dewa Tuak…?”

Dewi Kerudung Biru menggeleng.

“Kenapa...?”

“Mana mungkin aku kembali jika tidak memenuhi perintahnya tempo hari…?” Habis mengucapkan kata-kata itu memerahlah kedua pipi Anggini karena jengah.

Wiro Sableng tertawa. “Ho-oh, jadi rupanya cerita itu masih belum juga selesai sampai sekarang…” Wiro geleng-gelengkan kepala.

(Sebagaimana diketahui dalam kisah “Maut Bernyanyi di Pajajaran,” guru Anggini yaitu Dewa Tuak berniat keras untuk menjodohkan Anggini dengan Pendekar 212. Tentu saja Pendekar 212 tidak mau. Setelah terjadi beberapa jurus pertempuran yang sengaja ditimbulkan oleh Dewa Tuak kemudian memerintahkan Anggini untuk mencari Pendekar 212 dan muridnya itu tidak diperkenankan kembali kepertapaan, kecuali dengan membawa Pendekar 212 sebagai calon suaminya !)

“Semustinya kau kembali ke tempat gurumu, Anggini. Siapa tahu dia telah merubah niatnya yang kurang bisa diterima itu…!”

“Aku tahu sifat guruku, Wiro. Sekali dia kasih perintah tak bakal ditariknya kembali! Dari jika aku tak bisa melaksanakan perintahnya pulang ke pertapaan berarti hanya untuk terima hukuman.

“Dan karena itu kau tak kembali-kembali kesana...?”

“Ya,” lalu tanpa diminta gadis itupun memberi penuturan. “Pagi sesudah kau pergi itu, aku terus mencarimu sampai berbulan-bulan hingga pada suatu hari aku bertemu dengan dua orang penunggang kuda berkerudung dan berjubah merah. Ternyata dia adalah Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dan seorang anak buahnya. Kau sudah lihat bagaimana keganasan komplotan mereka.

“Meskipun tak ada silang sengketa namun mereka dengan sengaja mencari gara-gara hendak meringkusku. Anak buah Iblis itu berhasil kubunuh tapi untuk menghadapi Ketua Iblis Pencabut Suma aku tiada mampu. Dalam keadaan ditotok kemudian diriku dilarikan ke sarang mereka di Lembah Batu Pualam, Aku dimasukkan ke sebuah kamar…”

Sampai di sini Anggini tak meneruskan kalimatnya. Ditelannya nafasnya beberapa kali. Air mata yang sejak tadi mengambang ke pipinya yang kemerahan. Wiro sendiri merasa dadanya dan nafasnya seperti menyesak. Mungkin selama ini baru kali di saat itulah dia berada dalam suatu keadaan yang serius demikian rupa. Sifat dan sikapnya yang selama ini selalu lucu jenaka lenyap ditelan gelombang perasaan setelah mendengar penuturan Anggini, penuturan yang masih belum habis.

Dengan menguatkan hatinya maka Anggini kemudian meneruskan penuturan. “Ketua Iblis Pencabut Sukma laknat itu hendak meperkosaku. Kemudian diriku akan diteruskannya pada bawahan-bawahannya. Tapi Tuhan masih melindungiku. Sebelum Ketua Perkumpulan laknat itu berhasil melampiaskan maksud terkutuknya, seorang nenek-nenek sakti menerobos masuk ke dalam kamar dan melarikanku…”

Anggini menarik nafas dalam seketika lalu meneruskan. “Ternyata nenek-nenek sakti itu adalah Dewi Kencana Wungu. Aku dibawanya kepertapaannya dan diambilnya menjadi murid. Sekarang beliau sudah tiada. Sudah meninggal…”

Lama kesunyian menjelang.

“Apakah rencanamu untuk masa mendatang…?” bertanya Pendekar 212.

“Aku sendiri masih belum tahu. Tapi yang pasti ialah aku harus membuat perhitungan dengan Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma itu…”

“Agaknya kita mempunyai tujuan yang sama yaitu sama-sama menghancurkan komplotan terkutuk itu.”

Lagi-lagi kesunyian menyeling.

“Anggini...” kata Wiro memecah kesunyian itu. “Sekali ini pertemuan kita tak bisa berjalan lama…”

“Kau memang selatu tidak menginginkan pertemuan lama-lama denganku..,” kata Anggini atau Dewi Kerudung Biru.

Pendekar 212 letakkan tangan kirinya di bahu Kanan Anggini. Perawan itu merasakan ada hawa aneh yang nikmat dan menenangkan hati mengalir ditubuhnya.

“Aku sudah bilang tadi bahwa pertemuan ini sangat menggembirakan. Namun kita harus sama memaklumi bahwa aku harus menyelamatkan Andjarsari dan merebut kembali Keris Tumbal Wilayuda. Di lain hari kelak aku pasti akan menyambangimu di sini…”

Anggini terdiam. Dipermainkannya kain biru yang tadi merupakan kerudung wajahnya.

“Aku pergi sekarang, Anggini…”

“Wiro…” suara Anggini tersekat ditenggorokan.

Langkah Pendekar 212 tertahan. Dipandanginya paras jelita di hadapannya. Kemudian dilihatnya bagaimana gadis itu menggerakkan tangannya, meremas jari-jari tangannya yang diletakkan di bahu. Sekelumit getaran menjalari darah muda Pendekar 212. Dia membungkuk dan mencium kening Anggini. Ketika kepalanya hendak ditariknya kembali tiba-tiba gadis itu merangkul lehernya erat sekali.

“Wiro… Wiro… jangan pergi dulu…” bisik Anggini. Nafas mereka saling menghembusi wajah masing-masing. Wiro membelai pipi yang halus lembut itu. Ketika Anggini memejamkan matanya, Pendekar 212 menempelkan bibirnya ke bibir Anggini.

Betapa hangatnya pertemuan sepasang bibir itu. Mula-mula bibir itu diam membeku seperti mati. Kemudian rangsangan mulai membuat getaran-getaran pada permukaan kulit bibir masing­masing. Dan bila sudah demikian, maka sepasang bibir itupun mulai menari-nari, saling lumas melumas. Keduanya berpagutan erat-erat seperti tak hendak dilepaskan untuk selama-lamanya.

“Wiro… aku cinta padamu, Wiro. Aku cinta padamu...” bisik Anggini berulang kali.

“Hemm...” Pendekar 212 menggumam. Digigitnya bibir perawan itu.

“Kaupun cinta padaku bukan…?”

“Hemmm…” Wiro menggumam lagi.

“Jawab Wiro. Katakanlah…” Dan tanpa disadari saat itu tubuh keduanya sudah terbaring berpagutan di lantai.

“Wiro...”

“Tiba-tiba di ruangan itu meledaklah suara tertawa yang dahsyat.

“Ha… ha… sungguh satu pemandangan yang asyik untuk dilihat! Teruskan… teruskanlah! Pendekar 212, kenapa tidak kau telanjangi saja tubuh gadis itu?! Itu seribu kali lebih nikmat… Ha… ha… ha!”

Seorang lain kemudian menyambungi suara yang pertama itu.

“Pendekar 212 nyatanya hanya seorang Pendekar Cabul. Tapi tak apa! Sebelum dikirim ke liang kubur tak apa kalau diberi kesempatan dulu bercumbu rayu! Di liang kubur kau hanya akan bercumbu dan tidur dengan cacing!”

Baik Pendekar 212 Wiro Sableng maupun Anggini sama-sama terkejut. Keduanya melompat cepat. Anggini merapikan jubah birunya yang terbuka di bagian dada!

~ 14 ~

DI PINTU ruangan berdiri berkacak pinggang dua manusia bermuka buruk angker. Yang berselempang kain putih mukanya hitam macam pantat kuali, rambut awut-awutan, tampangnya seperti singa dan dia bukan lain Resi Singo Ireng! Di keningnya tertera tiga angka 212. Di sampingnya berselempang kain biru berdiri kakaknya yaitu Resi Macan Seta yang tampangnya persis seperti macan. Kulit mukanya coreng moreng belang tiga, kuning, merah dan hitam!

Kedua pentolan pemberontak kaki tangan Parit Wulung ini telah diperintahkan oleh Parit Wulung untuk mencari kembali Keris Tumbal Wilayuda. Dan hari itu mereka sampai di Goa Dewi Kerudung Biru di mana mereka telah dapat mencium jejak Pendekar 212.

Bukan saja kedua Resi ini berprasangka bahwa Keris Tumbal Wirayuda sudah berada di tangan Pendekar 212, tapi Resi Singo Ireng sendiri memang mempunyai dendam kesumat terhadap Pendekar 212 yaitu sewaktu dibikin muntah darah dalam pertempuran di perbatasan Kerajaan Banten tempo hari. Dan dendam kesumat itu masih dibawanya ke mana-mana sampai saat itu di kulit keningnya di mana tertera angka pukulan 212!

“Siapa mereka, Wiro?” tanya Anggini dengan ilmu menyusupkan suara.

“Dua manusia keparat yang membantu Parit Wulung si pemberontak terhadap Banten!” menyahuti Pendekar 212.”

“Eeee… eee… eee. Kenapa acara kalian tidak diteruskan?” bertanya Resi Singo Ireng dengan nada mengejek.

Pendekar 212 menyengir. “Bicaramu keren sekali manusia muka pantat Kuali. Tentunya kau andalkan manusia muka harimau yang disampingrnu itu, huh?!”

Mata Resi Macan Seta membeliak garang. “Pentang kau punya mata, bukalah lebar­lebar agar tahu dengan siapa berhadapan!” bentaknya.

“Ah, manusia jelek macammu perlu apa aku kenali. Lagi pula, melihat kepada tampangmu, aku kawatir apa kau betul-betul manusia atau harimau jadi-jadian!” Habis berkata begitu maka Pendekar 212 tertawa mengakak.

“Pemuda besar mulut, aku mau lihat apakah kau sanggup menerima pukulanku ini?” bentak Resi Matjan Seta. Kata-kata ini ditutup dengan menghantam tangan kanannya ke muka. Maka bertaburlah sinar merah kekuningan ke arah Wiro dan Anggini. Pukulan “sinar surya tenggelam.”

Pendekar 212 dan Anggini melompat ke samping Anggini sementara itu dengan cepat mengenakan kembali kerudung birunya.

Kejut Resi Macan Seta bukan kepalang ketika melihat Pendekar 212 dan si gadis sanggup mengelakkan serangannya yang ampuh tadi. Nyatalah bahwa nama Pendekar 212 bukan kosong belaka. Tidak disesalkan kalau tempo hari adiknya dapat dipecundangi!

Ketika melihat si gadis mengenakan kerudung kejut Resi Matjan.Seta dan Singo Ireng lebih-lebih lagi.

“Kiranya kita berhadapan pula dengan Dewi Kerudung Biru, saudaraku Singo Ireng!” kata Matjan Seta.

“Betul, tapi sang dewi ini biar aku bekuk hidup-hidup. Tampang dan tubuhnya yang montok lumayan sekali untuk dikekapi sehari semalam!”

Marahlah Wiro mendengar ucapan Singo Ireng itu. “Manusia pantat kuali, angka 212 di keningmu pun belum sanggup kau hapus, sekarang sudah berani-beranian unjuk gigi!”

Si Singo Ireng tidak ambil peduli ucapan Wiro Sableng tapi segera menyerang Dewi Kerudung Biru. Sengaja dikeluarkannya jurus “memetik bunga memotes tangkainya” Jurus ini ialah satu jurus meringkus lawan yang didahului oleh satu totokan jarak jauh yang dahsyat!

Namun dugaan Singo Ireng bahwa dia akan sanggup membekuk hidup-hidup, Dewi Kerudung Biru dalam satu jurus hebat itu meleset besar! Dewi Kerudung Biru sambuti serangannya dengan jurus “naga kepala seribu mengamuk!”

Kaget sekali jadinya Resi Singo Ireng ketika menyaksikan bagaimana kedua tangan lawan berkelebat sangat cepat naik turun membabat ke samping dan berputar bergelung, menyerang ke arahnya.

Selama malang melintang membuat kejahatan di dunia persilatan baru kali ini dia menghadapi jurus aneh ini! Sebaliknya Resi Matjan Seta yang punya lebih banyak pengalaman segera berseru. “Singo lreng, awas itu pukulan naga kepala seribu mengamuk!”

Mendengar ini tersurutlah Resi Singo Ireng. Cepat-cepat dia kemudian melompat ke udara ketika menukik ke bawah dia lancarkan empat tendangan empat pukulan. Dalam sekejapan saja kedua orang itu sudah terlibat dalam jurus-jurus yang dahsyat.

“Manusia muka coreng moreng! Apa hanya kalian berdua saja yang datang antarkan nyawa ke mari…?” tanya Pendekar 212 pada Matjan Seta.

“Bocah gila!” bentak Matjan Seta marah sekali sehingga mukanya yang coreng moreng itu semakin menyeramkan.

“Jika kau tidak kepingin mampus, sebaiknya lekas serahkan Keris Tumbal Wilayuda dan beri tahu di mana Sultan berada. Niscaya kau punya nyawa akan aku ampunkan!”
Pendekar 212 bersiul keras.

“Kau bukan Tuhan yang bisa mengampunkan manusia! Sebaiknya kupertemukan saja kau lekas-lekas dengan malaekat maut!”

Resi Macam Seta mengaum macam harimau terluka. Tubuhnya berkelebatan dan lenyap. Angin dahsyat laksana angin prahara menderu ke arah Pendekar 212. Secepat kilat Pendekar 212 jatuhkan diri dari berguling di lantai. Tangan kanannya memukul ke atas!

Pukulan Matjan Seta yang tidak mengenai sasarannya terus melanda dinding batu. Dinding itu pecah! Tetapi sebaliknya Resi ini merasakan bagaimana tubuhnya terasa seperti diangkat ke atas dan satu angin tajam menyakiti kulit kakinya. Ketika dia memandang ke muka Pendekar 212 sudah tak ada dihadapannya.

“Aku di sini, Matjan Seta!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (15)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.