Rabu, 07 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (13)

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Dia memandang lagi pada Wiro Sableng. “Apakah dia akan segera siuman dan sembuh kembali, Dewi?” bertanya Sultan.

Sang Dewi mengangguk.

“Mengenai diri Andjarsari dan keris Tumbal Wilayuda, bisakah kau memberi petunjuk…?”

“Andjarsari diculik oleh komplotan Iblis Pencabut Sukma, Keris Tumbal Wilayuda juga mereka yang mencurinya…”

“Kalau begitu,” kata Sultan dengan kepalkan tinju. “aku akan cari sarang mereka…!”

Dewi Kerudung Biru gelengkan kepala. “Selain besar bahayanya juga kau mesti pergi ke Demak sekarang juga Sultan.”

“Aku tidak takut mati!” kata Sultan jantan. “Aku rela korbankan jiwa demi tegakkan Kerajaan Banten yang syah kembali.”

“Aku puji hati kesatriaan dan kecintaanmu pada Kerajaan Banten, Sultan. Tapi ingat, agaknya caramu untuk mencapai rencana itu hanya dengan mengikuti kehendak hati sendiri. Salah-salah kau bisa celaka dan Banten tetap dikuasai oleh kaum pemberontak Parit Wulung.”

“Kalau begitu katamu, aku menurut,” ujar Sultan Hasanuddin akhirnya. “Tapi sebelum pergi perkenankanlah aku melihat parasmu.”

Dewi Kerudung Biru menggeleng. “Sayang, masih belum saatnya aku mengabulkan permintaanmu Sultan. Harap dimaafkan.”

Sultan Hasanuddin menghela nafas dalam. Dia ucapkan lagi rasa terima kasih yang sebesar-besarnya.

“Jasa dan pertolonganmu akan kuingat, akan dikenang oleh rakyat Banten. Di satu ketika aku akan datang lagi menyambangimu, Dewi,” Sultan memanggut memberi hormat lalu meninggalkan tempat itu.

Kira-kira tiga kali sepeminuman teh lamanya Sultan meninggalkan Goa Dewi Kerudung Biru maka dihadapan jalan yang ditempuhnya tahu-tahu muncullah tiga orang penunggang kuda. Ketiganya berjubah dan berkerudung kain merah darah. Anggota-anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma!”

Sesaat kemudian merekapun berhadap-hadapanlah.

Anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Suma yang paling muka buka suara membentak, “Lekas mengaku, apa kau Sultan Banten yang melarikan diri itu?!”

Kawannya yang lain menyela. “Melihat kepada tampangnya pasti tidak salah lagi! Ayo kawan-kawan mari kita berebut pahala meringkus manusia ini!”

Maka ketiga anggota Perkumpullan Iblis itu pun melompatlah dari kuda masing­masing. Sambil melompat ketiganya sekaligus keluarkan jurus warisan Ketua mereka yang dinamai “tiga pasang lengan meremas tangkai bunga teratai” Yang satu datang dari atas, yang kedua dari depan dan yang terakhir dari belakang! Tapi Sultan yang sekarang jauh berbeda de­ngan Sultan sehari sebelumnya.

Sekali Sultan membentak maka terpentanglah kedua tangannya yang mana disusul dengan gerakan sebat laksana ribuan ekor naga menyengat kian ke mari !

Melihat ini, terkejutlah ketiga penyerang. Buru-buru mereka batalkan serangan jurus pertama dan menyusul dengan jurus “memukul kasur menggeprak bantal!” Ini adalah satu jurus yang cukup lihay. Anggota Perkumpulan Iblis yang di atas hantamkan dua telapak tangannya sekaligus sedang yang di depan dan di belakang kirimkan pukulan keras ke dada dan ke punggung. Tak ayal lagi Sultan segera praktekkah ilmu yang baru diyakininya dari Dewi Kerudung Biru yaitu keluarkan jurus “cakar garuda emas!”

“Brettt… bret!”

“Kurang ajar! Matipun kau masih cukup pantas untuk diserahkan kepada Ketua kami!” bentak anggota Perkumpulan Iblis yang sempat selamatkan diri. Dia memberi isyarat pada dua kawannya. Serentak ketiganya menyerbu dan angkat tangan kanan tinggi-tinggi. Namun sebelum pukulan “pencabut sukma” itu sempat mereka laksanakan. Sultan buka mulutnya dan asap biru menggebubu ke arah ketiga penyerangnya.

“Asap kencana biru!” seru salah seorang anggota Perkumpulan Iblis dengan terkejut. Buru-buru dia tutup jalan nafas. Tapi dua orang kawannya terlambat. Begitu tercium oleh keduanya kepulan asap biru yang mengandung racun itu maka hancurlah pembuluh-pembuluh darah dan pecahlah paru-paru mereka. Keduanya mati di situ juga!

“Pemuda, ada hubungan apa kau dengan Dewi Kerudung Biru? Apakah kau muridnya?!” bentak anggota Perkumpulan Iblis yang masih hidup.

Sultan kertakkan rahang. Tubuhnya berkelebat. Dua tangan terpentang lebih dahsyat dari yang pertama tadi dan “brak”! Hancurlah mulut yang membentak itu! Tubuh anggota Perkumpulan Iblis itu kelojotan sebentar lalu kaku tegang untuk selamalamanya!

~ 13 ~

KETIKA Wiro Sableng, siuman dari pingsannya dirasakannya kepalanya dipangku oleh satu paha yang panas sedang hidungnya mencium bau harum menyegarkan. Dibukanya matanya dan pandangannya membentur sebuah wajah yang ditutupi kerudung kain biru. Terkejutlah pemuda ini. Cepat-cepat dia bangun dan berdiri.

Di balik kerudungnya, Dewi Kerudung Biru menjadi kemerah-merahan pipinya.
Wiro Sableng memandang berkeliling. Ruangan itu telah bersih dari mayat-mayat anggota Pepkumpulan IbIis Pencabut Sukma. Sultan sendiri tiada kelihatan. “Kemana dia…?!” tanya Wiro.

“Dia siapa…?”

“Sultan!”

“Sudah pergi pagi tadi. Pergi ke Demak!” Pendekar 212 memandang lama-lama ke muka yang ditutup kerudung itu. Suara perempuan di hadapannya ini rasanya pernah didengar dan dikenalinya sebelumnya tapi lupa di mana!

Ketika ingat bahwa perempuan itulah yang telah menolongnya, maka Pendekar 212-pun segera menjura.

“Dewi Kerudung Biru, aku haturkan-terima kasih atas pertolonganmu. Di lain hari kelak aku akan balas budi baikmu itu.”

“Aku tak mengharapkan balasan apa-apa…” Dan Dewi Kerudung Biru memandang ke jurusan lain ketika untuk kesekian kalinya mata Pendekar 212 memperhatikan sepasang matanya lakat-Iekat. Dadanya bergetar. Ditahannya gelora hatinya.

Melihat sikap sang Dewi, ingat bahwa dia pernah mengenali suara perempuan itu sebelumnya maka inginlah Wiro melihat paras di balik kerudung itu. Namun diajukannya dulu pertanyaan. “Dewi, mungkin kau bisa memberi petunjuk di mana Andjarsari dan keris Tumbal Wilayuda berada…?”

“Andjarsari diculik oleh komplotan Iblis Pencabut Sukma. Keris Tumbal Wilayuda juga ada pada mereka. Kau harus cepat turun tangan Pendekar 212!”

“Tapi dunia begini luas, dimana aku akan cari mereka?”

“Komplotan itu bersarang di Lembah Batu Pualam…!”

“Terima kasih atas keteranganmu Dewi,” Wiro merenung sejenak. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. “Dewi Kerudung Biru, sewaktu aku bertempur melawan anggota komplotan itu kau telah berseru menyebut namaku. Tahu dari manakah…?”

Tergetarlah hati sang Dewi mendengar pertanyaan ini. Dengan memandang kejurusan lain menjawablah dia. “Nama seorang pendekar tentu saja dikenal sampai ke mana-mana…”

“Aku bukan pendekar apa-apa..,” kata Wiro merendah. “Dan terus terang saja aku rasa­rasa pernah bertemu dengan kau sebelumnya. Aku masih bisa ingat dan mengenali suaramu…”

Dewi Kerudung Biru tundukkan wajah. Matanya yang jeli dan bercahaya kini kelihatan redup dan diambangi air mata. Ditekannya perasaannya yang menggelora. Dikerahkannya tenaga dalamnya agar tidak gemetar suaranya. “Tidak... kita tak pernah bertemu sebelumnya Pendekar 212. Dan di dunia ini mungkin saja ada beberapa manusia yang punya suara hampir bersamaan...”

Wiro Sableng maju satu langkah.

“Dewi, kalau kau tak mau berterus terang, kasihlah tahu saja siapa namamu sebenarnya.”

“Kau sudah tahu.”

“Ah… Dewi Kerudung Biru itu hanya nama gelaran belaka…” jawab Wiro pula.

“Di lain hari mungkin aku baru bisa beri tahu nama. Sekarang harap kau suka tinggalkan tempat ini.

Tapi pemuda itu tetap berkeras. “Dengar Dewi, setiap orang yang pernah menolong aku, musti kuketahui siapa dia adanya. Kalau kau tak mau kasih tahu nama tak apa. Namun apakah kau juga tak sudi buka kerudung itu sebentar dan memperlihatkan paras…?”

Dewi Kerudung Biru menghela nafas. “Itu juga tak perlu. Kau akan menyesal…”
“Menyesal kenapa?”

“Kau akan terkejut karena mukaku sangat buruk dan mengerikan…”

“Muka yang buruk tapi hati yang polos dan berbudi seribu kali lebih baik dari wajah bagus dan hati busuk jahat.”

“Permintaanmu tak dapat kukabulkan,” kata Dewi Kerudung Biru dengan ketegasan yang dipaksakan.

Pendekar 212 maju lebih dekat. “Kalau begitu...” katanya, “harap maafkan karena aku terpaksa melakukan ini” Wiro ajukan tangan hendak membuka kerudung penutup wajah.

“Apakah seorang ksatria bersikap sekurang ajar dan tak tahu peradatan?!” bentak Dewi Kerudung Biru.

Tangan Wiro tertahan seketika. Tapi karena perempuan itu dilihatnya tiada menjauhkan kepalanya maka diteruskannya niatnya.

“Sret!”

Terbukalah kerudung biru itu!

Dan terbeliaklah mata Pendekar 212. “Anggini!” serunya.

Ternyata paras di balik kerudung itu adalah paras seorang gadis jelita. Gadis jelita yang dulu pernah dikenal oleh Pendekar 212 sebagai murid Dewa Tuak! (Baca. “Maut Berjanji di Pajajaran”).

Untuk beberapa lamanya kemudian Wiro Sableng hanya bisa berdiri terlongong­longong sedang Anggini sendiri tundukkan kepalanya coba menyembunyikan sepasang matanya yang berkaca-kaca dan juga sembunyikan parasnya yang membayangkan perasaan serta gelora hatinya. Selama beberapa bulan dia telah berkelana untuk mencari Pendekar 212 dan baru hari itu mereka jumpa dalam satu suasana yang tak terduga!

“Apakah dia dapat memaklumi bagaimana perasaan hatiku terhadapnya?” membathin Anggini atau Dewi Kerudung Biru.

“Ini adalah satu hal yang tak terduga. Anggi…ni…” desis Wiro.

Anggini anggukkan kepala. “Ya, suatu hal yang tak terduga...” suaranya yang rawan ditindihnya dengan tenaga dalam sehingga getaran hatinya tiada kentara oleh si pemuda.

“Tapi ini adalah juga merupakan hal yang menggembirakan,” ujar Pendekar 212 pula. “Ilmumu maju pesat sekali. Siapa yang menduga kalau Dewi Kerudung Biru itu nyatanya adalah engkau sendiri…?!”

Karena Anggini diam saja dan masih tundukkan kepala maka bertanyalah Wiro. “Aku tak mengerti, mengapa tadi kau sengaja mengatakan parasmu buruk…”

“Ah… Anggini tarik nafas dalam.

Pendekar 212 merenung sejenak. Terkenang dia pada satu malam beberapa bulan yang lewat ketika dia berada berdua-duaan dengan Anggini yaitu sehabis pertempuran di Gua Sanggreng.

“Selama waktu ini tentu kau telah menuntut ilmu pada seorang guru sakti. Bukankah demikian…?”

Anggini mengangguk.

“Rupanya kau kurang begitu senang dengan pertemuan ini, Anggini?” tanya Wiro Sableng.

“Jangan menduga yang bukan-bukan, Wiro...” jawab Anggini dan dalam hatinya dia menambahkan. “Kalau kau tahu perasaanku terhadapmu…”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (14)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.