Rabu, 07 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (12)

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Iblis Pencabut Sukma terkejut. Bukan saja dua jurus serangannya tadi menjadi buyar, tapi serangan lawan dengan hebatnya terus menyerang kearahnya.

“Asap kencana biru!” seru Iblis Pencabut Sukma dengan kaget. Cepat sekali dia melesat enam tombak ke atas. Sewaktu turun dia sudah cabut sebilah pedang merah kemudian sambil menyerang dia berteriak. “Anak-anak, ayo tunggu apa lagi?!”

Mendengar ini maka semua anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma segera menyerbu. Sultan lagi-lagi hendak turut membantu sang Dewi, namun setiap saat dia gerakkan badan, setiap kali pula Dewi Kerudung Biru mendorongnya ke belakang sehingga dia tak bisa berbuat apa-apa!

Dewi Kerudung Biru sungguh luar biasa dalam bertahan dan menyerang. Namun lawan­lawannya banyak sekali, apalagi di bawah pimpinan Wakil Ketua mereka! Sesudah tiga puluh jurus berlalu maka sang Dewi mulai terdesak. Dua anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma berhasil ditewaskannya namun serangan-serangan lawan bukannya mengendur melainkan bertambah dahsyat.

Diam-diam Sultan menjadi gelisah. Kali ini sang Dewi pasti tak bisa bertahan lebih dari sepuluh jurus lagi, pikirnya. Maka pada saat Dewi Kerudung Biru sibuk menghadapi lawannya, terbungkus oleh sinar pedang merah dengan cepat Sultan menerjang ke muka. Bantuan Sultan dalam lima jurus di muka sanggup mengimbangi lawan-lawan yang lihay itu. Namun lambat laun mulai mengendor. Bersama sang Dewi kembali keduanya terdesak!

Dewi Kerudung Biru semburkan lagi “asap kencana biru”nya. Namun angin pedang merah di tangan Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dengan hebatnya berhasil membuyarkan asap sakti itu!

“Betina galak! Sekarang terimalah kematianmu!” bentak Iblis Pencabut Sukma. Dia memberi isyarat pada anak-anak buahnya. Berbarengan mereka sama angkat tangan kanan ke atas siap untuk lancarkan pukulan “pencabut sukma” Satu pukulan “pencabut sukma,” saja dahsyatnya bukan main, apalagi sekaligus duabelas pukulan, dapat dibayangkan bagaimana luar biasa kehebatannya!

Dewi Kerudung Biru pentang kedua lengannya dan putar tubuh laksana baling-baling. Mulutnya tiada henti menghembus-hembus mengeluarkan asap biru. Satu detik lagi maka duabelas tangan lawanpun ditarik ke belakang!

Dalam suasana yang diliputi seribu ketegangan itu, tiba-tiba mengaunglah suara seperti suara seribu tawon mendengung. Di antara dengungan itu melengking pula suara siulan yang disusul oleh berkiblatnya seputaran sinar putih menyilaukan mata!

Tiga anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma, termasuk Tangan Perenggut Jiwa terpekik dan rebah ke lantai mandi darah. Selarik sinar putih yang disertai raungan dahsyat kembali berkiblat dan Wakil Ketua Perkumpulan Pencabut Sukma dan anak-anak buahnya terpaksa batalkan serangan dan melompat ke satu pojok.

“Pendekar 212!” terdengar seruan Sultan begitu dia kenali siapa adanya pendatang baru itu. Dewi Kerudung Biru sendiri memandang pada Wiro Sableng dengan sinar mata yang berkilat-kilat. Di balik pandangan mata itu seperti ada sesuatu yang disembunyikannya. Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dan anggota-anggota lainnya memandang menyorot penuh amarah.

Pendekar 212 Wiro Sableng sunggingkan senyum di wajahnya yang keren sedang tangan kanannya mempermainkan Kapak Maut Naga Geni 212. Melihat pada angka 212 yang tertera pada dua mata kapak di tangan si pemuda maka berkatalah Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma, sambil melintangkan pedang di muka dada. “Jadi kaukah yang selama ini dijuiuki Pendekar 212 itu…?!”

Jawaban Wiro Sableng hanya tertawa mengekeh.

“Orang gendeng, apa kau sudah bosan hidup mau campur urusan orang lain…?!” tanya Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma.

“Atau mungkin masih belum tahu tengah berhadapan dengan siapa saat ini?!” ujar Si Pisau Terbang.

“Siapapun kalian adanya tak lebih dari babi-babi cacingan yang diberi berjubah dan berkerudung merah!” ejek Pendekar 212 pula!

Marahlah Si Pisau Terbang. Tanpa banyak cerita dia lepaskan sekaligus selusin pisau terbang beracun ke arah Pendekar 212. Wiro Sableng gerakkan Kapak Maut Naga Geni 212 membuat setengah lingkaran.

“Tring… tring… tring…”

Kedua belas pisau terbang itu musnah patah-patah. Melototlah mata Si Pisau Terbang. Dia menyurut undur dua langkah.

“Pisau Terbang, kau minggirlah. Biar aku yang antarkan manusia bosan hidup ini ke pintu gerbang akhirat!”

Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma maju dua langkah. Sultan Hasanuddin dengan ilmu menyusupkan suara beri peringatan pada Pendekar 212. “Sobat, hati-hatilah terhadapnya. Dia sakti sekali!”’

Begitu peringatan Sultan berakhir maka Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma telah lancarkan serangan pedang merah dalam jurus yang luar biasa. Jurus ini sekaligus merupakan empat tebasan dan empat tusukan!

“Ah cuma ilmu pedang picisan saja mau diandalkan,” Ejek Wiro. Kapak Naga Geni ditangannya menderu. Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma tiada berani mengadu senjata. Hatinya tergetar ketika merasakan bagaimana sinar putih senjata lawan membuat pedangnya tak bisa bergerak leluasa. Manusia ini membatin. “Celaka, paling lama aku hanya bisa layani si keparat ini dalam dua puluh lima jurus!” Dan dia segera putar otak untuk cari kesempatan larikan diri!

Pendekar 212 yang tahu gelagat lawan segera lancarkan serangan ganas. Wakil Ketua Perkumpulan. Iblis Pencabut Sukma angsurkan pedang merah kemuka untuk menangkis karena bertindak berkelit tiada punya kesempatan lagi.

“Trang”!

Maka patahlah pedang merah Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma itu! Keringat dingin memercik di kening manusia iblis ini! Nyalinya lumer! Sambil angkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas untuk lepaskan pukulan yang sangat diandalkannya yaitu pukulan pencabut sukma, maka dia berseru pada sisa-sisa anak buahnya.

“Kalian jangan mematung saja! Mari sama kita bereskan anjing kurap ini!”

Maka delapan anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma dengan membentak dahsyat segera menerjang ke muka dan langsung lancarkan pukulan pencabut sukma!

“Wiro! Awas! Mereka hendak lepaskan pukulan pencabut sukma!” seru Dewi Kerudung Biru. Bahwasanya sang Dewi mengetahui namanya inilah satu hal yang mengejutkan Pendekar 212 Wiro Sableng! Keterkejutan ini membuat dia menjadi lengah seperempatan detik. Dan itu sudah cukup bagi Wakil Ketua Iblis Pencabut Sukma serta anak-anak buahnya!

“Mampuslah!”

Dewi Kerudung Biru menjerit! Sultan sendiri pucat lesi parasnya Tiba-tiba Pendekar 212 meraung laksana halilintar. Dia melompat ke muka Kapak naga Geni 212 menderu. Empat suara pekikan seperti mau memecahkan anak telinga. Empat anggota Perkumpulan Iblis Pencabut Sukma terkapar dengan tubuh hampir kuntung! Pendekar 212 ayunkan Kapak Naga Geni 212 sekali lagi namun disaat itu Wakil Ketua Perkumpulan Iblis Pencabut Sukmat dan sisa-sisa anak buahnya sudah lenyap larikan diri keluar goa.

Pendekar 212 bediri nanar. Sultan melompat ke muka dan merangkul tubuh Wiro. Di balik kerudungnya Dewi Kerudung Biru menggigit bibir. Sepasang matanya yang jeli dipejamkan.Wiro ambil sebutir pil dari saku pakaiannya lalu ditelan dengan cepat. Dewi Kerudung Biru kemudian berdiri dan kedua tangannya ditekankan ke bahu Pendekar 212 untuk alirkan tenaga dalam guna bantu menyembuhkan luka yang diderita Pendekar itu. Namun sesaat kemudian Pendekar 212 mengerang halus lalu pingsan tiada sadarkan diri!

~ 12 ~

SULTAN cemas sekali melihat keadaan Pendekar 212 demikian rupa. Bersama Dewi Kerudung Biru, Wiro dibaringkan di lantai, kepalanya diganjal dengan sehelai kain yang dilipat-lipat.

“Dewi, apakah… apakah dia…?” Sultan tak bisa meneruskan pertanyaannya.

Dewi Kerudung Biru hela nafas. “Sebenarnya aku yang salah karena aku telah berseru memanggil namanya tadi,” berkata perempuan itu. Dihelanya lagi satu kali nafas dalam. “Tapi lukanya tak begitu parah. Besok pagi dia sudah sembuh kembali. Untung saja berilmu tinggi, kalau tidak keseluruhan isi perutnya pasti akan berbusai ke luar dari mulut.”

“Dewi, kau tahu nama pemuda ini. Apakah kalian pernah kenal sebelumnya…?”

Dewi Kerudung Biru elakkan pertanyaan itu dengan balik menanya. “Kau sendiri punya hubungan apa dengan dia…?”

Maka Sultan Hasanuddin menuturkan mulai pertama kali dia kenal dan ditolong oleh Pendekar 212. Mendengar itu kembali sepasang mata Dewi Kerudung Biru berkilat-kilat. Dan hal ini diam-diam diperhatikan oleh Sultan sehingga dia merasa yakin pastilah ada hubungan apa-apa antara Dewi Kerudung Biru dengan Pendekar 212 sebelumnya. Tapi untuk bertanya lebih jauh Sultan merasa segan.

“Dia memang sakti sekali, Sultan,” berkata sang Dewi. “Sikapnya kadang-kadang lucu tapi juga menyakitkan hati. Bahkan banyak orang yang menyangka dia kurang sehat pikiran. Tapi hatinya sepolos permata, seputih kertas, jujur. Beberapa tokoh persilatan telah meramalkan bahwa kelak dikemudian hari dia bakal merajai dunia persilatan…”

Sultan Hasanuddin manggut-manggut.

“Sultan, dalam hal ini kita tak punya waktu lama. Aku akan ajarkan padamu beberapa jurus ilmu silat dan ilmu asap kencana biru… “

“Aku haturkan ribuan terima kasih Dewi,” kata Sultan dengan gembira.

“Silakan duduk bersila dan pejamkan mata,” Dewi Kerudung Biru berkata.
Sultan menurut. Dia duduk bersila dan pejamkan mata. Dewi Kerudung Biru kemudian salurkan tenaga dalamnya ke tubuh Sultan melalui pundak. Selesai menerima saluran tenaga dalam itu Sultan merasakan tubuhnya sangat enteng dan segar bugar.

“Sekarang aku akan ajarkan padamu dua jurus ilmu silat. Dua jurus ilmu silat ini hanya empat orang yang pernah memilikinya. Yaitu Pendekar Seberang Lor, Resi Warajana, Dewi Kencana Wungu. Ketiganya sudah meninggal. Aku adalah pewarisnya yang keempat dan bila kuajarkan dua jurus itu kepadamu maka kau adalah perwaris yang kelima! Jurus yang pertama ialah jurus naga kepala seribu mengamuk. Yang kedua, jurus Cakar garuda emas. Keduanya merupakan jurus-jurus yang sukar dicari bandingannya dalam dunia persilatan. Jika kau benar-benar meyakininya, percayalah tidak sembarang musuh bisa melayanimu.”

“Terima kasih Dewi… ribuan terima kasih. Jadi kalau begitu Dewi adalah murid dari Dewi Kencana Wungu…?”

Sang Dewi mengangguk. “Mari kita mulai,” katanya.

Karena Sultan sebelumnya sudah mempunyai dasar ilmu silat yang tinggi juga maka kedua jurus yang diajarkan padanya itu dengan mudah dan cepat bisa dipahaminya. Dewi Kerudung Biru gembira sekali. Kemudian kepada Sultan diajarkan pula ilmu Asap kencana biru. Ilmu ini agak sukar mula-mula dipahami oleh Sultan namun karena tekunnya beberapa jam kemudian dia berhasil juga menguasainya.

“Kecerdasanmu luar biasa sekali, Sultan,” kata Dewi Kerudung Biru. “Malam ini, sampai esok pagi teruslah berlatih.”

“Nasihat Dewi akan kuperhatikan,” jawab Sultan. Dan malam itu, seorang diri Sultan melatih diri. Dewi Kerudung Biru sementara itu duduk bersemadi. Meskipun dia pejamkan mata namun bila ada jurus-jurus yang agak salah dilakukan oleh Sultan dia mengetahuinya dan segera menegur!

Keesokan paginya…

Di luar gua burung-burung berkicau bersahut-sahutan menyambut kedatangan pagi yang ditandai munculnya sang surya di ufuk timur. Di dalam gua Sultan tengah duduk berhadap-hadapan dengan Dewi Kerudung Biru.

“Yakini dan pelajari terus ilmu-ilmu yang telah kau milik itu Sultan. Kelak kemudian hari kau akan buktikan sendiri kemanfaatannya. Sekarang, selagi hari masih pagi, selagi udara masih segar, maka segeralah berangkat ke Demak. Dalam semediku malam tadi aku mendapat sedikit renungan petunjuk dari Yang Kuasa bahwa kekuasaan kaum pemberontak yang kini bercokol di Banten tidak akan lama…”

Sultan mengangguk. Dia memandang pada tubuh Pendekar 212 yang sampai saat itu masih juga terbaring dalam pingsannya. “Bagaimana dengan sahabatku ini, Dewi? Kalau bisa aku ingin berangkat bersama-sama dia…”

Dewi Kerudung Biru menggeleng. “Dalam rencana untuk menumpas kaum pemberontak, dalam usaha menegakkan yang benar dan menghancurkan yang bathil, kalian berdua sama satu tekat dan satu hati. Namun dalam mencapainya masing-masing kalian mempunyai cara tersendiri. Harap kau bisa merenungi hal ini, Sultan…”

Sultan Hasanuddin termenung sejenak. Memang ucapan Dewi Kerudung Biru itu dapat dipahaminya.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (13)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.