Senin, 05 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (10)

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Diam-diam Iblis Pencabut Sukma terkejut juga melihat kehebatan lawan yang satu ini. Dia membentak garang dan berkelebat cepat. Tubuhnyapun lenyap! Kelebatan tubuhnya mengeluarkan angin deras yang membendung keseluruhan serangan lawan. Penuh penasaran Pengemis Mata Picak keruk saku bajunya yang bertambal-tambal.

“Lihat paku!” serunya.

Dua belas buah paku hitam yang beracun melesat menyerang dua belas bagian tubuh Iblis Pencabut Nyawa. Manusia berkerudung ini menggerung dan kebutkan kedua tangannya. Maka terdengarlah jeritan Pengemis Mata Picak. Enam dari paku darah hitamnya yang beracun berbalik dan menembus tubuhnya sedang enam lainnya mental ke loteng!

Terbeliaklah mata Pengemis Kaki Pincang dan anggota-anggota Perkumpulan lainnya yang masih hidup sedang Pengemis Mata Buta yang tidak punya mata kelihatan wajahnya mengkerut tegang.

“Iblis Pencabut Sukma,” buka suara Pengemis Mata Buta. “Kita sama-sama satu golongan hitam. Antara pihakku dan pihakmu tiada permusuhan. Mengapa turun tangan sampai seganas ini…?!”

“Ah, aku bosan mendengar bicaramu yang itu ke itu juga! Walau bagaimanapun aku tidak sudi disama ratakan satu golongan dengan kau! Aku beri waktu lima kejapan mata bagimu dan rekanmu si pincang untuk merenung dan memenuhi permintaanku…”

Lima kejapan matapun lewat dalam suasana hening tegang.

“Kalian manusia-manusia keras kepala dan dogol geblek!” bentak Iblis Pencabut Sukma, “Lihat ini!”

Sepasang tangannya terpentang ke muka dan dua larik sinar merah yang menyeruak seperti kipas menggebubu ke arah tiga belas orang anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Pengemis Kaki Pincang dan Pengemis Mata Buta terkejut. Buru-buru keduanya hantamkan tangan untuk memapasi namun luput! Di seberang sana tiga belas anggota Perkumpulan Pengemis Darah Hitam mencelat ke dinding dan jatuh bertumpukan tanpa nyawa. Tubuh mereka matang merah laksana dipanggang!

Maka murkalah kedua pucuk pimpinan perkumpulan Pengemis Darah Hitam. Keduanya maju berbarengan.

“He… he, dua tokoh silat yang katanya lihay dan terkenal nyatanya hanya nama-nama kosong belaka, menyerang main keroyok!” kata Iblis Pencabut Sukma dengan suara lantang.

Pengemis Mata Buta, meskipun tokoh silat jahat golongan hitam, tapi mendengar ini segera bersurut mundur dan berkata . “Saudara Pengemis Kaki Pincang, bereskan biang malapetaka ini!”

“Tak usah khawatir, Saudara Mata Buta,” menyahut Pengemis Kaki Pincang. “Tapi aku tidak begitu senang maenghadapi manusia yang sembunyikan muka dibalik kerudung!”

Habis berkata begini, dengan keluarkan jurus “garuda sakti,” maka berkelebatlah Pengemis Kaki Pincang. Demikian cepat gerakannya sehingga tak terduga sama sekali oleh Iblis Pencabut Sukma.

“Sreet”!

Maka robek dan tanggallah kerudung merah Iblis Pencabut Sukma! Dan terkejutlah Pengemis Kaki Pincang. Muka Iblis Pencabut Sukma nyatanya benar-benar menyeramkan seperti iblis. Keseluruhan mukanya hancur oleh bopeng-bopeng yang besar-besar (bopeng = burik). Kedua matanya sangat besar dan menjorok ke muka serta jereng (juling). Hidungnya hampir sebesar telapak tangan dan pesek lebar menutupi pipinya yang cekung. Bibirnya sangat tebal dan tak bisa dikatupkan sehingga kelihatanlah gigi-giginya yang besar-besar dan busuk!

Kejut Pengemis Kaki Pincang hanya seketika. Menyusul terdengar suara tertawanya membahak. “Aha… kiranya Iblis Pencabut Sukma bermuka terlalu buruk, lebih buruk dari iblis sungguhan! Pantas sembunyikan muka dibalik kerudung!”

Iblis Pencabut Sukma mendongak ke atas. Hidungnya keluarkan suara mendengus. “Jangan harap kau bisa selamat dalam tiga jurus, setan alas!” bentaknya.

Dan disaat itu Pengemis Kaki Pincang sudah melayang sebat ke mukanya. Dua tangan terpentang kemudian membuat enam serangan beruntun yang disusul oleh empat tendangan dahsyat!

Iblis Pencabut Sukma mengaum macam harimau lapar. Sekali dia berkelebat maka lenyaplah tubuhnya dan pada sekejapan mata kemudian sinar merah berbentuk kipas menggelombang menyerang Pengemis Kaki Pincang.

“Saudara Kaki Pincang! Hati-hatilah…!” memperingatkan Pengemis Mata Buta.

“Ah, cuma pukulan picisan begini siapa yang takut!” sahut Pengemis Kaki Piricang seraya lompat tiga tombak ke atas. Serangan lawan berhasil dielakkan oleh Pengemis Kaki Pincang. Dengan geram Iblis Pencabut Sukma lompatkan diri pula ke udara seraya lancarkan jurus “menendang langit menjungkir awan”.

Karena jurus ini mempergunakan lebih dari setengah bagian tenaga dalamnya, maka tak ampun Pengemis Kaki Pincang mencelat ke atas panglari (loteng). Loteng bobol! Beringas sekali, sesudah berhasil lepaskan diri dari jepitan papan-papan loteng, Pengemis Kaki Pincang cabut pipa besarnya dari balik pakaian yang bertambal-tambal! Sekali menyedot, sekali menghembus maka melesatlah asap pipa yang pekat kelabu dan mengandung racun ganas!

“Ilmu rongsokan macam ini tak perlu dipertontonkan padaku, Kaki Pincang!” ejek Iblis Pencabut Sukma. Tangan kanannya diangkat ke atas lalu ditarik ke belakang! Pukulan pencabut sukma! Pengemis Kaki Pincang dengan cepat kerahkan tenaga dalamnya. Tapi apa daya. Dia tak bisa selamatkan diri. Isi perutnya serasa dibetot, nafasnya serasa disedot dan “puah…!”

Pengemis Kaki Pincang muntah darah. Laksana daun kering tubuhnya yang tak bernyawa itu melayang ke bawah dan terhampar di lantai! Perkataan Iblis Pencabut Sukma yang menyatakan bahwa dia akan membunuh lawan dalam tiga jurus, kini terbukti!

Dengan tengadahkan mukanya yang seram itu Iblis Pencabut Sukma tertawa panjang laksana serigala lapar di malam buta!

Mengkerutlah wajah Pengemis Mata Buta.

Urat-urat lehernya menggelembung. Pelipisnya bergerak-gerak sedang rahang-rahangnya bertonjolan. “Pengemis Mata Buta, hanya kau yang tinggal kini! Apa masih berkeras kepala untuk tidak mau serahkan apa yang kuminta…?!”

Pengemis Mata Buta rangkapkan tangan di muka dada. Kehebatan Iblis Pencabut Sukma memang luar biasa. Setelah merenung sejenak maka buka suaralah dia.

“Iblis Pencabut Sukma, sekalipun kau punya tiga kepala enam tangan, jangan harap aku tidak bernyali untuk melawanmu. Juga jangan harap aku akan kabulkan permintaan gilamu!”

“Akh… kalau begitu kasihan sekali! Perkumpulan Pengemis Darah Hitam rupanya sudah ditakdirkan para iblis musti musnah hari ini!”

“Perkumpulan Pengemis Darah Hitam tidak musnah! Sebaiknya bersiaplah untuk menghadap setan neraka, manusia iblis! Manusia iblis macammu memang tempatnya pantas di neraka!”

Habis berkata demikian maka Pengemis Mata Buta masukkan tangan kanan ke balik jubah bertambal-tambalnya. Begitu tangan keluar maka bergemerlaplah sinar hitam sebilah pedang. Tergetar juga Iblis Pencabut Sukma melihat sinar senjata ini.

“Jika kau punya senjata bagusnya lekas dikeluarkan, Iblis!” berkata Pengemis Mata Buta. “Untuk menghadapi manusia buta macam kau, perlu apa pakai senjata segala?! Majulah, tanganku sudah gatal-gatal untuk mencabut nyawamu!”

“Jangan mimpi Iblis!” bentak Pengemis Mata Buta. Sekali dia melompat ke muka maka berkiblatlah taburan sinar hitam dari sambaran pedangnya!

Dan… “Plak”

Tubuh Iblis Pencabut Sukma terdorong beberapa langkah kebelakang!

Terkejutlah Pengemis Mata Buta ketika mengetahui bahwa lawannya tidak mendapat satu celaka apapun akibat ilmu pukulan “telapak tangan minta sedekah” yang sangat diandalkannya itu, padahal dalam ilmu pukulan ini dia sudah melatih diri sampai sepuluh tahun!
Rasa terkejut dan kecewa melihat pukulannya hampa belaka membuat dalam kejapan itu Pengemis Mata Buta menjadi sedikit lengah. Dan kesempatan ini tiada disia-siakan oleh lawan.

Iblis Pencabut Sukma kirimkan satu tendangan ke perut lawan. Tak ampun lagi Pengemis Mata Buta jatuh duduk terkapar di lantai. Belum lagi dia sempat bangun maka lawan sudah gerakkan tangan lancarkan pukulan “pencabut sukma”!

Pengemis Mata Buta merasakan adanya kekuatan dahsyat yang menyedot tubuhnya, segera dia buang diri ke samping. Tapi kasip. Perutnya terbetot menggelegak. Darah segar menyembur dari mulut. Tubuhnya kelojotan seketika. Sebelum meregang nyawa, manusia ini masih bisa keruk saku jubahnya dan lemparkan selusin paku darah hitam ke arah lawan. Ini tiada artinya bagi Iblis Pencabut Sukma. Dengan satu kebutan lengan baju maka mentallah paku-paku beracun itu!

Selama beberapa ketika terdengarlah suara tertavva Iblis Pencabut Sukma. Tertawa yang membuat kedua matanya yang juling menjadi basah oleh air mata.

Manusia bermuka seram bopeng ini kemudian membungkuk di hadapan Pengemis Mata Buta. Tangannya menggeledah di balik jubah bertambal-tambal mencari keris Tumbal Wilayuda. Bila bertemu segera diselipkan dibalik pinggangnya. Kemudian dia melangkah ke hadapan sosok tubuh Anjarsari yang saat itu tiada sadarkan diri karena telah ditotok jalan darahnya sewaktu dilarikan oleh Lah Simpong.

Iblis Pencabut Sukma memandang dengan mata berkilat-kilat ke tubuh Anjarsari yang pakaiannya berada dalam keadaan tak menentu. Dia menyeringai penuh arti. Dibelainya pipi gadis itu. Betapa lembut dan halusnya. Dirabanya dadanya. Menggeletar tubuh Iblis Pencabut Sukma. Kalau tidak ingat bahwa dia musti lekas-lekas meninggalkan tempat itu maulah dia mengikuti segala lampiasan nafsunya.

Dipanggulnya tubuh gadis itu di bahu kiri kemudian dia melangkah ke hadapan Sultan yang terbujur di lantai dan juga dalam keadaan tak berdaya karena ditotok.

Sewaktu Iblis Pencabut Jiwa membungkuk pula untuk mengempit tubuh Sultan, tiba­tiba berkelebatlah sesosok bayangan biru dan tahu-tahu tubuh Sultan disambar lalu dibawa lari!

Kejut Iblis Pencabut Sukma tentu saja tiada terlukiskan.

“Kurang ajar! Hai, berhenti!” teriaknya memerintah.

Tapi bayangan biru itu terus kabur tancap gas. Dengan geram Iblis Pencabut Sukma lemparkan tiga puluh jarum merah ke arah simanusia berjubah biru. Yang diserang, tanpa menoleh lambaikan tangan kirinya. Ketiga puluh jarum merah itupun mental laksana disapu topan!

Iblis Pencabut Sukma angkat kaki coba mengejar. Tapi bayangan biru sudah lenyap. “Setan alas,” memaki dia. “pasti perempuan laknat itu lagi!”

~ 10 ~

LARINYA manusia berjubah biru itu sangat cepat sekali laksana angin. Sampai di satu puncak bukit, dia berhenti dan lepaskan totokan di tubuh Sultan. Begitu siuman Sultan tentu saja sangat terkejut mendapatkan dirinya dikempit oleh seseorang. Ketika dia coba meneliti paras orang itu ternyata dia mengenakan kerudung biru. Bau tubuhnya harum semerbak, seharum bunga melati yang tengah mekar diambang senja!

Sultan merenung sejurus. Otaknya berputar mengingat apa yang telah terjadi atas dirinya sebelumnya. Kemudian dicobanya melepaskan diri dari kempitan manusia jubah biru itu untuk turun ke tanah. Tapi bagaimanapun kerasnya dia gerakkan badan, tetap saja dia tiada sanggup lepaskan diri.

“Saudara, kau siapakah?” bertanya Sultan.

Orang itu tiada menyahut melainkan menjelajahi seantero kaki bukit dengan sepasang matanya yang bening.

“Saudara, kau tentu orang yang telah menolong aku. Tapi siapakah engkau adanya? Mohon agar diriku diturunkan,” berkata Sultan Hasanuddin. Orang itu tetap tak menyahut. Kemudian dia berkelebat lagi dan tubuhnya lari lagi laksana angin ke arah sebelah timur.

“Saudara, jika kau tak terangkan siapa kau, tidak menjadi apa. Tapi aku mohon agar diturunkan,” berkata Sultan setelah dirinya diajak lari kira-kira setengah jam lamanya.
Si jubah biru lari terus.

Dengan rasa penasaran Sultan berkata. “Jika kau tidak mau turunkan aku, terpaksa aku berlaku kasar terhadapmu!”

Namun si jubah biru berkerudung biru tetap tak perdulikan ucapan yang mengancam itu. Maka Sultanpun gerakkan tangan kanannya untuk menyikut pinggang manusia jubah biru itu.

Tapi anehnya berkali-kali dia lakukan hal itu maka tak satu hantaman sikunyapun yang berhasil mengenai sasarannya.

“Pasti ini manusia sakti luar bisa!” membatin Sultan Hasanuddin. “Saudara, aku ini mau dibawa ke mana?” bertanya pula Sultan.

Agaknya manusia berkerudung kain habis kesabarannya karena ditanya terus menerus. “Kau terlalu cerewet, lihat sajalah!”

“Heh…?!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (11)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.