Senin, 05 Juni 2017

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (1)

Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda

Wiro Sableng Episode #4:
Keris Tumbal Wilayuda
Karya: Bastian Tito

PROLOG

SUARA beradunya berbagai macam senjata, suara bentakan garang ganas yang menggeledek di berbagai penjuru, suara pekik jerit kematiansera suara mereka yang merintih dalam keadaan terluka parah dan menjelang meregang nyawa, semuanya menjadi satu menimbulkan suasana maut yang menggidikkan!

Di mana-mana darah membanjir! Di mana-mana bertebaran sosok-sosok tubuh tanpa nyawa! Bau anyir darah memegapkan nafas, menggerindingkan bulu roma! Pertempuran itu berjalan terus, korban semakin banyak yang bergelimpangan, mati dalam cara berbagai rupa. Ada yang terbabat putus batang lehernya. Ada yang robek besar perutnya sampai ususnya menjela-jela. Kepala yang hampir terbelah, kepala yang pecah, dada yang tertancap tombak. Kutungan-kutungan tangan serta kaki!

Di dalam istana keadaan lebih mengerikan lagi. Mereka yang masih setia dan berjuang mempertahnkan tahta kerajaan, yang tak mau menyerah kepada kaum pemberontak meski jumlah mereka semakin sedikit, terpaksa menemui kematian, gugur dimakan senjata lawan!

Istana yang pagi tadi masih diliputi suasana ketenangan dan keindahan, kini tak beda seperti suasana dalam neraka! Mayat dn darah kelihatan di mana-mana. Pekik jerit kematian tiada kunung henti. Perabotan istana yang serba mewah porak poranda. Pihak yang bertahan semakin terdesak. Agaknya dalam waktu sebentar lagi mereka akan tersapu rata dengan lantai yang dulu licin berkilat tapi kini dibanjiri oleh darah!

“Wira Sidolepen dan Braja Paksi, menyerahlah!” teriak seorang laki-laki berbadan kekar dan berkumis melintang. Seperti kedua orang yang dibentaknya itu diapun mengenakan pakaian perwira kerajaan.

Bradja Paksi kepala balatentara Banten menggerang dan balas membentak. “Bangsat pemberontak! Meski nyawaku lepas dari tubuh, terhadapmu aku tak akan menyerah!”

Parit Wulung laki-laki yang berkumis melintang itu tertawa bergelak. Sebelumnya dia adalah perwira pembantu atau wakil kepala balatentara Banten tapi yang hari itu telah tersesat dan memberontak terhadap kerajaan!

“Mengingat hubungan kita sebagai ipar, aku masih mau tawarkan keselamatan buat roh busukmu! Tapi jika kau sendiri yang hendaki kematian, jangan menyesal!”

Parit Wulung menerjang ke muka. Pedangnya menyambar mengirimkan satu serangan yang cepat dan dahsyat. Tapi dengan sebat Bradja Paksi menangkis dengan Pedangnya pula.

“Trang!”

Bunga api berkilauan.

Tangan Parit Wulung tergetar hebat. Dia mundur selangkah namun lawan menyusuli dengan dua rangkai serangan berantai yang membuat gembong pemberontak ini terdesak ke tiang besar di ujung kanan. Sebagai kepala Balatentara Banten maka ilmu silat dan kesaktian Bradja Paksi lebih tinggi dari wakilnya yang memberontak itu.

Bagaimanapun cepat dan sebatnya Parit Wulung putar pedang tetap saja dia tak bisa ke luar dari serangan-serangan lawan, apalagi ketika dengan kalap Bradja Paksi sertai serangan-serangan pedangnya dengan pukulan-pukulan tangan kosong. Namun itu tak berjalan lama.

Seorang berbadan kate, berselempang kain putih yang kulit mukanya sangat hitam dan berkilat serta berambut awut-awutan berkelebat ke muka. Tampangnya seperti singa.

“Parit Wulung! Biar aku yang bereskan bangsat ini!”

Melihat siapa yang berkata itu maka Parit Wulung dengan tidak menunggu lebih lama segera ke luar dari kalangan pertempuran. “Resi Singo Ireng, rnemang dia pantas sekali untuk jadi korbanmu! Cepat rampaslah nyawanya!”

Manusia muka hitam berbadan kate yang bernama Resi Singo Ireng tertawa buruk. Tangan kanannya dihantamkan ke muka. Secarik sinar putih melesat ke arah kepala balatentara Banten.

Bradja Paksi lompat tiga tombak ke atas. “Bergundal pemberontak!” makinya. “Nyawamu di ujung pedangku!” Bradja Paksi menukik ke bawah. Pedangnya berkelebat cepat sekali.

“Bret!”

Robeklah pakaian putih Singo Ireng!

Maka marahlah Resi ini. “Manusia hina dina!. Kalau kau punya Tuhan berteriaklah menyebut nama Tuhanmu! Ajalmu hanya sampai di sini!”

Tangan kiri Singo Ireng terangkat tinggi-tinggi ke atas dan kini berwarna hitam legam.

“Bradja Paksi awas! Itu pukulan wesi item!” terdangar teriakan seseorang yang tengah bertempur dengan segala kehebatannya dekat pintu besar yang menuju ke ruang tengah istana. Umurnya sudah agak lanjut namun gerakannya benar-benar tangguh dan. enteng gesit mengagumkan! Dia adalah Wira Sidolepen, Patih Kerajaan Banten!

Terkejutlah Bradja Paksi mendangar teriakan peringatan itu. Seluruh tenaga dalam segera dikerahkan. Pada saat tangan kiri Resi Singo Ireng turun cepat ke bawah maka sinar hitam menyambar ke muka. Dan di saat itu pula Bradja Paksi melompat ke samping, putar pedang dan hantamkan tangan kiri ke depan.

Namun meskipun berilmu tinggi, untuk saat itu Bradja Paksi masih belum sanggup menerima pukulan wesi item lawan. Tubuhnya mencelat kena disambar sinar hitam, terlempar ke dinding istana lalu terhampar di lantai penuh darah tanpa bisa berkutik lagi. Sekujur pakaian dan tubuhnya hangus hitam!

Resi singo Ireng tertawa senang menjijikkan untuk dipandang!

Melihat kematian Bradja Paksi maka kalaplah patih Wira Sidolepen. Sekali dia menerjang, tiga prajurit pemberontak yang menyerangnya berpelantingan dengan tubuh patah­patah! Sebagai patih kerajaan, tingkat kepandaian Wira Sidolepen memang sudah sempurna dan hampir setingkat dengan Singo Ireng. Gesit sekali maka tubuhnya sudah berada di hadapan Resi itu.

“Ha… ha… kau juga mau antarkan nyawa, Wira Sidolepen…”

“Tak perlu banyak mulut. Terima ini…!” hardik sang patih. Pedangnya bergulung dengan sebat. Putaran pedang mengeluarkan angin bersiuran yang melanda tubuh Resi Singo Ireng. Terkejutlah Resi ini. Cepat-cepat dia gerakkan badan berkelit. Tahu bahwa tingkat kepandaian lawan tidak berada di bawahnya rnaka pagi-pagi Singo Ireng segera keluarkan pukulan “wesi ireng”-nya.

Melihat lawan keluarkan ilmu yang ampuh itu, Wira Sidolepen segera pindahkan pedang ke tangan kiri. Mulutnya komat kamit dan jari tangannya mendadak sontak berubah rnenjadi putih berkilau. Inilah ilmu pukulan “mutiara penabur nyawa!” Parit Wulung yang tahu kehebatan ilmu pukulan ini segera pergunakan ilmu menyusupkan suara memberi peringatan pada Singo Ireng.

“Awas, itu pukulan mutiara penabur nyawa, Resi Singo Ireng!”

Mendengar ini maka sang Resi lipat gandakan tenaga dalamnya. Dua bentakan nyaring sama-sama terdangar menggeledek dari mulut Singo Ireng dan Wira Sidolepen. Sinar hitam dan sinar putih berkiblat saling papas.

“Akh…”

Tubuh patih itu terlempar keras ke tiang istana. Sampai di lantai tubuhnya berkelojotan seketika lalu diam tak bergerak tanda nyawanya sudah lepas meninggalkan tubuh.

Sambil gosok-gosok tangan kirinya. Singo Ireng putar kepala ke pintu di sampingnya. Di situ melangkah ke arahnya seorang berselempang kain biru. Mukanya coreng moreng berbelang tiga yaitu hitam, kuning dan merah. Rambutnya tersisir licin-lincin ke belakang. Inilah dia Resi Macan Seta, kakak kandung Resi Singo Ireng. Kalau Singo Ireng memiliki tampang seperti singa maka kakaknya sesuai dengan namanya, memiliki tampang persis seperti macan!

“Kau tak bakal kuat menerima pukulan mutiara penabur nyawa itu Singo Ireng, sekalipun kau pergunakan ilmu wesi item! Sekurang-kurangnya kau akan terluka di dalam.

Singo Ireng tertawa buruk! Dia tak berkata apaapa karena maklum bahwa ucapan kakaknya itu adalah betul. Dan diam-diam dia bersyukur karena Macan Seta telah menolongnya dengan pukulan “sinar surya tenggelam” tadi!

~ 1 ~

PADA abad ke 15, Kerajaan Demak diperintah oleh Baginda Trenggono. Di bawah Trenggono maka Demak mencapai puncak kejayaannya. Di masa itu pula adik perempuan Trenggono kawin dengan Fatahillah.

Untuk meluaskan daerah perdagangan serta kekuasaan Demak maka Trenggono merasa perlu untuk menduduki Banten. Maka pada tahun 1527, di bawah pimpinan Fatahillah menyerbulah balatentara Demak. Banten jatuh, pelabuhan Sunda Kelapa diduduki dan sebagai wakil Demak memerintahlah Fatahillah di Banten.

Sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan bahwa Fatahillah bertindak sebagai wakil Trenggono atau wakil kerajaan Demak karena luas lingkup kekuasaan serta pengaruh Fatahillah tak ubahnya seperti Raja. Disamping itu, terlepas dari Demak, Fatahillah membentuk balatentara tersendiri. Nama Fatahillah menjadi besar dan dihormati. Namun demikian kesetiaannya terhadap kerajaan induk yaitu Demak tetap seperti sediakala.

Sultan Hasanuddin dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan Banten dibantu oleh penasihat utama seorang tua bijaksana bernama Mangkubumi Mitra serta patih Wira Sidolepen. Disamping itu bantuan kepala balatentara Banten yang bernama Bradja Paksi patut pula disebutkan karena segala sesuatu yang bersangkutan dengan keamanan dan keselamatan kerajaan terletak pada tanggung jawabnya sepenuhnya.

Apalagi mengingat pada masa itu sering kali terjadi bentrokan-bentrokan dengan pihak Pajajaran. Bradja Paksi tadinya adalah seorang prajurit biasa di kerajaan Demak. Tapi karena keberanian, kejujuran dan kepandaiannya maka dia menjadi orang kesayangan Fatahillah.

Ketika Fatahillah pindah ke Banten, Bradja Paksi ikut serta. Kemudian dia diangkat jadi kepala balatentara Banten. Pangkat itu terus dijabatnya sampai pada suatu hari di mana dia terpaksa mengorbankan jiwanya sendiri untuk keselamatan kerajaan dan demi kesetiaan pengabdiannya pada atasan!

Saat itu belum lagi satu bulan Hasanuddin yang muda belia dinobatkan sebagai Sultan atau Raja Banten. Baik patih Wira Sidolepen, maupun penasihat tua Mangkubumi Mitra serta kepala balatentara Bradja Paksi, ataupun Sultan sendiri, mereka tak satupun yang tahu kalau di batang tubuh kerajaan saat itu terdapat musuh dalam selimut yang berbahaya, yang bergerak secara diam-diam!

Dan siapa yang akan menyangka kalau musuh dalam selimut itu adalah Parit Wulung, perwira yang menjadi wakil langsung dari kepala balatentara kerajaan! Hubungan Parit Wulung dengan Bradja Paksi bukan saja sebagai bawahan dengan atasan, tetapi juga sebagai ipar karena adik perempuan Bradja Paksi kawin dengan Parit Wulung.

Tapi Parit Wulung telah tersesat. Lupa dia bahwa jabatan yang dipangkunya itu adalah berkat diangkat atas kebijaksanaan Bradja Paksi. Lupa dia bahwa kerajaan yang telah memberi pangkat kedudukan serta kehormatan dan kehidupan mewah. Nafsu hendak berkuasa sendiri, nafsu hendak duduk ditakhta kerajaan sebagai Raja telah merangsang segenap hati dari jiwa raganya!

Dalam mencapai usahanya merebut takhta Kesultanan Banten itu sudah barang tentu dia tak bisa bergerak sendiri. Disamping itu dia tahu pula bahwa untuk mencari pengikut­pengikut dari kalangan pihak dalam yaitu perwira-perwira dan menteri-menteri istana tidak mungkin karena semua perwira dan menteri, apalagi patih Wira Sidolepen sangatlah setianya kepada Kerajaan dan Sultan Hasanuddin.

Karenanya maka perwira pengkhianat itupun mencari sekutu di luar Banten. Peluang yang sangat baik dilihatnya datang dari kerajaan tetangga yaitu Pajajaran. Beberapa perwira Pajajaran secara diam-diam ditemuinya dan perwira-perwira itu sesudah diberikan janji yang muluk-muluk bersedia mengirimkan ratusan prajurit untuk membantu pemberontakan bila saatnya sudah tiba kelak.

Ratusan prajurit masih belum dirasa mencukupi bagi Parit Wulung. Pengkhianat ini kemudian mendatangi seorang sakti yaitu Resi Singo Ireng yang berdiam di pantai selatan. Resi ini bukan saja mau membantu maksud busuk Parit Wulung karena dijanjikan akan dilimpahkan harta kekayaan yang tiada terkira banyaknya, tapi juga mengikut sertakan kakak kandungnya yang juga seorang Resi yaitu Resi Matjan Seta.

Matjan Seta diam di Teluk Keletawar. Tokoh silat ini baru saja membentuk satu partai silat yang dinamainya Partai Api Selatan. Meski keduanya adalah Resi namun mereka telah terperangkap oleh kesenangan duniawi sehingga masuk ke datam golongan hitam!

Pada hari yang telah ditentukan maka pecahlah pemberontakan menggulingkan kerajaan itu! Ratusan pasukan dari Pajajaran menyerbu. Pertempuran hebat terjadi di seantero Kotaraja dan yang paling hebat adalah sekitar halaman istana.

Sebentar saja kaum pemberontak sudah membobolkan pertahanan Banten. Istana dikepung, prajurit-prajurit pemberontak di bawah pimpinan Parit Wulung, Singo Ireng dan Matjan Seta menyerbu ke dalam istana. Menteri-menteri dan orang-orang cerdik pandai yang terkurung dan tak dapat diselamatkan semuanya menemui ajal dipancung secara kejam. Kepala balatentara Banten, patih Wira Sidolepen dan beberapa orang penting lainnya turut serta menjadi korban keganasan kaum pemberontak itu!

Banten jatuh sebelum hari rembang petang. Prajurit-prajurit Banten yang masih hidup dan terpaksa menyerah bersama-sama rakyat disuruh membersihkan semua mayat-mayat yang bergeletakan di setiap pelosok. Sedangkan di satu ruangan dalam istana Banten terjadi pertemuan panting. Pertemuan penting ini diketuai oleh Parit Wulung. Yang hadir ialah Resi Singo Ireng, Resi Matjan Seta, Karma Dipa dan Djuanasuta. Kedua orang terakhir ini adalah penrwira-perwira Pajajaran sekutu Parit Wulung!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Keris Tumbal Wilayuda (2)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.