Minggu, 11 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 9)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

“Semua Yang hadir, dengar baik-baik! Pada hari dua belas bulan dua belas yang akan datang di Lembah Tengkorak kami akan mendirikan Partai baru yang dinamakan Partai Lembah Tengkorak! Semua kalian yang ada di sini musti masuk menjadi anggota Partai! Siapa berani menolak berarti mati!”

Suasana sehening di pekuburan beberapa lamanya. Tiba-tiba terdengar lagi suara mengekeh tadi. “Perempuan iblis! Kalian kira kami ini semua domba-domba tolol yang mau digiring seenaknya saja?! Persetan dengan Partaimu! Siapa sudi masuk anggota Partaimu! Kalau mau cari anggota, pergilah naik ke puncak Gunung Merapi lalu buang dirimu ke dalam kawahnya! Mengerti…?! He… he… he…!”

Empat murid Dewi Kala Hijau itu kertakkan rahang masing-masing. Kegeraman mereka sudah tak bisa dikendalikan lagi Tapi kepada siapa mereka musti turun tangan?!

“Kakak Kala Merah, teruskan saja bicaramu. Nanti bangsat bermulut besar itu akan kita ketahui juga siapa adanya!” Lagi-lagi Kala Biru memberi nasihat pada saudara-saudara seperguruannya itu. Maka Kala Merah pun meneruskan ucapannya.

“Kalian sudah saksikan sendiri apa akibat bagi manusia-manusia yang tidak mau mematuhi kehendak kami! Karenanya kalian semua lekas naik ke atas panggung, berlutut dan bersumpah sedia memasuki Partai Lembah Tengkorak!”

Sampai setengah menit lamanya, tak satu pun daripada yang hadir melakukan apa yang diperintahkan itu. Maka marahlah Kala Merah.

“Kalau begitu kalian minta mampus semua!” bentak Kala Merah. Dia memberi isyarat pada ketiga saudara seperguruannya. Maka keempatnya kemudian serentak menaikkan tangan kanan tinggi-tinggi ke udara.

Tiba-tiba dari tengah-tengah bawah panggung berdirilah dua manusia berjubah putih. Melihat kepada tampang-tampang mereka nyatalah bahwa keduanya beradik kakak. Yang di sebelah kanan mengangkat tangannya.

“Kalian berdua mau apa?” tanya Kala Merah.

“Malang tak dapat dihindar, untung tak dapat diraih! Kami berdua hanya inginkan nyawamu dan nyawa tiga gadis-gadis iblis lainnya itu!” menjawab laki-laki berjubah putih yang mengangkat tangan tadi. Suaranya menggetarkan lembah tanda tenaga dalamnya tinggi sekali. Kala Merah kerenyitkan keningnya lalu tertawa gelak-gelak.

“Kalau kau tidak buta tentu otakmu miring! Apa masih belum melihat bangkai-bangkai yang berkaparan di tempat ini?!”

“Tentu... tentu saja kami lihat! Justru kami inginkan nyawa kalian adalah karena roh-roh busuk kalian tengah ditunggu-tunggu oleh roh sekian banyaknya manusia yang telah kalian binasakan…!”

Meledaklah kemarahan Kala Merah. “Cepat katakan siapa kalian berdua supaya cepat pula kuberi jalan kematian!”

Kedua orang berjubah putih itu tertawa dingin. Sementara itu Kala Merah sudah mengangkat kembali tangan kanannya tinggi-tinggi, sedang tokoh-tokoh silat yang lain bersiap-siap menunggu segala kemungkinan.

“Cepat terangkan nama kalian! Atau kalian akan mampus percuma!” membentak lagi Kala Merah. Kedua orang berjubah putih tiba-tiba sama menggerakkan tangan kanannya ke balik jubah. Sesaat kemudian keduanya telah memegang masing-masing sebuah rujung emas.

“Akh… kiranya kalian adalah Sepasang Ruyung Emas Dari Banyuwangi! Nama besar kalian memang ada kudengar. Tapi hari ini kau tak bakal lagi dapat kembali ke Banyuwangi! Takdir sudah menentukan bahwa ajalmu lepas di sini!”

“Jangan kelewat tekebur, Kala Merah! Mungkin kepalamu yang akan kuhancurkan lebih dahulu dengan Ruyung ini!” kata Sepasang Ruyung Emas yang berdiri di sebelah kanan. Namanya Teggil Tantra. Rekannya yang berdiri di sebelah kiri bernama Situwara. Untuk daerah JawaTimur nama dan julukan sepasang pendekar golongan putih ini memang sudah tidak asing lagi!

Kala Merah bersuit keras. Tubuhnya melayang ke bawah panggung. “Kalian maju sendiri-sendiri atau berdua sekaligus?!” bentaknya begitu sampai di hadapan Sepasang Rujung Emas. Sepasang Eujung Emas memberikan jawaban dengan serhuan yang dahsyat.

Tubuh mereka tak kelihatan bergerak tapi tahu-tahu dua sebetan ruyung yang memancarkan sinar kuning emas telah menyambar ke muka hidung Kala Merah! Gadis muka tengkorak ini sampai tersurut lima langkah ke belakang. Tapi sepasang Ruyung Emas di tangan Situwara dan Teggil Tantra berkelebat pula memburunya!

Dalam waktu yang singkat dua jurus telah dilancarkan oleh tokoh-tokoh silat Jawa Timur itu. Permainan silat serta jurus-jurus serangan Ruyung mereka merupakan ilmu yang aneh dan banyak sekali pecahan-pecahannya. Angin menderu, dan tubuh ketiga orang yang bertempur itu hanya merupakan bayang-bayang saja!

Jika saja Kala Merah mempunyai kesempatan untuk mempergunakan tangan kanannya mengeluarkan ilmu “Kala Hijau” yang sangat diandalkan, maka dalam satu jurus kedua jago silat itu mungkin sudah kojor.

Tapi setiap dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, maka setiap kali itu pula salah satu dari Ruyung menyambar ke arah tangannya sehingga sebelum maksudnya kesampaian, dia terpaksa tarik pulang kembali serangannya!

Jurus ketiga dan keempat Kala Merah dibikin sangat repot Memasuki jurus yang kelima tiba-tiba terdengarlah suitannyal Tubuhnya lenyap. Dua jurus dia bergerak cepat mengirimkan serangan-serangan kilat, namun hasilnya sia-sia belaka saja!

“Manusia-manusia keparat!” maki Kala Merah dalam hati. Sekali lagi dia memekik. Tubuhnya Ienyap lagi dan tahu-tahu sudah ke luar lima tombak dari kalangan pertempuran!

Situwara dan Teggil Tantra memburu tapi kali ini jarak mereka dengan sasaran terlalu jauh sehingga Kala Merah yang sengaja mencari kesempatan ini mempunyai peluang untuk melancarkan serangan “Kala Hijau”.

Teggil Tantra yang berada agak ke muka membabat dengan Ruyung emasnya ketika melihat selarik sinar hijau menyambar ke arahnya! Seekor dari tiga kala hijau yang menyerangnya hancur lebur dihantam Ruyung emas.

Kala Hijau yang kedua berhasil dielakkannya. Tapi menghadapi kala yang ketiga, tokoh silat ini menjadi gugup! Teggil Tantra menjerit! Ruyung emasnya terlepas dan kedua tangannya menutupi mukanya yang bermandikan darah akibat tancapan kala hijau pada kening antara kedua matanya! Begitu racun binatang maut itu masuk ke dalam darahnya maka tergelimpanglah dia! Nyawanya putus pada detik tubuhnya mencium tanah!

“Kakak Kala Merah awas!” terdengar seruan Kala Hitam.

“Sreeet!” Lengan pakaian Kala Merah robek tersambar Ruyung Emas Situwara yang saat itu menjadi kalap beringas melihat kematian saudara kandungnya.

Satu jurus dia menggempur hebat Kala Merah. Tapi pada ujung jurus itu nasibnya tiada beda dengan Teggil Tantra. Dua kala hijau menancap di mukanya, satu di tenggorokan! Maka tamatlah riwayat Sepasang Ruyung Emas Dari Banyuwangi!

Tokoh-tokoh silat golongan hitam yang menyadari bahwa ilmu kesaktian mereka masih berada di bawah kedua tokoh silat itu menjadi ngeri dan gelisah di kursi masing-masing. Tiba-tiba dua di antaranya melompat dan melarikan diri!

“Kurang ajar! Berani kabur ya?!” bentak Kala Hitam, Tangan kanannya bergerak! Sinar hijau melesat. Maka tergelimpanglah kedua tokoh golongan hitam itu!

“Siapa lagi yang mau coba-coba ambil langkah seribu, silahkan!” bentak Kala Hitam.

“Perempuan-perempuan iblis! Dosa kalian tidak berampun! Hadapi golok panjangku!” Mendadak terdengar satu bentakan. Suara bentakan itu belum lagi habis tahu-tahu telah berkilat sinar biru melanda Kala Merah!

“Edan betull Siapa lagi ini yang mau minta mampus,” hardik Kala Merah. Dipukulkannya tangan kirinya ke depan Serangkum angin deras menyambar penyerangnya, membuat yang menyerang itu tergontai-gontai seketika dan agak lamban gencaran goloknya!

Namun dengan robah ilmu goloknya dengan jurus-jurus aneh maka kembali si penyerang yang masih tak kelihatan jelas tampangnya karena cepat sekali gerakannya itu, dapat mendesak Kala Merah ke ujung panggung!

“Setan betul!” maki Kala Merah. Kedua tangannya terkembang ke muka. Jari-jari menekuk membentuk cengkeraman.

~ 8 ~ 

“Cengkeram Kala Hijau!” seru si penyerang lalu menabas dengan golok panjangnya. Kala Merah tertawa meringkik.

“Akh … !”

Terdengarlah erangan si penyerang. Ketika dia melompat ke luar dari kalangan pertempuran maka baru bisa dikenali siapa dia adanya!

Manusia ini adalah tokoh silat dari Utara yang berjuluk “Si Golok Sakti” Mukanya kelihatan bergurat-gurat dan berlelehan darah akibat cakaran kala hijau yang dilancarkan oleh Kala Merah. Sakitnya bukan main. Seluruh mukanya sampai ke leher seperti dibakar!

“Sebaiknya kau segera bunuh diri saja, Golok Sakti!” ejek Kata Merah. Si Golok Sakti tidak menjawab. Mulutnya kelihatan komat kamit. Tiba-tiba dia berseru nyaring!

“Lihat golok!”

Dan semua orang termasuk tiga gadis muka tengkorak saudara seperguruan Kala Merah menjadi keheranan melihat Kala Merah mencak-mencak sendirian, memukul dan mencakar kian kemari sedang Si Golok Sakti tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak dan mulutnya terus juga komat kamit!

Di samping lihai dalam ilmu silat maka Si Golok Sakti juga mendalami ilmu sihir. Dengan ilmu sihirnya itu dia telah menipu pandangan mata Kala Merah. Kala Merah seakan-akan melihat bahwa lawannya tengah menyerangnya lalu bergerak cepat kian kemari, memukul dan mengelak! Melihat hal ini saudara seperguruannya yaitu Kala Hitam cepat berseru: “Kakak Kala Merah, awas jangan tertipu! Bangsat itu mempergunakan ilmu sihir!”

Mendengar ini Kala Merah beringas setengah mati. Dihentikannya gerakannya. Tiba-tiba Si Golok Sakti menerjang ke muka. Golok panjang menyambar, angin deras melesat dari telapak tangan kiri! Kala Biru kini yang berteriak memberi peringatan! Pada saat itu sudah terlalu singkat bagi Kala Merah untuk mengelak! Tanpa pikir panjang Kala Biru naikkan tangan kanan dan memukul ke depan.

“Curang…!” teriak Si Golok Sakti. Goloknya diputar laksana titiran tapi dua ekor kala hijau telah melesat melewati putaran golok dan menghantam mukanya! Si Golok Sakti terhuyung-huyung lalu roboh ke tanah tanpa nyawa!

“Siapa lagi yang ingin mampus cepatlah majukan diri!” seru Kala Merah. Dia melangkah ke muka. Dengan geram ditendangnya tubuh Si Golok Sakti hingga mental ke atas panggung, terhampar di antara mayat-mayat anggota Partai Telaga Wangi! Mendadak terdengar suara tarikan nafas aneh!

“Kejahatan kalian sudah punya! Dosa sebesar gunung kalian sudah pikul. Tapi rupanya juga kalian memiliki kecurangan! Manusia-manusia dajal! Sudah tiba saatnya kalian harus mampus!” Suara itu adalah suara manusia yang tidak kelihatan tadi. Tapi kali ini rupanya dia tidak menyembunyikan diri lebih lama karena begitu ucapannya berakhir maka yang punya diri sudah melompat ke hadapan Kala Merah dan gadis-gadis muka tengkorak lainnya!

Melihat siapa adanya manusia ini yang bukan lain si tua renta berjuluk “Sepuluh Jari Malaikat” maka besarlah kembali nyali para hadirin yang masih ada di tempat itu! Siapa yang tak akan kenal dengan “Sepuluh Jari Malaikat”?

Selama dua puluh tahun kakek-kakek tua renta itu telah merajai dunia persilatan di JawaTimur. Dan bila hari ini dia muncul pastilah keempat bergundal-bergundal pencabut nyawa itu akan dibikin ludas musnah!

Tapi rupanya keempat gadis muka tengkorak itu masih belum tahu dengan siapa mereka berhadapan. Kala Merah memperhatikan paras kakek-kakek tua yang agak bungkuk di hadapannya itu. Sepuluh Jari Malaikat berparas licin polos, rambutnya putih panjang sampai ke bahu seperti rambut perempuan, alis mata, kumis serta janggutnya juga putih! Bahkan sepasang bola matanya juga putih laksana marmer!

Tergetar juga hati Kala Merah melihat pandangan mata si kakek tua!

“Hemmmm… akhirnya kau munculkan diri juga, huh?” decah Kala Merah. Sepuluh Jari Malaikat tertawa rawan.

“Kebenaran akan selalu muncul untuk memusnahkan kejahatan…”

“Tak usah bicara bahasa tinggi. Sebutkan cara mati yang bagaimana yang kau inginkan tua renta?!” Sepuluh Jari Malaikat tertawa mengekeh. Mulutnya hanya sedikit yang terbuka tapi suara kekehannya mengumandang dan menggetari seluruh lembah!

“Kakak Kala Merah…” Kala Hitam berkata dengan ilmu menyusupkan suara.

“Hati-hati terhadap kunyuk tua ini, agaknya dia memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi! Perhatikan jari-jari tangannya yang paling panjang-panjang! Kalau aku tidak salah duga, kunyuk tua ini pastilah Sepuluh Jari Malaikat…”

Kala Merah terkejut dan melirik pada jari-jari tangan kakek-kakek tua di hadapannya. Jari-jari itu panjang sekali, hampir dua kali lebih panjang dari jari-jari yang biasa! Dari gurunya Kala Merah serta ketiga saudara-saudara seperguruannya itu dulu pernah diberitahu tentang tokoh-tokoh silat utama di tanah Jawa. Seorang di antaranya ialah yang berjuluk “Sepuluh Jari Malaikat” yang merajai dunia persilatan.di Jawa Timur!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 10)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.