Minggu, 11 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 8)

 Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

“Batang lehermu yang harus diselamatkan lebih dahulu, perempuan durjana!” teriak Suwita. Pedang peraknya menyambar ganas ke arah si baju merah. Yang diserang menyambuti dengan suara tertawa mengikik.

“Perempuan tak tahu diri!” maki si baju merah seraya mengelak ke samping dan berseru pada kawannya: “Kala Biru cepat selesaikan perempuan tolol ini!”

Gadis muka tengkorak yang berpakaian biru melompat ke muka menghadang Suwita. Namun dari belakang isteri Dewa Pedang melompat pula seseorang menghadapi Kala Biru. Orang ini bukan lain daripada lndrajaya putera tertua Dewa Pedang!

“Aku lawanmu, gadis muka setan hati iblis!” bentak Indrajaya. Bola mata Kala Biru berputar dan berkilat melihat kegagahan paras pemuda yang berdiri di hadapannya. Diam-diam hatinya tertarik. Kala Merah yaitu gadis muka tengkorak yang berpakaian merah, mengetahui hal ini dan cepat membentak.

“Kala Biru, lekas laksanakan apa yang aku bilang! Pemuda itu harus mampus dalam satu jurus!” Dalam malang melintang di dunia persilatan guna mencapai rencana yang ditugaskan gurunya yaitu hendak mendirikan Partai Lembah Tengkorak maka Kala Merah yang memang lebih tinggi setingkat ilmunya dari tiga kawan-kawannya yang lain, bertindak sebagai pimpinan. Kala Biru mengeluh dalam hati.

Hatinya iba juga melihat pemuda segagah lndrajaya harus menemui kematian di tangannya. Tapi bila dia ingat bentakan Kala Merah serta ingat pesan orang yang tidak sudi memasuki Partainya atau coba membangkang, maka rasa iba itu dengan serta merta menjadi lenyap.

Dengan memekik keras Kala Biru menyerang Indrajaya. Si pemuda kiblatkan pedangnya menyambuti serangan itu. Tapi Kala Biru bukanlah tandingan Indrajaya. Sebelumnya sudah disaksikan oleh semua mata bagaimana Kala Merah yang ilmunya satu tingkat saja lebih tinggi berhasil merubuhkan Si Cawat Gila serta Brahmana Wingajara dalam satu jurus maka dapatlah diramalkan bahwa lndrajaya betul-betul akan menemui ajalnya dalam satu jurus pula!

Demikianlah, meski dalam setengah jurus pertama itu Indrajaya dapat mengurung serta menekan lawan dengan permainan pedangnya yang cepat dan sebat, namun ketika Kala Biru mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas dan memukulkannya ke depan, ketika kala-kala hijau menghambur ke arah kepala pemuda itu, maka lndrajaya menjadi gugup.

Dalam kegugupannya ini dicobanya merambas tiga ekor kalajengking yang menyerangnya dengan tebasan pedang, namun terlambat sudah! Dua ekor kala hijau menancap di keningnya. Yang ketiga di pipi kiri! lndrajaya meraung keras. Tubuhnya rebah ke lantai papan. Sebelum meregang, nyawanya pemuda ini masih sanggup melemparkan pedang ke arah Kala Biru tapi dengan satu lambaian tangan kiri saja maka pedang itupun mental!

Dendam kesumat yang bergejolak serta amarah murka yang membakar hati akibat kematian puteranya Jayengrana belum lagi putus, kini puteranya yang tertua menemui ajalnya pula dengan cara yang mengenaskan begitu rupa maka kalaplah Dewa Pedang.

“Sreeet!”

Ketua Partai Telaga Wangi itu mencabut pedangnya. Sinar putih pedang bertabur menyilaukan mata.

“Jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini hidup-hidup, Kala Biru!” bentak Dewa Pedang. Di belakang Dewa Pedang, Suwita, Bradjasastra dan Pengurus Partai Klabangsongo melompat ke muka, tanpa banyak cerita mereka segera menerjang tiga gadis muka tengkorak lainnya yaitu Kala Merah, Kala Putih dan Kala Hitam.

Maka terjadilah pertempuran yang seru di atas panggung. Namun keseruan itu tidak berjalan lama. Segera digantikan dengan kengerian! Tiga larik sinar hijau melesat maka terdengarlah jeritan maut Suwita, Indrajaya serta Brajasastra! Ketiga orang ini terkapar di lantai panggung. Masing-masing kepala mereka ditancapi kala hijau beracun!

Dewa Pedang yang saat itu dengan ilmu pedang serta jurus-jurus yang lihai mematikan dan tengah mendesak hebat Kala Biru dalam permulaan jurus kedua, melihat kematian isteri serta putera bungsu yang paling disayanginya menjadi kalap luar biasa! Kekalapan ini membuat dia lupa diri dan mengamuk membabi buta. Pedangnya berkiblat ganas kian kemari tapi tanpa perhitungan sama sekali!

Ketika taburan sinar hijau dan tiga ekor kelabang hijau beracun menderu ke arahnya, hanya satu saja dari binatang elmaut itu yang sanggup dielakkannya. Dua ekor lainnya menyambar dan menancap di kepalanya!

Ketua Partai Telaga Wangi terhuyung-huyung. Matanya mendelik menahan sakit yang luar biasa. Tiba-tiba dia meraung dan menyerbu ke muka! Pedangnya berkelebat! Serangannya yang tiba-tiba sungguh tidak diduga oleh Kala Biru. Gadis muka tengkorak ini melompat dengan cepat namun tak urung bajunya kena juga tersambar sehingga robek!

“Setan alas!” rutuk Kala Biru. Pada saat tubuh Dewa Pedang meliuk dalam meregang nyawa, Kala Siru hantamkan tendangannya ke perut Dewa Pedang. Tak ampun lagi Ketua Partai yang belum lagi satu hari didirikan itu mencelat mental, masuk ke dalam telaga!

Pengurus Partai Telaga Wangi daerah Utara berseru memerintah pada dua orang anggota Partai, “Lekas ambil jenazah Ketua dan selamatkan ke hutan!”

Dua anggota Partai segera hendak melompat ke dalam telaga tapi terhalang oleh bentakan Kala Merah: “Siapa yang berani bergerak akan mampus!”

Pengurus Partai tadi yaitu Jambakrogo melompat ke hadapan Kala Merah. “Kekejamanmu melewati takaran manusia iblis! Kupasrahkan selembar nyawaku untuk mencincang kau … !”

Habis berkata begitu Jambakrogo lancarkan serangan pedang, dua tendangan serta satu jotosan! Kehebatan serangan ini tak bisa dianggap remeh! Namun justru Kala Merah tidak pandang sebelah mata. Sekali tangan kanannya bergerak, sekali larikan sinar hijau melesat maka terdengarlah jeritan Jambakrogo, nyawanya putus!

Tiga pengurus Partai yaitu yang tadi sudah sama-sama kena terpukul pingsan oleh Si Cawat Gila dan Nenek Kelewang Merah dan saat itu masih berada dalam keadaan terluka tiada ambil perduli lagi keadaan diri masing-masing. Ketiganya menyerbu ke muka.

Klabangsongo berseru: “Seluruh anggota Partai lekas bentuk barisan telaga maut!”

Mendengar ini anggota Partai Telaga Wangi yang memang sudah sejak tadi menahan kegeramannya dan ingin lekas-lekas turun tangan, segera bergerak membentuk barisan yang dinamakan Telaga Maut. Barisan ini berbentuk lingkaran dan terdiri dari lima lapis. Karena Partai Telaga Wangi belum lagi dikenal maka semua yang hadir di situ tak mengetahui sampai di mana kehebatan barisan “Telaga Maut” itu!

Di samping itu sebagian besar dari para tamu tidak lagi memperdulikan apa yang terjadi dan bakal terjadi di atas panggung. Dalam kekacaubalauan di atas panggung itu mereka mencari kesempatan untuk meninggalkan tempat itu. Namun begitu mereka berdiri dan bergerak, terdengarlah bentakan Kala Hitam.

“Berani meninggalkan tempat ini, berani mampus!” Orang-orang yang hendak berlalu itu tertegun seketika. Tapi sekelompok di antaranya tiba-tiba berhamburan dan kabur. Kala Hitam dan Kala Merah yang berada di ujung panggung dan paling dekat dengan orang-orang itu membentak nyaring.

“Mampuslah!” teriak mereka. Dua gelombang sinar hijau menyambar. Maka terdengarlah pekik-pekik maut. Keseluruhan kelompok hendak melarikan diri itu terkapar di tanah, tak satu pun yang hidup! Yang menyaksikan berdiri dengan lutut gontai!

“Siapa yang mau kabur lagi, silahkan!” berseru Kala Merah. Tak ada yang berani bergerak. Namun ini bukan berarti bahwa semua tamu yang hadir itu merasa jerih terhadap Kala Merah dan kawan-kawannya.

Beberapa tokoh sengaja, menahan kegeraman mereka sampai saat di mana mereka merasa tepat untuk maju!

Tiba-tiba di atas panggung terdengar teriakan-teriakan keras! Ternyata barisan “Telaga Maut” sudah mulai bergerak. Lingkaran sinar putih kelihatan bergulung-gulung mengurung keempat gadis bermuka tengkorak itu dengan sangat dahsyatnya!
Keempatnya mula-mula sama menganggap remeh barisan itu.

Sekali mereka menggerakkan tangan maka mampuslah semua pengurung itu, pikir mereka. Namun ketika mereka terdesak hebat dan hendak melancarkan serangan “Kala Hijau” segera mereka ketahui bahwa dikurung demikian rupa, tak mungkin bagi mereka untuk mengangkat tangan tinggi-tinggi dan menghantamkannya ke muka!

Keempatnya kaget dan hanya ketinggian ilmu mengentengi tubuh mereka sajalah yang dapat menyelamatkan mereka dari arus pedang yang dahsyat laksana gelombang melanda karang itu! Meskipun dapat bertahan namun lama-lama keempatnya merasa khawatir juga. Keempatnya diam-diam mencari siasat dan begitu mereka berhasil mengetahui kelemahan barisan “Telaga Maut” itu maka dengan cepat keempatnya melancarkan serangan terpusat pada dua orang anggota barisan!

Dua pekikan terdengar merobek langit. Dua sosok tubuh anggota barisan “Telaga Maut” mencelat ke udara, jatuh di tanah tanpa nyawa. Dengan demikian maka bobollah kehebatan barisan yang sangat diandalkan oleh Partai Telaga Wangi itu. Sekelompok demi sekelompok mereka terguling tanpa nyawa!

Pada saat Kala Merah dan kawan-kawannya terkurung rapat oleh barisan “Telaga Maut” maka sebagian besar dari para tamu yang merasa tidak aman dan tak punya harapan bila melakukan perlawanan terhadap Kala Merah serta kawan-kawannya segera meninggalkan tempat itu. Namun tokoh-tokoh utama lainnya tetap duduk di tempat mereka, terutama tokoh-tokoh silat kalangan putih yang bersahabat baik dengan Dewa Pedang almarhum.

Kini di atas panggung kelihatan pemandangan yang betul-betul mengerikan. Puluhan tubuh manusia terkapar tanpa nyawa. Ada yang hancur kepalanya, ada yang robek perutnya atau melesak dadanya tapi yang paling banyak ialah yang mati akibat “Kala Hijau” beracun yang dilepas oleh keempat gadis bermuka tengkorak yang haus jiwa manusia itu!

~ 7 ~ 

Di atas panggung Partai Telaga Wangi yang kini Cuma tinggal nama saja Kala Merah berdiri bertolak pinggang menghadapi para hadirin yang kini hanya tinggal separoh saja lagi.

“Mana yang lain-lainnya?!” tanya Kala Merah membentak. Sepasang matanya membeliak. Tapi tak ada satu pun dari yang hadir yang mem-berikan jawaban. Kala Merah menyapu rnereka dengan Pandangannya yang tajam.

Melihat kepada sikap Orang-orang itu dan melihat bagaimana mereka masih punya nyali untuk mendiamkan Pertanyaannya, Kala Merah maklum bahwa orang-orang itu tentulah tokoh-tokoh silat berkepandaian tinggi. Namun ini tidak mengejutkan hatinya. Malah sebaliknya Kala Merah menjadi gembira dapat berhadapan dengan tokoh-tokoh kawakan dunla persllatan itu.

“Kerbau-kerbau dogol, apa kalian tidak Punya mulut?! Orang ber-tanya didiamkan saja? Atau mungkin tuli semua?!”

Mendadak terdengar suara tertawa rnengekeh dari panggung sebelah Barat. “Kala Merah, jika kau punya nyali, turunlah!”

Kala Merah dan kawan-kawannya tentu saja kaget sekali dan memandang ke jurusan Barat tapi tak dapat mengetahui siapa adanya orang yang bicara itu karena dia mempergunakan ilmu memindahkan suara!

“Keparat pengecut, berani menantang berani unjukkan diri!” bentak Kala Merah penasaran.

Terdengar lagi suara tertawa mengekeh.

“Aku akan unjukkan diri bila kau bersedia bertempur dengan membuka kedok tengkorakmu!”

Mata Kala Merah membeliak. Darahnya tersirap. Demikian juga dengan Kala Hitam. Kala Putih dan Kala Biru. Rupanya Manusia yang bersuara itu selain sakti juga mengetahui rahasia kedok tipis yang mereka pakai! Karena geramnya Kala Merah hantamkan pukulan “Kala Hijau” ke bagian panggung sebelah Barat itu! Jerit kematian terdengar di bagian situ! Enam tokoh silat golongan putih dan dua golongan hitam roboh terjerongkang dari kursi masing-masing.

Jika belum juga unjukkan diri, semua yang ada di sini akan kubikin minggat ke akhiratl” ancam Kala Merah.

“He… he… enaknya kalau bicara!” terdengar jawaban Orang yang tak kelihatan dan tak diketahui di mana beradanya itu. “Kesaktianmu memang patut dikagumi perempuan-perempuan iblis. Kejahatanmu melewati batas! Dunia persilatan akan bersatu menghancurkanmu! Sekalipun kalian punya sepuluh nyawa, kalian tak bakal dapat hidup lama!”

“Kentut!” bentak Kala Merah gusar sekali.

“Kalau aku kentut, kalian adalah tahinya!” terdengar Suara tertawa mengekeh. Kedua tinju Kala Merah dan kawan-kawannya sama terkepal erat, tapi kepada siapakah mereka akan turun tangan?

Tak sedikit pun mereka tahu dari mana sebenarnya datang suara itu dan siapa adanya orang yang bicara!

Kala Biru mendekati Kala Merah dan berbisik: “Kakak Kala Merah tak usah perdulikan manusia keblinger itu. Sebaiknya kita mulai saja urusan dengan semua yang hadir di sini.”

Kala Merah mengangguk. Dia berdiri di tepi Panggung sebelah muka dengan bertolak pinggang. Setelah menyapu paras semua yang hadir dengan sepasang matanya yang tajam menyorot itu maka dia pun membuka mulut. Suaranya nyaring lantang dan mengumandang ke seluruh pelosok lembah.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 9)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.