Jumat, 09 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 6)

 Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

Suaranya menderu sedang tubuh Jayengrana hanya tinggal bayangannya saja yang kelihatan. Lima jurus berlalu cepat. Si Cawat Gila hanya sekali dua saja menggeserkan kaki mengelakkan serangan itu! Bahkan dengan masih tertawa-tawa dia bertanya: “Ayo, mana itu anak-anak tahi-tahinya Dewa Pedang? Apa cuma yang seorang ini saja?!”

“Tak usah jual bacot di sini, Cawat Gila! Terima ini!” membentak Jayengrana. Pedang peraknya berkiblat membuat tiga rantaian ilmu pedang Partai Telaga Wangi yang sangat ampuh yaitu “Tujuh Naga Menyambar Rembulan” disusul dengan “Naga Sakti Sabatkan Ekor” lalu “Ular Sanca Keluar Sarang Mematuk Gunung”.

“Jurus-jurus tak berguna? Buat apa dikeluarkan!” ejek Si Cawat Gila, lalu digesernya kaki-kakinya yang kurus kering itu, tubuh miring ke kiri, miring lagi ke kanan kemudian laksana harimau mendekam dan menyambarkan kuku-kuku kakinya, maka seperti itulah kedua tangan Si Cawat Gila menyambar ke depan dan tahu-tahu pedang Jayengrana sudah kena dirampas!

Belum lagi habis terkejutnya pemuda ini tangan yang lain dari si orang tua sudah menghantam kepala Jayengrana! Pemuda Ini terpelanting delapan tombak di luar panggung, kepalanya hancur nyawanya lepas! Maka gemparlah keadaan di atas dan di bawah panggung!

“Orang tua dajal!” terdengar bentakan perempuan.

“Kau harus bayar kematian anakku dengan nyawa anjingmu!” Sinar putih bertabur ke arah kepala, pinggang dan kaki Si Cawat Gila.

Di kejapan lainnya dari kiri kanan berkelebat pula dua sosok tubuh manusia. Salah seorang dari padanya membentak: “Nyawamu harus lepas di sini juga bangsat kerempeng! Tubuhmu musti lumat oleh pedangku.”

Perempuan yang membentak tadi bukan lain dari pada Suwita, isteri Dewa Pedang yang menjadi kalap melihat kematian anaknya. Sedang dua orang berikutnya ialah Indrajaya dan Bradjasastra, putera sulung dan putera bungsu Dewa Pedang!

Kurang dari sekejapan mata maka tubuh Si Cawat Gila sudah terbungkus rapat oleh larikan-larikan dahsyat sinar ketiga pedang lawannya. Serangan-serangan ini hebatnya bukan olah-olah. Indrajaya dan Bradjasastra meski belum sempurna betul tapi sudah menguasai setiap ilmu silat yang diwariskan bapaknya sedang Suwita sendiri di samping ilmu silat yang didapatnya dari Dewa Pedang, dia adalah seorang murid dari tokoh sakti di Pulau Klabat yang nama tokoh itu mengandung rahasia besar dan sukar dipecahkan oleh kalangan persilatan!

Menurut dugaan para hadirin yang bermata tajam dan luas pengalaman, paling lambat dalam dua jurus akan tamatlah riwayatnya Si Cawat Gila itu!. Tapi keliru Di luar dugaan malah terdengarlah kekehan Si Cawat Gila tiada hentinya sedang tubuh nya sendiri lenyap!

“Ha… ha… ha… Apa inikah peraturan Partai Telaga Wangi dalam dunia persilatan?! Mengeroyok tiga lawan satu?! Sungguh keji dan memalukanl” terdengar suara lantang Si Cawat Gila!

“Untuk manusia anjing sedeng macammu tak usah pakai aturan persilatan segala!” balas membentak Indrajaya. Pedangnya diputar makin cepat dalam jurus-jurus yang benar-benar mematikan!

Dewa Pedang adalah seorang tokoh silat berjiwa kesatria dan memegang teguh adat serta aturan persilatan. Meski hatinya sendiri panas serta geram bukan main melihat kematian puteranya namun perasaannya itu bisa ditekannya sehingga dia tidak menjadi kalap seperti tiga orang lainnya itu. Dewa Pedang berdiri dari kursinya. Tangan kiri menekan ujung gagang pedang yang tergantung di sisi kirinya.

“Suwita, Indra, Braja! Kalian bertiga mundurlah!” perintah Dewa Pedang. Suaranya keras dan penuh wibawa.

Namun kali ini agaknya kewibawaan itu tidak mempengaruhi diri ketiga orang yang tengah menyerang ganas Si Cawat Gila. Bahkan lndrajaya menyahuti: “Ayah, jangan banyak bicara tak karuan! Bangsat tua ini membunuh adikku! Apa aku sebagai kakaknya akan lepas tangan begitu saja?!”

“Kataku kalian mundur!” teriak Dewa Pedang lebih keras dari tadi.

“Kanda...” kata Suwita.

Tapi ucapannya itu dipotong oleh Dewa Pedang: “Walau bagaimanapun kita harus pegang teguh aturan persilatan! Mundurlah!”

Dengan hati gemas penuh dendam membara namun dibentak dan diperintah sampai tiga kali begitu rupa, Suwita dan anak-anaknya akhirnya keluar juga dari kalangan pertempuran. Si Cawat Gila kelihatan berdiri di tengah-tengah panggung sambil tertawa-tawa.

“Bagus kau perintahkan demikian Dewa Pedang. Seperempat jurus saja terlambat, ketiganya sudah jadi bangkai!”

“Cawat Gila, antara kita tiada permusuhan! Karenanya aku tak melihat adanya alasan mengapa sampai kau membunuh puteraku!” Si Cawat Gila hentikan tertawanya. Matanya yang sipit dibesarkan sedikit, dikedip-kedipkannya lalu tertawa lagi mengakak!

“Kau katakan tak ada permusuhan? Huh… apa otakmu sudah sinting?! Kau bilang tak ada alasan, huh! Apa kau sudah lupa apa yang kau lakukan sekitar satu minggu yang lalu di Kertoragen?! Sialan betul! Kau telah membunuh, menebas batang leher Si Kuku lblis! Itu kepalanya kubawa sebagai bukti!”

Terkejutlah Dewa Pedang. Matanya melirik pada kepala manusia yang terhampar di lantai punggung dekat kakinya.

Selewat satu minggu yang lalu Dewa Pedang memang pernah membunuh seorang kepala rampok yang berjulukan Si Kuku Iblis. Hal ini terjadi di satu rimba belantara yaitu ketika Si Kuku lblis dan lima anak buahnya hendak merampok sebuah kereta barang yang lewat dalam hutan!

Sewaktu kepala itu tadi dilemparkan oleh Si Cawat Gila di hadapannya memang dia rasa-rasa kenal dengan paras itu, namun karena keadaannya yang sangat rusak serta berselimutan darah maka sukar lagi Dewa Pedang untuk mengenali siapa adanya kepala manusia itu!

Mendengar ucapan Si Cawat Gila, Dewa Pedang segera maklum bahwa antara Si Kuku lblis dengan si Cawat Gila pasti ada hubungan apa-apa. Maka menjawablah Ketua Partai Telagra Wangi itu, “Apa yang dikerjakan oleh Si Kuku lblis yaitu kejahatannya yang telah membunuhnya, Cawat Gila. Bukan aku! Setiap manusia macam dia akan menerima ganjaran seperti itu!”

“He… he… he! Kau pandai bicara! Tapi apakah kau sudah tahu jalan ke neraka?! Kalau belum aku Si Cawat Gila akan tunjukkan jalannya!” Manusia sakti kurus kering itu maju dua iangkah. Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi ke atas!

“Terimalah jurus kematianmu ini, Dewa Pedang! He… he…!”

“Cawat Gila!” seru Dewa Pedang sambil alirkan tenaga dalamnya ke tangan kanan.

“Apa hubunganmu dengan Si Kuku Iblis?!”

“Oh, kau tanya itu?! Tak susah untuk menjawabnya, Si Kuku lblis adalah adikku! Sekarang kau tahu bagaimana aku inginkan kau punya nyawa, bahkan nyawa keluarga serta anggota-anggota Partaimu!” Dewa Pedang bahkan hampir semua dari tamu yana hadir barulah hari itu mengetahui bahwa Si Kuku Iblis adalah adik Si Cawat Gila.

“Cawat Gila,” kata Dewa pedang, “Siapa pun adanya Si Kuku lblis itu bukan soal! Yang penting ialah bahwa dia telah melakukan kejahatan. Dan kebenaran tidak sudi melihat dia malang melintang menyebar kejahatan itu…”

“Ah di sini bukan tempat dan waktunya untuk bicara bahasa tinggi begitu rupa! Bicaralah nanti pada setan-setan neraka…!” Sudut mata Si Cawat Gila menangkap seseorang melangkah ke arah di mana dia berdiri berhadap-hadapan dengan Dewa Pedang. Ketika dia menoleh sedikit ke samping ternyata orang ini adalah Resi Godapati atau Tiga Tombak Emas Trisula yang sejak tadi masih berdiri di atas panggung itu! Suasana hening menegangkan.

“Cawat Gila, dengan memperhatikan sedikit suasana serta tempat di mana kita berada, serta memandang muka para tokoh-tokoh persilatan yang hadir di sini, kuharap kau jangan meneruskan maksud-maksud yang terkandung di hatimu…!”

“Eh, kunyuk jubah ungu! Apakah kau bicara mengigau atau memang otakmu sudah miring…?!” tukas Si Cawat Gila. Diajak bicara baik-baik tapi dijawab sedemikian rupa maka panaslah hati Resi Godapati.

“Otakku mungkin sudah miring, tapi belum lagi semiringmu!” jawabnya.

“Hem… Ini lagi contohnya manusia yang tidak tahu tingginya gunung dalamnya laut. Kalau sudah bosan hidup bilang saja, biar lekas-lekas kukirim roh busukmu ke neraka!”

“Bicaramu terlalu besar, Cawat Gila!”

“Nyalimu juga keliwat besar Godapati!”

“Kau masih belum punya enam kepala selusin tangan, Cawat Gila…!”

“Oh… apakah kau punya nyawa rangkap?!” menukasi Si Cawat Gila.

“Aku memang tak punya nyawa rangkap. Tapi untuk menghadapimu, sampai seribu jurus pun akan kujalani!”

“Bagus sekali! Tapi biar kutanya dulu, apakah dalam hal ini kau membela Dewa Pedang?”

“Aku tak membela siapa-siapa!”

“Lantas kenapa jual mulut?! Jangan coba menunjukkan kebesaran budi serta kebaikanmu dimuka orang banyak! Semua orang tahu, perkumpulan yang bagaimana adanya perkumpulan yang kau dirikan di Pulau Wuwutan! Semua orang di sini tahu bahwa kau adalah resi sesat bau tengik yang melakukan apa saja asal disumpal pantatnya dengan uang dan mulutnya dengan harta!” Habis berkata begitu Si Cawat Gila tertawa terkekeh-kekeh.

“Tak ada jalan lain,” kata Resi Godapati sambil mengeluarkan senjatanya yaitu tombak berkepala tiga yang terbuat dari emas.

“Rupanya kau betul-betul ingin cepat-cepat menghadap hantu neraka…!” Si Cawat Gila tertawa bergelak. Tiba-tiba dia melengking nyaring. Kedua tangannya dipukulkan ke muka. Angin laksana topan menggebubu! Resi Godapati melompat enam tombak dan ayunkan tombak kepala tiganya ke arah lawan lalu susul dengan tendangan kaki kiri kanan.

Hebatnya sebelum tombak dan dua tendangan mencapai sasaran yang diarah, tahu-tahu ketiga serangan tersebut sudah berubah arah ke bagian tubuh yang lain dari Si Cawat Gila! Geram dan kaget juga Si Cawat Gila melihat serangan lawan ini. Tubuhnya yang kurus kering itu berkelebat ganas, kedua tangan sambar menyambar menimbulkan angin deras.

Di lain pihak Resi Godapati tiada henti mengirimkan serangan tombak emasnya yang sekaligus juga merupakan senjata pembenteng tubuhnya!

Setelah lima jurus berlalu dan dia masih belum dapat membuat suatu apa terhadap lawannya maka marahlah Si Cawat Gila.

“Manusia sontoloyo! Terima ini!” bentak Cawat Gila Tubuhnya lenyap. Dua tangan dan dua kakinya bergerak tak kelihatan.

Kemudian terdengarlah jeritan Resi Godapati. Tombak emasnya kelihatan mental ke udara sedang tubuhnya sendiri terlempar ke bawah panggung. Resi ini coba duduk bersila untuk mengalirkan tenaga dalam dan mengobati luka hebatnya. Namun tulang dadanya sudah hancur, iga-iganya telah patah. Hanya sesaat tubuhnya duduk bersila, sesudah itu Godapati rebah ke tanah tanpa nyawa! Semua yang hadir sama terkatup mulutnya.

Suasana sehening di pekuburan. Si Cawat Gila tertawa membahak. Kemudian diputarnya tubuhnya menghadapi Dewa Pedang yang berdiri sembilan tombak di depannya.

Dia menyeringai dan berkata: “Kematianmu lebih buruk dari Resi keparat itu, Dewa Pedang!” Perkataannya itu langsung saja ditutup dengan satu serangan dahsyat! Tangan kanan mencengkeram ke muka sedang tendangan kaki kiri menyeruak ke bawah selangkangan!

Dewa Pedang yang memang sudah hampir hilang kesabarannya serta dendam terhadap kematian puteranya kini tidak tinggal diam. Tubuhnya merunduk, kedua tangan dipukulkan ke muka. Inilah satu pukulan jarak jauh yang hebat yang hendak dilepaskannya!

Ketika kedua tangan Dewa Pedang kelihatan bergerak ke muka maka Si Cawat Gila merasakan tubuhnya yang melesat di udara itu menerima tekanan yang hebat! Tubuhnya terhuyung-huyung dan serangannya buyar. Kaget sekali dia jadinya. Tak salah kalau adiknya Si Kuku lblis menemui ajal di tangan Ketua Partai Telaga Wangi yang nyatanya memiliki ilmu pukulan tangan kosong demikian lihainya!

Didahului dengan bentakan menggeledek maka kelihatanlah tubuh Si Cawat Gila menukik ke bawah laksana seorang perenang yang tengah menyelam dan tahu-tahu kedua tinjunya sudah menjotos ke perut dan dada Dewa Pedang! Dewa Pedang dengan beringas sambuti tinju lawan dengan tinju pula.

“Bukk!”

“Bukk!”

Dua tinju yang mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi sama-sama beradu dan mengeluarkan suara keras. Akibatnya juga hebat. Tubuh Dewa Pedang terbanting ke belakang! Kalau saja ilmu meringankan tubuhnya tidak sempurna pastilah dia akan terus jatuh duduk atau terjerongkang di lantai panggung.

Sebaliknya Si Cawat Gila sendiri kelihatan terpelanting ke belakang sampai satu tombak! Untuk kedua kalinya tokoh silat berotak miring ini jadi terkejut.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 7)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.