Jumat, 09 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 5)

 Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

“Hati-hati Jayengrana, dia lihai sekali, senjatanya sebuah tombak emas bermata tiga. Ingat baik-baik jangan sampai pedangmu beradu atau bertempelan dengan senjatanya!” Godapati meneliti Jayengrana dengan matanya yang tajam. Kemudian pemuda itu melangkah ke hadapannya.

“Tombak Emas Trisula,” kata Jayengrana.

“Atas izin ayahku selaku Ketua Partai Telaga Wangi kuharap kau tak keberatan kalau niatmu terhadap ayahku, aku yang mewakilinya.”

Jika saja tidak menyaksikan sendiri kelihayan lndrajaya tadi maka pastilah Godapati akan menganggap remeh terhadap si pemuda. Tapi untuk menjaga nama besar dirinya dan nama gagah perkumpulannya maka Godapati berkata: “Ah, dari jauh datang hendak bertemu dan bertutur ilmu dengan Dewa Pedang, sampai di sini hanya diberi kesempatan untuk berhadapan dengan puteranya…”

Godapati berpaling pada Ketua Partai Telaga Wangi dan berkata: “Dewa Pedang, kuharap kau jangan arah bila terhadap puteramu nanti aku kesalahan tangan…!” Meski tahu bahwa tutur kata yang sopan itu adalah dibuat-buat saja namun Dewa Pedang tersenyum dan mengangguk ramah.

Maka dari balik jubah ungunya, Resi Godapati segera mengeluarkan sebuah tombak yang terbuat dari emas dan bermata tiga!

“Sebagai tamu, apakah kau keberatan bila aku yang mulai menyerang lebih dahulu, orang muda?”

“Silahkan Tombak Emas Trisula…” jawab Jayengrana. Dengan mengeluarkan bentakan yang teramat dahsyat Resi Godapati menyerang. Senjatanya berkelebat dan menimbulkan tiga larik sinar kuning emas namun anehnya senjata yang berbentuk tombak kepala tiga itu bergerak agak lamban.

Melihat ini Jayengrana segera hendak menabas senjata lawan dengan pedangnya namun ketika dia ingat pesan ayahnya bahwa sekali-kali jangan sampai beradu senjata atau menempelkan pedang dengan senjata lawan maka pemuda itu mengurungkan niatnya! Seandainya Jayengrana meneruskan niatnya tadi hendak memapas senjata lawan maka dalam jurus pertama itu pastilah Resi Godapati akan menjepit badan pedangnya antara salah satu legukan dua mata tombak, kemudian akan mematahkan pedang itu!

Godapati sendiri merasa heran mengapa si bemuda tak meneruskan niatnya dan dia membathin mungkin sekali Jayengrana mengetahui rahasia kehebatan senjatanya! Maka tanpa menunggu lebih lama dia segera menyerang kembali Jayengrana berkelebat dan bergerak gesit! Kegesitan inilah yang banyak menolongnya dari serangan senjata lawan yang hebat itu.

Ketika Godapati mempercepat gerakannya maka Jayengrana juga mempercepat kelebatannya sehingga kedua orang itu hanya merupakan bayang-bayang saja kini dan dalam waktu yang singkat keduanya sudah bertempur lima belasan jurus!

Para tamu yang hadir dan pihak tuan rumah sendiri menyaksikan pertempuran itu dengan mata hampir tak berkedip!

Sudah beberapa kali Jayengrana mengeluarkan jurus-jurus terlihai dari permainan pedang Partai Telaga Wangi namun sampai begitu jauh tak berhasil membuat kemajuan!

Resi Godapati sendiri tidak pula mampu melakukan sesuatu dari pada seperti keadaannya disaat itu! Sukar baginya untuk menerobos pertahanan lawan.

Berkali-kali dia berusaha untuk menjepit pedang Jayengrana, tapi si pemuda senantiasa menjauhkan pedangnya dari ujung tombak kepala tiga itu.

Ketika pertempuran sudah berjalan dua puluh lima jurus, Resi Godapati mulai menjadi penasaran. Di samping itu telinganya mulai mendengar ejekan-ejekan para tamu di sekitar panggung yang membuat dia jadi kehilangan muka.

“He… he… Jika tiga jurus lagi kau tak mampu mengalahkan pemuda itu sebaiknya kembali saja ke Pulau Wuwutan dan tak usah munculkan diri lagi di dunia persilatan!” terdengar suara mengejek dari panggung sebelah Barat. Suara ini adalah suara manusia yang tadi pertama kali juga telah mengejek Si Bayangan Setan.

Godapati kertakkan rahangnya. Tangan kirinya dengan cepat masuk lalu ke luar lagi dari saku jubah.

“Awas jarum!” seru Resi Godapati. Jayengrana membentak keras dan melompat ke udara setinggi lima tombak. Puluhan jarum emas yang menjadi senjata rahasia Resi Godapati lewat di bawahnya. Dan pada detik itu pula laksana seekor burung garuda menyambar mangsanya maka menukiklah Jayengrana. Pedangnya menyambar deras ke arah leher lawan. Resi Godapati cepat menangkis dengan senjatanya.

Disamping Jayengrana tak mau bentrokan senjata maka dengan cepat dan tak terduga sama sekali pemuda itu gerakkan pedang membuat satu tusukan kilat ke arah dada! Demikianlah cepatnya sehingga Godapati tak punya kesempatan untuk penangkis kembali.

Terpaksa Resi lihai itu memaki dalam hati dan cepat-cepat melompat ke belakang. Pada lompatan ke belakang ini sang Resi membuat lagi satu gerakan yang hebat luar biasa. Tubuhnya jungkir balik di udara. Tombak Emas Trisula di tangannya menyapu dari samping dan tahu-tahu salah satu legukannya telah berhasil menjapit pedang perak di tangan Jayengrana! Begitu berhasil menjapit segera Godapati memutar tombaknya!

Di lain pihak karena tidak ingin senjatanya menjadi patah dua, Jayengrana terpaksa dengan cepat melepaskan pedangnya! Namun dia tak mau terima kalah begitu saja. Begitu pedangnya dirampas lawan. cepat laksana kilat pemuda itu jatuhkan diri ke lantai dan…

“Bret!” Sekali Jayengrana gerakkan tangannya maka robeklah jubah ungu Resi Godapati! Penasaran sekali karena jubah kebesarannya dirusak lawan, Resi Godapati hantamkan tombaknya ke tubuh Jayengrana. Yang diserang menggulingkan dirinya dengan cepat dan sekejapan mata kemudian tombak kepala tiga itu menancap di lantai papan panggung sampai setengahnya!

Para tamu yang hadir bersorak gegap gempita melihat pertempuran yang hebat seru itu. Jayengrana berdiri dengan cepat sementara Resi Godapati mencabut senjatanya yang amblas ke dalam lantai lalu menyimpannya kembali ke balik jubah ungunya!

Dia memandang pada Ketua Partai Telaga Wangi. menganggukkan kepala lalu berkata: “Dewa Pedang, ternyata puteramu telah sanggup menyuguhkan satu permainan yang berharga kepadaku! memang tidak percuma kalau kau berhasrat mendirikan satu partai besar dengan anggota-anggota yang berkepandaian tinggi macam anakmu!”

Dewa Pedang tertawa cerah. Siapa yang akan menyangka kalau seorang tokoh silat golongan hitam Godapati mau bicara dan bersikap jujur seperti itu?

“Terima kasih, Resi Godapati. Jikalau penyambutan kami terhadapmu kurang baik mohon dimaafkan,” kata Dewa Pedang pula. Secara nyata memang puteranya telah dikalahkan oleh resi kosen itu meskipun Jayengrana tidak begitu kehilangan muka karena dia juga berhasil merobek jubah lawannya.

Sekali lagi Resi Godapati menganggukkan kepalanya. Dia memutar tubuh hendak meninggalkan sanggung namun langkahnya tertahan ketika di lembah di mana telaga itu terletak tiba-tiba sekali terdengar suara mengumandang yang dahsyat dan menggidikkan. Lalu tahu-tahu sebuah benda jatuh menggelinding di hadapan kaki Dewa Pedang.

Ketika Dewa Pedang dan semua anggota partai serta para hadirin memandang ke benda yang menggelinding itu maka terkejut dan gemparlah semuanya karena benda itu bukan lain daripada kepala manusia!

~ 5 ~ 

Kepala manusia itu berambut gondrong awut-awutan. Mukanya berkerinyut, kening sangat lebar, kedua mata membeliak besar, mulut menganga. Pada lehernya yang bekas terbabat putus kelihatan darah yang telah membeku coklat kehitaman.

Sungguh satu pemandangan yang mengerikan untuk disaksikan. Melihat kepada keadaan muka dan kepala itu serta baunya yang busuk sekali nyatalah bahwa manusia pemilik kepala itu telah menemui ajalnya beberapa hari yang lewat.

Mungkin satu minggu bahkan mungkin pula lebih dari itu!

Dewa Pedang sendiri yang menyaksikan kepala manusia itu jadi mengerenyitkan kening. Dia rasa-rasa kenal atau pernah melihat manusia tersebut. Pada detik dia coba mengingat-ingat maka pada saat itu pula sesosok tubuh manusia berkelebat dan berdiri di atas panggung sambil tertawa tiada hentinya.

Manusia yang datang ini adalah seorang kakek- kakek tua renta berbadan kurus kering Tulang-tulang tangan serta kakinya kecil sekali sedang tulang dada dan keseluruhan tulang-tulang iganya kelihatan dengan jelas. Mukanya sangat cekung, mata sipit. Keanehan manusia ini selain hanya mengenakan cawat saja untuk menutupi tubuhnya maka rambutnya yang panjang putih dijalin satu ke belakang macam perempuan!

Melihat kedatangan manusia ini, untuk kesekian kalinya keadaan di tempat itu menjadi gempar! Karena siapakah yang tak kenal dengan seorang tokoh silat yang bergelar “Si Cawat Gila”?!

Tokoh ini bukan saja termasyhur karena ketinggian ilmunya tapi juga karena otaknya yang miring. Buktinya begitu datang dia telah menggemparkan suasana dengan sebutir kepala manusia!. Sampai selama satu kali sepeminum teh Si Cawat Gila masih juga berdiri di panggung itu dengan tertawa panjang gelak-gelak!

Dewa Pedang selaku tuan rumah dan sebagai seorang tokoh silat yang telah memaklumi manusia bagaimana adanya tamu yang ada di atas panggung itu tetap duduk di tempatnya dan menunggu sampai Si Cawat Gila menghentikan tertawanya.

Ketika Si Cawat Gila mulai reda tertawanya maka bertanyalah Dewa Pedang: “Kakek Cawat Gila, gerangan apakah yang telah membawamu datang ke sini dengan cara begini rupa ..?” Si Cawat Gila sekaligus menghentikan tertawanya. Dikucak-kucaknya kedua matanya lalu memandang lekat-lekat pada Dewa Pedang setelah itu memandang berkeliling pada para hadirin yang ada. Pandangannya begitu angker menggetarkan!

Kemudian tokoh silat berotak miring ini memanggut-manggutkan kepalanya beberapa kali, mendongak sebentar kelangit lalu berkata: “Ah… jadi betul rupanya aku telah sampai di kaki Gunung Merapi. Betul rupanya aku telah sampai di tepi telaga tempat peresmian berdirinya Partai Telaga Wangi…”

Orang tua ini memandang lurus-lurus pada Dewa Pedang lalu dengan seenaknya tudingkan jari telunjuknya tepat-tepat ke hidung Ketua Partai Telaga Wangi itu dan berkata setengah membentak: “Kau ya manusianya yang bernama Brajaguna bergelar Dewa Pedang?!”

“Ya,” menjawab Dewa Pedang. Dan Si Cawat Gila tertawa lagi gelak-gelak.

“Tampangmu macam manusia biasa, bahkan mirip kunyuk! Kenapa pakai gelar Dewa segala? Apa kau keturunan atau titisan Dewa, huh?!” Mendengar ejek penghinaan ini maka melompatlah ke muka dua orang Pengurus Partai yaitu Klabangsongo den Rah Gundala!

“Kerempeng tua bangka! Kuharap cepat minta maaf atas mulutmu yang bicara seenaknya itu!” membentak Rah Gundala. Suaranya parau garang. Manusia ini berbadan gemuk pendek dan berkepala sulah.

“Monyet gundul yang tak tahu tingginya gunung dalamnya laut, kau minggirlah! Aku tak cari urusan denganmu!” Habis berkata begini Si Cawat Gila lambaikan tangan kanannya.

“Wuut!”

Gelombang angin laksana badai melanda tubuh Rah Gundala! Demikian hebatnya sehingga Rah Gundala mental dari panggung, jatuh di antara para hadirin dan muntah darah lalu pingsan!

“lblis tua keparat!” maki Klabangsongo. Pengurus Partai dari Selatan segera cabut pedangnya dan melancarkan serangan dahsyatl Namun dengan mudah Si Cawat Gila mengelak ke samping.

Sekali tangan kanannya dihantamkan ke muka maka seperti Rah Gundala tadi, Klabangsongo pun mencelat ke luar panggung, tenggelam ke dalam telaga. Untuk kedua kalinya air telaga itu kelihatan merah oleh darah yang keluar dari mulut Klabangsongo! Dua orang anggota Partai segera pula terjun untuk menolong Klabangsongo.

“Orang tua, lihat pedang!” Tiba-tiba terdengar seruan dan selarik sinar putih menderu di muka hidung Si Cawat Gila!

Si Cawat Gila terkejut dan buru-buru melompat ke belakang. Yang menyerangnya ternyata adalah Jayengrana! Tentu saja Si Cawat Gila terkejut diserang demikian rupa. Namun ketika melihat siapa penyerangnya maka dia terlebih dahulu tertawa gelak-gelak.

“Bagus… bagus! Anaknya juga ingin mencari mampus! Bagus! Datang mencari biangnya, anak-anaknya unjukkan diri! Ha… ha… ha… Jika masih ada anak-anaknya Dewa Pedang yang lain segeralah maju, biar kubikin kojor sekaligus!”

Geram sekali Jayengrana kembali menyerbu dengan pedangnya sementara semua orang yang hadir menyaksikan dengan menahan nafas penuh tegang! Jika dua tokoh Partai Telaga Wangi dapat dirobohkan oleh Si Cawat Gila, sungguh sukar diduga sampai di mana ketinggian ilmu manusia aneh itu!

Semua mata memandang tak berkedip ke atas panggung sedang hati masing-masing bertanya-tanya gerangan apakah yang membuat Si Cawat Gila munculkan diri di situ dan turun tangan sedemikian ganasnya! Sinar putih dari pedang Jayengrana bergulung-gulung mengurung Si Cawat Gila dari delapan penjuru!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 6)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.