Jumat, 09 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 4)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri adalah mempergunakan pedang untuk menangkis! Dan laksana sebuah pisau tajam memutus wortel, demikianlah kelewang merah si nenek membabat putus pedang perak Suralangi tepat di batas muka hulunyal Dan gerakan Nenek Kelewang Merah tidak sampai di situ saja. Tubuhnya melesat kemuka.

“Sura, awas!” teriak beberapa orang anggota Partai Telaga Wangi. Namun terlambat, kaki kanan Nenek Kelewang Merah lebih dahulu menghantam dada Suralangi. Tak ampun lagi Suralangi tubuhnya mencelat mental, terus masuk ke dalam telaga!

~ 4 ~ 

Telaga yang airnya tadi bening kini kelihatan merah oleh darah. Dua orang anggota Partai segera menghambur masuk ke dalam telaga dan membawa Suralangi ke tepian. Sampai di tepi telaga Suralangi muntah darah lalu roboh pingsan! Ketua Partai Telaga Wangi menghela nafas dan rangkapkan kedua tangannya di muka dada.

“Nenek Kelewang Merah,” kata Dewa Pedang.

“llmu silatmu bagus dan patut dipuji. Tapi ketahuilah maksud menguji bukan berarti mencelakai…!” Nenek Kelewang Merah tertawa mengikik.

“Sekarang kau bisa bicara begitu Brajaguna.” kata si nenek pula dengan menyebut nama asli Dewa Pedang.

“Apa kau juga membuka mulut sewaktu anggota Partaimu tadi mencelakai Si Bayangan Setan…?!”

“Bukan anggota Partaiku yang mencelakainya, Nenek Kelewang Merah, tapi Si Bayangan Setan sendiri yang mencari celaka!” menyahuti Dewa Pedang.

Si nenek tertawa lagi mengikik lebih panjang dari tadi. Suara tertawanya ini menusuk-nusuk gendang-gendang telinga. Maklumlah semua orang bagaimana tingginya tenaga dalam si nenek. Ketika dia berhenti tertawa maka ia pun berkata, “Pintar bicaramu masih seperti dulu saja, Brajaguna. Tapi kalau ilmu silatmu tingkatnya juga seperti dulu, kurasa belum saatnya kau memangku jabatan Ketua dan mendirikan Partai baru di dunia persilatan!”

Marahlah sekalian orang dari Partai Telaga Wangi atas penghinaan ini. Dari samping melesat sesosok tubuh dan berdiri enam langkah di hadapan Nenek Kelewang Merah.

Ternyata dia adalah Indrajaya, putera tertua dari Dewa Pedang sendiri!

“Nenek Kelewang Merah, aku tak dapat menerima penghinaanmu tadi!” kata Indrajaya. Si nenek kernyitkan kening. Matanya yang lebih besar macam jengkol disipitkannya sedikit. Lalu dengan senyum-senyum dia, berkata, “Melihat kepada tampangmu, pastilah kau anaknya si Dewa Pedang! Ah… nyalimu memang besar anak muda, sebesar bapakmu dulu! Tapi lucunya bapaknya yang dihina kenapa anaknya yang maju?!”

“Kuharap kau bisa menjaga mulut dan tahu di mana berada orang tua!” bentak Indrajaya. Nenek Kelewang Merah masih senyum-senyum seperti tadi.

“Soal mulutku soalku sendiri orang muda. Mulutku mau bicara dan keluarkan apa saja siapa mau perduli?!” Jengkel sekali lndrajaya maju satu langkah.

“Memang sekalipun kau berak dari mulut tak ada yang mau perduli!” tukas lndrajaya sehingga semua yang hadir tertawa terbahak-bahak. Kelamlah muka si nenek.

“Tujuh puluh tahun hidup baru hari ini aku Nenek Kelewang Merah menerima hinaan dari seorang bocak setan alas!” Mulut perempuan tua itu komat kamit sebentar, lalu:

“Semustinya sudah kupecahkan kepalanya tapi melihat tampangmu begitu gagah aku masih punya rasa belas kasihan! Cepat berlutut dan minta ampun!” lndrajaya mendengus.

“Jangan anggap remeh semua orang nenek tua! Terima dulu bekas tanganku pada mukamu yang kriput itu baru aku sudi berlutut!”

“Keparat betul!” bentak Nenek Kelewang Merah, “Dikasih ampun minta dikeremus! Apa kau punya selusin tangan enam kepala berani menantang aku?! Bapakmu juga belum tentu menang melawanku!” Mendidih darah lndrajaya mendengar lagi-lagi nama bapaknya dihina si nenek.

“Lihat pedang!” bentak Indrajaya. Si nenek bongkok di samping tertawa mencemooh juga agak heran karena ancaman yang dilakukan oleh pemuda itu di saat sama sekali tangannya masih belum memegang pedang namun sekejapan mata kemudian terkejutlah Nenek Kelewang Merah ini ketika melihat selarik sinar putih yang menyilaukan berkiblat membabat dari kanan ke kiri persis di depan hidungnya!

Nenek Kelewang Merah berseru tertahan dan melompat dua langkah ke belakang. Ketika melihat ke muka ternyata si pemuda sudah memegang sebilah pedang dari perak mumi! diam-diam hati perempan tua ini menjadi tergetar juga. Jurus apakah yang telah dikeluarkan oleh si pemuda hingga demikian hebatnya? Kalau anaknya sudah begini tinggi kepandaiannva, tentu Dewa Pedang sendiri lebih lihai lagi!

Sementara itu di antara para hadirin mulai terdengar kerasak kerisik yang menyatakan rasa kagum terhadap serangan kilat yang dilancarkan oleh lndrajaya tadi. Untuk tidak keliwat kehilangan muka maka dengan nada masih menganggap rendah lawan, si nenek berkata:

“Orang muda, kalau kau bermaksud hendak mencoba kepandaianku, sebaiknya kau ajak dua saudaramu yang lain. Bapak sama ibumu kalau mau juga boleh!”

“Kalau kau tak punya nyali menghadapiku sendirian, angkat kain burukmu tinggi-tinggi dan larilah dari sini!” balas mengejek Indrajaya.

“Penghinaanmu sudah liwat takaran, bocah setan!” teriak Nenek Kelewang Merah. Tangan kanannya bergerak.

“Wutt!”

Selarik sinar merah melanda ke kepala Indrajaya! Hebat dan cepat tiada terkirakan. lnilah jurus yang dinamakan perempuan tua itu dengan “Kelewang Melanglang Jagat”!

Beberapa lawan tangguh dan utama telah menemui kematiannya dalam jurus yang hebat ini. Dan di saat itu Nenek Kelewang Merah sudah membayangkan bahwa kelewangnya kali ini pun akan memapas licin kepala si pemuda yang kurang ajar dan telah berani menantangnya!

Namun si nenek jadi terkesiap dan berubah parasnya ketika menyaksikan bahwa serangan kelewangnya hanya mengenai udara kosong bahkan lndrajaya sendiri lenyap dari pandangannya.

“Ah... gelarmu sebagai Nenek Kelewang Merah nyatanya hanya kosong belaka!” Mendengar suara lndrajaya di belakangnya si nenek segera membalik dan…

“Wut… wut!”

Dua kali lagi kelewangnya mengelebatkan angin deras dan sinar merah yang dahsyat. Namun lagi-lagi dia hanya menyerang tempat kosong.

“Apa kau bertempur sendirian melawan tempat kosong, orang tua?!” terdengar lagi suara mengejek lndrajaya dari samping belakang! Sekali lagi Si nenek putar dengan cepat tubuhnya yang bongkok dan lancarkan tiga kali serangan berantai, bahkan kali ini juga disertai pukulan tangan kosong dari tangan kirinya.

Namun hasilnya tetap seperti tadi! Suara riuh rendah semakin bising. Banyak para tamu yang hadir mengagumi ketinggian ilmu meringankan tubuh Indrajaya.

“Pemuda setan! Apa kau cuma berani menghindar dan lari mengelit begitu saja!” bentak Nenek Kelewang Merah dengan geram.

“Siapa bilang aku tak berani melabrakmu, perempuan sombong!”sahut Indrajaya. Sesaat kemudian maka larikan-larikan sinar putih menyilaukan yang tiada terkirakan banyaknya telah menggempur dan membungkus tubuh sang nenek.

Tanpa membuang waktu Nenek Kelewang Merah putar kelewangnya laksana kitiran. Maka sinar putih dan merah kini saling bergumut berpalun-palun. Deru angin tiada terkirakan derasnya sedang tubuh kedua manusia yang bertempur itu lenyap menjadi bayang-bayang Cepat sekali sepuluh jurus sudah lewat.

Permainan ilmu pedang “Seribu Pedang Mengamuk” yang sebelumnya telah dikeluarkan oleh Suralangi kini dimainkan oleh lndrajaya hebatnya bukan main. Sebagai anak sulung dari Ketua Partai Telaga Wangi, lndrajaya meskipun belum sempuma betul tapi boleh dikatakan tiga perempat ilmu Dewa Pedang telah diwarisinya!

Selewat jurus kedua belas maka kelihatanlah bagaimana si nenek menjadi terdesak hebat. Beberapa ilmu simpanannya yang lihai-lihai telah dikeluarkannya untuk menghancurkan serangan dan kurungan pedang lawan namun sia-sia belaka! Maka perempuan tua ini jadi keluarkan keringat dingin! Lebih-lebih ketika dia dibikin kepepet ke panggung sebelah Utara!

“Apa mulut besarmu kini sudah jadi bisu, perempuan tua?!” ejek lndrajaya. Nenek Kelewang Merah menyahuti dengan satu bentakan keras. Kelewangnya menderu dahsyat. Indrajaya tak tinggal diam. Tubuhnya berkelebat lenyap. Hanya sinar putih yang kelihatan bergulung-gulung melabrak dan menindih sinar merah dari kelewang si nenek tua! Tiba-tiba...

“Tjrasss!”

Nenek Kelewang Merah berseru keras. Rambutnya yang kelabu dan disanggul kuncir di atas kepala terbabat putus disambar pedang perak Indrajaya!

Sebelum dia punya kesempatan untuk melompat mundur tahu-tahu sudah terdengar pula jeritannya. Daging lengannya tergores panjang sedalam seperempat senti disambar ujung pedang Indrajaya. Darah berlelehan!

Senjata perempuan tua itu terlepas dan jatuh di panggung! Gemparlah para hadirin menyaksikan hal ini! Perempuan tua berumur tujuh puluh tahun yang dikenal di dunia persilatan dengan julukan Nenek Kelewang Merah hari itu telah dipecundangi oleh seorang pemuda belia!

Dengan muka merah laksana saga karena malu dengan terbongkok-bongkok Nenek Kelewang Merah mengambil kelewangnya lalu dengan geramnya berkata pada lndrajaya:

“Apa yang terjadi hari ini tidak bakal kulupakan! Kelak aku datang kembali untuk mengorek kau punya jantung dari balik tulang dadamu!”

Habis berkata demikian, diiringi oleh sorak sorai mereka yang hadir maka tanpa menoleh lagi sinenek tua itu segera meninggalkan tempat tersebut. Belum lagi habis sorak sorai para hadirin tahu-tahu seorang resi berpakaian ungu sudah melesat naik ke atas panggung! Munculnya resi ini dengan serta merta menghentikan segala kehiruk pikukan. Semua mata ditujukan kepadanya.

Sikapnya yang tenang dan mimik air mukanya yang polos menyatakan bahwa dia mempunyai wibawa serta berilmu tinggi. Pada punggung dan dada jubahnya yang berwama ungu itu kelihatan gambar tombak bermata tiga yang disulam dengan benang emas! Melihat jubah dan sulaman tombak emas kepala tiga itu maka segenap yang hadir serta tuan. rumah segera mengenali siapa adanya resi tersebut.

Di dunia persilatan dia dikenal dengan julukan Tiga Tombak Emas Trisula dan berdiam di Pulau Wuwutan di Pantai Selatan Jawa Tengah. Bersama dua orang resi lainnya dia membentuk satu perkumpulan silat yang akan melakukan tugas apa saja dan dari manapun datangnya asal dibayar dengan uang atau barang-barang berharga.

Dikabarkan komplotan Tiga Tombak Emas Trisula dulunya juga turut menjadi kaki tangan pengkhianat yang hendak meruntuhkan Demak.

Mengapa sampai salah satu anggota perkumpulan Tiga Tombak Emas Trisula itu bisa sampai di tempatnya belum dapat dijajak oleh Ketua Partai Telaga Wangi karena memang dia merasa tak pernah memberikan undangan pada mereka.

Apakah manusia ini cuma datang sendirian atau bersama dua rekannya lainnya?

Mungkin pula kedatangannya atas bayaran seseorang atau satu perkumpulan lain dengan tugas membuat kekacauan pada saat peresmian pendirian Partai Telaga Wangi?

Resi itu setelah memandang ke seluruh anggota Partai, melirik sekilas pada lndrajaya kemudian menganggukkan kepalanya pada Dewa Pedang.

“Aku adalah Godapati, salah seorang yang termuda dari Tiga Tombak Emas Trisula. Meski tak diundang telah memberanikan diri untuk datang ke mari…”

“Ah…” Dewa Pedang balas mengangguk.

“Sudah barang tentu ini satu kehormatan bagi kami menerima kunjungan seorang tokoh silat macam saudara…” Godapati batuk-batuk beberapa kali lalu berkata pula, “sudah lama aku mendengar nama besar Dewa Pedang. Ketika mendengar kabar yang dibawa oleh angin bahwa Dewa Pedang hendak membangun satu Partai baru dalam dunia persilatan maka itu mendorong aku untuk datang dan menyaksikannya sendiri…”

“Terima kasih… terima kasih…” kata Dewa Pedang.

Jika Ketua Partai Telaga Wangi memberi izin, aku berkehendak sekali untuk melihat dari dekat kehebatan permainan pedang Ketua Partai…” Dewa Pedang tertawa jumawa.

Putera kedua dari sang Ketua tiba-tiba berdiri. Ayah perkenankan aku mewakilimu dalam memenuhi kehendak tamu kita ini…” Dewa Pedang merenung sejenak lalu menganggukkan kepalanya. Namun dengan ilmu menyusupkan suara dia berkata pada anaknya.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 5)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.