Jumat, 09 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 3)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

“Jika punya nyali harap unjukkan diri dan naik ke atas panggung!” Jawaban dari panggung sebelah Barat adalah suara tertawa mengekeh yang membuat. Semakin meluapnya amarah Si Bayangan Setan.

“Pemuda yang katamu masih bau air tetek itu saja belum sanggup kau hadapi, apalagi mau menantang aku!” Si Bayangan Setan benar-benar kehilangan muka diejek demikian rupa di hadapan sekian banyak tokoh-tokoh persilatan.

“Bocah bau air tetek ini masih mending dari kau yang tak punya nyali untuk naik ke atas panggung!” Kemudian dengan cepat Si Bayangan Setan memutar tubuh menghadapi Candra Masa kembali. Tangan kanannya bergerak ke balik jubah dan sesaat kemudian dia sudah memegang sebuah senjata berbentuk pendayung yang terbuat dari besi hitam legam!

“Orang muda harap keluarkan kau punya senjata dan mari hadapi lagi aku barang satu dua jurus!” kata Si Bayangan Setan pula.

Melihat gelagat yang tidak baik ini sedang dipihak hadirin ada yang terus bersorak membakar semangat Si Bayangan Setan dan ada pula yang memaki manusia ini maka Ketua Partai Telaga Wangi segera berkata, “Saudara Bayangan Setan, kuharap kau sudah menuruti segala aturan yang kau buat sendiri tadi dan mohon supaya meninggalkan panggung. Bukankah maksudmu untuk menguji terhadap Partaiku sudah kesampaian… Dan kami berterima kasih atas kesediaanmu untuk mau melakukan ujian itu tadi.”

“Jika aku bisa buat aturan, aku bisa pula melanggamya!” jawab Si Bayangan Setan dengan suara keras lantang.

“Betul!” ujar Dewa Pedang dengan suara mengandung kesabaran. Diusahakannya agar dalam suasana panas ini tidak sampai terjadi kerincuhan dan kekeruhan.

“Tapi karena saat ini kau berada di tempat kami maka kau juga wajib mengikuti segala aturan kami, sekurang-kurangnya kau harus menghormat kepada aturan kalangan persilatan…”

“Aku datang ke sini bukan untuk mengikuti dan menghormat kepada segala macam aturan apapun! Kalau muridmu tidak punya nyali, kau sendiri pun maju akan lebih baik Kelamlah paras keseluruhan anggota Partai Telaga Wangi, lebih-lebih ketiga putera Dewa Pedang serta Suwita isteri Dewa Pedang mendengar ucapan Si Bayangan Setan yang mengandung penghinaan itu. Namun Dewa Pedang sendiri anehnya masih tetap bisa berlaku tenang-tenang duduk di kursinya.

“Ketua!” seru Candra Masa pula.

“Harap kau memberi izin padaku untuk menghadapi lagi manusia yang tidak tahu aturan dan tak tahu peradatan serta tak tahu diri ini!”

“Baik Candra, tapi kali ini hati-hatilah…” jawab Ketua Partai Telaga Wangi pula.

Mendengar ini maka tak menunggu lebih lama Candra Masa segera cabut pedangnya yang terbuat dari perak mumi sehingga sinar matahari membuat senjata itu berkilauan!

~ 3 ~ 

Begitu melihat lawan memegang senjata maka Si Bayangan Setan dengan penuh bemafsu segera melancarkan serangan ganas diiringi bentakan dahsyat, “Terima jurus kematianmu ini orang muda!” Besi hitam yang berbentuk pendayung itu menderu ke arah Candra Masa dengan dahsyatnya. Si pemuda dengan gesit melompat ke samping dan dari samping kemudian dengan cepat mengirimkan serangan pedang.

Maka kelihatanlah sinar hitam dari senjata Si Bayangan Setan saling gulung bergulung dengan sinar putih pedang Candra Masa!

Hampir berakhir jurus yang sangat hebat itu tiba-tiba terdengarlah jeritan Candra Masa. Pedangnya mental tapi lekas disambat kembali dengan tangan kiri. Pemuda ini kemudian melompat mundur ke belakang. Lengan kanannya kelihatan terkulai dan mengucurkan darah. Senjata lawan telah mematahkan tulang lengan itu!

“Bayangan Setan!” seru Dewa Pedang. “Pertandingan ini diadakan bukan untuk saling mencelakai satu sama lain… tapi hanya untuk menguji tingkat kepandaian dalam ilmu silat…” Si Bayangan Setan mendengus dan tertawa buruk.

“Kalau pihakmu kalah, kau banyak bicara. Silahkan suruh maju anggotamu yang lain!” Semantara itu Candra Masa setelah menjura terlebih dahulu kepada Ketua Partainya segera kembali ke tempat dan beberapa anggota Partai turun memberi bantuan mengobati tangan Candra Masa yang patah.

Dari samping kanan tiba-tiba melompat sesosok tubuh. Ternyata dia adalah Suralangi, Pengurus Partai Telaga Wangi daerah Selatan. Sambil menjura di hadapan Dewa Pedang berkatalah laki-laki berbadan pendek tapi tegap kekar ini, “Ketua, mohon izinmu untuk menghadapi manusia ini!” Dewa Pedang menjawab dengan anggukkan kepala. Suralangi cabut pedangnya dan melangkah ke hadapan Si Bayangan Setan.

“Harap kau sudi memberi sedikit pelajaran padaku,” kata Pengurus Partai Daerah Selatan ini.

Bayangan Setan menyeringai. “Silahkan kau memulai lebih dahulu,” katanya. Maka tidak sungkan-sungkan lagi Suralangi segera kiblatkan pedang peraknya. Dengan mengeluarkan jurus terhebat dari ilmu pedang ciptaan Dewa Pedang yang dinamai “Seribu Pedang Mengamuk” maka Suralangi dalam sekejapan mata sudah mengurung lawan dengan sambaran-sambaran pedang yang dahsyat!

Jubah hitam Si Bayangan Setan sampai berkibar-kibar oleh siuran angin pedang. Diam-diam Si Bayangan Setan terkejut juga melihat permainan pedang lawan. Segera diputamya senjatanya dengan sebat. Beberapa kali senjata kedua orang itu saling beradu keras dan nyaring serta memercikkan bunga api. Lima jurus berlalu dengan cepat. Sampai sekian lama keduanya kelihatan seimbang. Lima jurus lagi berlalu di bawah penyaksian puluhan pasang mata para hadirin.

“Suralangi, lekas disudahi saja!” terdengar seruan Ketua Partai Telaga Wangi.

Mendengar ini maka Suralangi dengan gesitnya bergerak ke samping satu langkah. Ketika lawan memburu dengan sambaran besi hitam berbentuk pendayung maka Suralangi kembali ke posisinya semula dan dari sini menggempur dengan jurus yang dinamai “Ular Sanca ke Luar Sarang Mematuk Gunung”.

“Buk!”

Besi hitam di tangan Si Bayangan Setan mental ke udara. Dari mulut manusia berjubah hitam ini keluar keluhan kesakitan Ketika diperhatikannya ternyata tulang belakang telapak tangannya remuk!

Suralangi telah mempergunakan hulu pedangnya untuk menghantam belakang telapak tangan Si Bayangan Setan!

Sementara Si Bayangan Setan masih merintih kesakitan maka Suralangi menyarungkan pedang dan berkata, “Terima kasih, kau telah memberi banyak pelajaran padaku, Bayangan Setan!” Kali ini Si Bayangan Setan benar-benar kehilangan muka. Di bawah sorak sorai para hadirin dia membungkuk mengambil senjata besi hitamnya dan melompat meninggalkan panggung, menghilang di jurusan Timur.

Suralangi menjura di hadapan Ketua Partainya lalu melangkah kembali ke tempatnya namun disaat inilah satu sosok tubuh melesat ke atas panggung dari kelompok hadrrin sebelah Barat.

Ternyata manusia ini adalah seorang nenek-nenek bongkok bermuka keriput cekung, bermata besar dan lebar seperti jengkol. Tubuhnya yang bongkok itu ditutupi oleh sehelai kain merah sedang pada pinggangnya tergantung sebuah kelewang yang juga berwama merah.

“Saudara,” menegur si nenek terhadap Suralangi.

“Kepandaianmu memang patut dipuji. Jurus Ular Sanca Ke Luar Sarang Mematuk Gunung tadi patut dikagumi. Aku percaya tentu kau masih banyak mempunyai simpanan jurus-jurus silat Partaimu yang hebat! Bersedialah memperlihatkannya kepadaku…?!”

Kaget sekali Suralangi melaat kemunculan nenek-nenek ini. Dan tebih kaget lagi karena si nenek mengetahui betul nama jurus permainan pedang yang telah dikeluarkannya ketika mempecundangi Si Bayangan Setan tadi! Suralangi melirik ke sebelah kanan di mana Ketua Partai Telaga Wangi duduk. Dan dilihatnya Dewa Pedang merangkapkan kedua tangan di muka dada, sedang kulit kening mengerenyit.

Munculnya nenek-nenek berkain merah ini yang bukan lain adalah Nenek Kelewang Merah juga mengejutkan Dewa Pedang, lima tahun berselang dia pernah bentrokan dengan perempuan tua ini ketika Nenek Kelewang Merah berusaha membantu satu gerombolan jahat yang mengacau di Kotaraja Demak. Karena pihaknya lebih kuat dan banyak maka Nenek Kelewang Merah dan kawan-kawannya berhasil dikalahkan oleh Dewa Pedang dan rekan-rekannya. Itu terjadi lima tahun yang lalu.

Jika Nenek Kelewang Merah di saat ini muncul kembali, pastilah ada sangkut pautnya dengan peristiwa lama itu! Menurut pertimbangan Dewa Pedang. Suralangi akan sukar untuk menghadapi perempuan tua ini kalau tak mau dikatakan akan dapat dikalahkan.

Namun untuk menyuruhnya mundur tidak pula mungkin karena ini akan membuat lunturnya nama Partai.Ketika melihat Ketuanya menganggukkan kepala maka Suralangi maju selangkah.

“Terima kasih, rupanya masih ada di antara para hadirin yang ingin menguji terhadap Partai kami. Tapi sebelumnya bolehkah aku mengenal nama dan gelarmu, Nenek?” Perempuan tua itu tertawa terkempot-kempot.

“Namaku tidak penting. Orang-orang memanggil aku Nenek Kelewang Merah!” Dugaan Suralangi bahwa perempuan ini adalah Nenek Kelewang Merah ternyata tidak meleset. Tergetar juga hatinya begitu mengetahui siapa lawan yang dihadapinya.

“Nah, kuharap kita tak perlu banyak tutur kata lagi, silahkan mulai.” ujar Nenek Kelewang Merah pula, lalu mengambil kelewangnya.

“Keluarkan semua ilmu simpananmu yang hebat-hebat! Terhadapku yang tua tak usah sungkan-sungkan” Seperti berhadapan dengan Si Bayangan Setan Tadi maka pada jurus permulaan suralangi segera meng-gempur lawannya dengan ilmu pedang “ Seribu Pedang Mengamuk”!

“Ah, kalau cuma Jurus Seribu Pedang Mengamuk, ini namanya bukan ilmu,simpanan!” mengejek Nenek Kelewang Merah. Kelihatannya memang dia acuh tak acuh saja terhadap sinar senjata lawan yang membungkusnya dengan ketat.

“Ayo! Keluarkan jurus Partaimu yang paling lihai, kalau tidak aku tak tanggung jawab!” Penasaran sekali maka Suralangi percepat putaran pedangnya sehingga senjata itu benar-benar laksana ribuan banyaknya!

“Manusia tolol! Disuruh keluarkan ilmu simpanan malah meneruskan jurus gila ini!”

“Wut… wut… wut…!”

Nenek Ke!ewang Merah kiblatkan kelewangnya tiga kali berturut-turut. Tiga larik sinar merah menderu membentuk silang enam. Angin yang diterbitkan senjata ini deras sekali dan hebatnya, sinar putih dari pedang Suralangi yang mengurungnya dengan serta merta menjadi tertindih lalu buyar! Suralangi terkejut sekali! Dewa Pedang menghela nafas dalam.

“Nyatanya manusia ini jauh lebih hebat dari lima tahun yang silam…” Ketua Partai Telaga Wangi membatin. Kemudian dengan ilmu menyusup-kan suara dia memberi peringatan, “Hati-hati Sura, manusia ini lihai sekali. Gempur dia dengan jurus-jurus terhebat!”

Di hadapannya Nenek Kelewang Merah berdiri terbongkok-bongkok dan menyeringai. “Apa kau masih belum mau perlihatkan ilmu simpananmu? Jangan menyesal kalau terlambat…!”

“Nenek Kelewang Merah… lihat pedang!” seru Suralangi. Pedang perak mumi itu berkelebat deras, memapas sekaligus keenam bagian tubuh si nenek. Namun dengan gesitnya Nenek Kelewang Merah berhasil menghindarkan serangan ganas itu dan malahan berbalik melancarkan serangan balasan yang betul-betul menyirapkan darah!

“Trang!”

Suralangi terpaksa pergunakan pedangnya untuk menangkis sambaran kelewang lawan ke arah leher yang tak mungkin untuk dielakkan lagi! Tangannya terasa pedas dan pegal ngilu sedang mata pedangnya kelihatan gompal dihantam senjata lawan!

Menyaksikan hal ini maka tak ayal lagi Suralangi segera putar pedangnya, demikian rupa dan lancarkan tiga serangan ilmu pedang yang terlihai dari ilmu pedang Partai Telaga Wangi. Ketiganya ialah jurus “Garuda Menukik Minum Air Telaga” disusul oleh jurus “Naga Sakti Sabatkan Ekor” dan diakhiri dengan jurus “Halilintar Membelah Bumi”.

Pedang perak itu yang kelihatan hanya merupakan sinar putih belaka menyambar ke arah kepala Nenek Kelewang Merah, membalik memapas pinggang kemudian naik lagi ke atas dan menetak dari atas ke bawah! Jika jurus ini berhasil maka kalau tidak kepala Nenek Kelewang Merah terbabat putus, mungkin akan kutung pinggangnya, atau mungkin juga akan terbetah kepalanya sampai ke dada! Namun Nenek Kelewang Merah tidak cidera.

Tangannya bergerak. Sinar merah dari kelewang menggebubu. Tiga jurus terhebat tadi dengan serta merta buyar! Si nenek tertawa melengking dan mengejek.

“Kiranya Partai Telaga Wangi hanya memiliki jurus-jurus butut!” Geram sekali Suralangi susul serangannya yang tadi buyar dengan dua serangan berantai serta pukulan tangan kiri dan tendangan kaki kanan! Si nenek putar kelewangnya dua kali dan lagi-lagi serangan Suralangi dibikin, lumpuh!

“Sekarang terima jurusku ini! Jurus yang kunamakan Naga Sakti Keluar dari Laut”. Ucapannya itu ditutup dengan mengiblatkan kelewangnya sebat sekali, betul-betul Iaksana seekor naga yang keluar dari dalam laut, karena meskipun sebat tapi sambaran kelewang itu berliku-liku sukar diduga bagian mana sebenarnya yang menjadi sasarannya!

“Sura, cepat keluar dari kalangan! Serang lawan dari samping!” memperingatkan Dewa Pedang dengan ilmu menyusupkan suara. Suralangi segera melompat ke belakang dan bergeser ke samping namun gerakannya selanjutnya tak mampu dilakukannya. Kelewang lawan menderu menyambar ke mukanya!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 4)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.