Kamis, 08 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 2)

 Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

“Nama Dewa Pedang memang cukup dikenal karena permainan pedangnya yang yah boleh juga! Tapi aku bertanya dan bicara tadi bukan ditujukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk keseluruhan Partai Telaga Wangi! Atau mungkin semua anggota Partai baru ini sekaligus memiliki gelar sebagai Dewa Pedang?!”

Terdengar suara mengekeh yang mengandung ejekan. Lagi-lagi suara ini datangnya dari jurusan Baraf dan lagi-lagi tak satu orang pun yang tahu siapa yang mengeluarkan suara tertawa itu.

“Kau terlalu sembrono dalam bicara Bayangan Setan. Apa kau tak tahu bahwa ucapanmu itu menghina langsung nama Ketua serta seluruh anggota Partai Telaga Wangi? Tak satu tokoh silat dan Partai persilatan pun yang bisa menelan kata-katamu itu! Entah Dewa Pedang dan Partai barunya!”

Diam-diam Ketua Paitai Telaga Wangi segera maklum bahwa di antara para hadirin ada yang mulai memasukkan jarum-jarum perangsang untuk menghangat dan mengacaukan suasana.

Dengan sikap tenang dan bijaksana dia menjawab. Waktu bicara ini dia sama sekali tidak menghadap kepada Si Bayangan Setan secara langsung namun memandang ke tengah-tengah hadirin. Sekaligus ini merupakan satu balasan yang cukup menyakiti Si Bayangan Setan meskipun datangnya secara halus.

“Saudara-saudara sekalian! Tadi kami sudah menyatakan bahwa maksud dari didirikannya Partai Telaga Wangi ini ialah untuk berusaha menenterakan dan mendamaikan dunia persilatan. Sebagai Partai baru kami memang belum punya nama. Tetapi justru bukan namalah yang ingin.dikejar oleh Partai kami. Apa perlu nama hebat kalau kehebatan itu artinya hanya untuk merusak belaka…?!”

Untuk kedua kalinya maka Si Bayangan Setan merasa disakitkan hatinya oleh kata-kata Dewa Pedang itu. Dia berprasangka bahwa gelarnyalah (Si Bayangan Setan) yang dimaksudkan oleh Ketua Partai Telaga Wangi sebagai sesuatu nama yang hanya untuk merusak! Mulut Si Bayangan Setan komat kamit. Dan dia angkat bicara kembali.

“Dunia sejuta arah, ucapan seribu kalimat lidah bersilat kata namun dunia persilatan tetap dunia persilatan yang tiada mengenal adanya Satu Partai baru tanpa diketahui partai yang macam mana kelasnya! Apakah kelas keroco saja, atau bunglon, atau kadal, atau kunyuk? Setiap Partai baru wajib menghadapi batu ujian!”

“Betul… betul… betul!” menyambung suara yang dari panggung sebelah Barat.
“Partai baru musti diuji. Tapi apakah kau sanggup melakukan ujian itu, Bayangan Setan? Jangan kau hanya bicara besar saja tak tahu isinya cuma gemblong!” Marahlah Si Bayangan Setan mendengar kata-kata itu.

“Siapa takut melakukan ujian?!” katanya membentak, sekali tubuhnya berkelebat maka melesatlah ia ke atas panggung! Sedikit pun gerakannya ini tiada menimbulkan suara! Salah seorang tokoh silat dari aliran putih yang ada di antara para tamu berbisik pada seorang kawan di sebelahnya.

“Bayangan Setan memang dikenal kehebatannya. Tapi kalau untuk menghadapi Dewa Pedang dia akan sia-sia saja...!” kawan yang diajak bicara mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mari kita saksikan saja,” katanya sambil memandang kembali ke atas panggung Sementara itu dalam suasana yang hangat itu. mulai terdengar suitan-suitan dan sorak sorai sebagian Yang hadir untuk memberi semangat pada Si Bayangan Setan. Dan Si Bayangan Setan menjadi pongah. Sambil memandang kepada para tamu dia berkata, “Kalian semua silahkan buka mata lebar-lebar. Hari ini aku Si Bayangan Setan akan menguji satu Partai baru!”

Tiga Putera Ketua Partai Telaga Wangi menggertakkan geraham dan mengepalkan tinju. Bahkan putera tertua yaitu Indrajaya segera berdiri dari kursinya!

~ 2 ~ 

Melihat bangkit berdirinya putera Ketua Partai Telaga Wangi ini maka sorak dari suara-suara membakar semangat berbagai rupa semakin santar kedengaran di kalangan para hadirin, Dewa Pedang menyipitkan mata kepada lndrajaya putera tertua yang melihat isyarat ini segera hentikan gerakannya. Kemudian dengan segala kegeraman yang ada terpaksa duduk ke kursinya kembali.

“Ha ha ha!” terdengar suara tertawa bergelak Si Bayangan Setan.

“Apakah aku datang ke panggung ini hanya untuk dianggurkan saja?” ujarnya mengejek. Dengan tenang Ketua Partai Telaga Wangi memutar kepalanya ke ujung paling kanan di mana berdiri seorang pemuda berpakaian ringkas berbadan tegap dan berkumis kecil. Dia adalah Candra Masa seorang murid atau anggota Partai tingkat muda yang paling pandai.

Tahu bahwa Si Bayangan Setan adalah seorang tokoh yang lihai dan banyak pengalaman maka Dewa Pedang sengaja anggukkan kepala memberi isyarat pada Candra Masa. Melihat anggukan ini, Candra Masa segera melangkah ke muka. Dia menjura terlebih dahulu di hadapan Dewa Pedang lalu memutar tubuh menghadapi Si Bayangan Setan.

“Bayangan Setan, atas izin Ketua kami, kuharap kau yang tua sudi memberi sedikit pelajaran pada yang lebih muda…”

Si Bayangan Setan memandang dengan kerenyit kulit kening pada Candra Masa lalu tertawa gelak-gelak sampai ke luar air mata.

“Ketua Partai Telaga Wangi” katanya pada Dewa Pedang sambil mengucak-ucak matanya.

“Kau ini mau main badut-badutan atau apa sampai menyuruh bocah yang masih bau air tetek ini menghadapi aku?!” Semua pihak Partai Telaga Wangi gusar sekali menerima penghinaan dan perendahan begini rupa, terlebih-lebih Candra Masa. Kedua rahangnya kelihatan bertonjolan.

Sebaliknya sang Ketua sendiri dengan tenang dan suara sabar menjawab, “Bayangan Setan justru. Karena dia bau air teteklah maka kusuruh menghadapi kau! Bukankah maksudmu hendak menguji Partai kami? Dan bukankah yang lebih pandai itu biasanya menguji yang lebih bodoh? Nah silahkan dimulai.”

Ucapan yang sabar serta tenang tapi berwibawa itu sekaligus merupakan satu tempelak bagi Si Bayangan Setan. Mukanya merah sedang para hadirin kedengaran lagi bersorak-sorak membakar semangat!

“Kalau memang tak ada muridmu yang lebih pandai dari yang satu ini tak apalah…!” kata Si Bayangan Setan pula. Kemudian dengan congkaknya dia menambahkan.

“Untuknya kuberi kesempatan bertahan sampai tiga jurus! Kalau dalam tiga jurus tubuhnya tidak terpelanting ke luar panggung jangan panggil aku Si Bayangan Setan dan aku akan mengaku kalah padanya!” Si Bayangan Setan tepukkan kedua telapak tangannya.

“Ayo, mulailah!” katanya.

“Ah, aku yang muda mana berani mulai lebih dahulu. Menurut aturan yang lebih tua dan yang mengujilah yang musti maju lebih dahulu…” jawab Candra masa. Si Bayangan Setan menyeringai buruk.

“Baik, bila kau punya senjata keluarkanlah!” Candra Masa tersenyum.

“Selama lawan bertangan kosong, aku murid Partai Telaga Wangi tetap akan menghadapinya juga dengan tangan kosong!”

“Kalau begitu terimalah jurus pertama ini?” kata Si Bayangan Setan gusar. Sekali tubuhnya berkelebat maka diapun lenyap dan kini yang kelihatan hanyalah sesosok bayangan hitam menyambar laksana kilat ke arah Candra Masa sedang angin bersiuran turut menyerangnya dengan pesat!

Dengan maksud hendak memamerkan kehebatannya dan hasrah hendak merubuhkan lawan dalam satu jurus saja, maka dijurus pertama itu Si Bayangan Setan sudah mengeluarkan ilmu silatnya yang hebat yaitu ciptaannya sendiri yang bemama: “Bayangan Hitam Menjulang Langit”!

Candra Masa terkejut melihat lenyapnya tubuh lawan dan kini hanya bayangan hitam serta angin pesat menyambar ke arahnya!

Namun dalam terkejutnya murid yang sudah terdidik ini tetap berlaku tenang dan tidak kehilangan akal. Dengan cepat dijatuhkannya dirinya ke lantai. Begitu tubuh lawan dilihatnya lewat di atasnya, pemuda ini segera lancarkan pukulan tangan kosong!

Tapi pada detik itu pula Si Bayangan Setan bergerak memutar dan laksana badai kaki kanannya menyambar kearah tangan yang memukul!

Walau bagaimanapun kehebatannya tangan tak akan menang melawan kaki! Sambil tarik pulang tangannya Candra Masa bergulingan di lantai. Tendangan lawan menghantam angin kosong! Jurus pertama yang cukup mendebarkan berlalu sudah!

Dan dari panggung arah sebelah Barat terdengar suara tertawa manusia yang tadi, “Ah… Bayangan Setan, nyatanya namamu kosong belaka! Bocah yang katamu masih bau air tetek itu tak sanggup kau hadapi!” Hati Si Bayangan Setan laksana dibakar.

“Pemuda...! “ Suaranya bergetar tanda amarah.

“Giliran kau sekarang untuk memulai…!” Candra Masa tersenyum jumawa.

“Terima kasih katanya. Tangan kanannya diacungkan ke muka seperti sikap seseorang yang tengah memegang pedang.

“Lihat perut!” teriak Candra Masa tiba-tiba dan pada kejapan itu pula tubuhnya melesat ke muka. Tangan menyambar ke perut Si Bayangan Setan.

Tanpa banyak cerita si Bayangan Setansegera menyongsong serangan lawan ini dengan pukulan tangan kanan karena dia tahu bahwa tenaga dalamnya jauh lebih tinggi dari si pemuda!

Sedetik lagi kedua lengan meieka akan beradu maka pada saat itu pula terdengar kembali seruan Candra Masa.

“Lihat dada!” Dan laksana pedang lengan kanan anak murid Partai Telaga Wangi itu menusuk ke arah dada Si Bayangan Setan!

Geram serta penasaran sekali maka Bayangan Setan menggerakkan kedua tangannya sekaligus dalam ilmu pukulan yang disebut “Menabas Gunung Mengepit Sungai”

Dengan ilmu silat ini Si Bayangan Setan bermaksud menjapit lengan kanan lawan kemudian mematahkannya!

Tapi lagi-lagi Si Bayangan Setan tertipu karena begitu dia merasa ilmu silatnya tadi akan berhasil mencelakai lawan tiba-tiba Candra Masa berseru keras.

“Awas leher!” Dan laksana pedang lengan kanannya berkiblat menyaput dan menderu ke batang leher Si Bayangan Setan.

“Heyyah!” Si Bayangan Setan membentak nyaring sehingga lantai panggung yang terbuat dari papan menjadi bergetar sedang tubuhnya sendiri lenyap dari pemandangan.

Dengan ilmu meringankan tubuh, meskipun kalah pengalaman, Candra Masa masih dapat melayani lawan dalam jurus kedua yang hampir tamat dan mencapai puncaknya itu.

“Jaga kepala!” seru murid Partai Telaga Wangi itu. Sewaktu lengan lawan menebas ke arah leher Si Bayangan Setan berhasil mengelakkan dan kini begitu terdengar seruan lawan maka tak ayal lagi dia segera merunduk cepat dan laksana kilat menyodokkan ke muka dua jotosan sekaligus. Satu menyerang dada satu menyerang ulu hati!

Namun cara mengelak dan menyerang yang dilancarkan oleh Si Bayangan Setan ini terlalu kesusu dan sembrono sekali. Lengan lawan yang memang disangkanya hendak menetak kepalanya tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa berputar ke bawah dan naik lagi ke atas di antara kedua lengannya dan…

“Buk!”

Tubuh Si Bayangan Setan terjajar ke belakang. Tangan kanannya mengusap-usap dada yang kena terpukul. Sorak sorai para hadirin tiada terlukiskan. Banyak di antara mereka yang benar-benar mengagumi kegesitan dan kecepatan serta kehebatan permainan silat Candra Masa.

Meski muda belia dan baru muncul di dunia persilatan namun telah berhasil melayani nama besar Si Bayangan Setan, bahkan mengalahkannya dalam dua jurus pertandingan!

Candra Masa menjura kepada para hadirin. Dan karena merasa bahwa pertandingan tersebut sudah selesai dimana dia berhasil memukul lawan dalam jurus kedua tadi maka Candra Masa memutar tubuh dan siap-siap untuk menjura ke hadapan guru atau Ketua Partai Telaga Wangi untuk kemudian kembali ke tempatnya. Namun di saat itu pula terdengar Sentakan Si Bayangan Setan.

“Orang muda, tunggu dulu! Aku masih belum kalah!” Pihak Partai Telaga Wangi lebih-lebih Candra masa sendiri jadi terkejut dan heran. Demikian pula para hadirin.

“Bayangan Setan, apakah maksudmu...?” tanya Candra Masa pula.

“Aku belum kalah! Aku sama sekali tidak mengaku kalah!” Candra Masa hendak menyahuti namun dari deretan hadirin sebelah Barat lagi-lagi terdengar suara manusia yang tak dikenal tadi.

“Bayangan Setan, apakah kau betul-betul punya hati setan dan bermuka tembok? Digebuk dalam dua jurus masih mau menantang? Sesuai dengan janjimu mustinya kau sudah minggat dari atas panggung dan tak perlu memakai gelar Si Bayangan Setan lagi!”

“Keparat bangsat rendah!” hardik Si Bayangan Setan sambil memutar badannya ke arah Barat. Pandangan matanya liar dan memancarkan amarah yang meluap.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 3)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.