Minggu, 11 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 17)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

“Hem, pengemis Baju Rombeng! Kalian bertiga rupanya juga tersesat jadi bergundalnya perempuan iblis itu huh?! Baik, majulah sekaligus biar lekas kumusnahkan!”

Pengemis-pengemis Baju Rombeng cabut senjata mereka yaitu sebentuk sapu ijuk pendek. Berbarengan ketiganya menggerakkan sapu ijuk itu.

Tiga ratus jarum hitam kemudian mendesing ke arah Pendekar Bambu Kuning dari tiga jurusan!

“Curang!” terdengar seruan hadirin. Di atas panggung Pendekar Bambu Kuning sangat terkejut dan tak menduga kalau akan diserang sehebat itu. Segera diputarnya senjatanya. Namun seberapa dari jarum hitam yang datang dari samping kiri kanan masih sempat menancapi tubuhnya.

“Ha… ha!” tawa salah seorang dari Pengemis Rombeng.

“Jarum-jarum itu mengandung racun? jahat?! Nyawamu hanya tinggal tiga jam lagi!”

Mendengar itu maka kalaplah Pendekar Bambu Kuning! Senjatanya dibolang balingkan cepat sekali! Jurus-jurus simpanannya dikeluarkan! Sesaat kemudian terdengar jeritan salah seorang dari Pengemis Baju Rombeng. Kepalanya hancur dihantam ujung bambu! Namun disaat itu pula tubuh Pendekar Bambu Kuning semakin lemah akibat rangsangan racun jarum. Setelah bertempur tujuh jurus akhirnya dia terpaksa menemui ajalnya di tangan kedua orang Pengemis Baju Rombeng itu!

“Bagus!” seru Dewi Kala Hijau memuji kedua Pengemis Baju Rombeng.

“Kelak kau akan kuberi tanda jasa!” Kedua orang itu tersenyum girang dan menjura lalu siap-siap untuk meninggalkan panggung namun langkah mereka terhenti ketika satu sosok bayangan biru melesat ke atas panggung sambil membentak:

“Pengemis-pengemis pengecut curang hina dina! Tetap tinggal di atas panggung! Aku mau lihat apakah kau juga bisa melakukan kecurangan terhadapku?!”

Bentakan itu adalah bentakan suara perempuan! Tapi nyaring dan kerasnya bukan olah-olah! Panggung tengkorak bergetar, telinga yang hadir mendenging! Semua mata tanpa berkedip memandang pada si pembentak! Dan ternyata dia memang seorang perempuan!

Perempuan ini mengenakan pakaian biru. Parasnya sebatas mata ke bawah ditutup dengan sehelai kain yang juga berwarna biru!

“Dewi Kerudung Biru!” berseru beberapa tokoh silat utama yang mengenali siapa adanya perempuan itu! Maka ketegangan pun semakin bertambahlah! Dewi Kerudung Biru bertemu dengan Dewi Kala Hijau tentu tak dapat dilukiskan kehebatannya nanti!

Dewi Kala Hijau di bailik topeng tengkoraknya mengerutkan kening. Sepasang matanya memandang tak berkedip dan menyorot tajam pada Dewi Kerudung Biru. Menurut taksiran Dewi Kala Hijau, perempuan berkerudung biru itu sebaya dengan dia.

“Ayo, kenapa kalian melongo dan mematung saja?! Perlihatkan lagi kebiadaban dan kecurangan serta kepengecutan kalian!” bentak Dewi Kerudung Biru pada kedua Pengemis Baju Rombeng. Yang menjawab adalah Dewi Kala Hijau.

“Dewi Kerudung Biru, jika kedatanganmu ke atas panggung ini untuk mengacau, berarti kau tidak melihat tingginya Gunung Merapi di depan mata Tapi jika kedatanganmu untuk memasuki Partai Lembah Tengkorak, kelak aku akan berikan kedudukan tinggi kepadamu.”

“lblis betina!” jawab Dewi Kerudung Biru.

“Aku tidak buta sampai tak melihat Gunung Merapi di depan mata,” dan Dewi Kerudung Biru menunjuk ke arah Gunung Merapi yang berdiri megah di depan sebelah Barat Lembah Tengkorak, “Tapi dosa dan kejahatanmu lebih besar dan lebih tinggi dari gunung itu! Hari ini kau meresmikan berdirinya Partai Lembah Tengkorak dan mengangkat diri sebagai Ketua! Tapi apa kau tahu bahwa hari ini juga adalah merupakan akhir hayatmu?!”

“Perempuan setan!” balas memaki Dewi Kala Hijau.

“Namamu memang besar! Tapi di sini jangan jual tampang! Pengemis Baju Rombeng! Bunuh perempuan setan itu!”

Mendengar perintah itu, tak menunggu lebih lama kedua Pengemis Baju Rombeng kebutkan sapu ijuk masing-masing. Ratusan jarum hitam beacun jahat menderu menyambar ke arah Dewi Kerudung Biru. (Seperti dituturkan dalam kisah-kisah Pendekar 212 sebelumnya, Dewi Kerudung Biru ini adalah Anggini, murid tokoh silat yang bergelar Dewa Tuak).

Melihat serangan jarum maut itu Dewi Kerudung Biru mendengus. Dia melompat setinggi lima tombak kemudian laksana kilat berkelebat ke bawah, tangan kanan dipentang ke muka, jari-jari ditekuk ke dalam!

“Cakar Garuda Emas!” seru Dewi Kala Hijau. Pengemis Baju Rombeng, awas!” Tapi percuma saja peringatan itu. Salah seorang dari dua Pengemis Baju Rombeng menjerit.

Mukanya mandi darah. Hidung tanggal, kedua biji mata hancur luluh! Yang seorang lagi saking kecut dan terkejutnya sampai melompat mundur beberapa langkah sedang para hadirin diam-diam sangat memuji kelihaian Dewi Kerudung Biru.

Terdengar bentakan nyaring. Pengemis Baju Rombeng yang ketiga cabut pedang dan kebutkan sapu ijuknya. Satu jurus dia berkelebat cepat menggempur lawan namun tiada guna! Sekali Dewi Kerudung Biru gerakkan tangan kirinya maka “Buk!” Pengemis Baru Rombeng mencelat ke luar panggung. Tulang lehernya patah!

“Empat. Srigala Putih!” seru Dewi Kala Hijau.

“Cepat bikin perhitungan dengan bangsat itu!” Empat bayangan putih berkelebat melompat ke atas panggung! Keempat manusia ini yang berjuluk Empat Srigala Putih mengurung Dewi Kerudung Biru dari empat sudut panggung!

“Hemm… jadi kalian juga merupakan kaki tangan iblis dajal itu ya? bagus! Majulah cepat!” ejek Dewi Kerudung Biru.

“Lima tahun malang melintang di daerah ini tak satu jago pun yang berhasil merubuhkan kami! Katakan cara mati yang bagaimana yang kau ingini perempuan hina?!”

“Cara mati yang begini, sobatku!” jawab Dewi Kerudung Biru. Bersamaan dengan itu tubuhnya lenyap ke hadapan orang yang bicara tadi. Dan terdengarlah satu pekikan hebatl Orang tadi kelihatan menutupi mukanya, Darah mengalir dari sela-sela jari. Sesaat kemudian tubuhnya pun tergelimpang di atas panggung tengkorak!

Tiga rekannya yang lain melolong tinggi persis seperti srigala yang kemudian dengan serentak menyerang Dewi Kerudung Biru! Lima jurus berlalu sangat cepat! Dewi Kerudung Biru membentak!

Satu jeritan lagi terdengar! Satu orang lagi menggelimpang di lantai panggung! Rahang-rahang Dewi Kala Hijau bergemeletakkan. Mulutnya komat kamit seketika. Kemudian terdengarlah lengkingannya.

“Sepuluh Pemimpin Cabang Partai, majulah!” Maka ke atas panggung sepuluh laki-laki berpakaian merah darah berlompatan gesit! Sedetik kemudian sepuluh pedang merah bergulung-gulung!

Angin sepuluh senjata itu laksana topan prahara dan kesemuanya menyerang satu sasaran yaitu Dewi Kerudung Biru, ditambah lagi tekanan-tekanan gencar yang dilancarkan dua dari Empat Srigala Putih yang masih hidup! Karena kedua belas orang ini bukanlah berkepandaian rendah maka satu jurus saja Dewi Kerudung Birupun terdesaklah! Tapi sang Dewi tiada kelihatan gugup atau kecut sedikit pun ! Malahan dia berseru dengan nada mengejek kepada Dewi Kala Hijau!

“Ketua Partai Lembah Tengkorak! Kurasa masih kurang jumlahnya cecunguk-cecungukmu yang mengeroyokku!”

“Jangan merocos juga betina edan! Sebentar lagi kepalamu sampai ke kaki akan tercincang lumat!” Keroyokan kedua belas orang itu memang luar biasa hebatnya. Namun Dewi Kerudung Biru benar-benar luar biasa pula tinggi ilmunya. Begitu kedua tangannya bergerak mengeluarkan jurus “Naga Kepala Seribu Mengamuk” maka tiga dari pengeroyok rubuh tanpa nyawa, sesudah itu dua orang lagi roboh terjungkal ke luar panggung.

Dengan geram Dewi Kala Hijau memerintahkan lagi sepuluh orang anggota Partai yang berkepandaian tinggi untuk mengeroyok Dewi Kerudung Biru! Dilain pihak yang dikeroyok pun mengamuk dengan hebatnya. Jurus-jurus “Naga Kepala Seribu Mengamuk” dan “Cakar Garuda Emas” menebar silih berganti. Meskipun demikian jalannya pertempuran tetap tak seimbang.

Dewi Kerudung Biru terdesak ke sudut panggung sebelah kanan!

“Ketua Partai Lembah Tengkorak!” terdengar seruan dari bawah panggung.

“Kami Tiga Brahmana dari Gunung Nagajembangan tidak bisa tinggal diam! Pengeroyokan ini sudah sangat keterlaluan!” Sesaat kemudian tiga sosok bayangan putih melompat ke atas panggung.

Dewi Kala Hijau memutar kepalanya dengan cepat. Pan-dangannya tampak bengis.
“Brahmana-brahmana tidak tahu diri, kalian mau turun tangan, baik! Tapi terima dulu hadiahku ini!” Ketua Partai Lembah Tengkorak mengangkat tangan kanannya. Selarik besar sinar hijau menderu dahsyat!

“Pukulan Kala Hijau!” seru Brahmana yang paling muka. Serentak dengan itu dia bersama dua kawannya melompat ke samping dan kebutkan lengan jubah masing-masing! Tapi terlambat. Dua puluh ekor kala beracun telah menyusup dan menancap di muka serta dada mereka. Ketiganya terjungkal kembali ke bawah tanpa sempat menjejakkan satu kakipun di lantai panggung yang terbuat dari tulang belulang dan tengkorak manusia itu!

“Siapa lagi yang hendak turun tangan membantu betina keparat itu silahkan naik ke atas panggung!” seru Dewi Kala Hijau! Semua hati yang hadir tercekat dan tak satu pun yang kelihatan berani menerima tantangan itu!

Sementara itu di sudut panggung sebelah kanan Dewi Kerudung Biru semakin kepepet! ketika lengan baju birunya robek besar disambar ujung pedang salah satu pengeroyok maka naiklah luapan amarahnya ke kepala!

Kedua tangan kiri kanan diangkat ke atas dan dipukdlkan ke muka. Dua rangkum angin pukulan yang berwarna biru melabrak dari dua jurusan! “Pukulan Asap Kencana Biru!” seru Dewi Kala Hijau dengan paras tersirap. Dia memang sudah lama mendengar kehebatan ilmu pukulan itu dan baru saat itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Empat orang pengeroyok berpelantingan terhampar di panggung dua orang, yang dua lagi terguling di bawah panggung. Keempatnya tanpa nyawa!

Dan bila Dewi Kerudung Biru mengangkat lagi kedua tangannya, kembali empat korban jatuh!

“Setan alas!” kutuk Dewi Kala Hijau. Matanya berputar ke arah dimana murid-muridnya duduk. Hanya Kala Biru dan Kala Hitam yang tampak. Kala Putih tiada kelihatan. Ini membuat Dewi Kala Hijau merasa curiga namun untuk menyelidik saat itu juga dimana Kala Putih berada tentu saja bukan pada tempatnya.

“Kala Biru, Kala Hitam! Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan!” teriak Ketua Partai Lembah Tengkorak.

Kedua muridnya pun segera bangkit dari kursi. Begitu melompat ke panggung, begitu mereka kirimkan serangan kala hijau ke arah Dewi Kerudung Biru. Dewi Kerudung Biru tidak tinggal diam. Dia sudah maklum kehebatan ilmu pukulan itu. Kedua tangannya dipukulkan ke depan. Dua larik sinar biru menderu menangkis dua larik sinar hijau yang membawa Pukulan kala maut!

Bentrokan itu demikian hebatnya hingga menimbulkan suara laksana letusan meriam! Meskipun jumlah pengeroyok kini berkurang namun dengan munculnya Kala Hitam serta Kala Biru maka keadaan Dewi Kerudung Biru lebih hebat terdesaknya dari tadi!

Sepuluh jurus dengan kehebatannya yang luar biasa dia masih sanggup bertahan meski bertahan sambil mundur terus-terusan. Diam-diam Dewi Kerudung Biru mengeluh dalam hati. Sampai berapa jurus lagi dia akan sanggup bertahan?

Sementara itu Ketua Partai Lembah Tengkorak yang melihat Dewi Kerudung Biru masih bisa bertahan menjadi penasaran sekali! Diam-diam dia gerakkan tangannya mengirimkan pukulan-pukulan jarak jauh! Dewi Kerudung Biru bukan tidak tahu kalau dirinya diserang secara pengecut itu, namun untuk balas menyerang dia tak punya kesempatan, apalagi menghadapi pengeroyok yang banyak dan lihai-lihai itu!

Lagi-lagi perempuan itu mengeluh dalam hati. Pada jurus yang kelima puluh satu, itulah batas kesanggupan Dewi Kerudung Biru untuk bertahan. Ketika dua ujung pedang menusuk dari muka belakang, satu kaki menendang ke arah selangkangan dan dua larik sinar hijau yang membawa puluhan kala maut menyerangnya, maka perempuan ini tiada sanggup lagi berkelit!

“Tamatlah riwayatku…” kata Dewi Kerudung Biru. Dia menggerung keras dan meramkan mata menunggu sampai ajalnya. Di saat yang kritis itu tahu-tahu terdengar suara mengaung laksana ribuan tawon mengamuk. Satu sinar putih berkiblat panas dan memerihkan kulit dan satu bentakan mengatasi ketegangan suasana.

“Manusia-manusia pengecut berhati dajal! Makan kapakku!” Dan enam pengeroyok menjerit rubuh. Kala Hitam kalau tidak lekas-lekas melompat mundur pasti akan terluka besar bagian dadanya!

~ 14 ~ 

Ketika ketua Partai Lembah Tengkorak melihat siapa adanya manusia yang muncul itu, terbeliaklah kedua matanya!

“Pemuda sinting! Bagaimana kau bisa lepas?!” tanyanya garang. Si pemuda yang bukan lain daripada Pendekar 212 Wiro Sableng tertawa.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 18)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.