Minggu, 11 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 16)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

Wiro tetap berdiri di tempatnya. Dan Dewi Kala Hiiau tertawa lagi lalu bertanya: “Menurutmu kamar ini bagus atau tidak?”

“Bagus sekali dan indah,” jawab Wiro.

“Cuma sayang…”

“Sayang apa?”

“Sayang dihuni oleh perempuan bermuka buruk!” Dewi Kala Hijau tertawa gelak-gelak.

“Parasku tidak seburuk yang kau kira, Wiro!” katanya. Dan habis berkata begini dengan tangan kirinya dibukanya topeng tengkorak yang menutupi mukanya. Ternyata Dewi Kala Hijau berparas cantik sekali. Hidungnya kecil mancung, bibirnya laksana delima merekah, bola matanya bening dan bersinar seperti bintang timur, di dagunya sebelah kiri terdapat sebuah tahi lalat kecil. Pendekar 212 garuk kepalanya.

“Apakah parasku buruk?” bertanya Dewi Kala Hijau.

“Tidak.” jawab Wiro cepat.

“Tapi buat apa paras secantik itu kalau hatimu lebih jahat dari hati iblis?!” Dewi Kala Hijau tertawa lagi gelak-gelak.

“Wiro, saat ini kita cuma punya sedikit waktu untuk bicara. Sebentar lagi aku akan ke luar untuk meresmikan berdirinya Partai Lembah Tengkorak! Kuharap kau suka bergabung dengan kami…” Wiro Sableng menyeringai.

“Kau masih saja mimpi tentang Partaimu! Juga apa kau lupa bahwa sekali aku menolak tawaranmu sampai kapan pun tetap kutolak!” Dewi Kala Hijau berdiri dari kursinya dan melangkah ke hadapan Pendekar 212. Betapa jelasnya kelihatan potongan tubuhnya yang indah itu. Pendekar kita merasa nafasnya seperti berhenti.

“Pendekar gagah, agaknya kaulah yang mimpi. Apakah kau buta pada kenyataan akan adanya panggung di luar sana? Apakah kau tidak melihat para tamu yang datang ke tempat ini untuk menyaksikan resminya berdirinya Partai Lembah Tengkorak?”

“Baik kalau kau bilang aku yang mimpi. Tapi walau bagaimana-pun aku tak akan masuk ke dalam Partaimu. Bahkan kedatanganku ke sini justru untuk menghancurkannya!” Dewi Kala Hijau melangkah dan berdiri dekat dekat di hadapan Pendekar 212. Nafasnya dan bau badannya yang harum menyapu-nyapu muka dan menusuk hidung Pendekar 212.

Tiba-tiba perempuan itu merangkulkan kedua tangannya ke leher si pemuda dan berbisik lirih: “Wiro… turutlah permintaanku. Mari kita pimpin bersama-sama Partai Lembah Tengkorak. Kau boleh tinggal di sini dan aku akan mematuhi apa saja yang yang kau inginkan…”

Dada Pendekar 212 menggemuruh. Darahnya mengalir cepat-cepat. Lebih-lebih ketika perempuan itu meletakkan kepalanya di dadanya dan memeluknya ketat-ketat!

“Wiro...” bisik Dewi Kala Hijau lirih.

“Kau mau mengabulkan permintaanku, bukan?” Wiro tak menjawab tapi dengan perlahan dilepaskannya kedua tangan perempuan yang merangkulnya itu.

“Wiro…”

“Aku tak bisa menerima tawaranmu itu, Dewi Kala Hijau.” kata Wiro Sableng tegas.

“Kau akan kuberi kedudukan sebagai Ketua Partai dan aku akan menjadi milikmu. Kita akan hidup bersama dan bahagia…!” ujar Dewi Kala Hijau. Sekali lagi tubuhnya merangkul badan si pemuda.

“Aku tetap tak dapat menerima tawaranmu.” Dewi Kala Hijau menggerakkan badannya. Maka detik itu juga jatuhlah pakaian yang dikenakannya ke lantai! Dalam keadaan tanpa pakaian perempuan ini kemudian kembali memeluki tubun si pemuda nafasnya dan dadanya memanasi dada Wiro Sableng.

Kalau saja Pendekar 212 bukan murid Eyang Sinto Gendeng yang sudah digembleng lahir serta batinnya mungkin saat itu akan runtuhlah imannya.

“Dewi Kala Hijau, aku akan meninggalkan tempat ini! Tunjukkan jalan ke luar!”

“Wiro… jangan pergi. Terima tawaranku…” kata Dewi Kala Hijau lalu ditariknya tangan pemuda itu sehingga keduanya terguling di atas tempat tidur!

“Perempuan hina, jangan coba menipu aku!” bentak Pendekar 212 meronta.

“Siapa yang menipumu? Aku bersungguh hati dan tidak palsu dengan ucapanku.” kata Dewi Kala Hijau. Wiro mendorong perempuan itu hingga tertelentang di atas tempat tidur, kemudian dia melompat ke pintu batu darimana dia masuk tadi namun pintu itu tiada berbekas sama sekali, lenyap sama datar dengan dinding ruangan!

“Wiro!” Dewi Kala Hijau melompat dan menubruk di pemuda.

“Kamar ini penuh senjata rahasia. Sekali aku menggerakkan tangan atau kaki, tamatlah riwayatmu!”

“Aku tidak takut mati! Tapi sebelum mati pasti kepalamu kupecahkan dulu!” balas mengancam Pendekar 212.

Dan Dewi Kala Hijau kelihatan lunak kembali. Satu tangannya memeluk lagi tubuh si pemuda. Sedang tangan yang lain menarik tangan Wiro dan meletakkannya di atas buah dadanya!

“Masuklah ke dalam Partaiku, Wiro. Kau kuserahi jabatan sebagai Ketua…”

“Tidak!” bentak Wiro.

“Pergilah!” Sekali dorong saja maka hampir sang Dewi jatuh terjerongkang. Setelah mengimbangi tubuhnya, Dewi Kala Hijau untuk kesekian kalinya merengek macam anak kecil. Namun Pendekar 212 tetap pada pendiriannya.

Maka marahlah perempuan itu Sementara tangan kanannya memeluk pinggang Wiro Sableng, tangan yang lain tak terduga tiba-tiba bergerak dengan cepat menotok jalan darah urat besar di tubuh Pendekar 212! Tak ampun lagi pemuda ini pun roboh ke atas permadan! tanpa bisa bergerak dan tanpa sanggup membuka mulut.

“Manusia goblok! Tolol! Rasakan sekarang!” maki Dewi Kala Hijau.

“Diberikan kedudukan tinggi, minta jalan ke neraka! Sehabis peresmian Partai kelak akan kutunjukkan padamu cara mampus yang paling hebat!” Habis berkata begini maka Dewi Kala Hijau mengenakan topeng tengkoraknya kembali dan pakaian ringkas wama hijau lalu meninggalkan ruangan itu.

~13 ~ 

Ketika ratusan pasang mata memandang lekat-lekat ke arah panggung dan menunggu dengan hati tidak sabar tapi juga agak gentar akan munculnya Dewi Kala Hijau maka terdengarlah suara gong dipalu tujuh kali. Begitu gema gong menghilang, aneh sekali panggung tengkorak di hadapan para tamu bergerak ke atas lebih tinggi dan di bawah panggung kelihatanlah sebuah pintu terbuka.

Didahului oleh teriakan-teriakan dahsyat laksana meruntuhkan jagat maka dari pintu itu keluarlah Dewi Kala Hijau diiringi oleh tiga orang muridnya dan seratus lebih anggota partai. Baik Dewi Kala Hijau maupun murid-murid serta seluruh anggota Partai. semuanya mengenakar sebuah kalung tengkorak manusia! Dewi Kala Hijau, tiga orang muridnya dan sekuruh anggota Partai kemudian duduk di barisan kursi yang terletak di panggung sebelah Barat.

Tujuh kali lagi gong dipalu dan setelah itu Dewi Kala Hijau pun selaku Ketua Partai Lembah Tengkorak melompat naik ke atas panggung. Gerakannya indah sekali waktu melompat itu kakinya tidak kelihatan menekuk ataupun memusatkan berat badan untuk dihenjot ke atas. Dari sini saja setiap yang hadir sudah dapat mengetahui bagaimana tingginya ilmu Dewi Kala Hijau!

Sebelum membuka mulut terlebih dahulu Dewi Kala Hijau menyapu seluruh para tamu dengan sepasang matanya. Kemudian baru terdengar suaranya yang nyaring lantang, yang sekaligus bernada pongah congkak!

“Aku Dewi Kala Hijau selaku Ketua Partai Lembah Tengkorak menghaturkan banyak terima kasih kepada saudara-saudara di sini yang telah sudi datang untuk menyaksikan sendiri dengan resmi berdirinya Partai Lembah Tengkorak!”

“Perlu saudara-saudara ketahui bahwa Partai ini mempunyai satu maksud besar yakni menggabung dan mempersatukan seluruh tokoh silat serta Partai Persilatan di dunia untuk berpadu dalam satu Partai saja yaitu Partai kami, Partai Lembah Tengkorak. Kami tidak memaksa siapapun dan Partai Silat manapun untuk memasuki Partai Lembah Tengkorak. Tapi menurut pandangan kami, jika kalian semua sudah bersedia menerima undangan dan datang ke sini maka itu berarti kalian telah menyatakan diri masuk ke dalam Partai Lembah Tengkorak!”

Gemparlah suasana para hadirin begitu mendengar ucapan Ketua Partai Lembah Tengkorak itu. Mereka saling pandang dengan mulut menganga dan mata membeliak besar!

Belum lagi rasa terkejut yang menggempari suasana itu berakhir maka terdengar pula suara Dewi Kala Hijau.

“Saat ini Partai LembahTengkorak sudah memiliki lebih dari seratus anggota yang terdiri dari tokoh-tokoh silat utama bahkan beberapa di antaranya pernah merajai dunia persilatan! Sekarang, untuk tidak membuang waktu, kuharap kalian semua berdiri dari kursi masing-masing dan berlutut mengangkat sumpah menyatakan diri masuk ke dalam Partai Lembah Tengkorak!”

Kembali suasana menjadi gempar penuh ketegangan. Tiba-tiba seorang diantara para hadirin berdiri dan berseru.

“Dewi Kala Hijau! Undangan yang kau berikan kepadaku dan semua yang hadir di sini adalah hanya untuk menghadiri berdirinya kau punya Partai!

Tapi saat ini dengan menyatakan besarnya jumlah anggota Partaimu kau memaksa kami untuk masuk menjadi anggota Partai Lembah Tengkorak! Aturan macam manakah yang kau pakai?!”

Semua kepala, termasuk kepala Dewi Kala Hijau dengan serta merta berpaling. Yang bicara ternyata adalah seorang tokoh silat golongan putih yang besar pengaruhnya dewasa itu.

“Oh, kiranya Pendekar Bambu Kuning.” Kata Dewi Kala Hijau.

“Tentu saja untuk orang semacammu tidak akan masuk sebagai anggota biasa, tapi anggota dengan jabatan tinggi.”

“Maaf, aku tidak bermaksud untuk menanyakan tinggi atau rendahnya jabatanku sebagai anggota, tapi ialah menolak keras adanya unsur paksaan untuk masuk Partaimu.”

“Lantas apa maumu, Pendekar Bambu Kuning?” tanya Dewi Kala Hijau mulai beringas.

“Kuharap kau menarik pulang kembali ucapanmu yang memaksa tadi!” Dewi Kala Hijau tertawa dingin.

“Sebenarnya aku tidak memaksa,” katanya.

“Tapi bila ada diantara yang hadir di sini tidak mau menuruti kehendakku berarti itu mempersingkat umur namanya! Apa kalian tidak tahu, sekalipun kalian memiliki sayap atau pandai terbang, kalian pasti tak akan ke luar dari Lembah ini dengan selamat, kecuali jika kalian masuk dan bergabung dalam Partaiku!”

“Aku menolak mentah-mentah masuk Partaimu!” kata Pendekar Bambu Kuning dengan suara tegas mantap.

Paras Dewi Kala Hijau mengkerut di batik topeng tengkoraknya. Dia berpaling ke belakang dan berseru: “Pahat Tiga Racun, bereskan pengacau ini! Paling lambat dalam lima jurus!”

Maka seorang laki-laki berpakaian merah darah berkumis melintang yang selilit pinggangnya bergantungan lebih dari seratus buah pahat hitam beracun segera melompat ke atas panggung. Dia memandang dengan bengis kepada Pendekar Bambu Kuning lalu membentak: “Manusia yang besar mulut dan telah menghina terhadap Ketua kami, harap naik ke panggung untuk terima kematian.”

Meluaplah amarah Pendekar Bambu Kuning sambil berteriak nyaring dan meiompat ke panggung dicabutnya senjatanya yaitu sebuah bambu kuning, dan terus menyerang! Si Pahat Tiga racun menyambut serangan lawan dengan melemparkan lima Pahat Beracun.

Sekali memutar bambu kuningnya maka runtuhlah kelima pahat hitam itu! Si Pahat Tiga Racun cabut lagi dua pahatnya. Dengan senjata itu kemudian dia menyerang Pendekar Bambu Kuning! Pertempuran hebat pun berkecamuklah. Dalam waktu yang sangat singkat tiga jurus sudah berlalu! Memasuki jurus yang keempat terdengarlah seruan Pendekar Bambu Kuning karena pertengahan bambunya berhasil dijapit oleh sepasang pahat hitam lawan!

Dengan terpaksa Pendekar Bambu Kuning lepaskan bambunya. Serentak tangan melepas, serentak pula kaki kanan menendang ke muka! Pahat Tiga Racun melompat ke samping tapi dia tertipu! Tendangan tadi palsu belaka karena begitu dia mengelak, segera menghantamkan satu pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam ampuh!

Pahat Tiga Racun dengan cepat lepaskan japitan kedua pahatnya atas bambu kuning. Kedua senjata itu kemudian diputarnya untuk menangkis serangan lawan tapi kasip!

Angin pukulan Pendekar Bambu Kuning telah menghantam dadanya lebih dahulu! Si Pahat Tiga Racun mencelat dua tombak, terguling di panggung dan muntah darah! Pada saat Pendekar Bambu Kuning membungkuk mengambil bambunya tahu-tahu tiga bayangan melesat ke atas panggung dan langsung menyerang!

Dengan jatuhkan diri dan bergulingan, Pendekar Bambu Kuning berhasil menyelamatkan diri! Yang menyerangnya adalah tiga manusia berbadan kate dan mengenakan pakaian bertambal-tambal dan robek-robek.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 17)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.