Minggu, 11 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 15)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

“Hanya itu saja… Hanya itu saja yang terjadi?!” Kala Putih tak menjawab.

“Jangan diam macam orang tuli serta bisu!” bentak Dewi Kala Hijau.

“Tidak… guru…” kata Kala Putih akhirnya.

“Apanya yang tidak?!”

“Tidak itu saja yang terjadi…”

“Hah? Lalu apa?!” Tenggorokan Kala Putih kembali kelihatan turun naik “A… aku… aku…”

“Aku apa?!” hardik sang guru tak sabaran.

“Mohon maaf guru… aku… aku tertarik pada pemuda itu…” Mata Dewi Kala Hijau membeliak besar.

“Apa katamu?! Kau tertarik pada Wiro Sableng pemuda keblinger itu?! Hah?!”

Kala Putih mengangguk perlahan. Mulut gurunya komat kamit. “Kau tertarik padanya, kau jatuh cinta padanya?!” Dan Kala Putih mengangguk lagi.

“Gadis sambal!” maki Dewi Kala Hijau. Ditendangnya kursi di hadapannya hingga mental dan hancur berantakan!

“Disuruh meringkus musuh, dia pergi bercinta-cintaan! Apa yang telah kalian lakukan?!”

“Tidak ada… guru…”

“Dusta! Ayo katakan cepat!” Dewi Kala Hijau mengangkat tangan kanannya ke atas. Sepasang matanya berkilat-kilat.

“Jika tak mau mengaku ajalmu sampai detik ini juga!”

“Dia… dia menciumku, guru…”

“Menciummu?! Gila! Gilaaa! Dicium kau diam saja?” Kala Putih tak menjawab.

“Selain dicium kau diapakan lagi olehnya?!”

“Di… dipeluk…”

“Anak setan!” Kali ini meja yang jadi korban tendangan Dewi Kala Hijau.

“Habis dipeluk lalu apa lagi…?”

“Tidak ada lagi guru, sungguh.”

“Jangan bohong! Kau… kau tidur bersamanya ya?!”

“Tidak, sungguh mati tidak guru…” Dan Kala Putih mulai sesenggukan.

Dewi Kala Hijau melangkah mundar mandir di ruangan itu beberapa lamanya.

“Dia bicara apa saja padamu?!”

“Dia bilang akan datang ke sini dan menggagalkan maksud pendirian Partai Lembah Tengkorak dan membunuhmu bila kau tak bertobat dan kembali kejalan yang benar...”

“Kentut! Kau juga kentut, Kala Putih! Dengar bila kelak peresmian Partai telah berlangsung kau akan menerima hukuman berat dariku!” Kala Putih menjatuhkan diri berlutut.

“Guru harap kau sudi memaafkan. Aku… aku…”

“Keluar dari sini! Aku muak melihatmu!” bentak Dewi Kala Hijau dengan amat geram. Perlahan-lahan Kala Putih berdiri. Disekanya kedua matanya lalu dengan menundukkan kepala ditinggalkannya tempat itu.

~ 12 ~ 

Hari dua belas bulan dua belas Sang surya memunculkan diri di ufuk Timur memancarkan sinar kuning kemerahan. Berangsur tinggi sang surya berubah pula warnanya yang merah kekuningan itu menjadi putih keperakan.

Di kaki Timur Gunung Merapi kelihatanlah satu pemandangan baru yang luar biasa. Sekitar Lembah Tengkorak dalam radius satu kilometer dilingkari oleh sebuah parit yang sangat dalam dan lebar empat puluh tombak! Air parit ini kelihatan hijau kelam tanda diserapi dengan racun yang jahat.

Bagaimana pun saktinya seseorang, tak mungkin akan dapat melompati parit ini! Di satu bagian dari parit terdapat sebuah tangga gantung. Tangga gantung ini terbuat dari tulang belulang manusia seperti tulang kaki, lengan dan iga-iga. Di beberapa bagian dihiasi dengan tengkorak-tengkorak kepala manusia!

Di keseluruhan lembah yang dikitari oleh parit itu maka memutihlah tulang-tulang belulang dan tengkorak manusia. Di tengah-tengah lembah berdiri sebuah panggung yang sangat luas. Seperti jembatan gantung tadi maka keseluruhan panggung ini juga terbuat dari tulang belulang manusia!

Tiang panggung terdiri dari tumpukan tengkorak tengkorak kepala, lantainya dari tulang-tulang kaki, tulang-tulang lengan serta iga yang disambung satu sama lain! Pada beberapa bagian terdapat rombe rombe atau gaba-gaba yang juga semuanya terbuat dari tengkorak serta tulang-tulang manusia! Di sekitar panggung sebelah muka duduklah ratusan tamu-tamu dari dunia persilatan yang telah diundang oleh Dewi Kala Hijau!

Dan kesemua tamu ini duduk di atas kursi-kursi yang juga dibuat dari tulang-tulang manusia! Banyak diantara tokoh-tokoh silat itu yang merasa menyesal telah datang ke Lembah Tengkorak! Namun hal ini tidak mereka perlihatkan meski di dalam hati mereka sesungguhnya merasa ngeri.

Ke mana saja mata memandang maka tengkorak-tengkorak kepala dan tulang-tulang manusia yang kelihatan serta mereka duduki sebagai kursi! Banyak pula di antara para tamu yang bertanya-tanya dalam hati, dari manakah semuanya tulang-tulang dan tengkorak-tengkorak manusia itu?

Apakah dari manusia-manusia yang telah menjadi korban Dewi Kala Hijau?!

Sementara itu di dalam guanya Dewi Kala Hijau tengah dikelilingi oleh tiga orang murid dan beberapa anggota Partai yang menduduki jabatan tinggi. Dewi Kala Hijau tengah memberikan beberapa tugas-tugas terakhir pada mereka Kemudian pertemuan dibuarkan setelah semuanya disuruh bersiap siap, kecuali Kala Biru yang kemudian dipanggil dan diajak bicara empat mata.

“Apakah kau sudah lihat pemuda itu di antara para tamu?” tanya Dewi Kala Hijau.

“Sudah, guru. Tapi dia tidak duduk di kursi yang disediakan melainkan duduk di cabang pohon kenari di sebelah Barat panggung…”

Dewi Kala Hijau merutuk dalam hatinya, lalu berkata: “Menyamarlah dan temui dia di atas pohon itu, lalu ajak kemari melalui pintu rahasia dan bawa langsung ke kamarku!”

“Baik guru!” Kala Biru menjawab.

“Waktumu cuma sepuluh menit, Biru!” Kala Biru menjura lalu meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Tak lama kemudian di ujung Barat panggung kelihatanlah seorang kakek-kakek terbungkuk-bungkuk melangkah mendekati pohon kenari besar. Semua yang hadir tidak mengambil perhatian karena menyangka kakek-kakek itu adalah seorang dari sekian tamu yang diundang oleh Dewi Kala Hijau. Lagi pula semua mata para tamu kebanyakan tertuju ke muka panggung.

Kakek-kakek itu yang tak lain dari pada Kala Biru yang telah menyamar adanya, menekuk lutut dan menjejak bumi. Tubuhnya laksana terbang melesat ke atas cabang pohon kenari di mana saat itu duduk Pendekar 212 Wiro Sableng sambil enak-enakan makan buah kenari!

“Eh, kakek-kakek kau siapakah yang mau-mauan naik ke tempatku duduk ini…?!” tanya Wiro Sableng.

“Kakek Biru menarik nafas dalam dan merubah suaranya sehingga persis seperti suara orang tua renta.

“Wiro Sableng, aku adalah suruhan Dewi Kala Hijau. Dewi memintamu untuk datang ke tempatnya. Dia akan bicara empat mata denganmu!”

“Hem… begitu? lngin bicara apa?” tanya Wiro pula sedang sepasang matanya memandang meneliti paras kakek-kakek tua di hadapannya.

“Mana aku tahu? Aku cuma jalankan perintah,” jawab Kala Biru pula.

“Kalau Dewimu perlu aku, suruh saja dia datang ke sini!”

“Jangan bicara pongah di sarangnya Dewi Kala Hijau” desis kakek-kakek itu.
“Sekalipun kau bisa mengacaukan suasana, tapi jangan harap kau bisa ke luar dari sini. Lihat, jembatan gantung telah diputuskan!”

Pendekar 212 terkejut dan memandang ke jurusan kanannya. Memang betul, saat itu jembatan gantung yang terbuat dari tulang belulang manusia telah diputuskan!

“Kalau jembatan sudah diputus apa kau kira aku tak bisa ke luar dari lembah hi…?!”

“Sudahlah… aku tak mau bicara panjang lebar dengan kau, Kau mau turut aku ke tempatnya Dewi Kala Hijau atau tidak?!”

“Eh, kakek, kau mengancam aku… agaknya?” Kala Biru tertawa mengekeh.

“Apakah kau tidak punya nyali untuk berhadapan dengan Dewi kami? Ah, kukira kau betul-betul seorang satria berhati jantan! Kiranya cuma budak hina dina yang pengecut berhati dodol!” Marahlah Pendekar 212.

“Di ujung langit pun Dewimu itu aku akan datangi!” katanya.

“Kalau begitu mari kita buktikan!” Si kakek alias Kala Biru melayang turun. Penuh penasaran Pendekar 212 mengikuti! Dia dibawa ke lembah sebelah Tenggara, melalui sebuah jalan berputar dan berliku turun naik kemudian masuk ke sebuah lobang goa yang dari luar ditutupi dengan tumpukan tulang belulang manusia!

Lorong di dalam goa itu ternyata diterangi dengan lampu-lampu kuno berbentuk lampu Aladin. Kira-kira dua menit kemudian, dihadapan sebuah pintu batu si kakek menghentikan langkahnya, lalu berpaling pada Wiro Sableng, dan berkata:

“Tunggu aku sampai dl lorong sebelah sana lalu ketuk pintu batu ini…”

“Orang tua, jika ini adalah perangkap jangan harap matimu secara baik-baik! Paling tidak tangan dan kakimu akan kutanggalkan satu demi satu!” Si Kakek alias Kala Biru tertawa mengekeh dan berlalu dari hadapan Pendekar 212. Wiro sendiri merasa tidak enak saat itu dan dia yakin bahwa dirinya berada dalam satu perangkap.

Namun untuk kembali mungkin akan lebih besar lagi bahayanya apalagi mengingat tiap pengecut yang diberikan si kakek tadi sangat membakar hatinya! Maka ketika si kakek dilihatnya sudah sampai di lorong ujung sana segeralah diketuknya pintu batu di hadapannya.

Pintu batu yang berat itu demikian diketuk membuka ke samping dengan sendirinya. Ternyata pintu batu itu tebalnya dua tombak lebih! Ketika Wiro memandang ke pintu yang terbuka itu, di belakang pintu kelihatanlah sebuah kamar yang sangat bagus! Belum pernah Pendekar kita melihat kamar yang demikian.

Di samping kiri terdapat sebuah tempat tidur berseperai hijau berbunga-bunga merah, kuning, putih, biru dan coklat. Di dinding di samping tempat tidur ini tergantung sebuah lukisan besar yang indah.

Di sebelah kanan terdapat seperangkat meja dan kursi sedang keseluruhan lantai tertutup dengan permadani tebal dan bagus!

Tapi apa yang menarik perhatian Pendekar 212 saat itu bukan semua keindahan tadi melainkan pada sesosok tubuh perempuan yang duduk di atas kursi di tengah ruangan. Perempuan ini mengenakan sehelai baju panjang hijau yang terbuat dari kain sutera yang sangat tipis. Kaki kanannya dipangkukan di atas kaki kiri sehingga baju panjangnya itu tersibak lebar memperlihatkan pahanya yang putih padat serta mulus!

Di balik baju sutera tipisnya itu hampir jelas kelihatan kedua buah dadanya yang besar. Namun semua keindahan badan yangqaksana telanjang itu tiada artinya bila dilihat paras perempuan itu yang tertutup topeng tipis muka tengkorak!

“Silahkan masuk Wiro…” Dewi Kala Hijau berkata sambil melambaikan tangannya.

“Jika kau mau bicara biar aku berdiri di sini saja,” jawab Pendekar 212 pula.

“Ah… ucapanmu menyatakan kecurigaan, bukan? Tak perlu curiga, tak perlu khawatir bahwa aku akan menjebakmu. Silahkan masuk.”

“Sekalipun kau memang bermaksud menjebakku, aku tidak gentar! Nyawaku berarti juga nyawamu Dewi Kala Hijau!”

“Hem… itu satu kata-kata yang bagus. Mari, masuklah Wiro. Aku ingin bicara denganmu.” Maka Pendekar 212 pun masuklah. Begitu dia masuk ke dalam kamar itu maka pintu di belakangnya bergeser cepat dan tertutup kembali.

Dewi Kala Hijau tertawa. “Silahkan duduk” katanya.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 16)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.