Minggu, 11 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 14)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

Wiro Sableng berdiri dan memandang tak berkedip pada Dewi Kala Hijau. Sepasang mata mereka saling beradu pandang! Masing-masing sama mengagumi kehebatan lawan terutama dipihak Dewi Kala Hijau. Kekaguman terhadap ketinggian ilmu silat pemuda itu disertai pula dengan kekaguman terhadap kegagahannya!

“Pendekar 212,” berkata Dewi Kala Hijau.

“Apakah kau masih belum bersedia untuk menyerah sebelum terlambat?! Sampai saat ini masih ada waktu bagimu untuk masuk menjadi anggota Partai Lembah Tengkorak! Kelak kau kuberi kedudukan yang tinggi! Kita akan memimpin Partai bersama-sama!” Wiro Sableng tertawa dingin.

“Aku dilepas oleh guruku dari pertapaan bukan untuk bersekutu dengan manusia-manusia macammu tapi justru untuk membasmi-nya!” Maka marahlah Dewi Kala Hijau! Dia memberi isyarat pada ketiga muridnya.

Sesaat kemudian disertai dengan lengking jerit yang mengandung maut, keempatnya pun menyerbu mengeroyok Pendekar 212! Tentu saja pertempuran empat lawan satu ini tak dapat dilukiskan kehebatannya! Karena Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya tiada memberi kesempatan bagi Wiro untuk melepaskan pukulan “Sinar Matahari” maka dalam tiga jurus saja pemuda ini terdesak dan mendapat tekanan serangan yang berbahaya dan mengancam jiwanya!

“Iblis-iblis betina! Aku paling benci bertempur melawan musuh yang tak bersenjata! Tapi karena kalian telah lebih dahulu mengeroyokku secara pengecut, lagi pula terhadap manusia-manusia macam kalian tak perlu begitu memandang aturan persilatan, maka aku terpaksa mengeluarkan sentaja!”

Begitu habis ucapan itu maka menderulah suara mengaung laksana tempat itu diserbu oleh ribuan tawon! Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya merasakan kulit mereka menjadi sangat perih sedang serangan-serangan yang mereka lancarkan kini menjadi buyar! Tubuh dan gerakan mereka hanyut terbawa arus sinar putih putaran Kapak Maut Naga Geni 212 yang berada di tangan Wiro Sableng!

Dan kalau tadi mereka yang menggempur serta mendesak kini terjadi hal yang sebaliknya! Berkali-kali mereka melepaskan pukulan Kala Hijau, berkali-kali mereka menghembuskan “Empat Jalur Asap Kematian” tapi percuma saja. Sinar putih yang menggulung-gulung dari Kapak Naga Geni 212 di tangan Wiro memusnahkan seluruh serangan mereka!

Dewi Kala Hijau menjadi cemas gelisah. Nyalinya untuk meneruskan pertempuran menjadi tipis ketika ujung lengan pakaian hijaunya kena disambar putus oleh senjata lawan! Maka perempuan ini segera memberi isyarat pada ketiga muridnya. Keempatnya menyerang dengan gencar lalu melompat keluar kalangan pertempuran!

“lblis-iblis pengecut, kalian mau lari ke mana?!” bentak Wiro Sableng memburu.

“Budak hina dina, sayang kami tak punya waktu banyak untuk menghadapimu! Jika kau masih penasaran silahkan datang ke Lembah Tengkorak pada hari dua belas bulan dua belas!” Habis berkata demikian Dewi Kala Hijau mengeluarkan sebuah benda berbentuk bola berwarna hitam dan besamya sebesar kepalan! Benda itu dilemparkannya ke tanah di hadapan Wiro Sableng.

“Wuuuss!”

Bola hitam itu pecah. Maka mengebullah asap hitam pekat yang tak tertembus pemandangan!

“Keparat betul!” maki Wiro Sableng. Dia menerjang asap itu dengan geramnya. Namun lapisan asap tebalnya sampai sepuluh tombak! Dan bila dia berhasil keluar dari lapisan asap itu maka Dewi Kala Hijau dan ketiga muridnya sudah lenyap! Mayat Kala Merah juga lenyap!

~ 11 ~ 

Dunia berputar terus. Siang berganti dengan malam, disambung lagi dengan siang lalu malam demikianlah seterusnya. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Hari dua belas bulan dua belas semakin dekat juga.

Dunia persilatan semakin tegang oleh kemunculan Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya yang hendak mendirikan Partai Lembah Tengkorak. Dimana mereka muncul, disitulah terjadi pembunuhan!

Enam Partai Persilatan musnah lagi tinggal nama saja. Lusinan tokoh silat menemui ajalnya di tangan perempuan-perempuan itu.

Sebenarnya akan lebih banyak lagi Partai Silat dan tokoh-tokoh silat yang bakal tamat riwayatnya jika saja kejahatan-kejahatan atau pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya itu tidak mendapat halangan dan tantangan dari tokoh-tokoh silat sakti. Satu di antara mereka yang paling menjadi momok bagi Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya ialah Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng!

Berkali-kali Pendekar 212 menggagalkan maksud Dewi Kala Hijau hendak menghancurkan beberapa Partai Persilatan. Berkali-kali pula beberapa tokoh silat karena bantuan Pendekar 212 berhasil meIoloskan diri dari liang jarum kematian!

Karenanya antara Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya dengan Pendekar 212 terdapat dendam kesumat yang tiada terkirakan besarnya. Namun demikian dibalik dendam kesumat itu tersembunyi pula Satu perasaan di hati Dewi Kala Hijau. Sang Dewi ini tidak mengetahui bahwa apa yang dirasakannya itu, dialami pula oleh muridnya sendiri yaitu Kala Putih!

Sebelum masuk ke dalam dunia persilatan, Dewi Kala Hijau pernah jatuh cinta terhadap seorang pemuda. Pemuda itu kemudian menemui kematian di tangan satu gerombolan rampok. Ketika pertama kali bertemu muka dengan Wiro Sableng, terkejutlah Dewi Kala Hijau karena pendekar ini mirip sekali parasnya dengan pemuda yang pernah dikasihinya itu. Cuma bedanya Wiro memiliki rambut panjang gondrong!

Ingat pada pemuda kekasihnya dulu dan melihat Wiro, Sang Dewi merasakan seperti kekasihnya hidup kembali. Dan api cinta yang dulu padam kini mulai menyala lagi! Namun karena Wiro Sableng senantiasa menjadi penghalang besar dalam rencananya untuk mendirikan Partai Lembah Tengkorak maka benih cinta yang kembali menyubur itu menjadi tertindas tumbuhnya.

Di satu pihak Wiro bisa memberikan satu kehidupan yang bahagia bagi masa depannya, dilain pihak Wiro adalah merupakan musuh besar bagi rencana dan dirinya sendiri!

Sementara itu hari dua belas bulan dua belas semakin dekat juga. Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya tidak ada waktu lagi untuk menumpas Partai-partai Silat dan tokoh-tokoh silat yang menantang-nya karena dia harus mempersiapkan segala sesuatunya di Lembah Tengkorak guna meresmikan Lembah Tengkoraknya. Maka Dewi Kala Hijau menukar siasat.

Kedelapan penjuru angin dunia persilatan disebarkanlah surat-surat undangan guna menghadiri hari peresmian berdirinya Partai Lembah Tengkorak. Bila tokoh tokoh silat dan ketua-ketua Partai Persilatan baik dari golongan putih maupun hitam sudah hadir nanti, maka pastilah siasatnya itu akan berjalan baik. Apalagi mengingat sampai saat itu dia telah memiliki sejumlah besar anggota-anggota partai dari jago-jago silat lihai yang telah ditundukkannya!

Meskipun sudah terbayang oleh Dewi Kala Hijau bahwa Partai Lembah Tengkorak pasti akan berdiri dengan megah namun hati kecilnya masih gelisah terhadap orang-orang seperti Pendekar 212 Wiro Sableng! Sekalipun tidak diundang bukan mustahil Pendekar 212 akan datang ke Lembah tengkorak apalagi dalam pertempuran di tempat Partai telaga Wangi tempo hari Dewi Kala Hijau telah menantangnya untuk datang ke Lembah Tengkorak, pada hari dua belas bulan dua belas!

Selama mempersiapkan segala sesuatunya di Lembah Tengkorak, Dewi Kala Hijau senantiasa mencari akal bagaimana cara yang paling baik untuk menghadapi Pendekar 212. pemuda itu berbahaya sekali dan merupakan musuh besamya! Namun meski berbahaya, hati kecilnya tak menginginkan Wiro Sableng menemui kematian Inilah satu ujian yang berat bagi Dewi Kala Hijau!

Memang bagaimanapun jahat dan terkutuknya hati Seorang manusia, namun bila sinar cinta dan kasih sayang merayapi hatinya maka dia akan dihadapkan pada kebimbangan. Cintakah yang musti didahulukannya atau clta-cltanya ?!

Seminggu sebelum tiba hari dua belas bulan dua belas, Dewi Kala Hijau memerintahkan muridnya si Kala Putih dan seorang anggota Partai untuk mencari dan meringkus Pendekar 212 hidup-hidup. Menurut keyakinan Dewi Kala Hijau menjelang hari peresmian berdirinya Partai Lembah Tengkorak, pastilah Pendekar itu berada dekat-dekat sekitar kaki Gunung Merapi.

Adapun anggota Partai yang bersama Kala Putih ini ialah seorang tokoh silat aliran hitam yang berjuluk “Si Jaring Hantu” Kehebatan Si Jaring Hantu maka sampai dia diberi gelar demikian ialah karena dia memiliki senjata ampuh yaitu sebuah jaring yang terbuat dari sejenis tali yang tak Satu senjatapun Sampai saat itu sanggup memutusnya!

Empat hari kemudian maka kembalilah Kala putih hanya seorang diri! Dewi Kala Hijau menyambut kedatangan muridnya itu dengan heran. Ada perubahan pada paras Kala Putih.

“Mana Si Jaring Hantu?” bertanya Dewi Kala Hijau. Kala Putih menjura di hadapan gurunya tapi tak segera menjawab Kepalanya ditundukkan.

“Kalian berhasil menemui pemuda itu?” Kala Putih mengangguk.

“Dan Si Jaring Hantu berhasil menangkapnya?” Kala Putih menggeleng perlahan. Dewi Kala Hijau memukul meja di hadapannya.

“Putih! Sikapmu aneh sekali! Cepat berikan penuturan! bentaknya. “Mana Si Jaring Hantu?!” tanya Dewi Kala Hijau Hijau sekali lagi.

“Si Jaring Hantu tewas di tangan pemuda itu, guru…”

Berubahlah Paras Dewi Kala Hijau. Dan Kala Putih meneruskan: “Kami berhasil menemui pemuda itu disatu jurang sekitar tiga puluh kilo dari sini dua hari yang lalu. Kami berdua mengeroyoknya. Setelah bertempur lima jurus Si Jaring Hantu berhasil meringkus Pemuda itu dengan jaring saktinya. Si pemuda coba lepaskan diri bahkan lepaskan pukulan sinar matahari tapi jaring tetap tak mau bobol. Namun keiika Si Jaring Hantu datang mendekat tiba-tiba sangat cepat sekali pemuda itu berhasil mencabut kapaknya dan membabat ke muka. Tali-tali jaring putus dan kapak terus memapas Perut Si Jaring Hantu dan... dan mati!”

“Lantas…?”

“Aku… aku kemudian menghadapi pemuda itu. Tiga jurus saja aku sudah terdesak dan… dan terpaksa harus melarikan diri.”

Dewi Kala Hijau menggigit bibirnya. Matanya meneliti paras muridnya tapi tak jelas terlihat karena Kala Putih terus-terusan menundukkan kepalanya.

Namun demikian pandangan dan perasaan Dewi Kala Hijau Yang tajam bisa mengetahui bahwa disamping yang telah diterangkan oleh muridnya, pasti terjadi apa-apa! Karena saat itu berada dalam kesibukan maka Dewi Kala Hijau memutuskan pembicaraan dengan berkata: “Kau pergilah bantu yang lain-lainnya membereskan segala sesuatunya. Beberapa diantara undangan telah ada yang datang…”

Kala Putih menjura lalu pergi dengan cepat. Memasuki hari keenam sementara para tamu telah banyak yang datang maka Dewi Kala Hijau melihat semakin jelas adanya perubahan pada diri muridnya Si Kala Putih. Maka perempuan itu pun menyuruh muridnya menghadap.

Begitu Kala Putih selesai menjura. Dewi Kala Hijau segera membuka mulut: “Sejak kembalimu pergi bersarna Si Jaring Hantu ada banyak perubahan dalam sikapmu. Betul…?”

Kala Putih agak gugup tapi menjawab juga: “Tidak… tak ada perubahan pada diriku, Guru…”

“Jangan bicara dusta! Jangan tipu gurumu! Jangan tipu dirimu sendiri!” membentak Dewi Kala Hijau. “Terangkan apa yang terjadi?!”

“Tak ada terjadi apa-apa, Guru.” sahut Kala Putih.

Dewi Kala Hijau menggebrak meja. “Selama ini kau selalu periang suka melucu, sering tertawa dan bergurau dengan saudara-saudara seperguruanmu! Tapi sekembalimu dua hari yang lalu sikap dan sifatrnu jauh berubah! Kau jadi pendiam, suka menyendiri dan banyak melamun! Jangan kira aku ini buta. Putih! Kau berdusta! Angkat mukamu, pandang mataku!”

Kala Putih mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan coba memandang kedua mata gurunya. Tapi cuma sebentar. Sedetik kemudian kepalanya ditundukkan kembali. Untuk pertama kalinya Kala Putih merasa ngeri dan takut melihat sepasang mata serta paras gurunya!

Dewi Kala Hijau menyeringai. “Kau masih juga merahasiakan perubahan sikapmu, Putih? Masih merahasiakan apa yang terjadi?!”

Tenggorokan Kala Putih kelihatan turun naik. Kemudian ter-dengarlah ucapannya tersendat-sendat.” Se… sesudah Si Jaring Hantu menemui ajalnya, aku coba menghadapi… pemuda itu beberapa jurus. Aku hanya sanggup menghadapi sebanyak tiga jurus kemudian coba melarikan diri namun cepat sekali punggungku kena ditotok hingga aku menjadi kaku tegang tak bisa lagi bergerak.”

Mulut Dewi Kala Hijau komat kamit: “Lalu?!”

“Kusangka pastilah pernuda itu akan membunuhku tapi ternyata tidak. Dia bicara panjang lebar dan menasihatkan agar aku kembali ke jalan benar serta meninggalkan kaki Gunung Merapi ini…”

“Apa jawabmu?”

“Kumaki dia habis-habisan. Kuludahi mukanya malah, tapi dia hanya tertawa-tawa! Dia hendak rnelemparkan aku ke dalam jurang, kecuali jika aku berjanji mau kernbali ke jalan yang benar dan meninggalkan tempat ini. Aku… aku terpaksa pura-pura menerima janjinya. Aku dilepas. Kemudian aku melarikan diri dan kembali ke sini…”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 15)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.