Minggu, 11 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 13)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

Serangkum angin dahsyat menggeru memapasi serangan maut Kala Putih. Debu beterbangan. Pasir dan kerikil-kerikil berpelantingan! Sinar hijau dan keenam kala beracun tersapu lalu luruh ke tanah! Kala Putih sendiri kalau tidak lekas-lekas nengelak ke samping pasti akan dilanda angin pukulan lawan yang terus menyerempet ke arahnya.

Itulah pukulan “Dinding Angin Berhembus Tindih Menindih” yang telah dilepaskan oleh Pendekar 212 Wiro Sableng! Berubahlah paras Dewi Kala Hijau. Matanya membeliak. Demikian juga dengan ketiga muridnya terutama Kala Putih yang menghadapi langsung sang pemuda!

“Putih! Kuberi tambahan dua jurus padamu untuk mematahkan batang leher pemuda itu! Ayo lekas!” Mendengar ini maka dengan segala kehebatannya menerjanglah Kala Putih.

Wiro Sableng bersiul nyaring. Tubuhnya lenyap. Dan terdengar suaranya: “Jangan kesusu tak karuan kalau menyerang, gadis muka tengkorak, salah-salah bisa mencelakai dirimu sendiri! Aku paling benci bertempur dengan lawan yang muka aslinya ditutup dengan topeng! Bukalah topeng tengkorakmu itu lebih dahulu Kala Putih!”

Geram sekali mendengar ucapan Pendekar 212 itu maka Kala Putih lipat gandakan tenaga dalamnya dalam-menyerang. Demikian hebatnya sehingga angin serangannya saja laksana topan prahara!

Namun Kala Putih menjadi bingung sendiri karena siapa yang akan diserangnya? Pendekar 212 lenyap tak kelihatan dari hadapannya! Dalam kebingungannya gadis bertopeng tengkorak ini melihat sesuatu menyambar ke mukanya. Kala Putih hantamkan tangan kanannya ke depan. Dia memukul angin kosong!

Dan…

“Bret!”

Kala Putih berseru terkejut. Kedua tangannya menyampok lagi ke muka. Tapi tiada guna. Topeng tipis yang menutup parasnya tanggal dan pindah ke tangan lawan sehingga kelihatanlah paras asli Kala Putih dengan jelas!

Pendekar 212 Wiro Sableng sendiri terkejut bukan main sewaktu menyaksikan paras Kala Putih. Siapa menyangka kalau gadis berilmu tinggi dan berhati kejam lebih jahat dari iblis itu memiliki paras sedemikian jelitanya!

“Ah… sungguh satu hal yang luar biasa!” kata Wiro Sableng sambil garuk-garuk kepalanya.

“Parasmu begini cantik, tapi kenapa kejahatan dan kekejaman-mu laksana lautan yang tiada bertepi?! Kalau kau jadi gadis baik-baik sekurang-kurangnya kau pasti akan dapat suami seorang Adipati…!”

“Pemuda hina dina! Tutup mulutmu!” hardik Kala Putih.

Didahului oleh dua larik sinar hijau yang melesatkan lima puluh ekor kala maut maka Kala Putih mengirimkan dua tendangan dahsyat sedang mulutnya menghembus ke muka. Dari mulutnya mengepul asap putih yang mengandung racun luar biasa jahatnya! Seluruh jalan darah di tubuh Pendekar 212 terancam bahaya maut kehancuran!

Tak ayal lagi pemuda itu mengelak dengan cepat. Dan jika saja tidak ingat bahwa saat itu dia berhadapan dengan seorang gadis berparas jelita maka pastilah Wiro Sableng akan mengirimkan serangan balasan yang tak kalah ganasnya. Sambil melompat menjauhi Kala Putih beberapa tombak Wiro Sableng berseru.

“Kala Putih, aku beri kesempatan padamu untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar!”

“Pemuda hina, jangan bicara ngelantur!” kertak Kala Putih. Kemudian sekali lagi dia melancarkan serangan ganas meskipun dalam hati kecilnya timbul secuil keraguan. Dia menyadari memang bahwa sebagai seorang gadis tidak selamanya dengan ilmu kesaktiannya dia akan hidup dalam keadaan seperti itu! Namun untuk berpikir lebih panjang dia tak ada waktu lagi.

“Gadis. goblok!” terdengar Pendekar 212 memaki. Tangan kanannya memukul ke muka dalam jurus “Kunyuk Melempar Buah” Kala Putih menyambuti pukulan ini dengan hantaman tangan kanan yang mengeluarkan angin pukulan berwarna hijau pekat!

Dua pukulan saki itu beradu di udara mengeluarkan suara dahsyat. Tubuh Pendekar 212 tergontai-gontai sedang Kala Putih tersurut mundur sampai empat langkah dengan tangan terasa perih kaku!

Penuh geram karena sebelumnya tak pernah menghadapi lawan setangguh pemuda itu maka Kala Putih memusatkan seluruh tenaga dalamnya ke perut lalu mengalirkannya ke dada terus ke tenggorokan. Ketika dia menghembus ke muka maka satu gelombang asap putih yang lebih dahsyat dari tadi menyambar Wiro Sableng dalam empat jalur arus asap yaitu menggelung dari samping kiri dan kanan dari atas lalu dari bawah! lnilah yang dinamakan ilmu “Empat Jalur Asap Kematian” yang telah diciptakan Dewi Kala Hijau dan membutuhkan waktu lima tahun untuk menyempurnakannya.

Setiap muridnya memiliki asap ini yang warna asapnya sesuai dengan pakaian-pakaian mereka! Melihat jalur asap yang aneh ini serta hawa jahat yang menyambar keluar dari asap itu bukan main kagetnya Pendekar 212.

“Ilmu iblis apa pula ini!” membathin Wiro Sableng. Kedua tangannya segera diangkat ke atas dengan telapak tangan menghadap lurus-lurus ke muka. Wiro tahu bahwa demikian hebatnya empat jalur asap putih itu sehingga dia memaklumi bahwa akan besar risikonya jika dia mengelakkan diri ke samping atau melompat ke atas. Makanya begitu kedua tangan sudah terpentang, Pendekar 212 segera menghantam ke depan.

Dua larik angin yang tidak kelihatan karena tidak berwarna menghembus ke muka dengan amat derasnya! Itulah pukulan yang bernama “Angin Topan Melanda Samudera” yang telah dipelajari oleh Pendekar 212 dengan sempurna dari gurunya Eyang Sinto Gendeng! Dua angin pukulan yang dahsyat dari Pendekar 212 saling bentrokan dengan empat jalur asap putih dari Kala Putih! Demikian hebatnya bentrokan itu hingga kedua kaki Kala Putih melesak ke dalam tanah sedalam sepuluh senti sedang sepasang kaki Pendekar 212 sendiri amblas sedalam tiga senti!

Keduanya masih berdiri berhadap-hadapan dengan tangan-tangan yang tetap terpentang. Pada kening dan tubuh mereka kelihatan percikan-percikan butiran keringat tanda keduanya sama-sama mengerahkan tenaga dalam!

Dewi Kala Hijau yang melihat hal itu memaklumi bahwa jika dibiarkan lebih lama maka dalam waktu yang singkat pastilah muridnya akan terluka parah di bagian dalam bahkan tidak mustahil akan menemui ajalnya karena dalam pertempuran tadi matanya yang tajam telah dapat mengukur bahwa tenaga dalam Wiro Sableng jauh lebih tinggi dari muridnya sendiri!

Tak menunggu lebih lama maka Dewi Kala Hijau memukulkan tangan kanannya ke muka. Serangkum angin menderu tepat ke arah di mana angin angin pukulan Wiro Sableng dan Kala Putih saling bentrokan. Langit laksana hendak runtuh. Bumi laksana mau rengkah ketika bentrokan itu menimbulkan suara letusan yang bukan olah-olah kerasnya!

Kala Putih terguling di tanah tapi dirinya selamat. Wiro Sableng terhuyung nanar dan anehnya kemudian tertawa gelak-gelak!

“Dewi Kala Hijaul” serunya.

“Apakah kau masih belum melihat jalan kebenaran?!”

“Tutup mulutmu manusia hina dina!” bentak Dewi Kala Hijau.

“Dasar perempuan gendeng,” balas memaki Wiro Sableng.

“Aku berani taruhan potong kuping bahwa maksudmu untuk mendirikan Partai terkutuk itu tak akan berhasil…!”

Dewi Kala Hijau tertawa sedingin salju. “Partai Lembah Tengkorak bukan saja akan berdiri di dunia persilatan tapi akan merupakan satu-satunya Partai yang bakal menguasai dunia persilatan! Semua Partai yang tak mau bergabung pasti musnah! Semua tokoh silat yang tak mau menjadi anggota pasti meregang nyawa, termasuk kau!”

Wiro Sableng tertawa membahak “Kau mimpi Dewi...”

“Kaulah yang bakal mimpi di neraka!” tukas Dewi Kala Hijau. Lalu pada ketiga muridnya cepat memberikan perintah.

“Kalian bertiga cepat bikin mampus budak hina dina itu!”

Kala Biru, Kala Hitam dan Kala Putih segera mengurung Pendekar 212. Kala Biru memegang komando begitu terdengar suitannya yang melengking langit maka ketiganya pun berubahlah menjadi bayangan hitam, putih dan biru.

Lima jurus lamanya mereka mereka menggempur dahsyat. Lima jurus lamanya pendekar 212 dilanda serangan-serangan sangat hebat. Harus menghadapi pukulan-pukulan sinar hijau dan Kala maut sedang dari mulut masing-masing ketiga anak murid Dewi Kala Hijau itu tiada hentinya menghembuskan asap merah, hitam serta putih yang setiap asap mempunyai empat jaluran!

Lima jurus dimuka pertempuran semakin dahsyat. Pendekar 212 terdesak hebat! Berkali-kali pendekar muda ini melepaskan pukulan “Dinding Angin Berhembus tindih menindih” pukulan “Benteng Topan Melanda Samudra” serta pukulan “Kunyuk Melempar Buah” Namun desakan ketiga anak murid Dewi Kala Hijau itu sukar di bikin buyar!

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 menggeram dan membentak dan lancarkan pukulan “Orang Gila Menggebuk Lalat” kedua lengannya membabat kian kemari. Hanya dua jurus ketiga pengeroyoknya bisa tertahan, sesudah itu kembali Wiro Sableng terdesak hebat!

“Gila betul!” kutuk pemuda itu penuh beringas. Dia melompat ke luar kalangan pertempuran.

Dewi Kala Hijau yang menyangka bahwa pemuda itu hendak melarikan diri berseru keras: “Budak hina, jangan kira kau bisa kabur dari sini hidup-hidup!”

“Eh perempuan kunyuk! Siapa bilang aku mau kabur?!” tukas Wiro Sableng penasaran.

“Sekalipun kau ikut mengeroyok tak bakal aku ambii langkah seribu! Majulah beramai-ramai!”

“Kau terlalu tekebur budak hina! Murid-muridku lekas selesaikan dia!” Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng berdiri dengan kedua kaki merenggang. Sepasang tangannya diacungkan tinggi-tinggi ke atas. Ketiga murid Dewi Kala Hijau menyerbu kembali maka laksana titiran Wiro Sableng memutar kedua tangannya. Angin yang sangat hebat menderu-deru! Debu serta pasir beterbangan. Air telaga berombak-ombak. Daun-daun pohon berguguran. lnilah pukulan “Angin Puyuh” Kehebatan angin ini mengejutkan ketiga murid Dewi Kala Hijau.

“Tidak usah takut! Kalian tak bakal celaka dengan ilmu picisan itu!” teriak Dewi Kala Hijau. Maka lenyaplah keraguan ketiga gadis itu. Dengan serentak mereka menyerbu kembali! Dan seperti yang dikatakan oleh Dewi Kala Hijau memang kehebatan gempuran tiga gadis itu tak dapat ditahan oleh pukulan “Angin Puyuh” Wiro Sableng.

Tiga jurus kemudian pemuda itu kembali terdesak ke dekat panggung!

Pendekar 212 keluarkan keringat dingin. Dia membatin, “Kalau benar-benar perempuan-perempuan iblis ini dapat mendirikan Partai Lembah Tengkorak, celakalah dunia persilatan!” Dalam dia membatin itu satu tendangan menghantam pinggulnya! Pendekar 21 2 terpelanting. Sebelum dia bisa mengimbangi diri empat jalur asap biru menyambar kearah kepalanya!

“Sialan betul!” gerendeng pemuda ini lalu cepat-cepat jatuhkan diri dan berguling di tanah.

“Ha… ha… nyawamu sudah di ujung hidung! untuk penghabisan kalinya aku beri kesempatan padamu! Menyerah, berlutut minta ampun dan masuk ke dalam Partaiku!” kata Dewi Kala Hijau pula.

“Jangan mengigau, perempuan muka tengkorak!” sahut Wiro Sableng seraya berdiri. “Jika murid-muridmu sanggup menerima pukulan yang bakal kulancarkan ini, baru aku bersedia masuk Partaimu!. Bahkan menjilat pantat kalian pun aku sudi!”

Habis berkala Segitu Wiro renggangkan kedua kaki. Sedetik kemudian tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi ke atas sedang kedua kaki melesak ke dalam tanah. Tubuh bergetar dan tangan kanannya kelihatan menjadi putih sedang jari-jari kuku memerah menyilaukan!

“Pukulan Sinar Matahari!” seru Dewi Kala Hijau Terkejut bukan main! “Murid-muridku mundurlah! Kalian takkan sanggup menerima pukulan itu!”

“Guru!” seru Kala Biru.

“Kami bersedia mati demi berdirinya Partai Lembah Tengkorak!”

“Jangan tolol!” bentak Dewi Kala Hijau. Pendekar 21 2 tertawa mengekeh. Tangan kanannya tiba-tiba turun dengan cepat. Satu larik besar sinar putih perak yang sangat menyilaukan dan menebar hawa yang sangat panas menderu ke arah Kala Biru, Kala Putih dan Kala Hitam. Ketiga murid Dewi Kala Hijau ini bersuit nyaring dan tanpa menghiraukan peringatan gurunya menyerbu ke muka membabi buta!

“Murid tolol!” teriak Dewi Kala Hijau. Dengan cepat dia mendahului ketiga muridnya. Tangan kiri kanan mengirimkan pukulan “Kala Hijau” yang dahsyat. Ratusan kala beracun berlesatan sedang begitu mulutnya menghembus maka empat jalur sinar hijau menggebu pula ke arah Pendekar 212!

“Bum!”

Terdengar letusan membelah langit ketika sinar-sinar hijau dan sinar putih perak itu beradu di udara! Dewi Kala Hijau terguling di tanah tapi tiada terluka sedang Pendekar 212 jatuh duduk di tanah! Keningnya mandi keringat! Ketiga murid Dewi Kala Hijau berpekikan memanggil gurunya karena menyangka Dewi Kala Hijau terguling mati. Tapi begitu perempuan itu bangun kembali legalah hati mereka.

Yang hebatnya ialah ketika dua sinar putih dan hijau itu bentrokan, angin pukulan pecah ke samping dan menghantam panggung besar. Panggung itu hancur berantakan. Mayat-mayat di atasnya berpelantingan banyak diantaranya yang mencemplung ke dalam telaga!

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 14)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.