Minggu, 11 Juni 2017

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 12)

Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak

“Lho… apakah mayat-mayat itu melarangku bicara…?!” ujar si pemuda. Dengan acuh ditariknya kaki sesosok mayat yang menggeletak di sampingnya. Mayat itu kebetulan adalah mayat isteri Dewa Pedang, Ketua Partai Telaga Wangi yang kini hanya tinggal namanya saja! Si pernuda memperhatikan dua ekor kala hijau yang rnenancap di kepala perernpuan itu, kemudian gelengkan kepalanya.

“Kala hijau…” desis pernuda ini.

“Kasihan… kasihan sekali isteri Dewa Pedang. Seorang tokoh silat berjiwa besar dan berhati baik kenapa sampai menemui ajal begini rupa? Kasihan… kasihan sekali!”

Si pemuda kemudian meletakkan mayat itu di lantai panggung kembali baik-baik, lalu memandang pada Dewi Kala Hijau.

“Mukamu ditutupi topeng tengkorak tipis… pakaianmu berwarna hijau dan ketiga perempuan bertopeng tengkorak itu adalah murid-muridmu! Tentunya kau adalah Dewi Kala Hijau! Dan tentunya kau juga yang menjadi biang penyebab segala keganasan ini… ? Mengaku atau tidak?!”

Dewi Kala Hijau tertawa meringkik. “Jika sudah tahu siapa aku, kenapa tidak lekas berlutut minta ampun dan lalu angkat kaki dari sini?!”

“Perlu apa berlutut! Kau bukan raja! Perlu apa angkat kaki dari sini, tempat ini bukan daerahmu! Laki-laki tak pernah berlutut terhadap perempuan. Tapi sebaliknya perempuanlah yang musti berlutut pada laki-laki apalagi perempuan jelek macam kau!”

Tergetar hati Dewi Kala Hijau. Tapi dia juga marah sekali mendengar ucapan pemuda itu.”Pembunuh Tanpa Bayangan! Hajar pemuda lancang itu!” perintah Dewi Kala Hijau pada Lalanang atau tokoh silat golongan hitam yang bergelar Pembunuh Tanpa Bayangan yang saat itu masih berlutut di hadapan Dewi Kala Hijau.

Mendengar perintah ini maka Pembunuh Tanpa Bayangan yang matanya kini cuma tinggal satu segera berdiri dan mengambil senjatanya yaitu sebuah rantai berduri yang tadi dibuangnya.

Tanpa banyak cerita Pembunuh Tanpa Bayangan segera putar rantai besi berdurinya dan menyerang si pemuda. Yang diserang masih juga menggontai-gontaikan kedua kakinya di tepi panggung bahkan kini senyum-senyum dan bersiul-siul seperti tidak sadar kalau saat itu dirinya diancam serangan maut!

“WUTT!”

Rantai berduri Pembunuh Tanpa Bayangan menderu tepat di kepala si pemuda! Pastilah dalam kejapan mata itu juga kepala si pemuda akan hancur luluh. Bahkan Dewi Kala Hijau sendiri sampai mengeluarkan seruan tertahan, seruan yang berarti setengah perintah agar si pemuda cepat-cepat menghindar!

Si pemuda sama sekali tak kelihatan bergerak. Tapi yang anehnya ialah tiba-tiba terdengar jeritan Pembunuh Tanpa Bayangan. Rantai besinya mental. Tubuhnya mencelat ke udara lalu jatuh ke tanah dengan perut pecah membanjir darah! Ketika Dewi Kala Hijau memandang ke kaki si pemuda yang saat itu masih juga digontai-gontaikan maka kelihatanlah salah satu dari kaki itu berselomotan darah! Entah bagaimana caranya pemuda rambut gondrong itu telah lebih dahulu menghantamkan kakinya ke perut Pembunuh Tanpa Bayangan!

Tentu saja ini sangat mengejutkan Dewi Kala Hijau dan murid-muridnya serta Sepasang Kaki Kematian! Namun di saat itu pula Dewi Kala Hijau jadi malu sendiri karena dia tadi telah berseru memberi peringatan kepada si pemuda. Nyatalah bahwa bagaimanapun ketinggian ilmu dan kekejaman serta kejahatannya, namun Dewi Kala Hijau tak dapat menyembunyikan perasaan hatinya selaku seorang perempuan terhadap seorang pemuda!

Di balik topeng tengkoraknya muka perempuan itu menjadi sangat merah. Dia melirik pada murid-muridnya dan membathin, apakah ketiga muridnya mengetahui getaran hatinya terhadap si pemuda?!

Tiba-tiba Dewi Kala Hijau membentak lagi memberi perintah. “Sepasang Kaki Kematian, selesaikan pemuda gila itu dalam lima jurus! Cepat!” Ki Sandar Boga alias Sepasang Kaki Kematian segera berdiri.

Diambilnya golok panjangnya yang tadi dibuangnya lalu melangkah ke hadapan si pemuda.

“Orang muda! Kuharap kau sudi terangkan nama! Aku tidak-suka membunuh manusia tanpa tahu namanya lebih dahulu!” kata Sepasang Kaki Kematian sambil melintangkan golok di muka dada.

Si pemuda mengeluarkan siulan panjang. “Mata picak! Baru jadi budaknya Dewi Kala Hijau saja sudah begitu congkak! Berlalulah, aku muak melihat mukamu!”

Habis berkata begitu si pemuda meludah ke tanah dan terus duduk seenaknya di tepi panggung sambil menggontai-gontaikan kedua kakinya Sepasang Kaki Kematian menggeram. Dia membentak nyaring lalu melompat ke muka. Golok panjangnya membabat deras ke arah leher. Namun serangan ini tipuan belaka karena sesuai dengan julukannya yaitu “Sepasang Kaki Kematian” sebelum golok menyambar lebih jauh maka tahu-tahu tubuhnya mengapung di udara dan mengirimkan dua tendangan dahsyat! Angin tendangan itu saja hebatnya bukan main!

Sekejapan mata dua tendangan berantai itu akan sampai si pemuda masih saja juga di tepi panggung dengan sikap acuh tak acuh seperti tadi! “Mampus!” teriak Sepasang Kaki Kematian. Dan pada detik itulah tubuh si pemuda rambut gondrong lenyap dari hadapannya.

“Brak… brak!”

Kedua tendangan Sepasang Kaki Kematian menghantam lantai panggung hingga hancur berantakan. Beberapa mayat yang menggeletak di atas panggung itu, di antaranya mayat isteri Dewa Pedang, mencelat ke udara dan kecemplung ke dalam telaga!

Sepasang Kaki Kematian memutar tubuh dengan cepat ketika di belakangnya terdengar suara tertawa mengejek...

“ltulah akibatnya kalau manusia mata picak kalap membabi buta! Panggung tak bersalah ditendang!”

“Kucincang tubuhmu, keparat!” teriak Sepasang Kaki Kematian. Tubuhnya mengapung lagi. Goloknya berbolang baling deras sekali laksana kitiran dan mengurung si pemuda dengan cepatnya. Yang diserang bergerak lincah kian kemari sambil tertawa-tawa dan sekali-sekali bersiul!

“Terima ini, setan alas!” teriak Sepasang Kaki Kematian. Golok panjangnya menebas ke pinggang, membalik ke kepala dan menusuk ke perut. Serentak dengan itu tangan kirinya melancarkan pukulan tangan kosong yang hebat! Namun lagi-lagi semua itu hanyalah tipuan belaka karena begitu si pemuda rambut gondrong mengelak maka kedua kakinya menderu ke muka. Satu ke perut dan satu lagi ke selangkangan!

“Tipu silatmu boleh juga, mata picak!” memuji si pemuda namun dengan senyum mengejek.

“Tapi terima dulu, telapak tanganku ini!” Telapak tangan kiri si pemuda menghantam ke perut Sepasang Kaki Kematian. Laki-laki ini menebaskan goloknya ke lengan si pemuda. Namun kalau tadi ia yang menipu maka kali ini dia kena tipu. Karena begitu goloknya menebas maka lawan menarik tangan kiri dan tahu-tahu…

“Plak!”

Telapak tangan kanan si pemuda menghantam keningnya! Sepasang Kaki Kematian menjerit keras. Tubuhnya terpelanting beberapa tombak dan terjerongkang jatuh menelungkup tepat di hadapan Dewi Kala Hijau!

~ 10 ~ 

Untuk kedua kalinya Dewi Kala Hijau dan ketiga muridnya dibikin terkejut. Dewi Kala Hijau melirik pada mayat Sepasang Kaki Kematian lalu memandang menyorot pada si pemuda dan membentak.

“Siapa kau sebenarnya?!”

Pemuda itu tersenyum.

“Kalau kepingin tahu namaku, aku telah menuliskannya di kening budakmu itu, Dewi…!”

Sepasang mata Dewi Kala Hijau kelihatan tambah menyorot.

“Jangan bicara ngaco, orang muda! Sekali lagi kau mempermainkanaku, nyawamu pasti tak terampunkan lagi!”

“Kentut!” tukas si pemuda.

“Kau tanya aku menjawab, apa itu namanya bicara ngaco?! Kalau tak percaya silahkan lihat di kening budak mata picak itu…! “ penasaran sekali, tapi juga ingin tahu.

Dewi Kala Hijau membalikkan tubuh Sepasang Kaki Kematian dengan ujung kaki kirinya. Begitu tubuh laki-laki itu tertelentang maka berkerutlah muka perempuan iblis itu serta murid-muridnya. Di kening Sepasang Kaki Kematian yang hitam membiru kelihatan tertulis tiga buah angka yaitu angka 212!

“Jadi kau adalah Wiro Sableng, manusia yang berjuluk Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212?!” ujar Dewi Kala Hijau pula.

Si pemuda hanya tertawa.

“Agaknya kau dan murid-muridmu kurang senang dengan pertemuan ini, bukan?”

Dewi Kala Hijau merenung sejenak. Nama Wiro Sableng dan gelaran Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 itu memang sudah sejak lama didengarnya. Ketika dia memberi tugas pada murid-muridnya dan ketika dia sendiri meninggalkan gua di kaki gunung Merapi, Dewi Kala Hijau sudah mengetahui bahwa pendekar itu adalah salah seorang dari sekian banyak lawan-lawan yang bakal dihadapinya dalam rencananya mendirikan Partai Lembah Tengkorak.

Dan bila hari ini dia berhadapan, tidaklah pernah diduganya sebelumnya kalau Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 adalah seorang pemuda berparas gagah. Tadi dia telah menyaksikan sendiri kehebatan pemuda itu.

Pembunuh Tanpa Bayangan dirobohkannya dalam satu jurus dan Sepasang Kaki Kematian dibikin konyol dalam dua jurus! Manusia-manusia lihai semacam ini, apalagi segagah Wiro Sableng sangat dibutuhkan oleh Dewi Kala Hijau dalam rencana besarnya. Maka berkatalah perempuan itu.

“Meski kau telah membunuh dua orang anggota Partaku namun dengan memandang kepada nama besarmu, aku bersedia mengampuni kau punya jiwa asal saja kau segera berlutut dan mengangkat janji bersedia masuk Partaiku! Kelak kau akan kuberi kedudukan tinggi dalam Partai!”

“Hem ….” Wiro Sableng usap-usap dagunya.

“Janji yang bagus dan muluk!” katanya. Lalu, “Kalau aku duduk dalam Partaimu, berapakah kau mau gaji aku….. ?”

“Pemuda gendeng!” ketus Dewi Kala Hijau.

“Orang sudah bersedia memberikan ampun masih saja bicara ngelantur!”

“Dewi, jangankan masuk Partaimu, melihat parasmu saja aku sudah mau muntah rasanya! Dan menyaksikan kejahatanmu berdiri bulu kudukku. Terus terang saja aku sudah lama mendengar tentangmu dan murid-muridmu! Kejahatanmu sudah lebih dari takaran. Dosa kalian sudah setinggi langit sedalam lautan! Kalian tak akan berhasil mendirikan Partai Lembah Tengkorak! Dunia persilatan akan bersatu untuk menghancurkan kalian! Karenanya lebih baik kalian kembali pada kebenaran sebelum terlam...”

“Tutup mulut!” teriak Dewi Kala Hijau gemas dan marah sekali.

“Kalau kau mau pidato, pidatolah nanti di akhirat!” Perempuan ini berpaling pada kelompok murid-muridnya yang kini cuma tinggal tiga orang itu.

“Kala Putih! Cabut nyawanya dalam satu jurus!” perintah Dewi Kala Hijau penuh kebuasan. Kala Putih mengangguk lalu memutar badan menghadapi si pemuda.

Begitu sepasang mata Kala Putih beradu pandang dengan sepasang mata Pendekar 212 maka tergetarlah hati gadis muka tengkorak ini. Sebetulnya sejak munculnya si pemuda tadi Kala Putih telah tertarik hati oleh kegagahan Pendekar 212, apalagi setelah menyaksikan pula kehebatan pemuda itu! Di dalam diri Kala Putih terjadi semacam pertentangan. Hati kecilnya menentang dan tak mau disuruh membunuh pemuda gagah itu namun sebaliknya tugas gurunya musti dilaksanakan, kecuali kalau dia ingin mendapat hukuman yang sangat berat!

“Kala Putih! Kau tunggu apa lagi?!” bentak Dewi Kala Hijau.

“Lekas bunuh pemuda gila itu!” Kala Putih maju lagi beberapa langkah.

“Bersiaplah untuk mati, pemuda tidak tahu diri!” bentak Kala Putih tapi dengan suara bergetar. Tangan kanannya diangkat ke atas lalu secepat kilat dipukulkan ke muka.

“Wut!”

Gelombang sinar hijau beserta enam ekor kala hijau beracun menderu ke arah Pendekar 212! Yang diserang bersuit nyaring dan melompat Iima tombak ke atas lalu hantamkan telapak tangan kanannya ke muka.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Neraka Lembah Tengkorak (Bagian 13)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.